Di Ujung Tanduk

1327 Words
    Ada banyak hal yang aku benci dalam hidup ini, dan dari semuanya yang paling membuatku trauma adalah harus merasakan kehilangan. Aku paham betul, semua yang kita miliki saat ini hanyalah titipan dari Illahi, dan suatu waktu entah kapan, titipan dari-Nya akan diambil kembali. Akan tetapi, Kawan, amat menyakitkan jika kehilangan yang terjadi itu terus terulang, hingga berkali-kali, seperti kejadian yang menimpaku, hingga detik ini.     Aku segera bergegas keluar rumah, dan menaiki taksi online yang sudah kupesan sebelumnya. Tanpa persiapan apapun, tanpa mandi terlebih dahulu, hanya membasuh wajah dan mengganti pakaian, aku panik setengah mati mendapati kabar bahwa keadaan kakek semakin memburuk di rumah sakit.     Pukul 5 subuh, tepat setelah aku selesai melaksanakan solat, handphone-ku berbunyi. Segera kuraih, dan kulihat nama Etek Marfi di layar.     “Assalamu’alaikum, Etek …?” Sebenarnya aku agak heran, tumben beliau meneleponku pagi-pagi buta begini.     “Wa’alaikum salam, Mar …. Marlin, kakek … kau harus segera ke sini sekarang, ya!”     “Hah, kakek kenapa, Tek? Kenapa!?”                                                                                “Keadaannya memburuk, kakek masih di ICU. Etek tunggu kau di sini, ya!” Beliau segera mematikan teleponnya.     Aku bingung, seperti orang linglung, tak tahu harus bagaimana, apa yang harus aku lakukan selanjutnya sebelum pergi ke rumah sakit.     Lekas kulipat mukenah serta sajadahku, kuambil tas ranselku, kuganti pakaian, dan memesan taksi online. Begitu taksinya sampai di muka rumahku, segera kumasuk dalam mobil.     “Pak, yang cepet, ya, nyetirnya!”     Ia pun berkata padaku, “Oke, sip!”     Taksiku berjalan melewati jalanan yang masih sepi dan gelap gulita, udara di subuh hari begitu dingin, sedingin telapak tanganku saat ini, khawatir akan keadaan kakek, tak sanggup jika harus kehilangan beliau lagi.     “Mbak … Mbak … Mbak … Mbak, udah sampai, nih!” Seketika aku terbangun, rupanya aku tertidur di dalam mobil.     “Eh, maaf, Pak! Saya jadi ketiduran gini, nih.”     “Iya, nggak apa-apa, kok. Silahkan, Mbak.”     “Iya, Pak. Terima kasih banyak, ya!” Aku segera keluar dari mobil setelah sebelumnya memberikan beberapa lembar uang pada pak supir.     Aku berjalan melewati lobi, dan masuk ke dalam lift. Setelah keluar dari dalam lift, kutengok segerombolan orang menangis tersedu-sedu. Sepertinya mereka adalah keluarga dari seorang pasien di ruang ICU. Tak lama, beberapa perawat tengah menggiring sebuah tempat tidur berisikan seseorang yang sepertinya telah tiada, sebuah selimut putih bersih menutupi tubuh pasien itu hingga bagian kepala.     “Abaaang!     “Bang … Bang!     “Kenapa kaupergi, Bang Tigor? Bagaimana nasib anak kita nanti ….     “ABAAANG …!” Bersahut-sahutan anggota keluarga itu memanggil-manggil namanya. Meraung-raung mereka, jadi ikut sedih aku dibuatnya.      Kutengok ke depan, Etek Marfi tengah terduduk di sebuah ruang tunggu untuk keluarga pasien.     “Marlin …!”     “Tek … kakek ….”     “Duduk dulu sini, Mar.” Aku pun terduduk di sampingnya, pada sebuah sofa panjang berwarna ungu yang cukup nyaman.     “Jadi, bagaimana keadaan kakek?” Baru sejenak aku bertanya demikian, seorang perawat keluar dari ruangan itu, ruang ICU. Etek Marfi bangkit dari tempat duduknya, hendak menghampiri perawat itu.     “Ayah saya bagaimana, Bu?” Etek bertanya dengan sigap tanpa basa-basi.     “Mohon tunggu dulu, ya, Bu. Masih dalam penanganan dokter.” Perawat itu segera berlalu.     Etek berdiri mematung, linglung, tatapan matanya lurus ke depan, beliau menggigit bibir bawahnya, terasa kaku kaki dan tangannya, seperti tak mampu bergerak.     “Etek, tenangkan dirimu. Mari kita duduk dulu. Kita hanya bisa berdoa, Tek. Berdoa yang banyak pada Yang Maha Berkuasa, kita serahkan segala, kita pasrahkan kepada-Nya. Bukankah itu yang selalu kakek ajarkan pada kita?” Kupegangi tangan etek yang kaku dan dingin, kubimbing ia duduk kembali di atas sofa.     “Mar … Marlin … kakek, Mar …!” Etek memelukku, pecah air matanya di bahu kananku, terasa terguncang dadanya, pedih ia mengingat keadaan ayahandanya yang tengah sekarat, berjuang seorang diri di atas tempat tidur rumah sakit, di ruang ICU.     Ada seorang dokter dan 4 orang perawat yang sedang menangani kakek. Banyak selang kecil di sebagian tubuhnya, ada alat pemacu jantung tengah dipegang oleh salah satu perawat itu, dan ada sebuah layar yang menunjukkan garis-garis berwarna hijau naik turun menandakan kondisi jantung kakek cukup lemah.     Aku tengah membaca sebuah Al-Qur’an kecil yang kubawa, setelah sebelumnya berwudhu terlebih dulu. Kutengok Etek Marfi tak henti-henti bibirnya mengucap dzikir, berdoa, bershalawat, beristighfar, memohon kesembuhan pada Yang Maha Menyembuhkan. Berderai-derai air matanya mengalir di pipi, sungguh tak tega aku melihatnya.     “Tek, sudah makan belum?”     “Belum, Mar. Tak mampu kutelan makanan.”     “Biar aku belikan, ya, Tek?”     “Tak usah, Mar. Nanti saja. Mar, aku jadi teringat akan nenekmu.” Berlinang lagi air matanya.     “Nenek?”     “Iya, saat kau masih berada di panti rehabilitasi. Nenek yang sudah lemah tak berdaya karena tertabrak, berdarah-darah kepalanya dan sekujur bajunya. Beliau dinyatakan sudah tak bernyawa saat masih di tempat kejadian. Aku saat itu ngotot agar nenek tetap dibawa ke rumah sakit untuk bisa diselamatkan, meskipun pihak dokter dan perawat berkata beliau sudah tak ada, tapi aku tetap berkeras, karena aku tak mampu jika harus terima kenyataan, bahwa nenek memang sudah tiada. Aku, Mar! Aku yang tetap memaksa agar nenek bisa dirawat di rumah sakit! Agar nenek masih bisa tetap hidup! Aku, Mar! Aku! Aku yang … aku … aku … aku tak sanggup kehilangan ibundaku ….” Suaranya parau, ditutupinya wajahnya dengan kedua tangannya.     Aku tak mampu berkata-kata. Aku paham betul apa yang tengah dirasakannya. Ketakutan akan kehilangan orang-orang yang disayang, satu demi satu. Aku pun pernah merasakannya, bahkan kehilangan orang tua di saat usiaku baru 7 tahun, saat aku belum mengerti apa arti dari kata meninggal. Bagiku, meninggal memiliki dua makna, yang pertama yaitu saat orang yang kita sayang memang telah tiada, dan yang kedua yaitu saat orang yang kita sayang memang telah sengaja pergi meninggalkan kita seorang diri, tak mau bersama kita lagi.     Aku ikut menangis, entah menangis karena sedih melihat etek yang takut akan kehilangan orang tuanya, atau menangis karena aku juga takut merasakan lagi pedihnya kehilangan orang yang disayang. Entah, apa bedanya.     Aku jadi teringat saat kakek pertama kali menjemputku seorang diri di rumah sakit di Banda Aceh, setelah tsunami terjadi. Kakek begitu khawatir padaku, juga pada ayahanda dan ibundaku. Dengan jaket hitam lusuh yang membalut tubuh kurusnya, matanya penuh cemas mencari-cari di mana keberadaan anak cucunya. Beliau tahan air matanya, sesak di d**a ia tanggung seorang diri. Getar gemetar jari-jari tangannya saat membuka satu demi satu selimut yang menutupi ratusan mayat di pinggir jalan, mencari-cari di mana letak mayat anaknya, anak kecintaannya, pedih, sakit, ditelannya pahitnya kenyataan, masih seorang diri. Beliau tetap berdiri tegak, kokoh, di atas kakinya sendiri, tak kenal lelah, pantang menyerah, hingga kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, d**a beliau berguncang menemukan mayat anak perempuannya tewas di bawah atap rumah.     Bahkan saat itu, aku belum paham apa yang tengah menimpa kedua orang tuaku. ***       Aku dan etek tengah tertidur di ruang tunggu, kami tertidur pulas di atas sofa. Sebenarnya yang bisa menunggu di ruangan itu hanya 1 orang dari tiap pihak keluarga, namun karena yang berada di ruang ICU hanya dua orang pasien, jadi ruang tunggu itu sepi, dan kami berdua bisa menginap di sana malam itu.     Aku terbangun saat pukul 2 pagi karena merasa mendengar sesuatu. Kutengok ke luar, ternyata pasien di ruang ICU tengah dipindahkan ke kamar jenazah. Aih … berarti kakek tinggallah seorang diri di ruangan itu. Sebelumnya, saat pertama kali aku menjenguk kakek di rumah sakit, terdapat 5 orang pasien di ruang ICU. Namun, satu demi satu pasien di situ dipindahkan ke kamar jenazah, karena telah wafat.     Pukul 7 pagi, dokter menyatakan bahwa kakek telah melewati masa kritisnya. Kami mengucap syukur pada Allah. Lega sekali hati kami rasanya.     “Mar, apa kau mau pulang dulu?”     “Hmmm … memangnya kenapa, Tek?”     “Paman Haikal akan ke sini membawakan pakaian ganti untukku. Kalau kau mau pulang ke rumah dan istirahat, silahkan saja, Mar.” Etek terlihat cukup lelah.     “Baiklah, Tek. Aku akan pulang dan istirahat. Nanti malam, biar aku yang bergantian menjaga kakek.”     Aku mohon diri, dan pulang ke rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD