SEMBILAN

956 Words
Ketika hati ini diberi pilihan pada siapakah pada akhirnya hati akan Tuhan labuhkan??? DEFINA ♡♡♡ Hari hari yang dijalani Defina terasa menyakitkan baginya, ingin rasanya dia berlari pergi dengan sejuta rasa sakit yang tiada henti. Dengan segala kemungkinan yang terjadi dalam hidupnya Defina merasa lelah. Dan ingatlah ketika dunia hanya menjanjikan semua kemungkinan tetapi akhirat akan menjanjikan semua kepastian. Seperti hal nya hidup Defina, sudah lima bulan berlalu Defina masih merasa bimbang. Sejak kepulangannya dari Garut, pertemuannya dengan seorang pria yang entah siapa, dan yang paling mengejutkan adalah kebenaran yang di sampaikan ibunya. Hidup Defina terasa berbeda, tidak senyaman dahulu. Semua pikiran buruk selalu menghantuinya, meski semua nya telah ia pasrahkan pada Allah. Dan sekarang ujian semester nya sudah di depan mata. Tetapi pikiran Defina masih belum terfokus pada ujiannya. Aisyah datang dengan dua mangkuk mie ayam ditangan kiri dan kanannya. Meletakkan nya di atas meja dan mengambil tempat duduk di depan Defina. Defina masih belum bergeming pikirannya masih jauh memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi dalam hidupnya. Aisyah yang menyadari perubahan sikap Defina beberapa bulan ini hanya mampu diam. Tidak ingin mengusik lebih dalam masalah sahabatnya ini. Meski dirinya berstatus sebagai sahabat Defina tetapi tetap saja ada hal yang perlu di garis bawahi. Dan ada batasan yang tidak boleh di langggar. Aisyah melirik Defina, mengambil saus dan menuangkannya kedalam mangkuk miliknya. "Fin, udah dulu ngelamunnya. Makan dulu!" Ucap Aisyah sambil menuangkan kecap setelah tadi menuangkan saus pada mangkuknya. Defina masih belum bergeming, Aisyah menggelang pelan. Selalu Defina seperti itu, anak itu hanya akan memebagi rasa sakit itu pada sujud tahajudnya. Dan pada Aisyah jika memang sudah lelah dan merasa menyerah. "Fin, " kembali dan kembali Aisyah menyadarkan Defina agar sadar dari lamunannya. Disertai tepukan pada tangannya Defina sadar bahwa Aisyah sudah ada di depannya. Dengan mata teduh khas dari seorang Defina, dan senyum yang di patri indah di bibirnya Defina tersenyum memasang wajah andalannya ketika Aisyah sudah mulai kesal dengan sikapnya. Aisyah tersenyum tipis, menghela nafas sebelum berbicara pada sahabatnya itu. "Muka nya biasa aja. Ayok cepet makan, kan mau lanjutin tugas yang tadi." Ucap Aisyah,wanita ini memang bukan tipe orang yang suka kepo. Jadi wajar bila Defina betah bersahabat dengan Aisyah. Bukan lagi sahabat Defina sudah menganggap Aisyah sebagai kakaknya sendiri. Sadar karena Aisyah lebih dewasa darinya. Defina mulai mengaduk mie ayam yang ada didepannya. Memasukannya kedalam mulut, berusaha mencerna setiap rasa dalam mulutnya. Tidak ada percakapan antara Defina dan Aisyah, mereka terfokus dengan pikirannya masing masing. Defina fokus pada segala kemungkinan yang akan terjadi dalam hidupnya. Dan Aisyah sibuk dengan ujian yang sudah di depan mata. "Alhamdulilah." Defina mendongkak menatap Aisyah yang sudah menghabiskan makanannya. Kemudian melirik mangkuknya. "Bentar yah aku habisin dulu sayang." Ucap Defina pada Aisyah, segalau apa pun Defina. Tidak pernah sekalipun ia menyisakan makanannya. Ia sadar mungkin di luar sana masih banyak orang yang kelaparan, sedangkan dirinya masih diberi kecukupan. Jadi tidak ada kata mensyukuri jika Defina membuang makanannya dengan se enak hati. Aisyah masih menatap wajah Defina, Aisyah sadar sahabatnya itu sedang tidak baik baik saja. Tanpa sadar tiga orang pria sedang mendekat ke arah meja mereka. Defina menyelesaikan makananya ketika langkah kaki berhenti tepat di meja yang diduduki dirinya dan Aisyah. "Asalamualaikum." Ucap salah seorang pria tadi Dengan menundukan kepala Aisyah dan Defina menjawab salam itu dengan kompak. "Walaikumsalam" balas mereka serempak. "Saya mencintai Defina." Ucapan seorang pria tadi sontak membuat Defina bergetar kaku, seolah oksigen dalam dirinya sudah menipis. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Defina masih belum bergeming, ia bukan tidak kenal dengan pria itu, pria itu adalah Zaidan. Teman seangkatan di kampusnya. Sama halnya dengan Defina, Aisyah juga sama terkejutnya. "Maaf, saya tidak mengerti." Balas Defina masih dengan wajah menunduk. "Saya sudah lama mengagumi kamu, saya tau ini mungkin akan bikin kamu risih. Tapi saya terlanjur masuk kedalam rencana yang saya ciptakan sendiri." Zaidan berucap dengan lancar, seolah itu adalah kata kata biasa yang tidak berat untuk ia ucapkan. Tanpa beban dan tanpa pertimbangan. "Maaf saya ada urusan permisi, Asalamualaikum." Tanpa ada perkataan apa pun Defina memilih mengakhiri ucapan Zaidan dengan pergi berlalu dari hadapannya. Menarik tangan Aisyah dan berlalu pergi meninggalkan Zaidan dan teman temanya yang masih menatap tidak percaya kepergian Defina. "Fin, kamu baik baik aja kan?" Aisyah menatap Defina yang sudah terduduk lemas di bangku taman kampusnya. Aisyah mengerti masalah yang di hadapi Defina pasti berat. Zaidan bukan orang biasa. Semua yang tinggal di pesantren tahu siapa itu Zaidan. Dengan wajah yang masih menunduk menahan butiran air mata, Defina berhambur ke pelukan Aisyah. Menceritakan dengan rinci semua permasalahan yang terjadi beberapa bulan ini. Mungkin Allah memang sandaran yang paling baik, tetapi untuk kali ini biarkan Defina membagi rasa sakitnya pada orang yang sudah setia padanya. Diringi langit yang sudah mendung, dan awan yang siap menumpahkan hujan. Defina mengulang kisah pilu nya. Menumpahkan segala kekesalan dalam dirinya. Semua rasa sakit yang ia pendam sudah tidak dapat ia sembunyikan. Isakannya semakin lama semakin terdengar jelas. Bukan meratapi, tetapi Defina sudah lelah dengan semua skenario yang Allah hadirkan dalam hidupnya. Biarkan semua menjadi saksi bagaimana sosok Defina Islami Nurfauzi, untuk pertama kalinya mengulang kisah pilu yang sudah ia kubur dalam dalam. Tetapi manusia tetaplah manusia memiliki rasa lelah dan ada saatnya merasa lemah. Satu jam berlalu Defina menghabiskan waktu dengan menangis. Matanya sudah sembab, menyisakan isakan yang tertahan. Aisyah masih setia berada di samping Defina. Berusaha menenangkan sahabatnya. "Udah yah fin, pasti ada hikmah di balik cobaan ini. Allah sedang nyiapin sesuatu yang indah buat kamu." Ucap Aisyah, berusaha menghibur Defina. "Makasih yah. Berkat kamu aku ngerasa udah baikan kok. Mungkin kamu bener Allah sedang nguji kesabaran aku," sesal Defina. Aisyah menggapi tangan Defina, memegangnya erat. Menatap mata Defina dengan hangat. "Kita hadapin ini semua sama sama." Ucap Aisyah tulus dan yakin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD