Jantung Natya terasa teremas erat. Hal ini tidak seharusnya terjadi, namun ia benar-benar iba melihat Ilham malam ini yang memohon dan memelas. Rasa frustrasi Natya kian bertambah, mungkin melebihi yang Ilham rasakan. Terlebih, hatinya terus terbolak-balik mencari kejelasan. "Pikirin lagi, ya, Nat," pinta Ilham lirih masih memohon kepadanya. Wajah lelahnya tampak seperti menanggung tambahan beban derita. Walaupun tidak jauh berbeda seperti penderitaan Natya, saat ini tidak bisa berkutik menghindari Ilham. "Kalau aku bilang iya, apa kamu bisa janji nggak akan nyakitin aku lagi?" tanya Natya tidak bisa berpikir selain kondisi dalam berkomitmen nanti. Ilham yang masih terdiam, terlihat tidak bisa menahan. Kedua mata telah menghangat dan mulai berkabut. Ia bahkan tidak peduli respon N

