Bab 3. Awal Meraih Mimpi
Pov Antonio
Nama ku Antonio guru geografi di sekolah menengah umum di kecamatan aku termasuk dalam kategori guru terbaik dan punya banyak prestasi aku juga di sukai murid selain wajah tampang model aku juga tengil banget.
Hanya saja ada yang mencuri perhatian dari ku selama tiga tahun ini ada seorang gadis salah satu dari sekian ratus murid sekolah ini. Dewi Mahesta Anggrhaenny namanya dari paras wajahnya dia asli suku dayak karena dia bermata sipit hidung mancung dan runcing tapi sayang dia berbeda dengan kata lain dia cacat.
Walau pun begitu dia anak paling cerdas dalam akademi. Dewi sering terlihat menyendiri di waktu jam istirahat pernah ku tegur juga tapi di balas dengan senyuman
Hari ini adalah hari terakhir ujian nasional tingkat SMA dan ini giliran di ruang Dewi aku jadi tim pengawas ujian nasional. Aku merasa gembira saat melihat namanya tertulis di daftar ruang itu.
" selamat pagi semua ".sapa ku dengan santai
" pagi juga pak! " jawab mereka serempak
.
" sudah siap ?"
" sudah pak !"
Aku pun membagi lembar soal dan jawabannya ku lirik sekilas murid yang paling beda itu. Dewi terlihat lebih tenang saja saat melihat kembali kepada lembar soal .
"Dewi, kalau kamu ada yang kurang jelas bisa di tanya kan "kata ku penuh semangat tapi di balas dengan senyuman
"iya pak " jawabnya sambil tersenyum manis banget di mata ku
Ngomong ngomong aku adalah pria lajang berumur dua puluh enam tahun ku pikir wajar saja jika aku memang menyukai gadis itu toh usianya mungkin tujuh belas atau delapan belas tahun
Tanpa sadar diri ini terus memperhatikan siswi tersebut yang sedang asyik mengerjakan soal nya.
"selesai!! " gumam lirih gadis itu aku pun melirik jam di tangan dengan keadaan heran karena kurang dari 15 menit anak itu selesai mengerjakan soal matematika 60 butir dari 120 menit waktu yang tersedia. Aku melihat Dewi melipat tangan di meja dan menyangga kepala
"Wi, kenapa!? Sulit ya soalnya?" tanya ku yang pura pura tidak tahu sementara dia hanya geleng kepala pelan
"jika ada yang sudah selesai silakan keluar tinggalkan lembar jawaban" ujar ku seraya memeriksa berkas di atas meja.
Tak beberapa menit kemudian Dewi beranjak dari tempat duduk nya keluar kelas. Suasana luar kelas masih sepi aku lihat dia duduk di depan ruang kelas. Aku mendekati anak itu dan duduk di samping gadis itu
"kamu hebat ya wi, bisa mengerjakan soal matematika dengan cepat" kata ku mengawali percakapan
"tidak juga pak ada yang kurang jelas juga dan saya tidak bisa menjawab pertanyaan soalnya " sahut nya dengan muram.
"bapak yakin kok kalau kamu pasti lolos dengan nilai bagus dari standar kelulusan "ujar ku seraya mengelus kepala gadis itu. Lagi lagi dia tersenyum manis dan itu membuat jantung ku berdegup lebih kencang
"kalau kamu lulus kamu mau lanjut kemana kuliah atau kerja? "aku kembali bertanya sontak saja kepala gadis itu Tertunduk
"pengen nya sih mau kuliah pak tapi kemarin itu coba daftar di universitas yang ada di Banjarmasin tidak ada yang menerima dan menolak Dewi dengan alasan keadaan kondisi fisik cacat saya"ucap gadis itu dengan muram di wajah
"cita citamu apa sih " tanya ku lagi mengalihkan pembicaraan
"dokter "jawabnya singkat tak buruk sesuai dengan otak nya hanya saja terbentur keadaan kondisi fisik cacat