Apakah Aku Pantas Menjadi Istrinya?

1131 Words
Aku duduk tertunduk di depan ayah dan ibuku. Walaupun Ibrahim adalah lelaki pilihan mereka tetapi tetap saja aku merasa bersalah. Atas dasar akulah sehingga masalah ini hadir. “Pernikahan belum sempurna tanpa rentetang acara adat nak,” kataku ayahku dengan wajah marah namun berusaha untuk menekan suaranya. “Yang terpenting sah di mata agama dan hukum yah. Itu sudah lebih dari cukup,” tegas Ibrahim. “Kau tidak hanya menikahi putriku tetapi juga keluarganya. Tidak bisakah kau ikut lebur masuk ke dalam keluarga ini?” kata ayahku geram. Mengerikan. Hari pertama pernikahanku, aku harus menyaksikan perdebatan sengit antara suamiku dan orang tuaku. “Tentu saja aku paham soal itu ayah, tetapi sekarang ada hal yang mendesak yang harus aku lakukan,” tegas Ibrahim. “Hanya seminggu. Rentetang adat itu akan berlangsung hanya seminggu,” kata ayahku seperti memohon. Aku sendiri hanya bisa diam. Ibrahim memang suamiku tetapi aku tidak begitu mengenalnya. Aku juga tidak tahu harus melakukan apa untuk membujuknya tetap tinggal di kampung halaman kami. “Tidak mungkin aku mengabaikan kewajibanku di kota selama itu yah,” kata Ibrahim masih teguh dengan pendiriannya. “Tinggallah selama seminggu,” kata ayah ngotot. “Kalau begitu keinginan ayah. Aku akan tinggal selamanya di kampung ini,” kata Ibrahim dengan suara tegas. Semua terbelalak. Ayah hanya diam mendengarnya. “Karena bisa dipastikan aku akan dikeluarkan dari pekerjaanku,” lanjut Ibrahim. Ayah menarik nafas berat. “Kalau begitu, kalian berangkatlah malam ini ke kota,” kata ayah mengalah. Lalu meninggalkan kami dengan penuh kekecewaaan.**&&&** Aku mengemas pakaianku dengan ragu. Biduk rumah tangga ini terasa aneh bagiku. Baru sekali mendayung ombak besar sudah melawan. Berhenti sejenak untuk istirahat tidak akan membantu, mengakhirinya juga mustahil. Yang bisa aku lakukan hanyalah mempersiapkan mental untuk menghadapi banyaknya rintangan di depan mata. Ibrahim berusaha untuk membantuku mengemas pakaianku. Sedangkan aku terkesan mengulur-ulur waktu. “Kenapa? Kau belum siap pergi dari rumahmu?” tanya Ibrahim. Aku hanya diam, bahkan marahpun untuk saat ini aku merasa tidak berhak. “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya, disebabkan karena Allah telah menetapkan hak bagi para suami atas mereka (para istri). (HR Abu Dawud, Tirmidzi, ia berkata, “hadis hasan shahih.” Dinyatakan shahih oleh Syaikh Albani)” lanjut Ibrahim. “Aku tahu saat ini yang wajib aku lakukan adalah mengikuti perintah suami,” kataku ketus. “Yang tepatnya mengikuti perintah suami selama itu tidak melanggar syariat islam,” kata Ibrahim, aku menangkap kesan santai pada kalimatnya. “Kau yakin tidak tidak keterlaluan?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca. Ibrahim awalnya terkejut melihatnya namun dia berusaha untuk mengendalikan diri dan keadaan. “Tidak,” jawabnya tegas namun aku melihat ada kegugupan disana. “Kau seperti menaruh t*i di wajah orang tuaku,” kataku. Ibrahim tersenyum kemudian menyentuh pipiku yang kini telah banjir dialiri oleh air mata. Kemudian Ibrahim mengecup lembut keningku. Aku tersentak, air mata itu terhenti. Untuk pertama kalinya dalam hidupku ada orang yang menciumku selain ayah dan ibuku. Aku benci perasaan ini. Aku benci merasa deg degan setiap kali melewati hal pertama kali dengan Ibrahim. “Cukup kemaksiatana terjadi saat pesta pernikahan kita,” bisik Ibrahim kemudian keluar kamar meninggalkanku dalam kebingungan.***&&&*** Setelah pamit dengan orang tuaku. Aku dan Ibrahim akhirnya berangkat ke kota meninggalkan kampung halaman kami. sejak keluar dari kamar hingga kini kami sudah di jalan, aku terus memikirkan setiap perkataan Ibrahim hingga akhirnya mulai menyadari apa yang sebenarnya makna dari kata-katanya. “Jadi sebenarnya kau bisa saja menunda pekerjaanmu di kota?” akhirnya aku bertanya pada Ibrahim setelah sekian lama terdiam di dalam mobil memikirkan kata-kata Ibrahim. Harus aku kaui bahwa aku cukp lamban untuk menganalisis sesuatu. “Bisa,” jawabnya tegas kemudian melirikku dengan senyuman yang jengkelkan bagiku. “Tetapi mengapa kau memperlakukan orang tuaku begitu hina?” kataku dengan suara tinggi. “Dan sebaik-baik istri yaitu yang taat pada suaminya, bijaksana, berketurunan, sedikit bicara, tak suka membicarakan suatu hal yg tidak berguna, tidak cerewet serta tak suka bersuara hingar-bingar dan setia pada suaminya.” (HR. An Nasa’i). Jadi turunkan suaramu di depan suamimu,”kata Ibrahim. “Jelaskan maksud dari semua ini,” kataku dengan suara lemah namun penuh dengan penekanan. “Seperti kataku bahwa aku sudah tidak ingin jatuh jauh ke dalam hal yang melanggar syariat islam. Melakukan sesuatu yang jauh dari kata islam. Aku tidak mau menabur dosa dalam bidak rumah tangga kita,” kata Ibrahim tegas. “Apa yang menurutmu melanggar syariat islam?” tanyaku dengan perasaan kecewa. “sesajen, mengunjungi tempat-tempat yang keramat dan masih banyak hal lain yang merugikan tidak hanya secara materi tetapi juga dapat mengikis keislama kita. Bagaimana mungkin mengunjungi tempat keramat selama tiga hal penting dalam hidup kita, sudah setara dengan umroh di baitullah,” kata Ibrahim dengan wajah yang memerah meredam amarah. Kata-kata Ibrahim itu benar, namun aku yang hanya memiliki pengetahuan islam yang minim tidak tahu untuk memungkiri hal tersebut. “Artinya kau hanya mengancam ayah bahwa kau akan dipecat dari tempatmu bekerja jika kau bertahan lebih lama,”kataku. “Tentu saja itu bukan ancaman, jika seandainya aku tetap tinggal di kampung selama yang aku inginkan. Sekolah tempatku mengajar tetap menerimaku kembali kapanpu aku pulang. Hanya saja saat aku ikut hukum adat dan melanggar syariat islam. Aku merasa tidak layak lagi untuk mengajarkan ilmu tauhid pada anak-anakku. Sehingga aku memutuskan untuk berhenti menjadi guru agama dan menjalani hidupku biasa saja, ikut dengan aturan agama,” jelas Ibrahim yang lagi-lagi membuatku tertegun mendengarnya. Aku melirik Ibrahim, lelaki tampan yang selalu menomor satukan agama ini ternyata adalah suamiku. Wanita-wanita yang k**i adalah untuk laki-laki yang k**i, dan laki-laki yang k**i adalah buat wanita-wanita yang k**i (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-Nuur: 23-26) Apakah aku layak bersanding dengan lelaki hebat yang kini berstatus suamiku ini? Meski semua kata-katanya terkesan begitu menggurui dan melukai harga diri keluargaku namun dilihat dari sisi agama semua perkataan suamiku itu benar. Dan aku yang tidak begitu paham ilmu agama merasa tidak pantas mendampingi suamiku. “Tidak usah berpikir terlalu keras seperti itu,” kata suamiku lembut kemudian membelai rambutku dan sejenaknya aku tersadar bahwa mobil yang suamiku kendarai kini sudah tidak berada di jalur beraspal. Kini mobil itu berdiri kokoh di depan sebuah motel. Aku bergidik menatap suamiku yang tersenyum nakal kemudian mengedipkan sebelah matanya. Aku merinding dibuatnya. Bagaimana bisa seorang lelaki dewasa dan berakhlak mulia berakhir di depan sebuah motel seperti ini. Aku memicingkan mataku. Menolak untuk turun saat suamiku sudah keluar dari mobil. Dia berputar ke pintu mobil di sebelahnya, tepat dimana aku masih menyembunyikan diriku. Menyeringai nakal saat membuka pintu mobil. Aku menutup mata, tidak mungkin aku tidur berdua dengannya di motel. Aku lebih memilih untuk tidur di dalam mobil dari pada di dalam motel itu, pikirku tegas.***&&&
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD