Naik Darahku

2026 Words
Sepulang kerja, aku melarikan diriku ke tempat favoritku, Toko Buku, Toko Buku langgananku, hanya berjarak beberapa meter dari tempatku bekerja. Aku asyik dengan diriku sendiri dan sebuah Novel kesayanganku, ruang sudut hampir tak terlihat tempatku. melepas semua kepenatan, ku dengar beberapa kali di umumkan jika mal akan segera tutup. " Kenapa tidak di beli sekalian saja bukunya ? ," tanya seseorang yang entah siapa, sebab aku harus mendongakkan kepalaku jika ingin bicara dengannya. Sebenarnya, aku masih ingin berjalan jalan menyusuri jalanan Ibu kota, minimal sampai kakiku merasa lelah. " Jalan di malam hari, untuk seorang gadis bukanlah hal yang baik " pria itu lagi. "please .... menjauhkan, aku bukan incaran yang tepat " kataku Aku berusaha mempercepat langkah kakiku, pria di belakangku tidak mau mengalah dia terus saja mengikutiku, tidak ada cara lain, aku harus lari .... Sial ... Jalan buntu, dan ini tempat apa? Daerah dekat kantor, tapi aku tidak pernah menjelajah sampai sejauh ini. Aku meringkuk ketakutan, lututku gemetaran, aku terjongkok pasrah, aku sudah tidak tahu lagi akan di apakan oleh pria itu, jika aku boleh memohon padanya aku akan memohon, ah mimpi sajalah aku ini, mana ada penjahat yang akan dengan ikhlas melepaskan mangsanya. Pasrah ..... aku benar - benar pasrah. " Bangunlah .... " suara Bariton pria yang mengikutiku sejak dari dalam toko. ku tatap wajahnya, jambang tipis di sepanjang tulang pipinya sekilas membuatku terlena. apakah mungkin pria segagah ini akan berbuat yang tidak baik?hidung bangirnya sepertinya memang sudah tercetak khusus untuknya, mata elang yang siap menerkam kapanpun mangsa lengah, rambut tipisnya membuatnya terlihat sangat sempurna, sayang .... penjahat tetap saja penjahat. " A .... aku .... m..m... mohon ..... lepaskan aku " kataku terbata - bata Tawa pria misterius di hadapanku membuatku semakin menciut, aku mulai ketakutan dan menangis. Ya Allah datangkanlah penolongku, andai ada Juan .... akan aku maafkan segala kesalah pahamanku dan dia. " Rindu Setyawan ... " ucapnya Ya Allah .... apakah dia penculik? oh Ayah.... ups .... mana mungkin dia penculik, mau minta tebusan berapa sama Ayahku? ya sudahlah culik saja aku, nanti juga pasti akan di lepaskan, makanku kan banyak, dan mauku juga banyak, pasti dia akan kewalahan. dan akhirnya akan melepaskan diriku. " Gadis bodoh, t***l, mana mungkin aku akan menculikmu... " katanya lagi. Haaa ..... apa aku gak salah denger di bisa mengetahui apa yang aku fikirkan, Hmmm mungkin dia keturunan paranormal yang akan menumbalkan aku untuk kekayaan, oke lah gak apa deh, ikut saja, Jinnya juga bakal takut dan menolak persembahannya. secara aku kan galak dan judes pasti darah dan dagingku tak enak di makan. " Sudahlah ..... gadis t***l buang semua pikiran busukmu itu " " Siapa anda? pergilah aku mau pulang " ucapku " Aku antar kau pulang, sudah malam angkot juga dah ga akan ada, mau di culik? atau di perkosa orang ?" " K.. K ..kau...." jawabku Aku mengikuti langkah kakinya yang panjang, gak mungkinlah aku mengikutinya bagai anak ayam, dia menarik lenganku sepanjang jalan, aku sudah jadi kerbau bajak sawah, pasrah ... aku benar - benar pasrah. Motor sport ? gila .... aku kan gak tinggi - tinggi banget, bagaimana cara naiknya? mau protes pasti akan nambah kesusahanku, lebih baik aku naik angkot deh, buluk juga, gak nyusahin. Siapa sebenarnya, pria gagah ini? apakah dia mata -mata Juan? ah ..... berkhayal saja aku .... mana mungkin Juan segitu merasa bersalah nya sampai mengirimkan seorang penjaga untukku. memangnya siapa aku? istrinya ? kekasihnya ? Deru motor membelah jalanan Ibu Kota, memang tidak pernah mati, sekalipun sudah malam jalanan Jakarta masih saja bising dan macet, Pria di depanku ini cukup gila, dah kaya pembalap saja menyalip di kanan kiri kendaraan lain, aku gak perlu ke Dufan untuk menguji adrenalinku, malam ini saja sudah membuatku sport Jantung, gimana coba kalo aku beneran Jantungan .... ups pastilah aku jantungan mana bisa aku hidup kalo gak punya jantung. bodoh... maksudku bukan jantungan punya jantung, tapi punya penyakit jantung. Tanpa aku beritahu di mana rumahku, pria misterius ini berhenti tepat di halaman rumah. " Ga mau ucapin terimakasih gitu? atau sekedar menawarkan air putih padaku? " " Hmmm ..... terimakasih, gak perlu mengantarku sampai pintu, aku bukan Putri Raja, pulanglah " jawabku " Masih saja judes, galak, Ndu... kamu masih belum ingat siapa aku? " "Siapa kamu? kamu pikir ini kuis ya? " tanyaku. Siapa dia? dia tahu namaku, dia tahu tentang kisah hidupku, kenapa sih dia gak sebut namanya? kenapa juga dia mau mengantarku pulang? banyak pertanyaan di dalam otakku. selesai mandi ku tatap layar ponselku, banyak sekali notif di layar depanku... mau sandiwara apa lagi si Don Juan? "besok pagi akan aku jemput, jangan banyak protes, tunggu aku di rumahmu" " gak perlu bos, sudah ada yang akan menjemputku " "sudah ku bilang, jangan banyak protes" "apa hakmu, melarangku bos ?" " Aku bosmu, aku berhak atas dirimu " " bos .... anda waras? " ku lempar ponselku di atas kasur, perintah.... aku sudah bosen dengan perintah lagi, Stop aku harus cari pekerjaan lain. *** Astagfirullah .... baru juga jam lima tepat bos diktator Juanito Firdaus sudah nangkring di depan rumah. apakah semalaman dia di depan rumah. "masuklah .... masih dingin. ... nanti sakit .... " ujarku mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Di mana Ayah? " tanyanya sambil menatapku "Hmmm .... ayah .... di Bandung, aku .... aku sholat dulu ya, teh mu ada di meja makan. " ujarku. Apakah aku sudah memaafkannya? entahlah, "astagfirullah .... lepaskan Juan, atau aku akan teriak." tiba - tiba Juan memeluk pinggangku, tubuh kami benar-benar menempel, aku bisa merasakan ada yang bergerak di antara sela-sela kakinya. entah apalah itu. "Aku gak akan melepaskanmu " ucapnya di telingaku "Juan.... shalat sana, sudah subuh bukankah hari ini kau akan menculikku ?" ucapku berusaha menetralisir jantungku sendiri. "hmm .... baiklah, bersiaplah " pelukannya mulai mengendor. **** Entah aku akan di culik kemana oleh bosku ini, yang pasti aku sudah pasrah, kali ini dia benar-benar di buatnya tidak bisa berkutik, setiap detik gerakanku benar- benar di awasi, mengapa hidupku begini amat ya ? semalam pria asing itu membuat jantungku berhenti dan hidup kembali seperti rollercoaster. pagi ini sang diktator menculikku secara halus. nasib oh nasib. ternyata masa anak- anak lebih enak walupun aku sendiri aku bisa hidup bebas sesuai yang aku inginkan, aku mau jadi anak kecil lagi aja deh. "Mau apa ?" tanyanya ..... Astagfirullah, Juan oh Juan, ni orang kenapa sih? aku hanya mengeluarkan ponsel saja sudah di tanya mau apa? dia yang maunya apa, sudah bagus aku gak protes di culik dia. " Kamu mau apa ndu? mau menghubungi kekasihmu itu ? " " Apa ? kamu waras ? kekasih apa? kenapa kamu jadi ketakutan? kamu tuh aneh ya? dah bagus aku gak protes, kamu culik " Aku bersungut -sungut. " Kamu pikir aku gak tau ya ndu? semalam kamu pergi kan sama cowok sport pakai motor berduaan, jalanan dah kaya punya sendiri, yang lain hanya miniatur aja " " Heiiii. ... kamu ngikutin aku ? apa hakmu? aku mau jalan sama siapapun itu hak ku " "Hebat kamu ndu, baru dua minggu kita perang dingin, kamu dah jalan sama pria lain, gak nyangka aku ndu " "Maaf .... aku jalan dengan pria lain? Ya tuhan Juan, kalo kamu gak tahu tentang aku lebih baik diam, gak perlu sok introvert gitu, kamu ..... pantas saja gak ada wanita yang mau sama kamu...." Aku sudah mulai kesal dengannya. "jaga mulutmu Ndu, ... jangan sampai aku marah beneran " "Stop, .... berhenti .... kataku berhenti " Aku mulai berteriak, Otak di kepalaku mulai mendidih, seenaknya saja dia mengintimidasiku, bisa naik darah aku lama -lama sama dia. aku fikir perang dingin bisa membuatnya sadar akan kesalahannya, ini malah makin menjadi jadi, memang dia fikir aku ini siapa nya? isterinya ? bisa- bisa aku di kurung di dalam rumah jika aku jadi istrinya. aku sudah gak tahan lagi sama Juan. "Teriaklah Ndu, .... aku gak akan berhenti, jika perlu lampu merah juga akan aku terobos " "Gila .... kamu sudah gila. aku akan lompat, lebih baik aku lecet - lecet dari pada harus terus bersamamu, nyesel aku ikut sama kamu Juan, dasar diktator " Aku mulai menahan air mataku... Pergi sejauh ini hanya untuk bertengkar dengannya, aku benar -benar menyesal, Juan sudah seperti penjahat, dia bukan juan yang aku kenal, bukan Juan yang hangat,bukan Juan yang mengisi hari - hari sepiku selama ini. kekecewaanku makin bertambah, Juan tidak pernah merasa bersalah, Dia penipu ... ketulusanku adalah uji coba buat dia, jangankan permintaan maaf, sikapnya makin aneh, otaknya beneran rembes. **** Villa paradise Bandung, setidaknya itu yang aku baca di gerbang masuk tadi. kami membisu sepanjang jalan, aku asik chattingan denga Ayah. Family again.... aku senang jika kumpul keluarga, tapi ini .... keluarga Juan, dua minggu yang lalu aku terjebak di antara keluarga dia, apakah hari ini juga aku akan kembali terjebak? dunia serasa sempit buatku. Basa -Basi, ngobrol ngalor - ngidul, makan -makan keluarga, Juan setia di sampingku bagai bayangan, segitu takutnyakah kamu Juan? aku terpaksa berpura - pura lagi di depan keluarga Juan, sebenarnya Keluarga ini hangat, penuh kebahagian. Ayse .... Putri Raja di keluarga ini, karena sepupunya laki - laki semua, aku yakin dia gak kekurangan kasih sayang orangtuanya, ada nenek dan bibi yang selalu ada buat dia. " Mam ... aku cape. ... ngantuk. .. " manjanya ayse di pangkuanku. siapa yang tak sayang dengan putri Raja ini, ngegemesin sih.aku sendiri saja yang tak punya adik, jadi sayang banget sama dia. " Ndu .... Ayse tidak gampang dekat dengan orang lain, kami juga tidak menyangka jika dia bisa dekat denganmu " ucap Nyonya besar. " Maaf... kamarnya ayse di mana ya nyonya? sepertinya dia memang mengantuk" tanyaku "Juan akan mengantramu, pergilah " Ayse di pelukanku, usianya masih tiga tahun, pipi mbulnya dan rambut ikal panjangnya, mata coklatnya yang teduh, ah nak.... ibuku kemana? apa yang salah dengan keluarga ini? mereka hangat, welcome banget, seharusnya kamu gak kehilangan ibumu nak. semua ini pasti ulah ayahmu, Ayah ter egois yang pernah aku jumpai. "kamarnya di atas, biar aku yang gendong " pinta Sang Ayah. "hayoo ikut, nanti kalau dia bangun dan mencarimu. bagaimana? " perintah ... Gak di kantor gak di rumah aku tetap bawahan Juan.terpaksa aku yang terpaku di ujung anak tangga mengikutinya. "kita akan tidur di sini" ujarnya " Apa? kita? gak Juan, jangan berharap aku mau sekamar denganmu, aku mau pulang, sekalipun kamu gak mau antar aku, aku akan pulang sendirian. besok aku harus kerja, nanti gajiku di potong lagi jika tidak kerja" "Aku gak akan izinin kamu pulang, aku berkuasa atas dirimu " Juan memulai peperangan lagi. lebih baik aku angkat kaki dari kamar ini, akan aku cari cara agar aku bisa kembali ke Jakarta. ku kecup kening Ayse, hatiku sudah tersangkut dengan putri Raja ini, tapi Ayahnya selalu bikin darahku mendidih, lama -lama aku bisa hipertensi sama makhluk yang bernama Juan. Baru saja kakiku melangkah keluar kamar, Juan menarik lenganku, membuatku memeluknya, pandangan mata kami bertemu, wajah lelah Juan, aku ingin menangis di dadanya, aku kesal sekali padanya, kesal akan perlakuanya yang menipuku, kesal akan pengkhianatannya. Juan menutup pintu kamar dengan kaki panjangnya. "Jangan pergi .... maafkan aku, aku gak mau kehilangan kamu ndu, .... cukup dua minggu ini kita perang dingin, aku gak tenang Ndu, aku tahu aku salah, tapi aku tidak pernah berniat mempermainkanmu, mengertilah Ndu...." " Lepaskan aku, biarkan aku pergi " suaraku mulai serak. " gak akan Ndu, aku gak akan melepaskanmu, menangislah Ndu, aku tahu kau menahan semua rasa ini, aku salah Ndu.... aku cemburu ...." ketukan di pintu, aku merasa bersyukur, ada yang mendatangi kami, tapi juan tetap tidak melepaskan pelukannya, pintu kamar terbuka, Romi masuk dengan sengaja, padahal dia melihat kami berpelukan. " Rindu .... aku .... aku mau minta maaf, waktu itu aku hanya bercanda, kak Juan tidak pernah berniat main-main ndu,... tolong kalian jangan perang dingin lagi. aku hanya ingin bilang itu saja, aku penyebab kalian perang dingin, dan aku juga yang harus membereskannya " " Lepaskan aku Juan .... ada pak Romi. " kataku "Biar saja, aku gak akan melepaskanmu lagi, baru Romi, di depan seluruh penduduk dunia pun aku berani mencumbumu, pergi sana Rom, jangan ada yang naik lagi " " Baik bos, aku paham, hati - hati sepertinya susah di taklukkan " ujar Romi. " kalian bicara apa sih ? lepasin aku Juan... jangan sampai aku teriak " Cubitanku yang entah ke berapa kali tidak membuat Juan me lepaskanku juga. dia malah menggendongku ke kamar lainnya. mau apa dia? oh tidak, aku masih marah dengannya dan aku gak mau jadi mainannya, gak akan aku izin kan Dia menyentuhku lagi, stop, aku benar- benar harus cari akal. " Juan ... bisakah kita jalan - Jalan? sepertinya suasana sore ini cukup baik." "Niat melarikan diri dariku ?" tanyanya. "Ju .... kapan aku baik di mata dan hatimu Juan ? kenapa kamu selalu membuatku naik darah? " Baiklah .... kita pergi, dan ingat jika kau macam-macam aku gak akan kompromi lagi, kamu akan aku hukum seumur hidupmu, mengerti !!" lihat saja Taun besar, kamu pikir aku gak punya akal ya? gak akan aku biarkan kamu menembus pertahananku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD