Tawaran Arwin ke kamar mandi tentu saja hanya omong kosong. Arwin masih cukup waras untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak-tidak pada Melodi yang kehilangan kesadarannya. Melodi yang tidak ingin melepaskan tangannya membuat Arwin harus diam di samping Melodi. Melodi pun akhirnya mau diam di atas tempat tidur, tidak benar-benar diam sebenarnya karena tangan Melodi sangat suka mengelus lengan Arwin.
Tangan Melodi yang menyentuh lengannya membuat Arwin hanya bisa diam. Selama Melodi tidak merengek atau semacamnya, Arwin bisa menahannya. Elusan di lengannya lambat laun mulai memelan dan akhirnya tidak terasa lagi. Di saat itu barulah Arwin berani menatap ke sampingnya, di mana Melodi berada.
Di mata Arwin sekarang, Melodi terlihat sangat tenang saat tertidur. Ini kali pertama Arwin bisa melihat Melodi sedekat ini. Bulu mata lentik, hidung yang mancung, bibir yang cukup kecil, Arwin mengakui bahwa Melodi terlihat sangat cantik saat seperti ini. Siapa saja pasti sangat menginginkan berada di posisinya sekarang, bisa menatap seorang yang cantik dari sedekat ini.
Arwin menyentuh pipi Melodi, dia menggerakkan jarinya di sana. Pipi Melodi bahkan terasa sangat lembut di tangannya dan bagaimana dengan bagian bibirnya? tanpa sadar Arwin menggerakkan tangannya ke bibir Melodi. Dia mengelusnya sesaat dan akhirnya Arwin tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan. Dia tidak boleh melakukan ini.
Arwin melepaskan tangan Melodi dan dia bangun dari tempat tidur. Dia harusnya melakukan ini sedari tadi, bukannya malah menyentuh Melodi. Arwin merutuki dirinya sendiri. Dia kemudian mengatur lampu kamar agar sedikit remang-remang agar Melodi bisa tidur dengan lebih nyenyak. Arwin tanpa sengaja menoleh ke arah jendela di mana sinar bulan masuk akibat kaca jendela tidak tetutup korden dengan sempurna. Sinar bulan itu sukses membuat Arwin berjalan mendekati jendela. Di depan jendela Arwin termenung lama sekali hingga dia tidak sadar bahwa Melodi terbangun dan berjalan ke arahnya.
“Apa yang Anda lakukan?”
Tepat saat Arwin menoleh ke sumber suara, wajah Melodi sangat dekat darinya. Napas mereka bahkan terasa membelai satu sama lain. Saat Arwin diam, Melodi malah tersenyum.
“Pak Arwin?”
Arin diam, sekarang Melodi mengenalinya rupanya.
“Anda tampan.”
Lagi-lagi Melodi memuji Arwin dan Arwin bisa merasakan kalau wajahnya menghangat karena pujian itu.
“Aku tahu itu,” jawab Arwin.
“Bisakah aku menciummu?”
Ucapan Melodi sukses membuat Arwin kaget. Belum sempat Arwin lepas dari kekagetannya, Melodi lebih dahulu maju dan menempelkan bibirnya ke bibir Arwin, Hanya beberapa detik Melodi melakukan itu tapi hal itu berefek besar pada Arwin.
“Kukira ekspresimu akan berubah karena dicium olehkku.” Melodi mengerucutkan bibirnya. “Anda tahu siapa akukan?”
Arwin diam dengan pandangan mata yang menatap Melodi lekat.
“Semua orang tahu aku sekarang, bahkan mereka sangat menginginkanku sekarang.” Setelah mengatakan itu Melodi jatuh karena kepalanya mendadak terasa semakin pusing, beruntungnya Arwin dengan sigap menahan tubuh Melodi.
“Seharusnya kamu diam saja di atas tempat tidur.” Arwin memapah Melodi agar kembali ke atas tempat tidur.
Melodi yang akhirnya berada di atas tempat tidur kembali mencekal tangan Arwin yang hendak pergi meninggalkannya. “Apa Anda lupa denganku?” Melodi kembali bertanya.
“Aku tidak mungkin melupakanmu, bahkan aku sangat mengetahuimu,” ucap Arwin dengan suara seraknya.
Senyum Melodi mengembang lebar, dia senang saat mendengar hal itu. Wajah Arwin yang menghalau cahaya itu terlihat sangat indah di mata Melodi. Jika tadi dia meminta ijin untuk mencium Arwin, sekarang Melodi tidak melakukannya dan langsung menciumnya begitu saja.
Bibir Melodi menempel di bibir Arwin, awalnya hanya menempel hingga Melodi sedikit menggerakkan bibir bawahnya. Tidak ada respon dari Arwin atas apa yang dilakukannya membuat Melodi memutuskan mengakhirinya. Sayangnya, tangan Arwin menahan kepala Melodi yang membuat Melodi tidak bisa menjauhkan kepalanya.
“Bukan begitu caranya,” lirih Arwin kemudian mulai mencium Melodi. Ciuman yang tentu saja berbeda dengan cara Melodi melakukannya. Arwin membenarkan posisinya dengan Melodi yang membuat Arwin sekarang berada tepat di atas Melodi. Ciuman yang awalnya hanya ciuman pada umumnya mulai berubah saat tangan Melodi mulai bergerak ke punggung Arwin.
Arwin mulai melakukan french kiss, dia benar-benar lepas kendali hanya karena kecupan ringan Melodi. Arwin bahkan tidak menyangka kalau Melodi dan dirinya sudah bertelanjang d**a. Saat tersadar dengan apa yang sudah dilakukannya Arwin menghentikan apa yang dilakukannya pada leher Melodi.
“Kenapa?” tanya Melodi saat Arwin hanya diam membatu di atasnya.
“Maaf.” Hanya itu yang diucapkan Arwin sebelum menjauh dari tubuh Melodi.
Melodi bangun dan menahan tangan Arwin membuat Arwin terdiam di tempatnya. Saat ini Arwin tak berani melihat ke arah Melodi karena dia takut dia lepas kendali lagi.
“Kamu tidak menyukaiku?” Mata Melodi menatap Arwin dengan sedih. Arwin yang tidak berani melihatnya itu membuat Melodi kesal dan akhirnya memberanikan dirinya memaksa kepala itu tertoleh ke arahnya.
Begitu kepala Arwin menoleh Melodi langsung melumat bibir Arwin. Dia mencium Arwin seperti pria itu menciumnya. Awalnya Arwin diam hingga Arwin kembali terbawa suasana.
Arwin menghentikan ciumannya. Tangan Arwin menyentuh pipi Melodi yang ada di bawahnya. “Ini kamu yang memintanya,” lirih Arwin.
Melodi mengangguk mengiyakan. Dia merasa ada banyak sekali kupu-kupu di perutnya saat merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Melodi ingin merasakan lebih dari itu karenanya.
Arwin menurunkan wajahnya, yang membuat jarak di antara mereka berdua semakin tipis. Di saat jarak mereka yang hanya beberapa senti Arwin diam, dia tidak berani melanjutkannya.
“Tidak ingin memulainya?” Melodi memandang Arwin lekat.
“Baiklah aku yang memulai.” Melodi memisahkan jarak di antara mereka. Dia tidak mengerti kenapa pria di depannya ini suka sekali terdiam dan tidak ingin melanjutkan apa yang sudah dia perbuat. Perasaan asing itu terasa sangat mengganggu Melodi.
Arwin merasa dirinya jatuh semakin dalam. Dia tak menyangka bahwa pada akhirnya dia tidak bisa menolak semua pesona Melodi. Berawal dari ciuman, mereka akhirnya berhasil melakukan lebih dari itu. Mereka berdua menikmati semua permainan panas yang mereka lakukan.
“Ar…Arwin, panggil aku Arwin, Melodi.”
Melodi mengangguk dan saat mereka berdua sampai pada puncak kenikmatan. Mereka berdua saling memanggil nama satu sama lain. Mata Melodi sudah tidak kuat lagi, begitu Arwin merebahkan diri di sampingnya, Melodi memeluk Arwin.
Arwin balas memeluk Melodi. Dia memeluk Melodi dengan posesif, seakan Melodi akan hilang jika dia melepaskannya begitu saja. Hembusan napas Melodi terdengar semakin teratur yang menandakan akhirnya Melodi terbuai alam mimpinya. Arwin pun perlahan mengikuti Melodi menjemput mimpi yang tidak seindah hal yang baru saja dilakukannya.
*
*
*
Rasa berat yang terasa menimpa lengannya membuat Melodi menarik lengannya dengan sedikit susah payah. Melodi hendak melanjutkan tidurnya saat dia merasakan sesuatu yang bergejolak di perutnya. Rasa yang bergejolak di perutnya membuat Melodi membuka matanya dengan paksa.
Buru-buru Melodi turun dari atas tempat tidur. Rasa sakit terasa menjalar tak kala Melodi berlari menuju kamar mandi, isi perutnya yang tidak dapat ditahan membuat Melodi mengabaikan rasa sakit yang terasa. Begitu masuk ke kamar mandi, Melodi segera mengeluarkan seluruh isi perutnya.
Sehabis mengeluarkan isi perutnya Melodi berjalan lunglai menuju wastafel. Cermin yang ada di depan wastafel membuat Melodi akhirnya sadar dengan keadaan dirinya. Tubuh Melodi jatuh menyentuh lantai kamar mandi yang dingin.
Begitu jatuh, Melodi bisa melihat dengan jelas seluruh tubuhnya yang tidak tertutup sehelai benang sekalipun. Kepala Melodi bertambah pusing, tapi dia memaksa dirinya untuk bangun. Melodi kembali menghadap ke arah cermin wastafel yang memantulkan dirinya. Bercak-bercak murah yang terdapat di leher hingga ke bagian dadanya membuat Melodi hampir terjatuh lagi namun Melodi menahan tubuhnya yang sekarang terasa seperti jeli itu dengan memegang pinggiran wastafel.
“Apa yang sudah kulakukan.” Jantung Melodi berdetak cepat sekali, tubuh Melodi bahkan terasa sangat dingin sekali sekarang.
Dengan tangan yang gemetar, Melodi mengambil handuk agar menutup tubuh telanjangnya. Melodi berjalan menuju pintu yang memisahkan kamar mandi dengan kamar. Perlahan Melodi membuka pintu itu dan dari ambang pintu Melodi menoleh ke arah tempat tidur berada di mana dia bisa melihat dengan jelas seorang pria tidur dengan posisi membelakanginya. Pria itu telanjang, sama sepertinya.
Seketika Melodi membanting pintu dengan keras. Dia tidak percaya dengan apa yang dilakukannya. Bahkan dia tidak menyangka jika pria yang tidur dengannya ada di sini. Siapa pria itu? Melodi memegangi dadanya yang semakin berdetak dengan cepat. Apa yang sudah dia lakukan sampai berakhir di atas tempat tidur pria asing?
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Melodi terperanjat kaget. Melodi sontak memundurkan tubuhnya.
“Melodi?”
Melodi diam, tangan Melodi memegang erat handuknya. Suara pintu yang dibantingnya tadi pasti membuat pria itu terbangun, Melodi merasa menyesal telah membanting pintu itu karena kaget melihat hal yang seharusnya tidak dia lihat.
“Melodi? Kamu tidak apa-apakan?”
Suara serak khas bangun tidur itu terdengar memanggil lagi. Melodi semakin bingung bagaimana caranya agar dia bisa terbebas dari tempat ini karena bisa saja pria di balik pintu ini melakukan hal-hal yang berbahaya, dan bagaimana Melodi akan menghadapi kenyataan bahwa sekarang dia sudah tidak perawan lagi?
Mata Melodi liar menatap ke sekelilingnya. Sekarang Melodi harus keluar karena tidak mungkin bukan dia ada di dalam kamar mandi terus. Agar bisa terbebas Melodi harus melumpuhkan pria itu. Melodi akhirnya menemukkan sebuah vas bunga yang terbuat dari kayu, Melodi mengambil vas bunga itu.
“Mel, buku pintunya! Jangan membuatku khawatir.”
Genggaman tangan Melodi pada vas bunga yang dipegangnya semakin erat. Melodi menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
“Harus bisa,” gumamnya.
Melodi memutar kunci kamar mandi dan Melodi segera menjauh dari depan pintu. Begitu pintu terbuka Melodi melayangkan vas bunga yang dipegangnya.
“Akh… Melodi, apa yang kamu lakukan.”
Tangan Melodi ditahan dengan begitu mudahnya membuat vas bunga yang Melodi pegang jatuh. Melodi mengangkat pandangannya, saat itu juga dia akhirnya melihat wajah pria yang sudah tidur dengannya
Mulut Melodi terbuka saking kagetnya, tubuhnya bahkan lemas dan tangan besar itu dengan sigap menahan tubuhnya.
Melodi hanya terdiam dengan wajah kagetnya saat pria itu mengangkat tubuhnya dan membanya keluar dari kamar mandi. Bagaimana bisa dia tidur dengan seorang Arwin Adhyastha.
Tubuh Melodi diturunkan dengan hati-hati oleh Arwin.
“Apa kamu masih merasa mabuk?”
Melodi hanya diam sambil memandangi Arwin.
“Mel…”
Melodi seketika menampar Arwin dengan keras, tangan Melodi bahkan terasa berdenyut setelah melakukan tamparan itu.
“b******n!”
Tidak hanya memaki, Melodi bahkan memukul Arwin. “Kenapa Anda melakukan semua ini pada saya?”
“Jangan bilang kamu melupakan apa yang terjadi tadi malam!” Arwin seakan tersadar jika Melodi tidak mengingat semua hal yang telah mereka lewati tadi malam.
“Yang terjadi tadi malam itu sudah jelas bukan? Anda memanfaatkan situasi saya yang mabuk agar bisa mengambil apa yang saya jaga untuk suami saya! Anda kira karena saya artis, Anda bisa menyewa saya seperti yang lainnya!” teriak Melodi penuh amarah.
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu Melodi, dan ya Tuhan tenangkan dirimu dulu, kita bisa berbicara baik-baik.”
“Menjauh! Kubilang menjauh!” Melodi berteriak saat tubuh itu mendekatinya. Dia takut, apalagi setelah menyadari suatu hal yang dijaganya sudah hilang karena Arwin.
“Melodi, tenangkan dirimu dulu.”
“Baru kali ini penilaian pertama saya tentang seseorang tak salah, ternyata Anda sama seperti tampilan luar Anda.” Setelah mengatakan itu, air mata Melodi jatuh tanpa bisa dia tahan lagi.
Melodi turun dari atas tempat tidur, dia memungut bajunya yang berserakan di lantai. “Jangan ganggu saya,” ucap Melodi sebelum dia masuk ke kamar mandi.