Siang itu, matahari bersinar dengan sangat terik. Sinarnya membuat siapa pun yang berjalan di bawahnya merasakan hawa panas. Aleyra mendekati parkiran motor, melepaskan standar, kemudian mengemudikan motor dengan cepat agar segera sampai di rumah. Dia tak habis pikir padahal tadi pagi hujan mengguyur dengan lebat, kenapa sekarang sinar sang surya seolah membakar kulit putihnya.
Kondisi jalanan masih menyisakan genangan air di sana-sini. Sesampainya di rumah, Aleyra segera berganti pakaian, makan, lalu membantu bibinya mempersiapkan peralatan dan bahan untuk berjualan gorengan di depan rumah.
Setelah kepergian suaminya, Runi memutuskan untuk berjualan gorengan di depan rumahnya. Aleyra-lah yang setiap hari membantu Runi mengangkat bahan dan mempersiapkan peralatan dagang. Sedangkan Sevi, dia hanya berongkang kaki di rumah dan sibuk jalan-jalan dengan kedua sahabatnya, Afni dan Widia.
Aleyra menaruh kompor di atas meja, memasang gas dengan selangnya, menyalakan kompor, lalu memasukan minyak sayur yang sudah dipersiapkan bibinya untuk menggoreng bakwan, tempe, dan aneka gorengan lainnya. Saat Aleyra sedang menggoreng bakwan, tiba-tiba Sevi datang dengan motor matic berwarna putih. Dari tempatnya berdiri, Aleyra dapat melihat rona badmood dari wajah Sevi. Aleyra berpikir mungkin Sevi badmood karena kejadian di kantin sekolah tadi pagi.
Sevi melewati Aleyra tanpa mengeluarkan sepatah katapun, membuka pintu rumah dan membantingnya keras. Sontak suara pintu mengagetkan Aleyra hingga dia mengelus da**.
“Astaghfirullahaladziim.” Bi Runi yang melihat tingkah anaknya seperti itu mendekati Aleyra dan memintanya untuk tidak menghiraukan apa yang Sevi lakukan.
“Jangan diambil hati ya, Ley. Sevi memang kaya gitu.”
“Iya, Bi.”
Tak berapa lama, Sevi keluar rumah dan terlintas pikiran jahat, lalu menghampiri Aleyra. Dia dengan sengaja menyenggol tangan Aleyra sehingga terkena wajan yang berisi minyak panas. Aleyra meringis kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya.
“Aww, sakit.” Aleyra meniup-niup tangannya yang terkena minyak panas.
Ibu Sevi yang melihat kelakuan anaknya terhadap Aleyra langsung mendekati Aleyra.
“Ya Allah, Ley, kamu ga apa-apa?”
“Ga apa–apa ko, Bi. Cuma luka sedikit saja,” jelasnya masih meringis kesakitan.
Sementara Sevi, dia masih berdiri di hadapan Aleyra dengan muka yang sinis.
“Ya Elah, ga usah lebay deh lo. Gitu aja cengeng.” Sevi melengos pergi sambil menaikkan sudut bibir kanannya.
“Ya Allah, Sevi, kamu kenapa sih kaya gitu. Bentar Bibi ambilin P3K ya, Ley.”
Runi bangkit dan masuk ke dalam rumah. Lalu dia segera kembali membawa kotak P3K.
“Aww... pelan-pelan, Bi, sakit,” ujar Aleyra yang masih kesakitan.
“Iya, Ley, Bibi pelan-pelan ko ngobatinnya. Tahan ya, Ley, biar lukamu ga melepuh. Maafin Sevi ya, Ley dia sekarang jadi ga baik sama kamu. Bibi juga ga tahu kenapa dia kaya gitu.” Runi memperlihatkan raut kecewa atas sikap anaknya.
“Iya, Bi. Aku ga apa-apa ko. Cuma luka dikit saja, bentar lagi juga sembuh.”
“Sembuh gimana, lukamu lumayan lebar, Ley,” balas Bi Runi. “Sudah sekarang kamu masuk ya, biar Bibi yang lanjutin menggoreng, kamu istirahat aja.”
“Enggak, Bi. Aku enggak apa-apa ko. Aku bantu bibi dulu saja di sini sampai sore.”
“Kamu yakin enggak apa-apa?”
“Iya, Bi.” Aleyra berpura-pura tidak kesakitan agar bibinya tidak khawatir.
“Ya sudah kalo begitu, kalau sudah capek istirahat, ya.”
Aleyra melanjutkan menggoreng bakwan yang tadi sempat terhambat karena ulah Sevi. Sembari menahan rasa sakit dan perih pada lengannya, Aleyra dengan segera berusaha menyelesaikan pekerjaannya. Dia sadar dia sudah banyak merepotkan bibinya. Dia bersyukur karena Runi mau menampung dan menyayangi seperti layaknya anak sendiri.
***
Braaakkk...
Suara pintu dibanting dengan keras. Sevi menghempaskan tubuhnya di atas ranjang berukuran 160x200 berwarna putih. Nafasnya terengah-engah, api di matanya masih terlihat membara, terlihat rona kemarahan di dalamnya. Tangannya mengepal dan memukulkannya di atas spring bed-nya itu. Dia memandangi langi-langit berwarna pink di kamarnya. Sembari berbicara seorang diri mengeluarkan kekesalannya terhadap seseorang.
"Kurang ajar, dia kurang ajar. Apa kurang puas dia mengambil perhatian Ibu gue?" kesalnya.
"Sudah dia numpang tidur, makan, sekarang dia berhasil membuat Ibu gue sayang sama dia, bahkan melebihi kasih sayangnya pada gue. Sekarang, dia berani-beraninya deket-deket sama Bimo. Liat aja ntar, kalo dia berani caper lagi di depan Bimo, gue gak akan segan-segan buat perhitungan ke dia. Ga perduli dia sepupu gue atau bukan, yang jelas gue benci sama dia. Benci!” geramnya.
Sevi memejamkan mata, berusaha meredam kemarahan yang disebabkan oleh Aleyra. Dia sangat membenci sepupunya itu, karena menganggap bahwa semenjak kedatangan Aleyra, sikap Ibunya berubah terhadapnya. Ibunya menganggap Aleyra seperti halnya Sevi, anaknya. Padahal Sevi tak mengharapkan dia ada di tengah-tengah keluarganya.
Sevi mendengus, mengalihkan pikiran dari sepupu yang tidak dianggapnya itu. Dia membuka mata. Seketika dia teringat kembali dengan wajah Bimo. Dia membuka matanya, mengingat-ingat pertemuannya tadi di kantin sekolah. Seketika dia teringat pamandangan ketika dia memasuki gerbang dan melihat Sevi berjalan dengan laki-laki. Saat itu dia tak tahu siapa yang berjalan dengan Aleyra karena saat itu hujan masih deras sehingga pandangannya tidak fokus. Tapi saat dia mengingat Bimo, dia sadar kalo laki-laki yang berjalan dengan Aleyra itu adalah Bimo, Si Siswa pindahan itu, yang ternyata ia pun suka terhadap Bimo.
Laki-laki bertubuh atletis dan bermata biru yang dia lihat di kantin itu, ternyata masuk dalam kriteria laki-laki idamannya. "Ah pokoknya, gue harus bisa deket sama dia.”
Dia berpikir sudah cukup Aleyra merebut ibu darinya, sekarang dia tak akan membiarkan Aleyra merebut Bimo darinya. "Ya ... gue suka Bimo, ternyata jatuh cinta pada pandangan pertama itu benar-benar ada. Gue akan perjuangin itu dengan cara apapun. Ya, dengan cara apapun gue pasti bisa dapetin dia. Gak peduli dengan siapa gue berhadapan, yang jelas gue harus dapetin apa yang gue mau!" Sevi tersenyum lebar seraya memejamkan matanya.
***
Saat malam tiba, Aleyra masuk ke dalam kamar lalu duduk di pojokan ranjang berukuran king size berwarna putih berukiran bunga-bunga. Dia masih merasakan sakit pada pergelangan tangan akibat minyak panas siang tadi. Dia meniup-niup sambil merasakan perih, bukan hanya tangan yang perih, tapi hatinya juga perih.
Dia tak tau kenapa sikap Sevi selalu dingin padanya, dia tak pernah berbicara lembut, dia mempertanyakannya dalam hati, sebenarnya apa salahnya sama Sevi? Apa karena dia menumpang di rumahnya? Tadi pagi dia mempermalukannya di depan teman-teman di kantin, lalu tadi Sevi dengan sengaja membuatnya terkena minyak panas.
“Hiks ... hiks ... aku salah apa sehingga Sevi begitu membenciku?” Aleyra menangis tersedu.
Aleyra menggeser posisi duduknya ke tengah dan menyandarkan tubuhnya ke dinding ranjang. Dia menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana, lalu menyalakan ponselnya. Perlahan dia membuka galeri, lalu melihat foto-foto ayah dan ibunya terpampang di sana.
Seketika dia mengingat kedua orangtuanya, dia ingat bagaimana masa-masa bahagia bersama dengan orangtuanya.
Andai saja orangtuaku masih di sini bersamaku, aku pasti tidak akan seperti ini, batin Aleyra.
“Ibu, ayah, kenapa sih kalian pergi? Kenapa kalian tinggalin aku di sini. Aku rindu kalian, sungguh rindu.” Dia menutup mata dan membiarkan bulir-bulir bening mengalir deras dari sudut matanya ketika mengingat peristiwa pahit yang terjadi dua tahun lalu. Jika saja waktu bisa diputar kembali, dia ingin berada bersama kedua orang tuanya, saat mereka belum mementingkan ego masing-masing sampai akhirnya perpisahan menjadi jalan terakhir untuk mereka.
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi, pertanda ada pesan w******p masuk. Saat dia melihatnya, ternyata yang mengirimkan pesan itu adalah Lani, teman dekatnya.
[Assalamualaikum, Ley, Lo lagi apa?] suara Lani tidak terdengar jelas, Aleyra mendengar suara bising kendaraan dan juga suara beberapa orang yang terkesan sedikit berteriak.
[Waalaikumsalam. Aku lagi tiduran aja, Lan. Kamu lagi di mana, kok kayaknya berisik banget, suara kamu gak jelas, Lan.] Aleyra mengernyitkan dahi, mencoba menebak di mana sahabatnya itu berada. Seingat dia, Lani pernah cerita kalau rumahnya sepi. Makanya dia sering kali main bersama Aleyra agar tak kesepian. Namun, Aleyra sama sekali belum pernah main ke rumah sahabatnya itu. Lani hanya tinggal dengan papanya dan seorang asisten rumah tangga, jadi tidak mungkin saat ini dia sedang ada di rumah.
[Gue lagi di jalan sama papah gue, ada yang mau gue ceritain ke Lo.] Lani menaikkan volume suaranya beberapa oktaf karena merasa terganggu dengan suara orang di sekitar sehingga tidak mendengar pembicaraannya dengan Aleyra. Hal itu membuat Lani tak sadar jika suaranya memekakkan telinga Aleyra sehingga dia menjauhkan Handphone dari telinganya. Saat suara Lani mulai tak terdengar seperti bom atom lagi, dia mendekatkan gawai lagi ke daun telinga.
[Besok saja deh kita ngobrol langsung, nggak enak kalo di HP. Di sini berisik banget soalnya.] ucap Lani yang merasa jika dia mengatakannya sekarang, rasanya akan sia-sia saja karena tempat di mana dia dan papanya berada saat ini adalah tempat yang ramai. Dia ingin mengatakan sesuatu yang penting yang harus Aleyra dengar.
[Oh ... ya udah, kita ketemu besok ya. See you.] Aleyra mengakhiri panggilan dan terdiam sesaat, hal apa yang akan dikatakan oleh Lani sampai-sampai dia memaksa meneleponnya padahal suara bising di sana terdengar memekakkan daun telinga. Sedang ada di mana sahabatnya dan papanya malam-malam masih berada di tengah-tengah suasana kebisingan. Besok dia akan mencoba menanyakan hal ini pada Lani. Di samping itu, dia juga ingin curhat kepada Lani.
Kedua sahabat ini memang tak sungkan menceritakan masalah apa saja yang sedang dihadapinya. Baginya Lani adalah sahabat terbaik karena selalu ada saat dia membutuhkannya. Begitu pun sebaliknya, Aleyra selalu ada dan siap mendengar keluh kesah tentang apa saja, baik itu tentang pelajaran di sekolah, tentang teman-temannya di sekolah, bahkan tentang keluarga pun Lani dengan senang hati menceritakan hal itu padanya. Keduanya sama-sama tak merasakan kasih sayang ibu saat ini.
Aleyra masih beruntung walaupun ibunya berada di luar negeri saat ini, tapi dia masih bisa menelepon lewat video call kapan pun dia mau, saat ibunya tak sedang bekerja atau di hari libur. Sementara Lani, dia hanya mendapat kasih sayang papanya saja tanpa merasakan kasih sayang seorang ibu karena dia ditinggal pergi sewaktu masih bayi. Sampai sekarang, Lani tidak tahu bagaimana rupa ibunya dan di mana dia saat ini. Aleyra adalah satu-satunya sahabat baik sehingga dia tak ragu menceritakan apapun permasalahan hidupnya.
Malam semakin larut, udara pun mulai menusuk kalbu, Aleyra menaruh Handphone-nya di atas meja samping kiri tempat tidur dan menyalakan alarm lebih pagi, karena besok adalah jadwal piketnya. Tidak lupa dia mengucap syukur atas apa yang sudah Allah berikan hari ini kepadanya setelah itu dia membaca doa sebelum tidur dan berharap ketika dia bangun esok hari, dia akan menemui hari-hari yang indah dibandingkan dengan hari ini. Dia mencoba memejamkan mata, tetapi tidak bisa. Dia berbalik memposisikan dirinya untuk telungkup.
Dia melepas ikat rambut yang sudah seharian belum dilepas. Dia mengibaskan rambut, membiarkan rambutnya tergerai agar tak lembab, mengingat rambutnya yang terbiasa tertutup hijab saat keluar rumah sambil sesekali menyisir rambutnya dengan jari-jemari. Entah kenapa matanya sulit dipejamkan padahal dia sudah merasakan kantuk dan sesekali menguap. Seketika terlintas bayangan seorang cowok yang baru saja dikenalnya di sekolah.
Dia tersenyum saat mengingat bagaimana cara mereka dipertemukan oleh takdir. Dia percaya, bahwa perkenalan dengan Bimo adalah bagian dari takdirnya. Bukankah ini bukan pertemuan pertamanya dengan seorang cowok, tetapi mengapa dia masih kepikiran dengan cowok pindahan dari Jakarta itu. Sungguh aneh, perasaan apa yang dia rasakan? “Kenapa aku jadi kepikiran cowok itu?” Aleyra menenggelamkan paras cantiknya ke bantal sambil menggeleng-gelengkan kepala karena tak mau berpikir yang aneh-aneh. Dia masih anak SMA, fokusnya sekarang adalah belajar dan belajar agar apa yang dia cita-citakan tercapai. Ada harapan besar yang ingin dia capai dan itu hanya bisa didapat dengan cara belajar dengan giat.