Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring, suaranya memecah keheningan kelas . Tak butuh waktu lama, suasana kelas yang tadinya hening seketika berubah jadi ricuh luar biasa.
“PULANGG!” teriak satu anak dari sudut ruangan, disambut sorakan riuh teman-temannya.
"GO Home"
“Akhirnya pulang juga! Gue udah gak kuat nahan ngantuk dari pelajaran Fisika tadi sumpah!” sahut yang lain sambil buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Ada yang berebutan jalan keluar, ada yang sibuk merapikan kabel pengisi daya ponsel, ada pula yang masih betah duduk sambil berfoto-foto bareng teman seolah baru saja melewati perang besar.
Di tengah keributan itu, Nayra terlihat sangat tenang. Dia memasukkan buku pelajaran satu per satu dengan gerakan santai, wajahnya jauh lebih cerah dan bersinar dibandingkan saat dia datang pagi tadi. Padahal beberapa jam yang lalu dia masih terlihat lesu, seolah seluruh energi hidupnya sudah habis. Tapi berkat kotak makanan misterius itu, suasana hatinya berubah seratus delapan puluh derajat.
Meski begitu, di dalam hatinya, rasa penasaran itu belum hilang sepenuhnya. Siapa sih yang mengirimkan makanan itu? Rasanya terlalu dalam mengenal, tau betul apa yang dia suka. Bahkan hal sekecil apa saja yang dia sukai, orang itu sepertinya tahu betul. Dan entah kenapa, saat dia mencoba menebak siapa pelakunya, bayangan Kaivan sempat terlintas sekilas di kepalanya. Namun, dia langsung menggeleng pelan, berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh.
"Ah, enggak mungkin banget,"batinnya menyangkal.
Kai itu tipe cowok yang kalau misalnya kamu jatuh di depannya, dia mungkin cuma bakal ngomong datar, “Makanya liat jalan.” Gak ada belas kasihnya sama sekali.
Tiba-tiba suara notifikasi berbunyi nyaring dari ponsel semua orang. Ting!
Seketika satu kelas jadi heboh lagi.
“WOY, ADA APA NIH?!” teriak seseorang. “Coba cek grup sekolah cepetan!”
“Anjir, rame banget notifnya, ada berita apaan sih?”
Lili yang paling cepat bereaksi, tangannya langsung menyambar ponsel yang ia letakkan. Matanya membelalak lebar begitu melihat layar. Seketika Ekspresi memberikan informasi menggebu-gebu.
“EH CHA! CHA LIHAT INI!”
Acha yang lagi minum air mineral hampir tersedak, buru-buru menelan airnya lalu melihat seperti bingung. “Hah? Kenapa sih? Ada yang mati?”
“Bukan, lihat sini!” Lili memperlihatkan layar ponsel nya kepada Acha.
Di layar itu terpampang sebuah undangan digital yang desainnya sangat mewah. Latar belakangnya hitam pekat dengan aksen perak berkilauan, tulisan huruf besar berwarna putih menyala: Pesta Ulang Tahun Niko. Ada keterangan waktu pukul tujuh malam, tempatnya di Ballroom Sky Garden, dan kalimat yang bikin semua orang berdecak kagum: “Satu sekolah diundang. Mari kita buat malam ini tak terlupakan.”
Acha sampai melongo, mulutnya terbuka sedikit. “WOW … Niat banget, si. Harus pergi si kita”
Ciki yang dari tadi sibuk merapikan alat tulis langsung berlari mendekat, kepalanya melihat ke arah ponsel Lili. “Apa? Apa? Tunjukin dong! kepo ni”
“Niko ulang tahun, Ci!” seru Acha sambil menepuk bahu temannya heboh. “Dan lo denger gak? Satu sekolah diundang katanya.”
“Wow wow wow!” Ciki langsung berteriak kegirangan. “Pasti mewah parah nih pestanya, di ballroom ya?” ucap sambil melihat detail undangan nya.
Nayra yang baru saja memasukkan kabel pengisi daya ke dalam pouch dan tas ikut melirik penasaran. “Kenapa sih? Apa ada yang hot? ”
“Coba buka HP lo, Nay!” seru Ciki. “Lo juga dapet undangan pasti.”
Nayra membuka kunci layar ponselnya, dan benar saja, pesan undangan itu ada di sana. “Eh iya juga…” gumamnya pelan.
“Iya kan?!” Ciki nyengir lebar sampai gigi gingsulnya kelihatan. “Pasti pesta besar-besaran nih. Niko kan anak orang kaya banget, emang sih.”
Acha kembali membaca tulisan di layar itu sambil mengangguk-angguk mengerti. “Buset, satu sekolah diundang semua. Berarti bakal rame banget dong nanti.”
“Pasti dong,” timpal Lili sambil menyimpan ponselnya ke saku rok. “Niko kalau ngapa-ngapain pasti besar. Gak mungkin dia bikin acara biasa aja.”
Beberapa murid lain di kelas juga mulai membicarakan hal yang sama. Suasana jadi riuh rendah.
“Gila, gue harus siapin baju apa nih? Gak boleh kalah cantik sama anak lain!”
“Pasti gengnya Kaivan datang dong? oiya kan Mereka se geng. lupa gue”
“Duh, jadi pengen dandan heboh nih kalau gitu.”
Mendengar nama Kaivan disebut-sebut di sekitarnya, Nayra diam sejenak. Biasanya, kalau ada acara yang besar dihadiri Kai atau acara apapun itu , Nayra pasti sudah heboh sendiri dari tadi. Dia bakal sibuk nanya baju apa yang mau dipakai, gimana biar kelihatan paling cantik, dan segala hal berlebihan lainnya. Tapi hari ini? Dia cuma tersenyum tipis saja, gak merasa bahagia yang menggebu-gebu seperti biasa.
Acha menyandarkan tubuhnya ke meja Nayra, menatap sahabatnya itu penuh selidik. “Gimana Nay? Kita dateng gak malam ini?”
“Apanya yang gimana?” tanya Nayra santai.
“Ya pestanya dong! Kita ikutkan? ayola”
“Dateng lah masa enggak?” ucap Lili langsung semangat. “Satu sekolah pasti dateng semua, masa kita cuma diem di aja?”
Ciki mengangguk setuju. “Bener. Lagian jarang ada acara sebesar ini buat kita-kita. Sayang banget kalau dilewatin.”
Nayra berpikir sebentar, lalu menganggukkan kepala nya juga dengan wajah senyum tipis namun tenang. “Yaudah, dateng aja yuk. Pasti seru juga rame-rame.”
Mereka bertiga langsung bersorak heboh. “SERIUSAN LO?!”
“Iya, seriusan,” jawab Nayra sambil tersenyum tipis. “Anggap aja buat hiburan, siapa tau bisa lupa sama tugas sekolah, kan.”
“YASSS! UDAH FIX YA KITA DATENG!” seru Lili kegirangan.
Acha langsung berfikir dari mulai merencanakan segalanya dengan cepat, jari-jarinya bergerak menghitung rencana di udara. “Oke, berarti abis ini kita langsung—satu, ke tempat spa! Dua, ke salon! Tiga, dandan habis-habisan sama muka dan rambut! Empat, nyari baju kalau ada yang kurang pas!”
“SETUJU BANGET ITU!” Ciki langsung menepuk meja keras sebagai tanda setuju.
Nayra cuma bisa tertawa kecil melihat tingkah laku teman-temannya yang berubah jadi gadis sosialita dadakan. “Lebay banget sih, Tapi it's okay asal kalian bahagia sepenuhnya.”
“WOY NAY!” ucap lili. “Inget ya, ini pesta anak sultan, bertabur kemewahan! Kalau nanti gue kalah cakep sama anak-anak kelas lain, apalagi sama anak IPA 1, gak gak mau kalah gue.”
Acha ikut memeragakan gaya yang dibuat-buat. “Gue juga harus tampil kayak anak orang kaya keturunan asli tau gak? Aura old money harus keluar banget!”
“Padahal kalau pulang sekolah, makan seblak level lima tiap hari,” sahut Ciki yang langsung dihukum pukulan pelan dari Acha.
“DIEM LU!”
Mereka berempat tertawa , mengisi sisa waktu di kelas dengan kegembiraan yang baru saja muncul. Nayra sampai menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan teman-temannya itu. “Yaudah deh, ayo berangkat. Abis ini langsung ke tempat spa dan salon ya, gak ada tawar-menawar.”
“GASSS NAY! LET’S GOOOO!”
Di tempat lain, tepatnya di area parkiran belakang sekolah…
Kaivan dan teman-temannya sudah berkumpul seperti biasa. Motor-motor gede mereka berjajar rapi seolah sedang dipamerkan, helm-helm mahal berserakan di atas bangku semen. Suasana di sana selalu sama: berisik, santai, dan penuh dengan cowok-cowok yang dianggap paling berpengaruh di sekolah.
Niko, yang menjadi pusat pembicaraan satu sekolah hari ini, sedang sibuk menatap layar ponselnya sambil tertawa sendiri. “Anjir, grup sekolah rame banget ya. Semua pada heboh bahas undangan.”
Daren terkekeh sambil menyandarkan punggungnya ke badan motor hitam miliknya. “Ya iya lah, lo kan anak sultan. Begitu bikin pesta, satu sekolah jadi rusuh.”
Dimas, yang sedang memainkan kunci motornya, ikut bersuara. “Buset, lo ngundang satu sekolah beneran ya Nik? Gak takut rugi apa?”
“Biar rame aja,” jawab Niko santai sambil mengangkat bahu. “Lagipula, gue seneng kalau banyak yang dateng.”
Filix menyeringai jahil sambil menendang pelan ban motor. “Dasar pengen cari perhatian cewek. Apalagi nanti pasti banyak yang dandan cantik-cantik.”
“Apaan sih lo, lo jangan lupa gue juga cakep setelah Kai” Niko melempar botol air ke arah Filix.
Sementara itu, Kaivan duduk diam di atas motor sport-nya yang paling besar. Dia hanya diam, tatapannya kosong menatap ke arah gerbang sekolah, wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun. Dia tidak terlalu tertarik membahas pesta itu, meskipun dialah orang yang paling diharapkan kehadirannya selain tuan rumah.
Sampai akhirnya Daren membuka suara yang mengubah arah pembicaraan.
“Eh, tapi serius deh…” Daren menatap teman-temannya bergantian. “Nayra datang gak ya nanti malam?”
Niko langsung mengangguk yakin. “Dateng lah kayaknya. Dia kan anaknya gaul kalau ada acara pasti ikut.”
“Terus apalagi ada Kai-nya,” tambah Dimas sambil nyengir jahil, matanya melirik ke arah Kaivan. “Biasanya Nayra paling semangat kalau tau Kai bakal ada di situ.”
Filix ikut menyenggol bahu Kaivan pelan. “Bener tuh. Ingat gak waktu reuni sekolah dulu? Dia sampai beli baju baru seminggu sebelumnya cuma gara-gara lo ikut.”
Kaivan hanya memasang wajah malas, matanya tetap menatap lurus ke depan. “Bodo amat. Terserah dia mau datang apa enggak.”
“Tapi seriusan deh,” kata Niko tiba-tiba, nada bicaranya berubah jadi serius sambil menatap Kaivan lekat-lekat. “Lo ngerasa gak sih kalau hari ini Nayra… aneh banget?”
Daren langsung mengangguk cepat. “Nah, bener banget kata Niko. Biasanya dari pagi sampe pulang dia ngejar lo kayak anak ilang yang nyari induknya. Teriak-teriak, manggil nama lo terus. Hari ini? Cuek parah.”
“Gak nyapa, gak senyum, gak caper sama sekali,” tambah Dimas sambil tertawa pelan. “Lo jangan-jangan mulai kangen diperhatiin sama dia ya, Kai?”
Kaivan mendecakkan lidah kesal. “Berisik pada semua. Gak ada kerjaan lain apa selain bahas orang?”
Namun, di dalam hatinya, dia tidak bisa menyangkal ucapan teman-temannya. Sepanjang hari ini, dia sadar betul. Nayra benar-benar menghilang dari radarnya. Biasanya, sebelum bel masuk, Nayra sudah ada di dekat mejanya. Pas jam istirahat, Nayra pasti sudah ada di dekat geng motornya. Bahkan kalau ketemu di koridor, Nayra bakal pura-pura nyenggol atau nanya hal-hal gak penting cuma biar ngobrol. Hari ini? Nihil. Kosong melompong. Sepi banget rasanya.
Dan anehnya, dia sama sekali tidak terbiasa dengan kesunyian ini.
Niko menyeringai kecil melihat ekspresi Kai yang berubah diam. “Tapi ada satu hal yang pasti…”
“Apaan?” tanya Kai ketus.
“Kalau Nayra nanti malam datang,” Niko melirik jahil ke arah teman-temannya. “Pasti dia bakal kelihatan cantik banget.”
Dimas langsung tertawa keras. “Itu sih udah pasti. Dia kan emang cantik dari sononya. Tiap hari juga cantik, gak cuma pas pesta doang.”
“Iya sih,” sahut Filix. “Makanya bingung gue, banyak banget cowok di sekolah ini yang naksir dia, ada yang lebih tajir, ada yang lebih ganteng, ada yang lebih asik. Tapi dia malah sibuk banget ngejar cowok yang jutek kayak Kai.”
Kaivan diam saja. Dia tidak menjawab, tapi pikirannya melayang kembali ke kejadian tadi siang. Saat dia melihat Nayra duduk sendirian di kelas, lalu makan dengan semangat begitu dia terima kiriman makanannya. Dia ingat betul bagaimana wajah Nayra berubah cerah begitu dia merasakan rasa makanannya, bagaimana dia tersenyum senang, dan bagaimana suasana hatinya langsung membaik.
Tanpa sadar, sudut bibir Kaivan sedikit terangkat ke atas. Senyum tipis yang sangat kecil, nyaris tidak terlihat kalau tidak diperhatikan dengan teliti.
“EH!” Daren sampai melotot kaget melihat itu.
Semua teman-temannya langsung menoleh serentak.
“Lo… lo senyum?!” seru Dimas gak percaya. “Anjir, beneran senyum itu muka lo Kai?!”
Kaivan langsung kembali memasang wajah datar secepat kilat, berusaha menutupi kelalaiannya. “Apaan sih kalian. Halu semua.”
“Boong ah!” Niko menunjuk wajah Kai sambil tertawa. “FIX ya, lo mulai aneh banget akhir-akhir ini.”
“Aneh apanya?”
“Entah lah,” Niko mengangkat bahu. “Tapi kalau dilihat-lihat… lo mulai gak biasa aja kalau gak ada Nayra.”
Kaivan memutar bola matanya malas, lalu menyalakan mesin motor. “Ngaco semua omongan kalian. Gue duluan.”
Dia langsung tancap gas meninggalkan parkiran, menyisakan teman-temannya yang masih tertawa mengejek. Tapi di balik helmnya, hati Kaivan rasanya tidak tenang. Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Di sisi lain kota, rombongan empat sahabat itu baru saja masuk ke dalam mobil mewah milik Lili. Begitu pintu tertutup, suasana di dalam mobil langsung berubah jadi heboh persis seperti di konser musik.
“OKE GUYS!” teriak Ciki sambil menaikkan volume musik. “MALAM INI KITA HARUS TAMPIL MAKSIMAL!”
“EMANG DARI DULU KITA UDAH CANTIK SI, TAPI KALI INI KITA HARUS LEBIH CANTIK LAGI!” balas Acha bersemangat.
Lili menginjak pedal gas mobilnya pelan, melaju membelah jalanan sore itu. “Oke, rencana kita: tujuan pertama, tempat spa buat rileksin otot dan bikin kulit kinclong. Tujuan kedua, salon buat rambut dan muka. Tujuan ketiga, PESTA!”
Mereka berempat berteriak serempak kegirangan. Nayra yang duduk di kursi belakang cuma bisa menggeleng sambil tersenyum lebar, bersandar nyaman di sandaran kursi. Rasanya hatinya benar-benar lega dan bahagia sore ini.
Ciki menoleh lewat kaca spion tengah, menatap sahabatnya itu. “Eh Nay…”
“Hm?”
“Lo mau dandan gaya apa nanti malam? Rambut mau diapain? Baju mau warna apa?”
Nayra berpikir sejenak, lalu menjawab santai. “Yang simpel aja kali ya. Gak usah heboh-heboh amat.”
“NO WAY!” seru mereka bertiga serempak.
“GAK BOLEH SIMPEL!” teriak Acha dari kursi depan. “LO HARUS OVER PRETTY MALAM INI!”
Nayra tertawa geli. “Kenapa sih maksa banget?”
Lili langsung menoleh ke belakang dengan wajah serius. “Karena…,” dia sengaja berhenti bicara sejenak, memberikan efek dramatis, “…malam ini ada KAI.”
“WOY!” Nayra langsung melempar tisu ke arah kursi depan. “Apaan sih hubungannya?”
Lili dan Acha saling pandang lalu menyeringai jahil.
“Si Cegil pura-pura gak peduli ya,” kata Lili sambil tertawa. “Padahal di dalem hatinya lagi mikir: Aduh semoga Kai ngeliatin aku terus malam ini.”
Ciki ikut menirukan suara Nayra dengan nada manja berlebihan. “Ya ampun Kai, lihat dong aku cantik gak hari ini?”
“WOYYYY KALIAN BERDUA!” Nayra sampai malu sendiri mendengar ejekan itu, wajahnya memerah padam. “Bawel banget sih!”
Mereka bertiga malah tertawa puas melihat wajah merona Nayra. Mobil terus melaju membelah kota, menuju tempat perawatan, sementara obrolan mereka dipenuhi rencana-rencana besar untuk malam nanti.
Namun, jauh di dalam hati Nayra, ada satu harapan yang mungkin dia sendiri belum sadari. Dia berharap malam ini akan menjadi malam yang spesial dan ada kemajuan dengan Kai.
Sementara itu, di tempat yang berbeda…
Seorang cowok bertubuh tinggi dengan aura yang sangat dingin baru saja turun dari mobil hitam mewah miliknya. Kaivan.
Matahari mulai terbenam, langit berubah warna jadi jingga kemerahan, dan lampu-lampu toko di pusat kota mulai menyala satu per satu. Kai berdiri santai mengenakan hoodie hitam , kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, wajahnya datar dan tidak banyak ekspresi persis seperti biasanya.
Di sekolah, dia dikenal sebagai anak yang bermasalah, langganan ruang BK, cowok berandalan yang gak kenal takut. Tapi semua orang juga tahu satu hal: Kaivan selalu sempurna soal penampilan. Gaya rambutnya selalu rapi tapi tetap terlihat liar, pakaiannya selalu bersih dan bermerek, wanginya selalu mewah, dan sepatunya selalu mengkilap. Dia punya pesona bad boy yang bikin banyak cewek rela antre demi sekadar disapa namanya.
Dan sore ini, dia ada di depan sebuah butik pakaian desainer terkenal. Tempat ini bukan sembarang toko, barang-barangnya mahal dan sering dipakai para pejabat atau artis.
Begitu pintu kaca otomatis terbuka, bel kecil berbunyi nyaring. Ting!
Para pegawai di dalam langsung menoleh serentak, mata mereka otomatis berbinar melihat siapa yang datang.
“Selamat sore, Mas Kai,” sapa salah satu pegawai wanita dengan nada yang sangat ramah dan sedikit tergila-gila.
Kai hanya mengangguk kecil. “Sore.”
Seorang pria paruh baya berusia sekitar tiga puluhan yang merupakan pemilik sekaligus perancang busana di sana langsung berjalan mendekat sambil tersenyum lebar. “Wah, Mas Kai, akhirnya datang juga. Udah nunggu dari tadi lho.”
Kai menarik tudung hoodie-nya ke bawah. “Masih ada jas yang saya pesen kemarin mas?”
“Tentu saja dong, ada” jawab perancang itu percaya diri. “Udah gue siapin khusus di ruang pribadi. Ukurannya pas banget sama badan lo.” ucap nya akrab
Kai mengikuti langkah pria itu masuk ke bagian dalam toko yang lebih tertutup. Di belakang mereka, beberapa pegawai perempuan berbisik-bisik sambil menatap punggung Kaivan.
“Ya Allah… ganteng banget sumpah.”
“Iya, padahal masih anak SMA kan? Tapi auranya kayak bos perusahaan gitu lho.”
“Tatapannya dingin banget, tapi kok bikin merinding seneng ya?”
“Tenang aja, emang begitu gayanya dia. Udah biasa diperhatiin, jadi pura-pura gak denger.”
Memang benar, Kai mendengar semua bisikan itu, tapi dia sama sekali tidak bereaksi. Dia sudah sangat terbiasa menjadi pusat perhatian ke mana pun dia pergi. Bagi dia, itu hal biasa dan membosankan.
Masuk ke ruang ganti, beberapa pilihan jas mahal sudah tergantung rapi. Ada warna hitam legam, biru dongker, dan abu-abu gelap. Modelnya ada yang klasik formal, ada juga yang lebih santai tapi tetap berkelas.
“Oke,” kata si perancang sambil melipat tangan di d**a. “Tema pestanya apa malam ini? Kita sesuaikan biar pas.”
“Ulang tahun temen,” jawab Kai singkat.
“Agak formal sikatanya, mas.”
Pria itu mengangguk paham, lalu mengambil satu jas berwarna hitam pekat dengan bahan yang terlihat sangat halus dan berkilau halus terkena cahaya. “Coba pakai yang ini dulu. Ini koleksi terbaru, bahannya paling bagus, potongannya bikin badan lo kelihatan lebih tegap dan berisi.”
Kai mengambil jas itu dan masuk ke bilik ganti. Beberapa menit berlalu, tirai dibuka.
Dan saat itulah, suasana ruangan jadi hening sejenak.
Kai keluar mengenakan setelan jas hitam yang pas banget di badannya. Potongannya mengikuti lekuk tubuhnya yang tegap dan berotot. Di dalamnya dia memakai kemeja hitam polos, dipadukan celana panjang berwarna senada. Ditambah tinggi badannya yang menjulang dan aura dingin yang menguar dari dirinya…
Hasilnya sangat berbahaya.
“Wow…” salah satu pegawai sampai refleks berbisik takjub. “Tampan banget…”
Si perancang sampai mengangguk-angguk puas sambil berjalan mengelilingi Kai, merapikan sedikit bagian bahu jas itu. “Sempurna. Pas banget ukurannya. Bahannya premium, gak panas dipakai, dan warnanya bikin lo makin misterius dan dingin. Cocok banget sama karakter lo, Kai.”
Kai berdiri tegap di depan cermin besar, menatap bayangannya sendiri sekilas. Dia terlihat dewasa, sangat rapi, dan terlihat sangat mahal.
“Kayak tokoh cowok red flag di drama-drama populer itu lho,” celetuk si perancang sambil tertawa.
Salah satu pegawai perempuan menyahut pelan sambil menutupi mulutnya menahan senyum. “Red flag yang bikin cewek rela disakitin sih Mas…”
Semua orang tertawa kecil mendengar itu, kecuali Kai yang tetap memasang wajah datar.
“Yang ini aja deh,” ucap Kai singkat sambil mulai melepas jas itu. “Gue ambil yang ini.”
“Pilihan terbaik,” jawab pemilik toko senang.
Pembayaran dilakukan dengan cepat, dan kotak berisi jas itu diletakkan rapi di kursi belakang mobil Kai. Tapi urusannya belum selesai. Dia masih punya satu tempat lagi yang harus dikunjungi sebelum pulang.
Sore makin larut, langit mulai berubah jadi ungu gelap. Mobil Kai berhenti di depan sebuah tempat potong rambut khusus pria yang sangat mewah dan bersih.
Begitu dia melangkah masuk, para penata rambut langsung menyambutnya ramah.
“Mas Kai! Wah, udah lama banget gak mampir ke sini.”
“Mau diapain rambutnya hari ini? Potong habis atau gimana?”
Kai duduk santai di kursi besar di depan cermin, kedua tangannya bersandar malas di sandaran tangan. “Rapihin aja. Potong sedikit ujungnya, terus tata biar rapi tapi tetep ada gaya liar dikit.”
“Siap, Mas!”
Penata rambut langganannya langsung mulai menara rambut kai. Kai memang bukan tipe cowok yang asal tampil. Walaupun terkenal nakal dan berandalan, penampilannya selalu bersih dan terawat. Kuku bersih, rambut wangi, kulit terawat juga, dan tidak pernah terlihat kumal sedikit pun. Itulah salah satu alasan kenapa banyak sekali cewek yang susah banget buat melupakan dia.
Saat rambutnya sedang ditata, ponselnya berdering nyaring. Nama peneleponnya: Niko.
Kai mengangkat telepon dengan malas, menempelkan benda itu ke telinga.
“WOY KAI!” suara Niko terdengar sangat keras dan heboh dari seberang.
“Hm. Apaan?”
“Lo udah siap belum? Jangan bilang lo masih tidur ya? Ini kan pesta gue nanti malam!”
Kai bersandar lebih santai lagi. “Belum. Masih ada urusan dikit.”
“ANJIR,” Niko mengeluh. “Jangan telat ya nanti! Eh serius deh,” nada bicaranya berubah jadi kepo parah. “Lo dandan banget gak sih nanti malam? Sampe sekarang belum kelar-kelar persiapannya.”
“Biasa aja,” jawab Kai datar.
“BOONG BANGET!” seru Niko tidak percaya. “Lo kalau biasa aja gak mungkin masih keliling tempat potong rambut sama beli baju. Gue tau banget kebiasaan lo.”
Kai diam saja, tidak menjawab.
Niko makin tertawa jahil. “Anjir… gue tau nih alasannya.”
“Apaan sih?”
“Jangan-jangan…” Niko mendekatkan wajahnya ke kamera seolah Kai bisa melihatnya. “Karena Nayra bakal datang ya? Lo mau kelihatan paling keren biar dia makin naksir?”
Kai langsung menatap pantulan wajahnya di cermin dengan tatapan datar. “Apaan sih omongannya ngawur banget.”
“Lah iya kan?” Niko terus mengoceh. “Lo tau sendiri kan Nayra itu kalau ada acara pasti paling niat banget dandannya. Pasti nanti malam dia bakal kelihatan cantik parah. Lo kan suka banget ngeliat dia cantik.”
“Bodo amat.”
“BOHONG!” seru Niko keras sekali sampai Kai harus menjauhkan ponsel sedikit dari telinganya. “Gue tau lo sebenernya seneng banget kalau Nayra perhatiin lo.”
Kai menghela napas panjang. “Berisik lo.”
“Eh tapi seriusan deh Kai,” Niko tiba-tiba jadi serius lagi. “Lo ngerasa gak sih kalau hari ini Nayra aneh banget?”
Kai diam dua detik. Penata rambut yang sedang menyisir rambutnya sampai melirik pelan lewat pantulan cermin.
“Kan?!” seru Niko cepat. “Lo juga ngerasa kan?!”
Kai mengakui pelan. “Biasanya… ribut.”
“NAH! BENER!”
“Sekarang… diem aja. Gak ada suara.”
“NAHHHH ITU DIA!” Niko berteriak senang. “Lo kangen, kan? Lo kangen digangguin sama dia!”
Kai memutar bola matanya malas. “Gila lo semua. Mana ada gue kangen.”
Tapi jauh di dalam hatinya, dia tidak bisa membohongi diri sendiri. Dia kangen suara Nayra. Dia kangen kelakuan Nayra yang sok akrab. Dia kangen diperhatikan.
Niko tiba-tiba menyeringai jahil lagi. “Gimana kalau nanti malam Nayra datang, terus cantik banget, terus dia malah gak ngeliat lo sama sekali? Terus dia sibuk ngobrol sama cowok lain yang lebih ramah? Terus ternyata dia udah gak suka sama lo lagi?”
Hening.
Suasana jadi sunyi senyap. Penata rambut itu sampai menahan senyum lebar melihat perubahan ekspresi wajah Kai yang perlahan berubah jadi masam. Sangat masam.
Kai menghela napas kasar. “Bawel banget sih lo.”
“WKWKWKWK!” Niko tertawa puas banget. “FIX ya Kai… lo udah mulai kebiasaan ada Nayra di sekitar lo.”
Tanpa basa-basi lagi, Kai langsung mematikan sambungan telepon itu. Tut.
“Ganggu banget,” gerutunya pelan.
Penata rambut itu terkekeh pelan. “Mas…”
Kai melirik ke arah cermin. “Hm?”
“Boleh jujur gak?” kata penata rambut itu sambil memotong sedikit ujung rambut.
“Apaan?”
“Kayaknya…” Pria itu menahan senyum jahil. “Mas Kai itu cocok banget kalau lagi jatuh cinta.”
Kai langsung mengernyitkan dahi. “Enggak.”
“Belum aja mungkin kali ya,” sahut si penata rambut santai. “Mungkin baru masuk tahap awal: panik kalau orangnya lagi gak ada.”
Kai diam saja, tidak membantah tapi juga tidak mengiyakan. Matanya kembali menatap tajam ke pantulan cermin.
Beberapa saat kemudian, penataan rambut selesai. Hasilnya rapi, bersih, tapi tetap mempertahankan gaya liar khas cowok berandalan.
“Udah selesai, Mas. Pas banget,” kata penata rambut itu puas.
Kai berdiri, menatap dirinya sendiri sekilas. Tampilannya selalu keren.
“Makasih,” ucap Kai singkat lalu berjalan keluar.
Langit di luar sudah gelap total. Lampu-lampu kota bersinar terang, dan malam pesta tinggal beberapa jam lagi.
Sambil masuk ke dalam mobilnya, satu pertanyaan tiba-tiba berputar kencang di kepala Kaivan.
Apakah Nayra bakal datang malam ini?
Dan kalau dia datang…
Secantik apa dia bakal tampil malam ini?
Pertanyaan itu terus berputar, membuat jantung Kaivan berdebar kencang karena alasan yang dia sendiri belum paham sepenuhnya.