Cinta Tak Bermata 13

1176 Words
Soni dan Lusi lalu memilih makan di pinggir jalan, membeli nasi goreng yang dijual pedagang kaki lima. "Nggak apa-apa makan di sini?" tanya Soni, wajahnya terlihat serius merasa tak enak hati pada Lusi karena mereka hanya makan di tempat seperti itu. "Memangnya kenapa? Kan aku pengennya nasi goreng." Lusi tersenyum tanpa beban. "Iya, tapi tadi kan kamu ngajak ke restoran, bukan ke sini." "Jangan berpikir aku nggak bisa makan di tempat seperti ini. Kamu lupa kalo aku cuma yatim piatu? Aku udah biasa hidup susah dulu. Justru aku malah takut kamu yang nggak bisa makan di tempat begini, kamu itu Soni Wiguna." Soni menyeringai. "Memangnya kenapa kalo aku Soni Wiguna?" "Artinya kamu pacar aku." Soni mengerutkan keningnya. "Hubungannya apa, Non?" Lusi mengendikkan bahunya, lalu tertawa, disambut dengan tawa ringan Soni. Kedua sejoli itu lalu makan malam secara sederhana, sembari bercanda, menikmati waktu mereka berdua. "Ini kosanmu?" tanya Lusi sembari mengedarkan pandangannya. Ia mengantar sang kekasih pulang, ia ingin tahu kekasihnya itu tinggal di mana. Lusi melihat kondisi rumah kos yang terlihat begitu sederhana, ia menarik napas dalam-dalam sembari mencebikkan bibirnya. "Iya. Kenapa? Kelihatan nggak layak?" Soni melepas sabuk pengaman tanpa melepas sang kekasih dari pandangannya. "Kelihatan sempit, ya? Kamu nyaman tinggal di sini?" "Nyaman enggak nyaman. Aku harus bertahan paling enggak satu bulan di sini, aku kan udah bayar. Harganya juga lumayan mahal karena lokasinya nggak jauh dari kampus." "Kamar kamu yang mana?" "Yang ujung." Lusi terdiam, menatap kamar yang Soni maksud. "Ya udah, aku turun, kamu pulangnya hati-hati." Lusi tak menjawab, ia menekuk wajahnya dengan manja. "Kenapa?" tanya Soni pelan. "Aku nggak mau pulang." Lusi bertingkah manja. Soni menyeringai, terkekeh pelan dan lalu menatap sang kekasih dengan sikap yang tak kalah manja. "Kamu mau nginep di sini? Aku akan masukin kamu ke kamarku diem-diem," ucap Soni dengan nada menggoda. "Apaan, sih." Lusi memajukan bibirnya. "Lah katanya nggak mau pulang, berarti kamu mau nginep di sini kan? Atau ... aku aja yang nginep di rumah kamu?" Soni semakin bersemangat menggoda sang kekasih. Lusi tak menjawab, ia menatap sang kekasih masih dengan bibir yang dimajukan. "Kenapa, sih?" tanya Soni. "Kamu nggak ada HP, nanti kalo aku sampe rumah kangen gimana? Nggak bisa WA, DM, telepon," rengek Lusi dengan manja. Soni terkekeh pelan. "Ditabung, dong, kangennya. Biar makin cinta sama aku." "Ih, nggak asyik." "Lah, maunya gimana? Diajak tinggal bareng nggak mau, pisah nggak mau, maunya gimana? Coba ngomong." Ketika Soni berbicara, ia menggaruk pipinya menggunakan tangan kanan. Pada saat itu Lusi sadar kalau tangan kekasihnya itu masih memar, diraihnya tangan itu dan lalu dilihatnya dengan teliti. "Sakit?" tanya Lusi, Soni menarik tangannya, tak ingin Lusi melihatnya lama-lama. Namun, Lusi segera meraih tangan kanannya lagi dan lalu meniupnya, pelan. Soni tersenyum. "Nggak sakit, kok. Udah, sana pulang. Udah malem, aku nggak mau kalo kamu kenapa-napa. Apalagi aku nggak ada HP." "Makanya besok beli HP, ya?" Lusi memasang wajah memelas. "Udah lah, aku turun. Kamu hati-hati pulangnya." Soni kemudian turun dari mobil sang kekasih, lalu melambaikan tangannya dari luar mobil. Lusi menurunkan kaca pintu mobil. "Aku pulang." "Hm, hati-hati." "Sebut namaku 3 kali sebelum tidur." Soni menyeringai. "Nanti aku sebut nama kamu 10 kali sebelum tidur." Lusi akhirnya pergi walau dengan berat hati. . . 3 hari kemudian, Lusi melompat kegirangan di dalam kamar. Gadis itu bersorak senang karena akhirnya ada restoran yang mau memperkerjakannya, walau gajinya tak sebanyak ketika ia bekerja di restoran milik keluarga Soni. Baginya, kini ia bisa bekerja dengan pengalaman yang miliki, tentunya merupakan sebuah kebahagiaan. "Cari kerja susah banget emang, senengnya bisa keterima. Aku harus nemuin Soni." Lusi langsung mencari sang kekasih di kampus Soni. Ia sudah tak sabar ingin membagikan kabar bahagia itu. Senyum bahagia Lusi luntur ketika sesampainya ia di kampus, ia tak bisa menemukan sang kekasih. "Apa? Dari kemarin Soni nggak ke kampus?" "Iya, Mbak." Pengakuan salah satu teman Soni membuat Lusi merasa kecewa sekaligus khawatir. Ia ingin segera menemui sang kekasih, tetapi pria itu entah ke mana. Tanpa menunggu lama, gadis itu lalu mencari sang kekasih di rumah kos pria itu. Namun, jawaban yang ia terima malah semakin membuatnya kecewa. "Mas Soni berangkat pagi-pagi, terus pulang malem banget, semalem," ungkap pemilik rumah kos pada Lusi. Lusi berjalan menuju mobilnya dengan langkah gontai. "Pantes aja," ucapnya lirih. Gadis itu mengingat bagaimana pertemuannya dengan Soni semalam. Pria itu terlihat lelah, pakaiannya juga tampak kotor, seolah pria itu baru saja melakukan pekerjaan berat. Lusi masuk ke dalam mobil, tertawa sumbang dan kemudian menundukkan kepalanya di atas setir. "Kamu ke mana, Son?" Lusi akhirnya pulang ke rumah, menunggu kedatangan sang kekasih karena itulah yang mereka lakukan 3 hari itu. Soni yang datang menemui Lusi, datang ke rumah gadis itu setiap malam. Waktu seolah tak ingin berteman dengan Lusi, berjalan lebih lambat, tentu saja itu hanya perasaan Lusi. Ia menunggu kedatangan sang kekasih dengan cemas. Ketika malam tiba, Soni datang seperti biasa. Soni disambut dengan wajah Lusi yang sudah ditekuk, wanita itu sudah mengambil keputusan yang cukup berat. Sebenarnya ia tak ingin mengambil keputusan itu, tetapi ia tak ingin melihat masa depan sang kekasih harus hancur karenanya. "Kamu dari mana?" tanya Lusi dengan dingin. Soni sudah menangkap kemarahan sang kekasih, sejak kedatangannya, Lusi tak bersikap seperti biasa. "Kenapa? Ada apa?" tanya Soni dengan suara baritonnya. "Aku tanya, kamu dari mana?!" Lusi menaikkan volume suaranya. Soni menatap Lusi dengan mimik wajah garang. "Aku dari kos." "Seharian kamu ke mana?!" "Aku kuliah." "Nggak usah bohong! Aku tahu kamu udah 2 hari ini nggak kuliah." Soni terkejut dengan ucapan Lusi. "Kamu dateng ke kampus?" tanya Soni dengan suara lirih. "Hooh." Lusi menatap Soni dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Soni hanya diam ketika ia tertangkap basah sudah berbohong pada Lusi. Ia merasa pasrah dengan apa yang akan kekasihnya itu lakukan. "Kamu nggak mau bilang kamu ke mana?" Soni menelan ludah beberapa kali sebelum akhirnya menjawab. "Aku kerja." "Kerja apa sampe kamu nggak masuk kuliah 2 hari?!" Lusi bertanya dengan volume suara yang meninggi. Soni sedang lelah, ia melakukan pekerjaan fisik yang menguras tenaganya, dan kini ia harus dihadapkan dengan kemarahan sang kekasih. "Aku butuh uang, apa salahnya kalo aku kerja?" tanya Soni yang sudah menekuk wajahnya. "Kamu kerja itu nggak salah, yang salah kamu itu nggak masuk kuliah, Son, ngerti nggak sih?" Lusi meneteskan air matanya. "Kenapa malah nangis, sih?!" "Gimana aku nggak nangis kalo kamu begini?" "Begini gimana?" "Kamu mau berhenti kuliah? Iya? Kamu begini karena aku, kan? Kalo adanya aku cuma ngehancurin masa depan kamu, mending kita bubaran aja." Lusi berkata dengan berat hati, air matanya menetes pelan, tetapi pasti. Soni yang sedang merasa kacau itu, tak bisa menahan amarahnya ketika Lusi meminta perpisahan darinya. "Kamu mau putus?" Lusi menatap Soni dengan air mata yang masih menetes. "Hooh. Kita putus aja, kamu pulang aja ke rumah orang tua kamu. Kamu nggak perlu hidup seperti sekarang ini, kamu nggak perlu korbanin masa depan kamu demi aku." Soni berdiri, kemarahan menguasainya. Pria itu menatap Lusi dengan garang. "Baiklah, aku pergi." Soni kemudian pergi meninggalkan rumah Lusi dengan perasaannya yang kacau itu. Lusi menangis sesenggukan, ia tak ingin berpisah, tetapi ia juga tak ingin melihat sang kekasih meninggalkan kuliah. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD