Lorong Perpustakaan.

984 Words

​Aroma kertas tua, debu yang menari di sela cahaya lampu neon yang berkedip pelan, dan keheningan yang menyesakkan menyambut Kairi di rak paling pojok perpustakaan lantai tiga. Ini adalah tempat persembunyian favoritnya, sebuah labirin di antara rak-rak kayu jati setinggi langit-langit yang menyimpan buku-buku referensi hukum kuno yang jarang sekali disentuh mahasiswa. Di sini, di balik bayang-bayang buku tebal bersampul kulit, Kairi merasa bisa menjadi dirinya sendiri—seorang mahasiswi yang sedang berjuang keras demi skripsi, bukan lagi sekadar objek obsesi seorang pria berkuasa. ​Ia meletakkan tasnya di atas meja kayu kecil yang sudah tergores sana-sini, lalu mulai membuka laptopnya. Jemarinya masih sedikit gemetar. Bayangan senyum ramah mahasiswa junior bernama Rio tadi terus menghantu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD