03

968 Words
12.00 siang. Di bawah terik matahari yang menyengat, Alex sibuk menyiapkan barang-barangnya. Tas besar terbuka di lantai, diisi dengan makanan, perlengkapan darurat, dan persediaan avtur dalam jumlah yang menurutnya cukup—bahkan lebih dari cukup. Di sudut ruangan, sebuah helikopter terparkir diam, baling-balingnya berkilau memantulkan cahaya. Alex menatapnya lama. Ia ingin mengendarai helikopter itu. Masalahnya… ia bukan pilot. Alex masih remaja biasa. Remaja yang lebih akrab dengan suara knalpot motor daripada dengungan baling-baling. Tapi hari itu, ia tidak punya pilihan. Ia mengambil buku panduan helikopter, membukanya, dan mulai membaca dengan serius—sesuatu yang jarang ia lakukan. Tiga jam berlalu. Keringat mengalir di pelipisnya. Tombol-tombol di kokpit terlihat seperti teka-teki gila. Terlalu banyak tuas. Terlalu banyak indikator. Namun Alex tidak menyerah. “Demi pulang ke rumah…” gumamnya pelan. “Aku akan lakukan apa pun.” Ia menarik napas dalam, lalu mengingat kembali langkah-langkah dasar. Mesin. Bahan bakar. Sistem kelistrikan. Perlahan, satu per satu dicek. Lalu Alex memastikan barang bawaannya—semuanya lengkap. Termasuk kepala kartel yang telah ia awetkan dengan rapi. “Kalau begitu…” Alex tersenyum tipis. “Ayo.” Kita terbang. Helikopter mulai bergerak, perlahan mengambil ancang-ancang. Getaran halus berubah menjadi deru kuat. Baling-baling berputar semakin cepat—dan akhirnya, helikopter itu terangkat dari tanah. Alex membelalakkan mata. “HAH—BERHASIL?!” Rasa senang langsung membanjiri dadanya. Ia tertawa lepas, seperti anak kecil yang baru saja memenangkan sesuatu yang mustahil. Tapi euforia itu segera ia tekan. Ia kembali membuka buku panduan, mencoba menggerakkan helikopter perlahan dan stabil. Tak lama kemudian, GPS dinyalakan. Tujuan: Amerika. Alex terdiam saat membaca estimasi perjalanan. “Sebulan…?” Ia menghela napas panjang. “Bercanda, kan?” Tanpa banyak pikir, ia langsung menaikkan kecepatan. Buku panduan dilempar ke kursi samping. “Peduli amat.” Untuk menghemat tenaga, Alex mengaktifkan auto pilot—hasil modifikasi kasar dengan ganjalan kain dan potongan kayu. Semua dilakukan demi satu hal sederhana: makan dulu. Hari pertama perjalanan pun terlewati. Di tengah kebosanan langit luas, ide gila muncul di kepala Alex. “NOS…” Ia mulai memodifikasi helikopter, memasang mesin nitrous oksida—sesuatu yang bahkan tidak dirancang untuk kendaraan terbang. Saat NOS diaktifkan, helikopter terpental ke depan dengan kecepatan brutal. “AARRGH—!” Alex berusaha menjinakkan besi terbang itu, tubuhnya terombang-ambing seperti pemain sirkus. “Dasar helikopter b*****t!” “Kau susah dikendalikan, ya?!” Tiba-tiba— DAAARRR!! Suara ledakan dari belakang. Mesin NOS hampir meledak. Dengan susah payah, Alex berhasil menstabilkan helikopter. “…Sepertinya masih bisa.” Ia menyeringai. “Kita coba lagi.” Dan entah bagaimana—ia berhasil. Amerika sudah di depan mata. Persediaan avtur masih aman. NOS tersisa sembilan tabung. “Baik…” Alex mengencangkan sabuk. “Satu lagi.” “Voler, mesin terbangku.” Kata itu berasal dari bahasa Prancis—terbang. Helikopter melesat lebih cepat dari sebelumnya. “Ayo… lebih cepat lagi!” NOS dipasang lagi. Kecepatan melonjak liar. “I will rule this sky.” Helikopter mulai kehilangan keseimbangan. Baling-baling menjerit melawan angin. Alex mulai mabuk langit, kepalanya pusing, perutnya bergejolak. “Heh…” “Apa aku anak kecil yang ketakutan karena naik hewan besi, hah?” Ia mencoba tenang… Namun masalah lain muncul. “…Aku bisa lawan mabuknya,” gumamnya. “Tapi bukan yang ini…” Alex menahan perutnya. “AKU MC CERITA INI, AKU TIDAK BOLEH TERLIHAT LEMAH—” “AAAA—KEBELET—!” Dengan keajaiban yang absurd, helikopter kembali stabil. Alex mengambil kotak plastik dan tisu. Dan ya— Ia boker sambil menerbangkan helikopter. “PPPPRRRRT—” “Ahh… mantap.” Tiba-tiba— GGGREEEWK. “ANJRIT!” Helikopter terguncang hebat. Alex langsung menyelesaikan urusannya, membungkus plastik itu, membuangnya, lalu melompat ke kursi pilot. “Dasar panggilan b*****t…” Langit di depan berubah gelap. Awan hitam tebal bergerak cepat ke arahnya. “Oh?” Alex tersenyum miring. “Yo, hewan besi. Kita lawan awan hitam ini.” Kecepatan penuh. Sistem penyeimbang dimodifikasi ulang. Lima NOS dipasang sekaligus. “Ayo… kita jinakkan naga besar ini.” “1… 2… 3!” DAAAASSHHH! Helikopter menghantam badai. Getaran hebat mengguncang segalanya. Alex hampir kehilangan kendali—tapi tidak. “Bukan Alex namanya kalau kalah!” “Ayo, naga!” “Jangan kecewakan kaisarmu!” Dan akhirnya… Awan hitam terlewati. Langit kembali cerah. Alex menatap peta digital. “…Sudah dekat.” Ia mengelus panel kemudi. “Naga-ku…” Di hari ketujuh perjalanannya, Alex, remaja berusia 15 tahun, menghadapi ujian terakhir dalam misi yang telah menuntut nyawanya berulang kali. Dengan persediaan makanan yang habis dan tubuh yang hampir kelelahan karena kelaparan, ia berusaha bertahan hidup di bawah teriknya matahari Meksiko. Meditasi dan ketenangan tak lagi membantu, hanya sebotol air mineral yang sudah panas menjadi penolongnya, hingga akhirnya hujan turun tepat pada waktunya. Alex menadah air hujan untuk bertahan hidup, membuktikan bahwa keberuntungan masih berpihak padanya. Dengan tekad baja, ia kembali mengendalikan helikopter—“naga besi”-nya, menavigasi hujan dan perbatasan Meksiko menuju Amerika. Namun, saat mendekati pangkalan militer Amerika, ia dihadang oleh jet tempur yang siap menembak. Hanya keberanian dan kecerdikannya yang membuat Alex berhasil menghindar, mengirim kode komunikasi, dan membuktikan identitasnya: seorang remaja Asia yang telah bertempur dalam misi rahasia menangkap kartel berbahaya. Tak lama kemudian, Alex melakukan pendaratan spektakuler dengan parasut, membawa kepala kartel sebagai bukti misi yang sukses. Namun, sambutan yang diterimanya tak sepenuhnya hangat. Banyak anggota militer Amerika menunjukkan ketidakpuasan, sebagian karena ia masih remaja, sebagian karena ia selamat dari misi yang merenggut nyawa rekan mereka. Meski begitu, beberapa petugas mendampingi dan memberinya semangat, menjelaskan bahwa iri dan kekaguman menjadi alasan utama ketegangan itu. Dalam diamnya, Alex menahan rasa lega dan rasa lelah, bersiap untuk menghadapi pimpinan tertinggi militer Amerika. Setiap langkah menuju menara pusat terasa berat, namun ia tahu bahwa detik ini akan menentukan masa depan dan reputasinya sebagai remaja yang mampu menaklukkan misi paling berbahaya di dunia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD