011

1628 Words
Keesokan harinya, Alex dipanggil ke ruang briefing. Dark Spotter sudah menunggunya dengan berkas tipis di tangan—terlalu tipis untuk sebuah keluarga besar, namun justru itulah yang membuatnya mencurigakan. “Informasi tentang keluarga Deer Enthusiast,” kata Dark Spotter singkat. Alex membuka berkas itu. Isinya ringkas, namun setiap baris terasa kotor. Keluarga Deer Enthusiast dikenal sebagai keluarga pedagang asal Eropa. Secara resmi, mereka datang ke Amerika untuk mempromosikan produk dagang mereka. Namun di balik wajah bersih itu, mereka memonopoli pasar dan kota-kota yang mereka singgahi. Lebih dari itu— Mereka terlibat dalam perdagangan gelap tingkat internasional. Penjualan informasi rahasia. Perdagangan organ tubuh manusia. Semua dilelang dalam jaringan bawah tanah yang dikenal sebagai “World’s Dark Transactions.” “Target kita jelas,” lanjut Dark Spotter. “Kita memburu keluarga Deer Enthusiast sampai ke akar. Tidak boleh ada yang tersisa.” Alex menutup berkas itu perlahan. “Jadi… kita ke Eropa,” ucapnya datar. Dark Spotter tersenyum tipis. “Jawaban yang sempurna untuk kapten baru kita.” “Kapan kita berangkat?” “Sekarang. Helikopter penjemput sudah hampir tiba.” Alex mengangguk. “Apakah kita punya rencana penangkapan?” “Tidak ada,” jawab Dark Spotter tanpa ragu. “Intinya satu—tunjukkan taring Amerika. Jika mereka berani bermain di wilayah kita, kita pastikan mereka menghilang dari peta.” Alex tersenyum tipis. “Kalau begitu… akan kubuat kuburan untuk mereka.” “Tapi ada satu hal, Kapten,” sela Dark Spotter. “Kau harus membawa anggota Number dalam misi ini.” “Hah?” Alex mendecih. “Kau gila? Aku bisa mengatasi ini sendiri.” “Keputusan atasan tidak bisa dibantah.” Sebelum Alex menjawab, suara baling-baling helikopter terdengar dari kejauhan. “Mereka sudah tiba, Kapten.” Alex menoleh. “Kalau begitu, aku masuk duluan. Suruh anggota Number segera naik. Paham.” “Siap.” Anggota Number yang melihat helikopter segera bergegas. Ketika mereka masuk, mereka mendapati Alex sudah duduk di kursi paling depan, tenang, seolah ini hanya perjalanan biasa. “Tak kusangka kapten akan sesemangat ini di misi pertamanya,” bisik salah satu dari mereka. Alex menoleh sekilas. “Kita bahas detailnya di hotel nanti. Fokus.” “Siap, Kapten.” --- Setelah penerbangan panjang, mereka tiba di Washington. Helikopter mendarat di atap sebuah hotel bintang lima. Tanpa menarik perhatian, mereka masuk ke ruangan privat yang telah disiapkan khusus. Alex berdiri di depan meja, membuka proyektor, langsung masuk ke inti. Di dalam ruangan ini… ada enam belas orang, termasuk aku. Berarti mereka memang menyiapkan panggung ini untuk kita. Denah gedung muncul di layar. “Target utama kita adalah kediaman pusat keluarga Deer Enthusiast di Washington,” kata Alex. “Kita hancurkan dari dalam.” Ia menunjuk peta. “Lima orang tetap di hotel. Tugas kalian memantau area menggunakan drone dan menyabotase seluruh CCTV.” “Lima orang lain fokus pada penembakan jarak jauh.” “Sisanya mengamankan lima jalur: jalan masuk, jalan keluar, jalur rahasia, jebakan, dan pengalihan.” Alex berhenti sejenak, memastikan semua mendengar. “Kalian yang menjadi pengamat dari jarak jauh harus pintar mengecoh. Ledakan akan kalian buat di depan gedung.” Ia menunjuk jalur depan. “Lima orang masuk lewat belakang. Aku lewat depan—tepat di lokasi ledakan.” “Kenapa depan, Kapten?” tanya salah satu anggota. “Karena jalur rahasia penuh jebakan. Mereka ingin kita memilih jalur itu.” “Belakang akan dibantu penembak. Drone mengamankan jebakan dan jalur rahasia. Paham?” “Paham!” “Ayo mulai misi.” --- Mereka bergerak menggunakan truk logistik. Lima orang di dalam, lima lainnya menyebar di posisi masing-masing. Truk dihentikan di gerbang depan. Penjaga mendekat, menanyakan identitas dan tujuan. Alex menatap matanya. Beberapa detik kemudian— Penjaga itu terdiam, lalu tersenyum kosong. “Silakan masuk. Kalian sudah ditunggu.” Alex tersenyum tipis. Hipnosisnya berhasil. Tak lama kemudian— BOOM! Ledakan mengguncang bagian depan gedung. Kekacauan pecah. Lima anggota Number di truk langsung mengenakan masker dan bergerak memutar menuju belakang. Namun situasi di belakang jauh lebih padat dari perkiraan. Banyak penjaga bergerak ke sana. Bentrokan tak terhindarkan. Sementara itu— Alex mengenakan seragam khusus buatan Bleeding Girl. Ia hanya meminta desain untuk duel… Namun yang ia terima adalah jas tuxedo hitam lengkap dengan topeng. Ia melangkah maju. Para penjaga terkejut melihat sosok bertopeng berjas rapi berjalan santai di tengah kekacauan. Bang! Bang! Bang! Pistol rakitan Alex berbunyi. Beberapa penjaga langsung tumbang hanya dengan beberapa tembakan presisi. Ia berjalan seolah berada di panggung sendiri. Seperti iblis yang turun ke medan perang. Saat sampai di pintu utama, Alex menghunus pisau dan pistolnya. “Ayo kita menari, sampah.” Ia menerjang. Dalam hitungan detik, lima orang tumbang oleh sabetan pisau dan tembakan jarak dekat. Beberapa mencoba menyerangnya dengan tangan kosong. Alex tertawa pelan. “Kalian yang hanya tikus di bawah keluarga ini… membuatku tertawa,” katanya dingin. “Kalian sampah rendahan yang tak tahu tempat. Paham?” Dan pesta berdarah itu baru saja dimulai. Keesokan harinya, Alex dipanggil ke ruang briefing. Dark Spotter sudah menunggunya dengan berkas tipis di tangan—terlalu tipis untuk sebuah keluarga besar, namun justru itulah yang membuatnya mencurigakan. “Informasi tentang keluarga Deer Enthusiast,” kata Dark Spotter singkat. Alex membuka berkas itu. Isinya ringkas, namun setiap baris terasa kotor. Keluarga Deer Enthusiast dikenal sebagai keluarga pedagang asal Eropa. Secara resmi, mereka datang ke Amerika untuk mempromosikan produk dagang mereka. Namun di balik wajah bersih itu, mereka memonopoli pasar dan kota-kota yang mereka singgahi. Lebih dari itu— Mereka terlibat dalam perdagangan gelap tingkat internasional. Penjualan informasi rahasia. Perdagangan organ tubuh manusia. Semua dilelang dalam jaringan bawah tanah yang dikenal sebagai “World’s Dark Transactions.” “Target kita jelas,” lanjut Dark Spotter. “Kita memburu keluarga Deer Enthusiast sampai ke akar. Tidak boleh ada yang tersisa.” Alex menutup berkas itu perlahan. “Jadi… kita ke Eropa,” ucapnya datar. Dark Spotter tersenyum tipis. “Jawaban yang sempurna untuk kapten baru kita.” “Kapan kita berangkat?” “Sekarang. Helikopter penjemput sudah hampir tiba.” Alex mengangguk. “Apakah kita punya rencana penangkapan?” “Tidak ada,” jawab Dark Spotter tanpa ragu. “Intinya satu—tunjukkan taring Amerika. Jika mereka berani bermain di wilayah kita, kita pastikan mereka menghilang dari peta.” Alex tersenyum tipis. “Kalau begitu… akan kubuat kuburan untuk mereka.” “Tapi ada satu hal, Kapten,” sela Dark Spotter. “Kau harus membawa anggota Number dalam misi ini.” “Hah?” Alex mendecih. “Kau gila? Aku bisa mengatasi ini sendiri.” “Keputusan atasan tidak bisa dibantah.” Sebelum Alex menjawab, suara baling-baling helikopter terdengar dari kejauhan. “Mereka sudah tiba, Kapten.” Alex menoleh. “Kalau begitu, aku masuk duluan. Suruh anggota Number segera naik. Paham.” “Siap.” Anggota Number yang melihat helikopter segera bergegas. Ketika mereka masuk, mereka mendapati Alex sudah duduk di kursi paling depan, tenang, seolah ini hanya perjalanan biasa. “Tak kusangka kapten akan sesemangat ini di misi pertamanya,” bisik salah satu dari mereka. Alex menoleh sekilas. “Kita bahas detailnya di hotel nanti. Fokus.” “Siap, Kapten.” --- Setelah penerbangan panjang, mereka tiba di Washington. Helikopter mendarat di atap sebuah hotel bintang lima. Tanpa menarik perhatian, mereka masuk ke ruangan privat yang telah disiapkan khusus. Alex berdiri di depan meja, membuka proyektor, langsung masuk ke inti. Di dalam ruangan ini… ada enam belas orang, termasuk aku. Berarti mereka memang menyiapkan panggung ini untuk kita. Denah gedung muncul di layar. “Target utama kita adalah kediaman pusat keluarga Deer Enthusiast di Washington,” kata Alex. “Kita hancurkan dari dalam.” Ia menunjuk peta. “Lima orang tetap di hotel. Tugas kalian memantau area menggunakan drone dan menyabotase seluruh CCTV.” “Lima orang lain fokus pada penembakan jarak jauh.” “Sisanya mengamankan lima jalur: jalan masuk, jalan keluar, jalur rahasia, jebakan, dan pengalihan.” Alex berhenti sejenak, memastikan semua mendengar. “Kalian yang menjadi pengamat dari jarak jauh harus pintar mengecoh. Ledakan akan kalian buat di depan gedung.” Ia menunjuk jalur depan. “Lima orang masuk lewat belakang. Aku lewat depan—tepat di lokasi ledakan.” “Kenapa depan, Kapten?” tanya salah satu anggota. “Karena jalur rahasia penuh jebakan. Mereka ingin kita memilih jalur itu.” “Belakang akan dibantu penembak. Drone mengamankan jebakan dan jalur rahasia. Paham?” “Paham!” “Ayo mulai misi.” --- Mereka bergerak menggunakan truk logistik. Lima orang di dalam, lima lainnya menyebar di posisi masing-masing. Truk dihentikan di gerbang depan. Penjaga mendekat, menanyakan identitas dan tujuan. Alex menatap matanya. Beberapa detik kemudian— Penjaga itu terdiam, lalu tersenyum kosong. “Silakan masuk. Kalian sudah ditunggu.” Alex tersenyum tipis. Hipnosisnya berhasil. Tak lama kemudian— BOOM! Ledakan mengguncang bagian depan gedung. Kekacauan pecah. Lima anggota Number di truk langsung mengenakan masker dan bergerak memutar menuju belakang. Namun situasi di belakang jauh lebih padat dari perkiraan. Banyak penjaga bergerak ke sana. Bentrokan tak terhindarkan. Sementara itu— Alex mengenakan seragam khusus buatan Bleeding Girl. Ia hanya meminta desain untuk duel… Namun yang ia terima adalah jas tuxedo hitam lengkap dengan topeng. Ia melangkah maju. Para penjaga terkejut melihat sosok bertopeng berjas rapi berjalan santai di tengah kekacauan. Bang! Bang! Bang! Pistol rakitan Alex berbunyi. Beberapa penjaga langsung tumbang hanya dengan beberapa tembakan presisi. Ia berjalan seolah berada di panggung sendiri. Seperti iblis yang turun ke medan perang. Saat sampai di pintu utama, Alex menghunus pisau dan pistolnya. “Ayo kita menari, sampah.” Ia menerjang. Dalam hitungan detik, lima orang tumbang oleh sabetan pisau dan tembakan jarak dekat. Beberapa mencoba menyerangnya dengan tangan kosong. Alex tertawa pelan. “Kalian yang hanya tikus di bawah keluarga ini… membuatku tertawa,” katanya dingin. “Kalian sampah rendahan yang tak tahu tempat. Paham?” Dan pesta berdarah itu baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD