13. Kejutan Dalam Pesta

1225 Words
Di tengah kota, pesta anniversary ke 30 tahun pernikahan William Aston dan Dayana Angeline digelar megah di Aston Exhibition Center. Di pesta ini juga sang putra sulung, Samuel Aston memberikan kejutan dengan peluncuran produk terbaru Aston Company yaitu iLite yang digadang-gadang bernilai ratusan juta dollar. Banyak pengusaha, selebritas terkenal, dan orang kelas atas berkumpul di sana. Tak lupa juga para awak media yang meliput pesta tersebut. Foto dan video iklan produk iLite dengan wajah Anna sebagai modelnya berhasil membawa produk iLite semakin bersinar dan dikenal banyak orang, bahkan dihari pertama smartphone itu diluncurkan peminatnya sudah membludak. “Terima kasih, Anna. Berkatmu peluncuran produk iLite benar-benar sempurna.” William tak henti-hentinya memuji menantu kesayangannya itu. “Ya … dan kau terlihat sangat cantik malam ini, Sayang,” sahut Dayana. Pasangan ibu mertua-menantu itu menjadi pusat perhatian, mereka terlihat sangat bersinar dan menawan malam ini. Anna mengenakan dress v-neck sleeveless berwarna abu terang dengan aksen diamond yang membuatnya terlihat sangat elegant. Rambut panjangnya disanggul modern dan tergelung ke atas memperlihatkan leher jenjang miliknya. Samuel pun mengenakan tuxedo dengan warna yang senada lengkap dengan dasi kupu-kupu yang membuat penampilan CEO itu semakin tampan. Anna tersenyum manis. “Sama-sama, Dad. Mom … kalian terlalu memujiku, bahkan Mommy terlihat lebih cantik dariku. Happy anniversary Mommy dan Daddy, kuharap kalian selalu sehat dan bahagia.” “Ahh … terima kasih banyak, Sayang. Kebahagian juga untuk rumah tanggamu dengan Samuel. Mommy dan daddy sangat senang karena kita merayakan kesuksesan bersama hari ini, kau memang tak pernah gagal, Sam. Mommy sangat bangga padamu.” Dayana tersenyum sumringah menatap anak dan menantunya. Mereka kini duduk di meja yang sama. Stefan si bungsu pun duduk di sana dengan wajah jengahnya menyaksikan drama keluarga ini. “Sama-sama, Mom.” Samuel tersenyum, ia senang dapat membuktikan keberhasilannya pada orang tuanya. Sejujurnya ini melebihi ekspetasinya, Samuel tak menampik wajah Anna dan pesonanya membuat iLite memiliki lebih banyak daya tarik. Terlebih Anna adalah istri pemilik perusahaan itu sendiri. “Tapi, kami akan lebih bahagia jika kalian segera memberikan kami cucu. Daddy baru saja membeli sebuah resort di Maldives, bagaimana jika kalian berlibur kesana, sekalian melihat resort baru itu? Lagipula kalian kan belum berbulan madu setelah menikah.” Senyuman Samuel langsung luntur seketika mendengar ucapan sang ayah. Ia mengerutkan keningnya tak terima, “Tidak bisa, Dad. iLite baru saja diluncurkan, akan lebih banyak pekerjaan yang menantiku kedepannya.” Tak jauh berbeda dengan Samuel, Anna yang duduk di sampingnya pun terkejut. Ia hanya bisa terdiam mendengar ucapan ayah mertuanya itu. Dalam hatinya ia pun memimpikan sebuah keluarga bahagia dengan Samuel dan anak-anak mereka. Tapi, itu sepertinya hanya akan menjadi angan-angannya saja. Bahkan saat mereka pulang ke rumah utama, dan mengharuskan mereka tidur di ranjang yang sama, Samuel lebih memilih untuk menyelesaikan setumpuk pekerjaannya di ruang kerja William ketimbang tidur seranjang dengannya. Anna teringat kejadian kemarin malam, ucapan Samuel yang melarangnya untuk jatuh cinta dan menginginkan perpisahan diantara mereka, sungguh membuat hatinya sakit. Siapa yang ingin menikah lalu berpisah? Tidak ada. Tapi, apakah Anna harus diam saja ketika Samuel terang-terangan menginjak harga dirinya dengan berselingkuh di belakangnya? Apakah dia harus terus berpura-pura menjadi istri yang bahagia sementara kebahagiaan itu tidak pernah ada dalam rumah tangga mereka? Itulah yang terus berkeliaran di kepalanya beberapa hari ini. Dia tak ingin terus merasakan sakit, tapi juga tak ingin mengecewakan William dan Dayana yang begitu menyayanginya. Terlebih mengecewakan mendiang sang ayah. Bukankah Samuel adalah pria yang dipilih mendiang ayahnya sebagai pengganti untuk menjaga dan mendampinginya? Meski pada kenyataannya Samuel lah yang memberi banyak luka untuk Anna. “Daddymu benar, Sam. Tidak apa jika hanya seminggu. Kau harus mengajak Anna liburan. Dia pasti bosan di rumah terus. Lagian Mommy juga sudah tidak sabar menggendong cucu. Urusan pekerjaan kan bisa di urus sementara oleh Stefan. Dad juga akan memantau,” desak Dayana. Samuel menghela napasnya kasar. “Mana bisa bocah nakal ini menangani perusahaan?” Samuel menunjuk Stefan dengan dagunya. Stefan memutar bola matanya malas. “Kau pikir aku bodoh? Aku juga berpendidikan tinggi! Aku tidak mau bekerja di perusahaan bukan karena aku tidak bisa, tapi karena aku tidak berminat!” “Ya pokoknya dalam waktu dekat ini belum bisa! Toh kami tidak perlu liburan untuk memberi kalian cucu.” Anna menatap Samuel dari samping, semburat merah muncul di pipinya. Entah kenapa ucapan pria itu memberi getaran tersendiri di hatinya, meski ia tahu ucapan itu hanya kebohongan untuk menyenangkan orang tuanya saja. William berdehem. “Kau harus bisa mengatur waktu, walau bagaimanapun menantuku harus kau bawa berlibur. Kau juga perlu mengistirahatkan waktumu dari pekerjaan. Beberapa bulan ini kau sudah sibuk mempersiapkan peluncuran iLite.” Samuel mengepalkan tangan di bawah meja. Percuma saja ia berbicara apapun, ayahnya yang keras dan pemaksa akan terus mencari celah agar ia menuruti kemauannya. Akhirnya Samuel hanya mengangguk untuk menghentikan pembicaraan ini, kemudian fokusnya teralih ketika ia merasakan getaran ponsel di sakunya. Dengan segera ia mengambil ponselnya. Moodnya kembali baik ketika ia melihat Zoya mengiriminya pesan. [Babe, aku sudah berada di pesta. Tenang saja, Aku menyamar dengan sempurna.] *** Dari kejauhan, Zoya memandang tak suka. Ia mengatupkan rahangnya kuat, menahan emosi sejak tadi. Ia semakin kesal karena melihat Anna yang dengan mudahnya dekat dan di terima oleh keluarga Samuel, terlebih orang tua Samuel yang perfeksionis itu. Ia memang tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena jaraknya cukup jauh. Tapi, dari melihat interaksi mereka saja sudah cukup membuatnya muak. Dengan segera ia mengirim pesan untuk Samuel, mengabarkan bahwa ia sudah berada di pesta. Padahal ia sudah datang sejak tadi dan menyaksikan kebersamaan hangat keluarga itu. Tak butuh waktu lama, ia segera menerima balasan pesan dari Samuel. [Kau dimana, Sayang?] Zoya menyeringai, ia tidak mungkin datang ke sini hanya untuk melihat-lihat pemandangan keluarga bahagia itu. Ia tentunya akan memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin untuk sedikit memberi pelajaran pada wanita bodoh yang berani merebut posisinya. Zoya dengan segera mengirim balasannya. [Kau merindukanku? Temui aku di toilet wanita bagian belakang, aku punya hadiah untukmu.] Tak lupa Zoya menyematkan foto yang telah ia siapkan di apartemen tadi. Foto yang memperlihatkan tubuh mulusnya hanya berbalut lingerie sek*i berwarna merah, warna kesukaan Samuel. Setelah pesannya terkirim, ia dengan segera melihat Samuel yang berdiri dan berjalan ke arah toilet sesuai dengan arahannya. Zoya tak langsung pergi, ia menunggu … selang 5 menit, akhirnya yang ia tunggu berdiri juga dan berjalan semakin dekat ke arah tempat duduknya. Tak lama kemudian Zoya pun ikut berdiri, ini waktunya! BRUK! Zoya dengan sengaja menubruk pundak Anna, membuat wanita itu sedikit terdorong ke belakang. “Maaf … maafkan aku, aku tidak sengaja, aku buru-buru,” ucap Zoya dengan wajah tak enaknya. Anna meringis. Namun, segera ia tersenyum tipis dan berkata, “Ya, tidak apa-apa.” Setelah itu Zoya dengan segera berjalan cepat menyusul Samuel dengan senyum di bibirnya. Anna pun kembali melanjutkan langkahnya, ia hendak menemui Emily yang baru sampai di dalam gedung. Namun, baru saja melangkah, ia sontak berhenti ketika merasakan heelsnya menginjak sesuatu. Anna menunduk mengambil sesuatu yang tak sengaja diinjaknya. Itu sebuah gelang berlian dengan inisial ZS di tengahnya, gelang itu terlihat sangat mahal. "Sepertinya ini milik wanita tadi, mungkin terjatuh," gumam Anna dalam hati. Anna membalikkan badannya, dia masih melihat punggung wanita itu, dengan segera ia berjalan cepat untuk mengejar wanita yang tak sengaja menabraknya tadi. Dia harus mengembalikkan gelang wanita itu. “Hei, tunggu!” Anna memanggilnya, namun wanita tadi terus berjalan ke arah toilet, dengan segera Anna pun mengikuti wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD