7

1412 Words
Aurora tengah bersenda gurau dengan teman-temannya di kelas, sebentar lagi mereka akan masuk ke jenjang sekolah menengah atas. Aurora senang karena beberapa temannya mendaftar untuk SMA yang sama. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana kehidupannya di SMA nanti, ya, dia akan ikut eskul basket, namun, dia akan menjadi seorang yang feminim. Dia juga akan memanjangkan rambutnya. Ibunya selalu berkata kalau Aurora anak yang cantik, dia akan lebih bergaya, mungkin mulai menyukai para cowok. Bermain bersama teman-temannya. Ibu guru masuk ke kelas dan berkata. "Aurora, kau ditunggu di ruang kepala sekolah." Aurora mengerjapkan mata bingung, bahkan temannya bertanya ada apa. Namun Aurora belum memiliki jawaban. Aurora mengikuti sang guru menuju ruang kepala sekolah, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebentar lagi sekolah itu akan menjadi sekolah kenangan banyak yang terjadi di sana. Saat berada di ruang kepala sekolah Aurora melihat Tika sedang duduk di sana. "Bibi Tika?" Pakaiannya terlihat berbeda dengan sehari-hari saat menjadi pelayan, terlihat menarik dengan pakaian kasual dan sepatu pantofel. "Aurora duduklah, nak." Kepala sekolah mempersilakannya duduk, Aurora duduk berhadapan dengan beliau, bersebelahan dengan Tika. "Katanya SMA Kencana akan menjadi sekolahmu selanjutnya setelah dari sekolah ini dan bibimu meminta surat rekomendasi." Aurora terperangah, dia belum pernah mendengar ini sebelumnya. "Tetapi ibu, saya sudah mendaftar ke sekolah negeri." "Aurora, kau nggak usah khawatir, mengenai semua telah diurus. Sekarang Bibi hanya memerlukan surat rekomendasi untuk mendukung resume saat kau mendaftar di sana." Tika menimpali. Tapi SMA Kencana? Dia tidak akan sanggup membayarnya. Sekalipun dia tidak mengetahui dengan jelas berapa biaya sekolah di sana, tetapi dari smp-nya ini saja tidak ada yang pergi ke sana karena terlalu mahal. Hanya anak-anak kelas atas yang bisa bersekolah di sana. Walaupun fasilitas dan pengajaran yang diterima di sana sangat baik dan memadai untuk menunjang lulus ke Universitas nanti. "Aurora ini kesempatan yang baik, kamu pergi ke SMA Kencana. Semoga di sana kamu bisa melanjutkan prestasi seperti seperti sekarang." Ibu kepala sekolah berkata kepada Aurora. Aurora memandang Tika mencari jawaban di sana, tetapi Tika bersikap biasa saja. "Nanti saya akan bicara lagi dengan Aurora, Bu, saat ini dia hanya kaget." Tika berkata, dia berpamitan dari ruangan mengingat surat rekomendasi. Aurora bergegas ke luar ruangan mengikuti Tika. "Bi Tika. Apa yang terjadi? Kenapa mendadak aku masuk ke sekolah Kencana?" Tika berbalik, ditatapnya Aurora dengan sinis. "Pak Fabian yang mengatur ini untukmu, sebaiknya kau menerima. Dan jangan banyak protes." Aurora diam, kenapa Tika begitu galak padanya? Padahal selama ini dia tidak pernah berbuat salah. Apa benar gosip di antara para pelayan waktu itu, jika Tika merasa keberatan diminta untuk menjadi walinya, kalau begitu kenapa dia setuju? Jadi Fabian yang mengatur ini untuknya? Aurora tidak kecewa, dia hanya merasa kaget. Lagipula, di SMA Kencana tidak ada temannya yang bersekolah di sana. Sepengetahuan Aurora, orang-orang di sana berbeda dari dirinya. Apa dia bisa menyesuaikan diri, sekalipun sekolah itu yang sangat bagus ... Merasa ragu. "Aku pulang ke rumah untuk menyampaikan ini pada Pak Fabian, kau kembalilah bersekolah. Ingat jangan membuat kekacauan." "Aurora nggak pernah membuat kekacauan." "Jangan banyak protes, Jangan karena Pak Fabian memperhatikanmu. Kau jadi besar kepala Aurora." Aurora malas berdebat lagi, dia merasa itu percuma. Dia mengangguk dan meninggalkan Tika, kembali menuju kelasnya. Aurora tidak mengatakan apa-apa kepada teman-temannya, ini juga terlalu mendadak dan dia belum bisa menerimanya. *** Hari ini sekolah Aurora pulang lebih cepat, ketika dia memasuki rumah keluarga Eisen. Dia melewati ruang makan, melihat Fabian makan sendirian di sana. Aurora yang tadinya telah melintas mundur lagi, saat Fabian menoleh ke arahnya, dia melambaikan tangan dengan ceria ke sosok itu. Fabian memberi kode untuk datang dengan tangannya. Sambil berlari-lari kecil, Aurora mendekat. "Selamat siang Pak Fabian." "Bagaimana sekolahmu hari ini?" Aurora memutar kedua bola matanya, dia juga memegang tali ransel tasnya. Aurora masih memakai seragam putih biru, dia juga belum makan siang. "Duduklah, Aurora." "Tapi Rora belum ganti baju." "Apa ada orang yang akan menghukummu karena mengikuti keinginanku?" Aurora menarik kursi dan duduk di depan Fabian. "Makanlah." Aurora mengulum bibirnya. "Sebenarnya ada sesuatu yang mau Rora bicarakan dengan Pak Fabian." "Kau bicara seolah-olah usiamu dua puluh tahun." "Pak Fabian selalu bilang begitu, anak zaman sekarang cepat dewasa. Karena mereka banyak membaca buku dan juga internet." "Oh ya? Jadi kau merasa udah dewasa?" "Maksudnya dewasa dalam mengeluarkan kata-kata dan berpikir bukan dalam artian ...." Aurora kesulitan mencari menemukan kalimat yang tepat untuk diungkapkan. "Pak Fabian pasti mengerti maksudku." "Jadi apa yang ingin kau bicarakan dengan Aurora?" "Ada kejutan hari ini, kata Bibi Tika, aku telah didaftarkan di SMA Kencana. Padahal itu bukan SMA pilihanku. Kata Bi Tika, Pak Fabian yang mengaturnya. Apa itu benar?" "Benar. Apakah keberatan dengan itu?" Aurora berpikir. "Nggak keberatan. Cuma, Rora dengar SMA itu dihuni oleh orang-orang yang memiliki banyak uang. Saat ini aja, Rora masih kebingungan untuk membeli sebuah sepatu yang Rora inginkan. Karena harganya terlalu mahal. Rora bukan orang-orang yang layak untuk masuk ke dalam SMA itu bukan?" "SMA itu memiliki fasilitas yang bagus, mereka juga punya gedung kesenian dan gedung olahraga yang memadai, kau bisa memilih apa yang menjadi keinginanmu. Apa cita-citamu Rora?" Aurora diam, dia saja belum memiliki cita-cita. Usianya baru 14 tahun, ada cita-citanya berubah setiap tahun. "Melihat kau hanya diam, tampaknya kau belum bisa memutuskan apa yang ingin kau lakukan di masa depan. Benar begitu?" "Bukannya rata-rata manusia begitu? Apa cita-cita Pak Fabian pada usiaku sekarang. Apa menguasai dunia?" Fabian terkekeh, gadis kecil bermata bulat di hadapannya ini. Mengingat pembicaraan itu. Fabian mengingat cita-citanya pada waktu dia masih di bangku sekolah menengah pertama. "Cita-citaku saat SMP sangat sederhana Aurora." "Apa cita-cita itu rahasia?" Fabian mengangguk. "Kalau begitu Rora nggak akan bertanya lagi." "Ini bisa jadi rahasia kita berdua." Mata Aurora berbinar. "Aurora senang banget dikasih tau rahasia Pak Fabian." "Fabian tertawa geli, "Aku ingin menjadi seperti ayahku, ketika aku berada di bangku Sekolah Menengah Atas. Cita-citaku mulai berubah, aku ingin menjadi orang yang bebas." "Sebenarnya cita-cita itu sangat nggak tepat." "Kenapa kau bicara seperti itu?" "Karena cita-cita itu membingungkan, Pak Fabian. Misalnya, Pak Fabian ingin seperti ayah Fabian, yang namanya manusia itu kan, ada kelebihan dan kekurangannya. Ketika pak Fabian ingin menjadi seperti ayah Pak Fabian tentu pak Fabian hanya melihat pada kelebihannya saja bukan? Dengan kekurangannya apa Pak Fabian juga bersedia kemudian menjadi seperti itu?" Fabian tersenyum. "Lalu soal kebebasan, ini terlalu luas maknanya. Bukannya bangsa kita udah merdeka, dengan kata lain kita semua udah bebas. Menjadi orang yang bebas Rasanya aneh aja dijadikan sebuah itu cinta." Fabian menghentikan makannya. Dia tertawa. Aurora memang lebih menghiburnya, ketimbang dengan wanita-wanita yang berusaha untuk mendapatkan hatinya. " Fabian. " Terdengar suaranya Nyoya Eisen dari belakang. " Apa yang kau lakukan di sini?" Dia menoleh kepada Arora. " Ibu Eisen." Aurora seketika berdiri dari kursinya dan menunduk memberi hormat. "Fabian, apa kau sekarang punya hobi seperti itu? Kenapa kau masih di sini?" Nyonya isian berkata pada Aurora. "Aku memintanya menemaniku makan, Ma. Kenapa? Apa mama keberatan?" "Fabian, nggak pantas duduk satu meja dengan seorang pelayan." Fabian menggelengkan kepalanya. "Apa di rumah ini aku bahkan tidak bisa bebas menentukan keinginanku sendiri?" "Ini merupakan etika di dalam keluarga kita, Fabian, jangan bersikap sesukanya. Nanti mereka nggak sopan terhadap tuan mereka sendiri." "Tuan? Nggak ada bedanya dengan kita, semua manusia, Ma." "Ibu, Pak Fabian, saya kembali ke kamar." Rola berpamitan, dan dengan segera berjalan sambil gemetaran menuju kamarnya. Dia tidak suka kalau Pak Fabian bertengkar dengan ibunya, apalagi karena membela dia. Sekalipun Aurora ingin dibela oleh Fabian, tapi dia tidak ingin menunjukkan pria itu. Kata-kata hanya seorang pelayan terus terngiang di benaknya, Fabian membelanya tapi itu adalah kenyataan. Ibunya seorang pelayan dan dia juga menjadi seorang pelayan. Sekalipun Pak Fabian baik padanya itu tidak menutupi statusnya di mata manusia. Di hadapan Pak Fabian, dia levelnya lebih rendah. Apa Aurora telah salah memutuskan mengikuti pria itu? Sejauh ini di rumah keluarga Eisen, dia kerap memperhatikan situasi. Sekarang terlihat kalau Nyonya Eisen jadi tidak menyukainya. Aurora membuka pintu kamarnya, dia melepaskan seragamnya untuk berbaring di atas ranjang. Berbaring sekitar dua jam saja, mudah-mudahan dia bisa menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Aurora bermimpi siang itu, dia bermimpi saat di sekolah menengah atas beberapa orang mem-bully-nya dan mengatakan dia sebagai anak pelayan. Aurora terbangun dengan keringat dingin, dia selalu berkata kalau dia anak yang percaya diri dan tabah. Tapi ternyata hati kecilnya berkata lain. Mimpi itu buktinya, Aurora takut kalau di sekolahnya yang baru nanti dia tidak bisa beradaptasi. Kenapa Pak Fabian memaksanya masuk ke sekolah itu tanpa mendiskusikannya dulu dengannya? Aurora menutupi matanya dengan kedua tangan membayangkan wajah Fabian yang sedang tersenyum memberikan hiburan di kamarnya yang hampa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD