Pagi di Alpen tidak membawa kehangatan. Cahaya matahari yang pucat menembus celah jendela kamar Rania, memantul di atas lantai kayu yang dingin. Rania terbangun dengan tangan yang masih menggenggam tasbih. Ia segera memeriksa kain mukena di bawah tempat tidurnya—masih ada. Sinyal SOS semalam entah sampai ke siapa, tapi ia harus tetap waspada.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. "Nona Rania, Don Moretti menunggu Anda untuk sarapan," suara berat seorang penjaga terdengar dari balik pintu.
Rania merapikan cadar-nya, memastikan tidak ada helai rambut yang keluar. Ia melangkah keluar, menyusuri koridor yang dihiasi kepala rusa dan lukisan-lukisan tua yang tampak mengawasi setiap gerakannya.
Dante duduk di ujung meja kayu panjang di ruang makan. Bahunya tidak lagi dibalut kain kasar, melainkan ditutupi oleh jas kasmir berwarna abu-abu gelap. Di depannya tersedia roti foccacia, keju, dan kopi hitam yang aromanya memenuhi ruangan.
"Duduklah, Rania. Aku tidak suka makan bersama bayangan," ucap Dante tanpa mengalihkan pandangan dari koran paginya.
Rania duduk di ujung meja yang paling jauh, menjaga jarak maksimal di antara mereka. Ia tidak menyentuh makanan sedikit pun. "Saya hanya ingin menagih janji semalam, Tuan. Telepon untuk kakak saya."
Dante meletakkan korannya. Matanya yang tajam menatap Rania, lalu beralih ke nampan makanan yang masih utuh di depan gadis itu. "Makanlah dulu. Di gunung ini, rasa lapar bisa membunuhmu lebih cepat daripada peluru."
"Saya tidak lapar akan makanan, Tuan. Saya lapar akan kebenaran," jawab Rania tegas.
Dante menghela napas, lalu menyodorkan sebuah tablet digital ke arah Rania. "Lihat ini. Ini alasan kenapa aku belum bisa membiarkanmu menelepon."
Rania melihat layar tersebut. Itu adalah berita lokal Milan dalam bahasa Italia, namun ada foto wajahnya yang buram terekam kamera CCTV bandara.
"Klan Valenti telah menyuap oknum kepolisian," jelas Dante dengan nada dingin. "Mereka mengeluarkan pernyataan bahwa kau adalah tersangka keterlibatan terorisme yang melarikan diri. Jika kau menelepon Yusuf sekarang, saluran internasional akan langsung dilacak oleh mereka. Kau tidak akan sampai ke bandara; kau akan berakhir di ruang interogasi gelap milik Valenti."
Rania merasa bumi di bawah kakinya bergetar. "Tapi itu fitnah! Anda tahu saya hanya korban!"
"Di dunia ini, kebenaran adalah apa yang ditulis oleh pemenang, Rania," Dante menyesap kopinya perlahan. "Dan saat ini, aku sedang berjuang agar kita menjadi pemenang itu."
Rania terdiam, namun otaknya bekerja cepat. Ia memperhatikan sudut mata Dante yang sedikit bergetar saat bicara. Sebagai santriwati yang sering menyimak kajian tentang kejujuran, ia merasakan ada sesuatu yang janggal.
Kenapa Dante menunjukkan berita ini sekarang? Kenapa dia tidak membiarkan saya melihat tanggal beritanya dengan jelas?
Rania berpura-pura tenang. Ia mengambil sepotong roti, namun bukan untuk dimakan. Ia menggunakan serbet kertas untuk membungkus roti itu dan memasukkannya ke dalam saku abayanya—cadangan energi jika ia harus lari nanti malam.
"Baiklah, Tuan Dante. Saya akan menunggu," ucap Rania lirih, pura-pura menyerah. "Tapi bolehkah saya berjalan-jalan di taman depan? Udara di dalam sini sangat menyesakkan."
Dante menatapnya penuh selidik, lalu mengangguk pelan. "Hanya di taman depan. Jangan melewati pagar besi hitam. Penjagaku tidak akan segan-segan menarik pelatuk jika kau melewati batas."
Rania berdiri dan menunduk hormat tanpa menatap mata Dante. Saat ia berjalan menuju pintu, ia tidak menyadari bahwa Dante sedang menatap jejak kakinya dengan senyum tipis.
"Gadis yang cerdik," bisik Dante pada dirinya sendiri. "Tapi dia lupa bahwa di hutan ini, aku adalah pemilik setiap jengkal tanahnya."
Rania kembali ke dalam villa dengan pikiran yang berkecamuk setelah mendengar bisikan tukang kebun tadi. Namun, saat ia melewati aula tengah, langkahnya terhenti. Di sana, di depan perapian yang menyala besar, berdiri seorang wanita cantik dengan gaun sutra merah yang memeluk tubuhnya. Rambut pirangnya tergerai sempurna, dan di jemarinya melingkar gelas kristal berisi wine.
"Jadi, ini 'barang berharga' yang dibawa Dante dari Milan?" suara wanita itu tajam, seperti gesekan pisau.
Dante keluar dari ruang kerjanya, lalu merangkul pinggang wanita itu. "Kenalkan, Rania. Ini Bianca, tunanganku. Dan Bianca, ini Rania—gadis yang menyelamatkan nyawaku."
Bianca berjalan mendekati Rania. Aroma parfumnya yang sangat kuat menusuk hidung Rania. Ia menatap Rania dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan, terutama pada cadar hitam yang menutupi wajah Rania.
"Menyelamatkan nyawamu, atau hanya mencari muka agar bisa masuk ke rumah ini?" Bianca tertawa sinis. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Rania, berbisik cukup pelan agar Dante tidak mendengar. "Aku tidak tahu siasat apa yang kau pakai untuk merayu priaku dengan kain penutup ini, tapi di gunung ini, hanya ada satu ratu. Dan itu bukan kau."
Rania tetap tenang, matanya menatap lurus ke depan tanpa rasa takut. "Tuan Dante yang membawa saya ke sini secara paksa, Nona. Saya tidak memiliki niat untuk menjadi ratu di sarang serigala."
Dante kembali ke ruang kerjanya karena ada panggilan darurat, meninggalkan mereka berdua di aula. Begitu Dante menghilang, ekspresi Bianca berubah drastis. Keangkuhannya hilang, digantikan oleh tatapan waspada.
"Dengar, Gadis Cadar," bisik Bianca sambil membelakangi kamera CCTV di sudut ruangan. "Dante berbohong padamu. Dia tidak akan memulangkanmu. Tapi aku... aku bisa membantumu lari malam ini."
Rania mengernyit. "Kenapa Anda ingin membantu saya?"
"Karena aku ingin kau pergi dari hidup Dante secepat mungkin," jawab Bianca. "Ada mobil box pasokan daging yang akan keluar jam dua pagi lewat gerbang belakang. Aku akan memastikan penjaganya tidak melihatmu."
Rania terdiam. Instingnya berteriak bahwa ini adalah jebakan. Ia teringat bisikan tukang kebun tadi yang juga menyebutkan jam dua pagi. Namun, ada sesuatu yang aneh. Jika Bianca benar-benar tunangan yang setia, kenapa dia terlihat begitu terburu-buru menyingkirkannya?
Malam itu, saat Rania berpura-pura masuk ke kamarnya, ia sengaja meninggalkan pintu kamarnya sedikit terbuka. Dari celah sempit, ia melihat Bianca masuk ke ruang kerja Dante yang sedang kosong.
Dengan gerakan sangat mahir, Bianca membuka laci meja Dante dan memotret dokumen jalur pengiriman senjata Moretti menggunakan ponselnya. Rania terperangah. Bianca bukan hanya tunangan yang cemburu; dia adalah pengkhianat yang bekerja untuk klan Valenti.
Siasat Bianca sangat licik: Ia ingin membantu Rania "lari" ke arah gerbang belakang, bukan untuk menyelamatkan Rania, melainkan agar Rania tertangkap oleh anak buah Valenti yang sudah menunggu di luar. Dengan begitu, Bianca bisa menyingkirkan Rania sekaligus memberikan "hadiah" kepada majikan aslinya.
Rania menutup pintunya perlahan. Jantungnya berpacu. Ia berada di tengah-tengah dua pengkhianat besar.
"Satu mafia licik, satu tunangan pengkhianat," bisik Rania sambil meraih tas ranselnya. "Jika mereka pikir saya akan mengikuti skenario mereka, mereka salah besar."
Rania menatap jendela kamarnya yang beku. Ia harus menggunakan siasat ketiga—sebuah rencana yang tidak diketahui oleh Dante, Bianca, maupun tukang kebun misterius itu.
Ini adalah revisi yang jauh lebih gelap. Dante tidak menunjukkan kelemahan fisik sedikit pun di depan korbannya. Meski terluka, ia tetaplah seorang pemangsa yang dominan.
Jam dua pagi. Rania telah berhasil keluar dari pintu dapur, kakinya membenam di salju Alpen yang membeku. Jantungnya berpacu, matanya tertuju pada gerbang belakang yang sedikit terbuka—jalur pelariannya menuju desa di kaki gunung.
Namun, baru saja ia hendak berlari, sebuah bayangan panjang jatuh di atas salju di depannya.
"Kau pikir langkahmu cukup cepat untuk melampaui bayanganku, Rania?"
Rania tersentak dan berbalik. Di sana, berdiri Dante Moretti. Ia bersandar pada pilar batu besar dengan sebotol wine yang pecah di tangan kiri dan sebuah belati perak di tangan kanan. Perutnya bersimbah darah, merembes keluar dari jas kasmir hitamnya yang mahal, namun ia tidak tersungkur. Ia berdiri tegak, matanya berkilat penuh kegilaan dan amarah.
"Tuan Dante... Villa ini sudah dikepung api," suara Rania bergetar. Ia melihat asap hitam mengepul dari jendela lantai atas. "Bianca sudah mengkhianati Anda. Biarkan saya pergi!"
Dante melangkah maju. Meskipun langkahnya sedikit goyah, auranya tetap mengintimidasi. "Bianca mencuri hartaku, dia meracuni orang-orangku, dan dia pikir dia sudah membunuhku."
Dante tertawa, suara tawa yang kering dan mengerikan. "Tapi dia melakukan satu kesalahan fatal. Dia membiarkan aku tetap bernapas, dan dia membiarkanmu tetap di sini."
Dante mendadak menerjang. Sebelum Rania sempat berbalik untuk lari, tangan besar Dante yang berlumuran darah mencengkeram leher belakang abaya Rania dan menariknya dengan kasar hingga gadis itu terjerembap ke salju.
Rania mencoba merangkak pergi, namun Dante menginjak ujung abayanya. Dengan gerakan cepat yang tak terduga dari orang yang sedang sekarat, Dante mengeluarkan sebuah rantai besi tipis dari saku mantelnya.
Klik!
Dante memborgol pergelangan tangan kiri Rania, lalu mengunci ujung rantai lainnya ke pergelangan tangannya sendiri.
"Apa yang Anda lakukan?! Lepaskan!" teriak Rania, air mata kemarahan mulai mengalir di balik cadarnya.
"Kau adalah saksi hidup atas pengkhianatan Bianca, dan kau adalah 'keberuntunganku' di ruko itu," desis Dante tepat di wajah Rania. Napasnya berbau besi darah. "Jika aku harus merangkak kembali ke Milan untuk merebut tahtaku, kau akan ikut denganku. Kau tidak akan pergi ke mana-mana tanpa izinku."
Dante tidak meminta Rania membantunya. Sebaliknya, dengan kekuatan sisa yang mengerikan, Dante-lah yang menyeret Rania. Ia menarik rantai itu dengan sentakan kasar, memaksa Rania berdiri dan tersandung-sandung mengikutinya menuju sebuah pintu besi tersembunyi di balik semak-semak yang menuju bunker bawah tanah.
"Jalan, Nona Suci!" Dante menyentak rantai itu hingga pergelangan tangan Rania memerah.
"Anda sudah kalah, Tuan Dante! Anda tidak punya apa-apa lagi!" seru Rania di tengah deru angin.
Dante berhenti sejenak, menoleh dengan senyum paling licik yang pernah Rania lihat. "Seorang Moretti baru benar-benar kalah saat dia berhenti bernapas. Selama kau terikat padaku, kau akan melihat bagaimana aku membakar dunia Bianca dengan tangan kosong."
Dante menarik Rania masuk ke dalam lorong gelap bunker tepat saat sebuah ledakan besar menghancurkan lantai utama villa di atas mereka. Salju berterbangan, api melahap segalanya, dan mereka berdua lenyap ke dalam perut bumi—terikat dalam rantai kebencian yang sama.