Mendadak Pergi

1235 Words
Musik dansa perlahan berhenti, lampu di ruang pesta kembali menyala terang, dan suara tepuk tangan memenuhi seluruh ruangan. “WOOOOOO!” “GILAAAA!” “SERU BANGET!” Para siswa kembali bergerak menyatu dengan kelompok masing‑masing. Sebagian sibuk membahas momen dansa yang baru saja berakhir, sebagian lagi sibuk mengabadikan suasana ke media sosial. Semua karena satu hal tak terduga yang baru saja terjadi: Kaivan dan Nayra berdansa bersama. Bahkan Kai tidak melepaskan genggaman tangan Nayra saat pasangan lain saling berganti. Video keduanya mulai menyebar, grup percakapan sekolah riuh, dan notifikasi berderet tak henti. Di sudut ruangan, Acha, Lili, dan Ciki langsung mengerubungi Nayra yang baru saja mengambil segelas minuman. “WOY!” “NAH KAN!” “GUE BILANG JUGA APA!” Nayra menatap mereka dengan kening berkerut. “Apaan sih kalian?” “APANYA?” Lili menunjuk ke arah Nayra. “Lo dansa sama Kai!” “Terus?” “TERUS KATANYA!” Acha sampai memegang kepala tak habis pikir. “Ini anak bener‑bener nggak sadar ya.” Ciki langsung membuka layar ponselnya. “Nih, lihat nih.” “Lihat apa?” “Nih.” Nayra menatap layar itu, lalu seketika membeku. Di sana terpampang video dirinya dan Kai sedang berdansa, sudah ditonton ratusan kali dengan beragam komentar: “MIMPI APA GUE LIAT KAI DANSAAA?” “NAYRA MENANG BANYAK.” “KAI CEMBURU YA?” “INI RESMI APA GIMANA?” Nayra langsung menutup wajah dengan kedua tangan. “Ya ampun...” Lili malah tertawa keras. “Besok sekolah pasti heboh banget.” “Gak lucu.” “Lucu banget kok.” Mereka bertiga kembali tertawa lepas. Di sisi lain ruangan, Kai berdiri santai bersama kelompoknya. Niko datang menghampiri sambil membawa dua gelas minuman, senyumnya terlihat sangat lebar. “Selamat ya.” Kai mengernyit bingung. “Apaan?” “Udah dansa sama Nayra.” Kai memutar bola mata malas. “Bawel.” Dimas tertawa menimpali. “Anjir, Kai hari ini bikin sejarah.” Filix mengangguk setuju. “Setuju.” Daren ikut bersuara. “Besok satu sekolah bakal rame soal ini.” Kai hanya menghela napas. “Peduli amat.” “Padahal dari tadi nggak bisa lepas mata dari Nayra,” celetuk seseorang. “DIEM!” Satu kelompok itu langsung tertawa melihat reaksi temannya. Tak lama kemudian, MC kembali naik ke panggung utama. “OKE SEMUANYA!” Seluruh hadirin kembali menoleh ke arahnya. “Sekarang kita masuk ke acara yang paling ditunggu‑tunggu!” “WOOOOOO!” “POTONG KUEEE!” “YEAAAAH!” Lampu kembali diredupkan, lagu ulang tahun mulai mengalun, dan sebuah kue bertingkat besar didorong perlahan ke tengah ruangan. Tampilannya sangat megah: tiga tingkat berwarna hitam, perak, dan putih, lengkap dengan lilin serta hiasan yang terlihat elegan. “Buset,” seru Acha sampai melongo. “Ini kue apa apartemen?” Ciki tertawa renyah. “Gue juga mikir gitu.” Nayra ikut tersenyum mendengarnya. Niko kemudian berjalan naik ke panggung. Sorakan teman‑temannya makin keras terdengar. “WISH WISH WISH!” “CEPET POTONG!” “LAPER!” Niko menunjuk ke arah kerumunan dengan nada bercanda. “Yang teriak laper nggak gue kasih.” “BOOOO!” suasan ruangan kembali riuh. Niko lalu menoleh ke arah pintu masuk di mana kedua orang tuanya baru saja naik ke atas panggung. Wajah mereka terlihat penuh kebanggaan. Niko tersenyum hangat—jarang sekali ia terlihat seserius itu. “Terima kasih buat Papa dan Mama.” Suasana seketika lebih tenang. “Karena tanpa mereka, gue nggak bakal jadi seperti sekarang.” Sang Ibu tersenyum haru, sementara sang Ayah menepuk bahu putranya dengan lembut. Tepuk tangan kembali terdengar dari segala arah. Niko pun mulai memotong kue. Potongan pertama diserahkan kepada ibunya. “Happy birthday, sayang,” ucap wanita itu lembut. “Thanks, Ma.” Potongan kedua diberikan kepada ayahnya. Lalu, Niko kembali menoleh ke arah kerumunan, matanya mencari seseorang. “WOY KAI!” Semua orang ikut menoleh. Kai yang sedang berdiri santai ikut mengernyit. “Apaan?” “Sini.” “Ngapain?” “Cepet.” Sorakan kembali terdengar keras. “WOOOOO!” “SAHABAT FAVORIT!” “AYO KAI!” Kai akhirnya berjalan mendekati panggung. Niko langsung menyerahkan sepotong kue kepadanya. “Buat sahabat paling nyebelin.” Kai mendecak pelan. “Makasih.” Mereka berdua saling menepuk bahu, dan momen itu langsung diabadikan oleh banyak ponsel yang mengarah ke sana. Namun ternyata, bukan itu yang membuat suasana makin seru malam itu. Begitu acara potong kue selesai, DJ mulai memutar lagu dengan irama yang lebih santai. Para siswa kembali berbaur, dan di saat itulah sosok Ansel muncul di tengah ruangan. Cowok yang dikenal tenang, elegan, dan selalu rapi itu tampak berbeda malam ini. Setelan jas hitam yang dikenakannya membuatnya terlihat makin menonjol. Beberapa murid mulai berbisik‑bisik. “Ansel ganteng banget malam ini.” “Parah sih.” “Kayak model beneran.” “Setuju banget.” Tak butuh waktu lama, foto dan video Ansel kembali memenuhi layar ponsel. Tagar sekolah pun makin ramai dibicarakan. Sementara itu, Nayra sendiri tampak tenang memeriksa ponselnya. Awalnya biasa saja, namun perlahan raut wajahnya berubah sedikit terkejut, lalu matanya berbinar terang. Senyum yang jarang terlihat itu pun muncul. Kai yang kebetulan memperhatikannya langsung bertanya. “Kenapa?” Nayra mengangkat kepala. “Gue harus pulang, kai.” “Hah?” Niko yang mendengar percakapan itu segera mendekat. “Loh, kenapa?” “Ada urusan.” “Apa?” Nayra melirik kembali layar ponselnya, lalu tertawa kecil. “Papa sama Mama gue udah sampai.” Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Daren yang pertama kali bereaksi. “Serius?” Nayra mengangguk mantap. “Serius.” Senyum itu tak bisa lagi disembunyikan. Sudah cukup lama orang tuanya berada di Italia karena pekerjaan, dan rindu itu kini akan segera terbayar. “Jadi lo pulang sekarang?” tanya Niko lagi. “Ya.” “Padahal pesta masih seru.” Nayra mengangguk. “Gak apa‑apa. Gue balik dulu ya. Happy birthday sekali lagi nik sorry gue harus balik.” Niko menepuk bahunya. “Thanks, Take care Nay.” “Thanks, bro.” balas nya Kai ikut berdiri tegak. “Kabari kalau udah sampai rumah.” Nayra tersenyum tipis. “Oke.” Di sisi lain ruangan, Nayra sahabatnya ikut memperhatikan kerumunan kecil itu. “Kenapa tuh?” tanya Ciki penasaran. “Kayaknya Nayra mau pulang,” jawab Lili. “Cepet amat.” Acha mengangguk setuju. “Iya.” Mereka melihat Nayra berjalan menuju pintu keluar, diikuti beberapa teman yang menyapa. “Nayra, kenapa pulang?” “Iya, sakit?” “Kenapa buru‑buru?” Nayra hanya tetap tersenyum. “Gue pulang dulu ya.” “Kenapa?” “Papa sama Mama gue udah balik.” Seketika mereka paham. “Ohhhhh...” “Pantesan.” “Yaudah, hati‑hati ya!” “Titip salam buat mereka!” “Makasih,” jawab Nayra singkat. Di luar gedung, udara malam terasa sejuk. Sebuah mobil hitam keluarga sudah menunggu di halaman depan. Sopir pribadinya berdiri tegak di samping pintu. “Selamat malam, Nona Muda.” Nayra tersenyum menyapa. “Malam, Pak.” “Langsung pulang?” “Iya.” Sopir membuka pintu mobil. Nayra masuk, dan kendaraan perlahan melaju meninggalkan area hotel. Sepanjang perjalanan, senyum tak lepas dari wajahnya. Malam ini memang ada pesta ulang tahun sahabatnya, namun ada hal yang jauh lebih berharga: Papa dan Mama akhirnya pulang. Dan setelah sekian lama menunggu, malam ini ia kembali bisa berkumpul bersama keluarga tercinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD