Alan memandangi ibunya yang tertidur di ranjang. Sudah dua hari mereka menginap di rumah kontrakan yang sempit ini. Hanya ada ruang tamu, satu kamar tidur, sebuah kamar mandi dan dapur. Kamar kontrakan ini begitu lenggang. Tak ada perabotan selain satu kasur busa murahan yang dibeli Alan kemarin, sebuah tikar, ember dan gayung serta handuk. Tak ada satu pun barang yang bisa mereka selamatkan dari rumah. Semuanya disita oleh negara. Yang tersisa hanya baju yang menempel di tubuh mereka sekarang. Saldo di rekeningnya hanya tinggal lima ratus ribu rupiah saja. Sampai kapan mereka bisa bertahan. Alan menghela napas berat. Ini semua karena ayahnya. Jika saja ayahnya tidak melakukan korupsi kondisi mereka tidak akan seburuk sekarang. Alan tertegun ketika ponselnya berbunyi. Dia begitu ketakut

