01

1153 Words
Pukul 15.00, seluruh anggota terpilih telah berbaris rapi di lapangan Angkatan Militer Indonesia. Tubuh-tubuh tegap, tinggi, dan berisi berdiri sejajar—mereka bukan prajurit biasa, melainkan orang-orang yang dipilih untuk sebuah misi khusus. Namun dari barisan itu, ada satu sosok yang terlambat. Alex. Ia datang satu menit setelah waktu yang ditentukan. Cukup untuk menjadikannya pusat perhatian. Bisik-bisik mulai terdengar. Bukan hanya karena keterlambatannya, tetapi karena usianya—lima belas tahun. Jauh lebih muda dibanding yang lain, bahkan selisih umur mereka bisa mencapai sepuluh tahun. Alex tidak peduli. Tatapannya datar, langkahnya tenang. Ia berdiri di barisan tanpa rasa takut. Bukan karena bodoh—melainkan karena ia tahu posisinya. Meski masih remaja, Alex adalah senior mereka. Itulah alasan mengapa banyak yang membencinya. Ia adalah anak pungut militer, ditemukan bertahun-tahun lalu di sebuah dermaga. Pikirannya melayang pada masa lalu. Beberapa tahun sebelumnya, Alex diusir dari rumahnya sendiri. Ia sering menghabiskan uang ayahnya, bahkan pernah meminjam uang menggunakan nama sang ayah. Padahal ayahnya bukan orang biasa—seorang pria Inggris dengan aset besar, keras, dan disiplin. Malam itu, Alex pulang dari diskotik dalam keadaan kacau. Begitu menginjakkan kaki di rumah, beberapa senjata tajam melayang ke arahnya. Ia berhasil menghindar. Ibunya mencoba menenangkan ayahnya, tetapi sia-sia. Dengan suara dingin, ayahnya berkata, “Jangan kembali sebelum kau sukses atau menjadi orang hebat. Paham?” Alex terdiam. Ia berjalan sendiri di bawah gemerlap lampu malam. Ingin menangis, tetapi ia sudah berjanji pada ibu dan kakaknya—ia harus kuat. Namun malam itu, takdir memilih jalur yang lebih gelap. Ia berpapasan dengan sekelompok gangster sadis. Alex berlari hingga ke dermaga dan bersembunyi di bawah sebuah truk militer darat yang terparkir. Tapi salah satu gangster muncul dari belakang dengan senjata tajam. Tanpa pikir panjang, Alex menendang s**********n pria itu, merebut senjatanya, lalu berlari ke arah kontainer dan bersembunyi di dalamnya. Kesalahan fatal. Sepuluh gangster itu ikut masuk. Dunia Alex gelap. Saat sadar, Alex mendapati dirinya menatap seorang jenderal militer. Tatapan sang jenderal bukan kemarahan—melainkan ketidakpercayaan. “Apakah kau yang membuat kekacauan ini?” tanya sang jenderal. Alex menjawab sambil tersenyum tipis, “Bukan aku. Mereka mengejarku… lalu aku membunuh mereka.” Senyum itu membuat sang jenderal merinding. Alex kembali tak sadar. Sebelum pergi, sang jenderal bergumam, “Sepertinya aku menemukan monster.” Sejak saat itu, nama Alex mulai dikenal—sebagai anak dengan rumor pembunuh mengerikan. Kini, di lapangan militer, sang jenderal membagikan lembaran kertas. Dari puluhan orang, hanya lima yang terpilih—termasuk Alex. Lima lainnya adalah pembunuh khusus milik Menteri Pertahanan. Misi mereka: Membunuh atau menangkap hidup-hidup ketua kartel di Sungai sss. Hidup atau mati tidak penting—kepalanya cukup. Pukul 16.30, Alex menelpon ayahnya. “Ayah… aku akan kembali.” Hanya itu. Malamnya, sepuluh orang dari Indonesia berangkat ke Amerika. Di pangkalan militer Amerika, mereka diperkenalkan dan dibagi ke tenda masing-masing. Alex satu tenda dengan seorang pria Amerika—tangan kanan Menteri Pertahanan. Kodenamanya: 01. Mereka bercanda singkat, lalu tertidur. Keesokan paginya, pasukan lengkap berkumpul. 10 orang Indonesia. 20 orang Amerika. Di antaranya, lima pembunuh elite—termasuk 01. Lima helikopter membawa mereka menuju Sungai sss. Setibanya di sana, strategi gerilya diterapkan. Lima orang menjaga helikopter, drone diterbangkan, sinyal dikirim ke pusat. Namun aneh—tidak ada tanda-tanda pasukan kartel. Mereka masuk lebih dalam ke hutan. Kesalahan kedua. Reza—ketua pembunuh Indonesia—terlalu bersemangat. Ia berdiri dan membuat keributan. Alex menoleh ke atas pohon dan berteriak, “Reza, anjing!” Terlambat. Dari pepohonan dan semak-semak, pasukan kartel bermunculan. Tembakan meledak dari segala arah. Angkatan gabungan Indonesia–Amerika dihujani peluru. Perang dimulai. Semua orang berlari ke segala arah. Tembakan terdengar membabi-buta. Pasukan kartel menyerang dari segala penjuru—dari balik pohon, semak, dan ketinggian. Mereka seperti ada di mana-mana. Pasukan gabungan mencoba melawan, tetapi jumlah musuh terlalu besar. Keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Satu per satu anggota pasukan gabungan tumbang. Alex terus bergerak. Pisau belatinya menari, pistolnya menyalak. Granat tangan dilempar ke berbagai arah—namun hasilnya nihil. Pasukan kartel justru semakin banyak bermunculan. Akhirnya, tersisa lima orang. Tiga orang Amerika—pembunuh elite—masih bertahan dan sempat meratakan beberapa pasukan kartel. Namun itu tetap sia-sia. Dua lainnya adalah Alex dan Reza. Reza terluka parah. Darah mengalir deras dari tubuhnya. Ia dibopong oleh 02 dan 03, sementara Alex berdiri di garis depan sendirian, menahan serangan kartel. 01 berada sekitar lima ratus meter di belakang, melindungi Reza bersama dua rekannya. Mereka bertahan mati-matian. Namun hanya satu helikopter yang tersisa. Yang lain telah dihancurkan oleh pasukan kartel. 02 dan 03 berhasil menaikkan Reza ke helikopter. 01 menyusul, meski terlambat. Saat mesin mulai menyala, Reza berteriak dengan wajah licik bercampur panik, “Cepat terbangkan helikopter ini, b**o! Aku tidak mau mati di sini!” Ia lalu tersenyum tipis. “Tinggalkan Alex. Dia cuma sampah buat kita.” Helikopter pun terangkat. Alex mendengar semuanya. Ia terdiam. Membeku. Namun hanya sesaat. Pasukan kartel mengepungnya. Tapi bukan Alex namanya jika mudah tumbang. Ia menghindari serangan, membalas dengan tembakan akurat—setiap peluru menembus kepala. Tatapan Alex kosong. Dingin. Di atas tumpukan mayat, ia bergumam, “Akan kubuat kuburan neraka untuk Reza, b******n itu.” Alex berlari masuk lebih dalam ke hutan. Kartel mengejarnya. Ia bersembunyi di celah sempit antar pohon. Tiba-tiba seekor ular menyerangnya. Refleks—Alex menangkap kepala ular itu dan membelahnya menjadi dua. Tubuhnya penuh luka. Ia kembali ke titik kumpul awal untuk mengambil kotak P3K. Setelah mengobati lukanya seadanya, ia mengubur alat komunikasi. Saat hendak pergi, sekelompok kartel lewat. Mereka tidak sempat sadar. Leher mereka tersayat cepat. Alex menuju sungai dan membersihkan darah dari tubuhnya. Nalurinya berteriak—ia sedang diawasi. Ia berputar dan menembak. Kepala musuh itu hancur seketika. Alex mengambil senjata, amunisi, dan penutup kepala kartel tersebut. Ia mengikuti pergerakan mereka hingga menemukan gerbang tinggi di celah bukit, tersembunyi di balik pepohonan raksasa. Di depan gerbang itu, Alex berjanji, “Aku akan membuat teror dan penyiksaan untuk kalian.” Ia masuk. Identitas musuh yang ia bunuh terbaca: 010. Alex menyusup ke tenda-tenda kartel dan mulai menyusun rencana. Malam pertama. Tiga orang kartel mati. Disiksa. Alex merasakan beban di dadanya perlahan menghilang. Mayat mereka dipasang di atap bangunan, membentuk salib, dengan senapan laras panjang sebagai penyangga. Pagi hari, seluruh kartel gempar. Kulit korban dikuliti. Kepala mereka tinggal tengkorak. Malam berikutnya—hal yang sama. Tiga korban setiap malam. Hingga malam keempat. Saat Alex hendak menyiksa tiga korban berikutnya, ia merasakan kehadiran lain. Tidak ada hawa membunuh. Alex berkata tenang, “Keluarlah. Atau kau jadi korban keempat.” Seorang pria muncul, tersenyum licik. “Waduh… ketahuan. Sepertinya aku akan mati.” Alex menatapnya dingin. “Kenapa kau mengamatiku saat aku menyiksa rekanmu?” Pria itu tertawa kecil. “Rekan? Mereka cuma b***k kartel b******n itu.” Alex menyipitkan mata. “Lalu kenapa kau mengikutiku?” “Aku ingin kerja sama,” jawabnya. “Aku punya rencana untuk membunuh ketua kartel.” Dalam hati, Alex bertanya, Apakah aku bisa mempercayainya? Alex tersenyum tipis. “Baik. Aku ikut.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD