Bab 23

1630 Words

Sepeninggalan Arwin, Melodi terdiam di tempatnya. Dia memikirkan bagaimana tanggapan orangtuanya tentang semua yang dialaminya ini. Mereka akan sangat marah besar, mereka juga akan sangat kecewa padanya.    “Maaf,” lirih Melodi kemudian bangun dari tempatnya itu. Dia berjalan gontai menuju ruang latihan pole dancenya. Hanya dia sendiri di sana, berputar sambil menyentuh tiang yang terasa dingin di telapak tangan.   Saat kepala itu tengadah ke atas. Ujung tiang yang menyentuh langit-langit ruangan itu menjadi titik perhatian Melodi. Seketika Melodi teringat hujatan yang seseorang tujukan pada olahraga pole dance yang dia tekuni dengan menyamakannya dengan perempuan yang menari e****s di tiang.   Di zaman sekarang, Melodi tak percaya bahwa pole dance yang dia lakukan se-hina itu. Mel

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD