Bab 15

1770 Words
Proses syuting Forbidden Heart akhirnya dimulai. Melodi akhirnya kembali melakukan rutinitas yang sudah mulai biasa bagi Melodi. Selama menjalani proses syuting Melodi merasa jauh lebih tenang dibandingkan syuting sinetron yang sering dibuat kesal oleh Alice. Peran Melodi di film sebagai seorang jurnalis yang diperintahkan untuk membuat menyakiti hati direktur muda yang diperankan oleh Gibran. Setelah satu minggu  syuting di Jakarta, Melodi harus pergi menjalankan syuting ke Turki.   Proses syuting di Turki dipercepat karena mereka takut jika cuaca akan merusak semua skenario yang mereka sudah persiapkan. Tidak banyak pemain yang mendapatkan scene untuk pergi ke Turki. Melodi yang merupakan pemeran utama tentu saja termasuk ke dalam pemain yang ikut pergi ke Turki untuk melangsungkan syuting.   Inilah yang juga disukai Melodi karena menjadi seorang aktris, dia bisa pergi ke banyak tempat baru untuk melangsungkan syuting. Bukan berarti hal itu menjadi alasan utama Melodi untuk ikut ambil peran di suatu film.     Syuting di tempat yang baru dikunjungi Melodi tentu saja tidak dilewatkan oleh Melodi untuk berjalan-jalan di waktu senggangnya di sana. Jika dengan Gibran, Melodi sering direkomendasikan makanan khas Turki, berbeda cerita jika Melodi bersama dengan Dito, pria itu sering mengajak Melodi untuk mencari oleh-oleh di setiap kota yang mereka singgahi di Turki.   Keakraban dengan Dito ataupun dengan Gibran terasa sama saja bagi Melodi walau dengan Dito, Melodi baru saja mengenalnya, tidak seperti Gibran yang sudah cukup lama dia kenal.   Selama syuting di Turki, Melodi mengalami beberapa kendala, Melodi tidak menyangka dia harus jatuh sakit hanya karena bermain air padahal cuaca sangat bagus-bagusnya di sana, tidak panas dan tidak dingin. Semua orang di sana tentu saja panik, apalagi proses syuting harus dilakukan dengan cepat di sana.   Melodi merasa beruntung memiliki Putri yang telaten merawatnya. Sejak kedua orangtuanya memutuskan tinggal di Korea, Melodi selalu dirawat oleh Putri saat sakit dan dari sana Melodi merasa memiliki seorang kakak perempuan. Hidup sebagai anak pertama membuat Melodi tidak pernah merasakan perhatian dan mengalahnya seorang kakak. Karena keberadaan Putri, Melodi akhirnya bisa merasakan itu.   Di saat merasakan hal seperti itu, Melodi jadi berpikir, apa adiknya Eunjin juga merasakan hal itu padanya? Jika tidak, itu artinya dia belum menjadi kakak yang sebenarnya bukan? Sayangnya Melodi tidak berani menanyakan hal itu. Jarak yang memisahkan juga membuat Melodi sadar diri, bahwa dia tidak bisa menjadi kakak yang sebenarnya untuk Eunjin.   Beruntungnya proses syuting Forbidden Heart di Turki bisa selesai tepat waktu walau mengalami beberapa kendala.   Syuting pertama Melodi di luar negeri sedikit membuat dia merasa tidak enak pada Tiara yang tidak bisa dia ajak ke sana. Tiara awalnya sudah sangat senang mendengar kabar bahwa mereka akan syuting ke Turki, tapi Melodi hanya boleh membawa satu orang saja dalam perjalanannya ini dan hanya Putri yang bisa membantu Melodi selama di sana.   Raut wajah pura-pura tegar Tiara membuat Melodi menjadi kasihan. Melodi pun berjanji pada dirinya sendiri untuk mengajak Tiara liburan jika dia memiliki waktu untuk liburan. Dan sekarang Melodi sudah pulang ke Indonesia. Sekaranglah waktu Melodi bisa mengganti hari itu dengan mengajak Tiara berlibur di hotel tepi pantai di Jakarta. Tidak seberapa memang, tapi untuk saat ini Melodi hanya bisa memberikan hal ini.   Melodi bisa pergi berlibur di hotel selama dua hari dengan Tiara. Proses syuting sekarang sedang diliburkan selama seminggu yang membuat Melodi bisa mengajak Tiara pergi berlibur di hotel. Pemilihan hotel sebagai tempat berlibur pun Tiara yang memilihnya bukan Melodi. Melodi memberikan beberapa pilihan untuk Tiara, di mana yang paling jauh Melodi menunjuk Bandung sebagai tujuan mereka, tapi Tiara memilih hotel pinggir pantai di Jakarta saja sebagai tempatnya.   “Selama kita di sini, kamu bukan asisten aku Ra,” ucap Melodi memperingati Tiara.   Dengan wajah horornya Tiara menoleh menatap Melodi yang tengah fokus menyetir. “Jangan bilang Mbak pecat aku!” serunya takut.   “Yakali aku pecat kamu, siapa yang bantuin aku selama di lokasi syuting?”   “Syukurlah.” Tiara hampir tidak ingin melanjutkan liburan yang diberikan Melodi jika benar ini adalah hadiah yang diberikan Melodi karena ingin memecatnya. Tiara sudah terlalu senang bekerja dengan Melodi dan Melodi majikan yang baik bagi Tiara.   “Maksud aku tu ya Ra, di sana kamu liburan aja, santai, lakuin apa yang kamu mau lakuin. Jangan malah ribet urusin aku.”   “Kalau gitu kenapa kita liburan bareng Mbak?”   “Ya aku juga pengen liburan jugalah. Nanti kita bareng-bareng tapi urus diri sendiri.”   “Siap deh Mbak.”   Melodi benar-benar mengurus semuanya sendiri. Tiara bahkan tidak membantunya menurunkan koper miliknya walau koper itu tidak terlalu berat, mereka hanya tiga hari dua malam di sana jadi Melodi tidak membawa banyak barang bawaan.   “Kamu bisa bebas lakuin apapun, tapi ingat kasih kabar ke aku.” Melodi mengingatkan Tiara sebelum dia masuk ke dalam kamarnya. Kamar yang dipesan Melodi untuk Tiara, tepat berada di samping kamar yang ditempati Melodi, jadi Melodi tidak terlalu khawatir karena mereka masih berdekatan satu sama lain.   Begitu masuk ke dalam kamar hotelnya, hal yang langsung menarik perhatian Melodi adalah balkon kamar. Kaki itu langsung melangkah menuju arah balkon, saat pintu balkon dibuka, Melodi langsung disambut angin pantai yang terasa menyejukkan. Melodi selalu suka dengan aroma laut yang seperti ini, terasa menyegarkan baginya.   Melodi membiarkan pintu balkon terbuka dan Melodipun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dibandingkan berjalan-jalan, Melodi memilih untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan aroma laut yang samar-samar tercium.   Mata Melodi baru saja tertutup saat bunyi bel kamarnya berbunyi. Melodi membuka matanya dengan malas. Dengan berat hati Melodi bangun dari tidurnya dan membukakan Tiara pintu kamarnya. Di depan pintu kamar Tiara dengan tampang tidak berdosa berucap, “Mbak Melo udah keliatan ngantuk aja nih, Mbak enggak mau bejemur di pantai? Mumpung masih siang.”   “Ngantuk.” Hanya itu yang diucapkan Melodi sebelum dia menutup pintu kamarnya.   “Oke deh Mbak, aku aja kalau gitu. Nanti pas mau makan malam aku balik cari Mbak.”   “Ya,” jawab Melodi malas dan dia tidak peduli dengan suaranya yang bisa didengar oleh Tiara atau tidak.   Melodi kembali merebahkan badannya di atas tempat tidur. Dia memejamkan matanya berharap rasa kantuk yang tadi datang kembali menghampiri. Selama berpuluh-puluh menit Melodi memejamkan matanya, dia tak kunjung mendapatkan tidur yang diharapkannya.   Perlahan Melodi membuka matanya dan menghela napas berat. “Ini semua gara-gara Tiara,” gumam Melodi.   Melodi memutuskan untuk pergi menikmati pantai dari dekat. Mungkin dengan bersantai di pinggir pantai membuat kepala Melodi jauh lebih segar dibandingkan dengan tidur. Tidak banyak pengunjung hotel yang Melodi datangi ini karena ini bukan waktu liburan. Selama masuk hotel inipun Melodi tidak diganggu oleh pengunjung yang melihatnya, atau mungkin Melodi saja yang tidak ditahu oleh pengunjung itu? Melodi tidak mempedulikan hal itu karena bagi Melodi, bisa liburan itu adalah anugrah.   Setibanya di pantai, Melodi membuka sandal yang dikenakannya. Melodi selalu suka dengan sensasi yang diberikan pasir pantai saat menempel di kakinya. Melodi juga suka bermain air, tapi dia tidak akan melakukan itu sekarang. Yang Melodi lakukan hanya diam termenung memandangi ombak yang menghempas pasir pantai.   Dari tempatnya ini Melodi bisa melihat Tiara yang bermain air bersama beberapa anak kecil. Melodi tak habis pikir kenapa Tiara malah bermain dengan anak kecil di saat dirinya tengah berlibur seperti ini. Tiara pasti lelah setiap hari mengurusinya, tapi sekarang dia malah mengurusi anak orang lain yang ibu-ibunya malah sibuk bergosip.   Matahari tanpa terasa sudah hampir terbenam sepenuhnya saat Tiara berlari menghampiri Melodi.   “Udah puas mainnya?” tanya Melodi yang dijawab anggukan semangat Tiara.   “Laper?”   Tiara kembali mengangguk. Melodi bangun dari duduknya kemudian berucap, “Ya udah yuk makan.”   “Mbak Melo galau ya?”   “Ngapain aku galau.”   “Kukira Mbak galau karena mikirin nasib Dito.”   Melodi menghentikan langkahnya yang membuat Tiara juga melakukan hal yang sama. Raut wajah Melodi mendadak serius. “Maksud kamu apa?” tanya Melodi.   “Aku kira Mbak tahu yang tadi pagi heboh.”   “Emangnya kenapa?” Melodi tidak tahu apa yang sudah terjadi karena dia tidak membuka ponselnya sama sekali.   “Dito dicaci tu di i********:, katanya enggak pantes sama Mbak. Lha, kan cuman temen, tapi netizen malah mikir yang enggak-enggak.”   Saat itu juga Melodi mengambil ponselnya yang dia simpen di sling bag yang dia bawa. Melodi menyodorkan ponselnya ke Tiara. “Cariin,” perintah Melodi.   Tiarapun dengan mudah menemukan foto yang tengah diserang netizen. Foto itu berasal dari akun resmi film Forbidden Heart. Sebuah foto yang terlihat sangat biasa saja di mana Melodi berfoto dengan Dito. Banyak komentar di foto itu dan Melodi terbelak melihat komentar yang rata-rata mencaci Dito.   “Mbak Melo baru fotoan sama Dito aja diserang, aku enggak bisa bayangin kalau Mbak Melo punya pacar yang itu bukan Mas Gibran.”   Melodi mematikan ponselnya. Apa yang dikatakan Tiara memang ada benarnya. Sekarang Melodi memang tidak berniat untuk menjalin hubungan istimewa dengan seseorang, tapi bagaimana jika nanti dia menyukai pria lain yang bukan Gibran? Orang yang mengidolakan dirinya berpasangan dengan Gibran sudah kelewat batas bukan? Tapi Melodi bisa apa di saat seperti ini? Jika dia mengambil sikap untuk hal ini, bisa saja itu berpengaruh pada filmnya.   “Lebih baik kita makan aja dulu. Nanti aku akan menghubungi Dito untuk menanyakan keadaannya.” Bagaimanapun juga Melodi harus meminta maaf pada Dito, karena dirinya Dito dicaci oleh penggemarnya.   Melodi yang mengajak Tiara untuk makan malam, dia yang tidak memakan makanannya dengan benar.   “Mbak Melo makan yang bener, jangan sampai pulang-pulang dari sini Mbak Melo sakit,” tegur Tiara yang memperhatikan Melodi yang tidak berniat menghabiskan makan malamnya.   “Iya-iya.”   Walau mengatakan ‘iya’ Melodi masih saja tidak menyuap makan malamnya. Hanya beberapa kali suap hingga Melodi memutuskan melepaskan sendok yang dia pegang. Dia menyerah, Melodi memutuskan untuk segera mengirim pesan permintaan maaf pada Dito.   To : Dito Hey   Melodi mengirim pesannya, sayangnya Dito tidak aktif yang membuat Melodi semakin takut jika Dito sampai stres karena cacian netizen. Melodi dengan cepat mengetik pesan yang tetap harus dikirimkannya untuk Dito walau pria itu tidak aktif.   To : Dito Aku baru tahu ada masalah di foto kita berdua yang dipublish itu, Aku minta maaf atas kelakuan penggemar aku. Aku juga enggak pernah nyangka mereka sampai seperti itu sama kamu. Jadi, aku bener-bener minta maaf sama kamu. Tolong jangan pedulikan semua yang netizen tulis. Aku harap kamu baik-baik aja.   “Aku ke kamar dulu, kamu lanjut makan aja Ra.”   “Yakin Mbak?”   Melodi mengangguk mengiyakan. Melodi bangun dari duduknya dan keluar dari area restoran hotel. Baru saja Melodi keluar dari restoran hotel, langkah kaki Melodi terhenti karena seorang menghalanginya.   “Melodi, kita perlu bicara.”   Seorang yang tidak ingin ditemuinya malah tiba-tiba ada di depannya. Melodi ingin menolak ajakan itu tapi dia tidak bisa melakukannya karena tidak sopan. Pada akhirnya Melodi mengangguk mengiyakan dan pergi dengan orang itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD