Aku menikmati siang yang cerah ini di ruang tamu rumahku yang aku tinggali dulu bersama orang tuaku. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah setelah diusir sevi kemarin. Untung saja aku masih menyimpan kunci serepnya, jadi aku bisa kembali lagi ke rumah. Barang-barang di rumah sudah bermandikan debu. Lama tak ditempati, kudu ekstra beres-beres ini mah.
Setelah satu jam beres-beres, akhirnya selesai juga. Hufth .... Aku duduk di sofa, menatap langit-langit rumah, merasakan peluh yang menetes satu-persatu dari kulit. Aku teringat kemarin, bagaimana Sevi mengusirku dari rumahnya. sampai sekarang aku belum tau kenapa sikap Sevi selalu dingin padaku, padahal aku merasa tak pernah mengusik ketenangannya. Akan tetapi, bagaimana pun dia adalah sepupuku.
Selama ini Bi Runi sudah sangat baik terhadapku. Dia rela menampungku selama Ibu bekerja di luar negeri. Dia menyayangiku sama seperti dia menyayangi Sevi. Dia tak pernah membeda-bedakan antara aku dan Sevi.
Sevi tetap tidak menyukaiku, dia selalu menganggapku sebagai pembunuh bapaknya, padahal semua itu kecelakaan. Aku tak tahu kalau semua itu akan terjadi pada paman. Apalagi saat Bimo pindah ke sekolah kami. Dari gerak-geriknya sepertinya Sevi juga menyukai Bimo. memasang mimik tidak suka saat aku berjalan dengan Bimo. Sepertinya itu alasan Sevi mengusirku dari rumahnya.
Tapi ya sudahlah, aku terima takdir yang Allah gariskan untukku. Semuanya adalah titipan dan akan kembali kepada Allah. Aku bersyukur dikelilingi orang-orang baik. Saat aku diusir kemarin, aku langsung menghubungi Lani untuk meminta pertolongan. Dia memang sahabat terbaikku yang selalu ada saat aku membutuhkannya.
Dreeet dreet dreet,
Ah Hp-ku bergetar, aku mengambilnya dari saku celana lalu aku melihat layarnya ternyata nama ibu Anita─Ibuku─yang menelepon. Mungkin saat ini ibu sudah sampai di dekat sini.
[Assalamualaikum]
[Sayang, ibu hampir sampai. Kamu ada di rumah 'kan?]
[Iya, Bu. Aku tunggu Ibu di rumah, ya.]
[Oke, sampai ketemu di rumah, Sayang.]
Aku menutup telepon. Aku senang sekali akan bertemu Ibu. Sudah lama aku tak melihatnya, dua tahun lebih.
Tak berapa lama, pintu di ketuk. Aku langsung membukanya. Kulihat seorang perempuan yang membawa koper tersenyum melihatku, matanya berbinar seolah menandakan kebahagiaan karena lama tak bersua denganku.
"Assalamualaikum, Sayang." Mata Ibu berbinar ketika pertama kali melihatku.
"Ibu." Aku tak kuasa menahan air mataku dan langsung memeluk ibu.
Sekian lama aku hanya bisa melihatnya lewat video call. Bercerita segala hal lewat dunia maya. Kini, aku bisa memeluknya. Aku merasakan kehangatan yang lama tak aku rasakan. Aku tak bisa mengungkapkan bagaimana bahagianya aku saat ini. Walaupun tidak ada ayah, tetapi kehadiran Ibu saja sudah mewakili kerinduanku pada kedua orang tuaku.
"Jangan tinggalin aku lagi, ya, Bu." Aku mengeratkan pelukanku dan masih kubiarkan air mata ini mengalir bak air hujan.
"Iya, Sayang. Maafin ibu, ya. Ibu janji tidak akan membiarkan puteri kecil ibu sendirian lagi." Ucapan Ibu sedikit membuatku bermanja-manja sebagai putrinya.
"Ah, Ibu. Aku kan bukan anak kecil lagi."
"Bagi ibu, kamu tetap puteri kecil ibu yang saat ini sudah beranjak dewasa." Ibu mencium kening dan kedua pipiku seraya berkata, "Ibu sayang banget sama kamu, Ley."
Ibu melepas pelukannya dan menghapus pelan air mataku. Aku pun melakukan hal yang sama.
"Sudah-sudah, jangan sedih melulu. Ibu capek nih, ayo kita masuk." Ibu tersenyum padaku.
"Iya, Bu. Hehe ... Aku sampe lupa nggak ajak ibu masuk. Ayo Bu." Kami berdua masuk dan melepas kangen.
***
Setelah selesai makan, aku dan Ibu terlibat obrolan hangat. Sudah lama kami tak ngobrol, palingan kami hanya bercerita lewat video call. Kami duduk di ruang tamu. Ibu membuka plastik yang dibawanya sepulang tadi. Plastik itu ternyata berisi nasi padang dua bungkus, kerupuk satu bungkus, dan air mineral dua botol.
"Ibu beli di mana nasi padangnya?"
"Ibu beli waktu di jalan tadi, pas ada teman yang turun, ibu dan teman-teman pada beli makan. Makanya ibu bungkusin juga buat kamu, biar kita bisa makan bareng," ucap Ibu.
Belum juga aku membuka bungkusan nasi, tiba-tiba aku tertahan sebentar karena mendengar sesuatu.
Gruyuk gruyuk ...
Ibu memandang bergantian ke arah perut lalu ke wajahku. Kemudian tertawa, "Haha ... Itu perut kamu ya, Ley yang bunyi? Kasian, udah laper banget, ya," ledek Ibu.
"Hehe ... Iya, Bu." Aku memperlihatkan deretan gigi putih pada Ibu. Malu? tentu tidak, kan sama orang tua sendiri. Hihi ....
Lalu kami berdua makan dengan lahap tanpa tersisa sedikit nasi pun. Setelah kami berhasil mengganjal perut dengan nasi padang, kami beranjak membersihkan tangan kemudian kembali duduk santai di sofa.
"Sayang, rumah ini sudah bersih, kamu yang membersihkannya?” tanya Ibu. “Iya Bu, tadi aku sudah beres-beres biar pas ibu dateng semuanya sudah bersih, biar ibu gak capek lagi bersih-bersih. Oh oiya Sayang, gimana sekolah kamu? Katanya kemarin udah ujian nasional 'kan?" Ibu membelai rambutku.
"Alhamdulillah sudah, Bu." Aku mendekatkan diri ke samping ibu, lebih dekat, lalu aku menyandarkan diri ke bahu Ibu. Ibu mengelus pelan kepalaku.
Saat aku sedang menikmati hangatnya belaian tangan ibu, tiba-tiba Handphone-ku berbunyi.
"Ley, itu ada telepon." Ibu menengok melihat layar ponselku kemudian berkata, "Bimo. Ecieee ... Bimo siapa, tuh?"
Aku buru-buru mengambil Hp-ku. "Bu-bukan siapa-siapa, kok, Bu."
"Kenapa enggak diangkat?"
"Enggak apa-apa.
Satu kali, dua kali, hingga tiga kali aku membiarkan panggilan dari Bimo, tetapi tetap tidak kuangkat. Ibu yang melihatku membiarkan panggilan tanpa menjawabnya pun bertanya, "Bimo itu siapa, Ley? Kenapa kamu sampai tidak mau mengangkatnya?" Muka ibu terlihat seolah ingin jawaban dariku.
"Dia itu ...."
"Pacar kamu?" Ibu memotong perkataanku.
"Iya, Bu."
"Tapi kenapa muka kamu ditekuk gitu? Lagi ada masalah, ya?"
"Emmh, enggak sih Bu."
Ibu menarik kedua tanganku, menghadapkan ku tepat duduk di hadapannya.
"Sayang, ibu enggak melarang kamu punya pacar. Asalkan kamu tau batasanmu dan ingat ... kamu kan bilang ingin kuliah, ibu harap kamu bisa menggapai cita-cita yang kamu mau."
Aku membalas dengan anggukan. "Kalau begitu, aku ke kamar dulu, ya, Bu. Aku mau istirahat. Ibu juga istirahat, ya. Pasti 'kan capek banget."
"Iya, Ley."
Aku beranjak dan meninggalkan ibu yang masih duduk di sofa. Aku terus berjalan memasuki kamarku. Kamar lamaku tapi serasa baru, kenapa aku bilang baru? Karena aku baru menempatinya lagi setelah sekian lama tinggal di rumah bi Runi. Kamarku ini bernuansa putih krem. Setiap sisi dinding kamar berwarna krem, langit-langit berwarna putih, dan keramik berwarna putih pula.
Aku masih berdiri di dekat pintu kamar. Mengeluarkan handphone-ku yang sedari tadi sudah seperti melambai-lambai ingin cepat disentuh layarnya. Kutekan tombol on/off-nya lalu terpampang panggilan tak terjawab sebanyak tiga kali dari Bimo. Ah, Bimo. Rasanya kangen juga enggak ketemu dengan dia. Padahal baru beberapa hari.
Aku senyum-senyum melihat foto profilnya di w******p-ku, tetapi saat itu juga aku ingat bagaimana waktu itu dia beradegan tidak baik dengan Sevi. Seketika ekspresiku berubah dari yang tadinya senyum-senyum mengingat kemarin yang rasanya baru saja dia ungkapkan cinta padaku, tetapi besoknya sudah berbuat yang tidak-tidak dengan Sevi. Apa dia hanya ingin mempermainkan hatiku saja? Ah sudahlah, Bimo sudah meminta maaf padaku dan dia sudah menjelaskan kejadian yang sesungguhnya. Aku percaya padanya, kulihat binar kejujuran dari matanya.
***
Malam semakin larut. Terang tergantikan oleh gelap. Namun, malam ini rembulan sempurna menampakkan keindahan rupanya. Hari ini tanggal empat belas bulan april 2019, makanya rembulan terlihat cantik dengan sinarnya. Besok pengumuman kelulusan. Jantungku rasanya dag-dig-dug menantikan pengumuman esok hari. Alamat enggak bisa tidur aku malam ini.
Bimo, aku kepikiran dia lagi. Kenapa akhir-akhir ini aku sering memikirkan Bimo. Kubuka telepon, aku ragu apa yang sebenarnya Bimo mau sampai-sampai dia menelepon tiga kali. Aku membuka pesannya, kulihat dia mengirimkan pesan mengajakku bertemu besok malam dan akan menjemputku. Belum sempat aku membalas pesan Bimo, tak lama kemudian ibu memanggilku dari balik pintu. Sontak aku langsung mengganti posisi dari tengkurap langsung ke posisi duduk.
"Ley, udah tidur?" Ibu membuka pintu kamar, sedikit menengok ke dalam.
"Eh, Ibu. Belum Bu. Masuk aja." Ibu berjalan perlahan menuju tempat tidur di mana aku sedang duduk.
"Sayang, kamu belum ngantuk?"
"Belum, Bu."
"Ibu juga belum ngantuk, makanya ibu ke kamar kamu." Ibu duduk di sampingku.
"Sini sayang, rebahan di pangkuan ibu."
Aku menyandarkan kepalaku di pangkuan ibu. Beliau membelai rambutku yang masih dikuncir kuda. Lalu aku membukanya dan membiarkannya tergerai. Belaian tangan ibu begitu hangat, lama tak kurasakan belaiannya sekitar dua tahunan kami terpisah karena jarak. Ibu pergi ke luar negeri untuk membiayai sekolah dan kehidupanku. Sungguh, aku sangat mencintai ibuku.
"Sayang, kamu mau lanjut kuliah di mana?" tanya ibu.
"Aku mau lanjut di kota sini saja bu yang deket. Ambil jurusan FKIP Bahasa Indonesia. Gimana menurut Ibu?"
"Bagus, yang penting kamu suka dan semangat menjalaninya, ibu pasti dukung apapun kemauan kamu, Nak. Menjadi guru itu cita-cita yang mulia, Sayang. Ibu selalu berdoa semoga cita-citamu terwujud ya, Nak. Jangan kaya ibu, kehidupanmu harus lebih baik dari ibu." Ibu meneteskan air mata, dan hal itu sukses membuatku pun membiarkan bulir-bulir bening jatuh membasahi pipiku.
"Aamiin, makasih, Bu." Aku memeluk semakin erat Ibuku.
"Oh iya, pacar kamu, si Bimo itu orang mana?"
Pertanyaan ibu membuatku sedikit gelagapan. "Emmh ... dia tinggal di jalan Permata, Bu. Ayahnya orang Jakarta dan ibunya orang Indramayu."
"Oh .... Udah lama pacaran sama dia?"
"Belum, Bu. Baru beberapa hari saja."
"Nanti kenalin sama ibu, ya. Ibu mau tau sama dia. Kalian harus gapai cita-cita kalian dulu, setelah itu kalian boleh serius."
"Jadi ibu merestui hubungan kami?"
"Yeeee ... ketemu aja belum 'kan.
"Ya udah iya Ibu, nanti aku kenalin deh sama dia, ya." Aku berlagak manja pada ibu sambil senyum-senyum memikirkan masa depan yang indah dengan dia. Ah, Bimo. Belum apa-apa aku udah baper mikirin kamu. Haha. Aleyra melupakan kalau pesan Bimo belum dia balas karena keasyikan mengobrol dengan ibunya hingga terlelap.