PROLOG

1528 Words
"Sempatkanlah untuk pulang, Stephanie." Seorang pria berujar tegas di seberang sana. Gadis bernama lengkap Stephanie Rose Leandro itu mengangguk walaupun jelas sang Kakak yang tengah menelponnya dari New York tak akan melihat anggukannya. "Stephanie...do you hear me?" Kakaknya memecah lamunannya. "Tentu, Zach. Aku mendengarmu. Aku akan mengatur ulang jadwalku." Stephanie akhirnya mengerjap dan menjawab dengan nada serius. "Berjanjilah padaku, Steph. Kami butuh bantuanmu kali ini." Zach terdengar memohon. Stephanie menghela napas. "Tentu saja. Aku akan menelponmu segera." Stephanie lagi akhirnya memutuskan. "Baiklah. Aku tunggu. See you, take care...dan...sudahkah aku bilang aki sangat menyayangimu, Steph?" "I love you too, big brother." Stephanie menjawab sambil tergelak. Terdengar sambungan telepon di putus. Stephanie meletakkan handphonenya. Di tatapnya Parvatti. Gadis berkebangsaan India yang sudah 5 tahun ini menjadi asistennya. Parvatti mengangguk. Dia sangat tahu apa yang harus segera di lakukan. Menjadwal ulang semuanya. Menghubungi para klien yang pasti akan mengajukan banyak protes karena harus menunda pekerjaan mereka. Tapi Parvatti selalu tahu, para klien tetap akan dengan sabar menunggu seorang Stephanie Rose Leandro. Model terkenal yang begitu banyak di minati dan di kontrak oleh banyak brand ternama dunia. Melihat wajah Stephanie di sebuah baliho besar adalah hal yang biasa. Stephanie menikmati hidupnya. Ramah terhadap para penggemarnya. Dan tak tersentuh. Siapa yang akan berani mengganggunya? Mengganggunya adalah petaka terselubung karena di belakang Stephanie selalu berdiri enam orang laki-laki dengan gen superior yang sanggup menghancurkan seseorang dengan sekali tatap. Edward Thomas Leandro, Ethan William Leandro, Dean Arthur Leandro, Zachary William Leandro, Alexander William Leandro, William Edward Leandro, dan James Arthur Leandro. Mereka. Anggota klan Leandro akan segera menjadi perisai bagi Stephanie saat Stephanie merasa terusik. Seperti kejadian beberapa tahun lalu saat Stephanie di kuntit seseorang yang ternyata adalah pengagum rahasianya. Tak lama berselang, pria itu hilang entah kemana rimbanya. Jangan lupakan Celina Heavenly Leandro. Gadis seumuran dengan Stephanie itu adalah gadis dengan perangai tegas dan cenderung meluap. Dia akan menatap tajam pada siapapun yang berani mengusik keluarganya. Menelisik dan kemudian mengenyahkannya dengan halus tapi menyakitkan. Stephanie sendiri adalah pribadi yang sangat menawan. Sosok gadis ramah dan begitu rendah hati. Sosok yang begitu kuat dan...rapuh secara bersamaan. Stephanie tumbuh dengan kasih sayang dan perlindungan berlebih dari keluarganya. Terkadang Stephanie merasa sangat terkekang namun juga bersyukur atas semuanya. Satu hal yang selau bisa di lihat dari seorang Stephanie adalah sosoknya yang begitu menyukai kesunyian. Berbanding terbalik dengan dunianya yang penuh dengan kebisingan. Jadwal pemotretan yang padat, interview di sana sini dan seabrek jadwal lain di atur begitu apik oleh Parvatti Nawaz, sehingga Stephanie bisa meluangkan waktu untuk menghilang dari keramaian dan menikmati sunyi. Hujan adalah bonus dan pelangi adalah kesempurnaan dari sunyi yang begitu di gilai oleh Stephanie. "Aku sudah mengatur ulang semua jadwalmu, Steph. Perlukah aku ikut ke New York?" Parvatti bertanya sambil melongok dari balik pintu. "Nikmati liburanmu, Parvi." Stephanie menjawab sambil menggeleng kuat. Parvatti sangat suka saat Stephanie memanggilnya dengan sebutan Parvi. "Aaah baiklah...hmm...jangan sungkan menghubungiku kalau kau membutuhkan bantuanku, Steph." Parvatti mengacungkan jempolnya. "Tentu. Siapa lagi yang mengerti aku selain kau Parvi." Stephanie mendesah pasrah. Lalu menunduk, bahunya luruh tak berdaya. Parvatti melangkah masuk ke kamar Stephanie dan membantu Stephanie berkemas. "Steph...jangan begitu." Parvatti mengingatkan. "Aku tahu Parvi. Aku tahu..." Stephanie berbisik lirih. Parvatti menghela napas. Stephanie yang begitu sempurna. Nyatanya menyimpan kegundahan hati yang begitu mendalam. Perlindungan yang berlebih dari keluarganya sungguh membuatnya tak bisa bergerak bebas. Stephanie tak menyalahkan mereka. Mereka hanya terlalu menyayanginya...tapi kadang Stephanie berpikir mereka agak berlebihan. Itu saja. "Baiklah Steph. Istirahatlah. Kau akan terbang pagi-pagi. Night!" Parvatti sedikit berseru sambil melangkah keluar dan menutup pintu pelan. Stephanie meletakkan kopernya di tepi ranjang dan menghela napas panjang. Besok dia akan kembali ke New York. Bertemu dengan keluarganya. Daddy dan Mommynya. Kakak dan adiknya. Bahagia tentu. Walaupun senyap itu merayap di hatinya pelan. Stephanie merebahkan badannya. Zach pasti tidak bercanda ketika meminta Stephanie menjadi model untuk brand baru yang akan di keluarkan oleh perusahaan multimedia milik keluarganya. Sebuah majalah fasion yang bekerja sama dengan banyak brand pakaian ternama. Zach pasti sudah memikirkan langkah yang diambilnya hingga memasang sang adik untuk menjadi maskot majalah itu. Stephanie mencoba memejamkan mata. Dan langsung terlelap bersama tekadnya untuk membantu keluarganya. Senyum terukir dari bibir mungil penuhnya. ---------------------------------- "Anak dari pemilik Leandro Corp yang akan menjadi model dan maskot dari proyek baru di sini." Noel mengusik Daniel yang sedang menekuri layar komputer di depannya. Daniel melepas kacamata dan meletakkannya di meja. Alisnya terangkat. "Jangan bilang kau tak tahu yang mana itu Stephanie Rose Leandro." Noel memicing menatap Daniel. "Haruskah? Bukankah itu tugas bagian pemotretan?" Daniel mencebik ringan. "Kita ini bekerja di divisi grafis. Pasti akan bersinggungan dengannya." Noel setengah berteriak...bukan! Noel menggeram kesal. "Memang...secara tidak langsung." Daniel mengendikkan bahu. "Ya Tuhan...andai kau tahu Stephanie itu seperti apa!" Noel berbisik tertahan. Daniel mengangkat tangannya menyerah. "Belilah televisi Mr. Daniel Jefferson. Di usiamu yang ke 31 tahun bahkan kau tak mengetahui yang mana itu Stephanie Rose Leandro! Ya Tuhan...dia itu sempurna! Lekuk tubuhnya, wajahnya, matanya, bibirnya, rambutnya..." Noel berbicara sambil mengerakkan tangannya liar membentuk siluet wanita yang katanya begitu sempurna itu. "Aku akan perlihatkan seperti apa dia..." Noel menggeleng kesal sambil menggeser kursinya ke arah meja kerjanya di kubikel samping kubikel Daniel. Daniel terlihat berdiri. "Lain kali, Noel. Aku harus menghadap CEO sekarang juga." Daniel menolak sambil berdiri dan berjalan cepat ke arah lift dengan membawa sebuah map. Noel hanya bisa menggeleng melihat temannya itu. Daniel itu bisa jadi idaman wanita. Tapi karena keseriusannya dalam bekerja membuatnya terlihat kuno dan dingin. Semua wanita yang mendekatinya mental tak tahu kemana. Bahkan di usianya yang ke 31 pun dia terlihat santai dan tak pernah berpesta. Dia juga tinggal di apartemen sederhana yang hanya mempunyai satu kamar tidur. Tidak ada televisi. Hanya sebuah kamar tamu dengan desain minimalis dengan rak buku besar menempel di dinding. Kamar tidur dengan ranjang yang tidak terlalu besar, sebuah kamar mandi dan dapur kecil. Padahal, dia bisa tinggal di apartemen yang lebih besar dan layak mengingat jabatannya sebagai kepala divisi grafis. Bahkan dia menolak sebuah ruangan yang khusus dipersiapkan oleh kantor untuknya. Dia lebih memilih berbaur dengan teman - teman seperjuangannya dalam kubikel - kubikel sempit. Karena itulah dia selalu di sukai oleh teman-teman se ruangannya. Noel menatap Daniel yang menghilang di balik pintu lift sambil menggelengkan kepala. Sementara itu Daniel mendongak menatap angka di atas pintu lift. Dia harus menghadap Zachary William Leandro, atasannya. Zach yang selalu menganggapnya teman walaupun dia adalah bawahan. Zach lebih muda dari Daniel dan Daniel tahu Zach sangat menghargai kinerjanya. Zach juga pemimpin muda yang mumpuni mengendalikan bisnis keluarga Leandro. Lift berhenti di lantai 14 dan terbuka. Seorang perempuan yang mengenakan topi dengan dandanan yang terkesan tomboi masuk dengan menundukkan kepala. Wangi stoberi memenuhi dalam lift membuat Daniel menaikan kedua alisnya. Perempuan dewasa dengan shampo anak-anak. Agak aneh. Daniel bergeser. Kembali menekuri angka di atas pintu lift. Wanita itu juga. Saat lift berhenti di lantai 33 wanita itu keluar dengan cepat. Begitu juga Daniel. Wanita itu terlihat melangkah ke arah meja sekretaris dan selanjutnya membuka pintu ruangan CEO dengan cepat. Menyisakan Daniel yang termangu di depan pintu lift. "Daniel. Mr Zachary menunggumu. Silahkan masuk." Mr Cillian, sekretaris Zachary mempersilahkan Daniel masuk. "Tapi..." Daniel menaikkan sebelah alisnya sambil menunjuk pintu. Merasa Zachary sedang menerima tamu, perempuan yang bersamaan dengannya dalam lift dan baru saja masuk ke ruangan Zachary. "Tidak apa. Masuklah." Mr. Cillian mengangguk. Daniel mengangguk dan langsung melangkah mendekati pintu dan mengetuknya. Terdengar suara Zachary mempersilahkan masuk. Daniel bergegas masuk dan menutup pintu. Di mana wanita tadi?, batin Daniel. "Duduklah, Dan..." Zachary mempersilahkan dengan ramah. Seperti biasa. Ramah dan penuh simpati adalah gaya seorang Zachary. Daniel duduk dan segera meletakkan map yang dibawanya ke hadapan Zach. Mereka segera larut dalam perbincangan tentang proyek baru yang melibatkan divisi grafis. Setelah 30 menit Zach terlihat sangat puas dengan hasilnya dan mengajak Daniel berbincang ringan tentang berbagai hal. Terdengar pintu ruang istirahat Zach dibuka. Zach dan Daniel menoleh. Wanita itu! Cantik. Rambutnya tergerai indah. Kenapa rambut seindah itu harus di tutupi oleh topi? "Itu Stephanie. Adikku." Zach memecah sunyi. Stephanie yang sedang membenarkan kaosnya mendongak dan menatap ke arah kakaknya. Dunia bagai berhenti untuk Stephanie. Berhenti berputar. Atau malah ini berputar sangat cepat? Mata indah Stephanie mengerjap. Entah apa yang terjadi dengan hatinya? Jantungnya? Kenapa berdetak menjadi begitu cepat? Dan keringat sialan ini menyiksa...di mana pengendalian diri yang di perolehnya dari sekolah kepribadiannya? Pria itu. Siapa? Ada apa dengan pria itu hingga sanggup menguncang hatinya? Pria bermata coklat senada dengan warna rambutnya. Pria dengan senyum menawan. "Aku permisi, Sir." Daniel memecah sunyi. Daniel berdiri. Zachary juga berdiri dan melangkah dari balik mejanya. "Baiklah. Kita bertemu besok, Dan." Daniel berbalik dan melangkah keluar setelah sebelumnya menoleh dan mengangguk hormat pada Stephanie yang masih tertegun di depan pintu. Daniel membuka pintu dan tubuhnya menghilang di balik pintu. Zachary menghampiri Stephanie. Menariknya duduk ke arah sofa. Stephanie menurut tanpa melepaskan pandangannya dari pintu. "Jauhkan pandangan matamu dari Daniel, Stephanie." Zach mengingatkan sambil mendudukkan Stephanie. "Oooh...namanya Daniel..." Suara Stephanie mengambang. Mengabaikan Zach yang menatapnya tajam. Pandangan mata Stephanie tak lepas dari pintu seakan Daniel masih ada di pintu itu. "Stephanie..." Zach bersuara sedikit keras. Menyentak kesadaran Stephanie. Stephanie menoleh pada Zach. Zach menatap adiknya dengan serius. Mendapati mata Stephanie yang berkaca bening. Adiknya jatuh cinta! Zach tahu itu. Tapi...Daniel? Bahkan usia mereka berbeda jauh. Ya Tuhan. "Zach..." Stephanie berujar lirih. Zachary menghela napas pelan. Tak kuasa menolak apapun dari Stephanie. "Aku akan usahakan Steph, apapun itu" Zach menyerah pada akhirnya. Tangannya bergerak merengkuh Stephanie. Membawanya dalam pelukan hangatnya. Adiknya yang sangat kuat dan rapuh dalam waktu bersamaan. Akankah Daniel mampu menopangnya? Apakah mau menopangnya? Apapun itu...Zachary akan bertanya pada Daniel. Untuk adiknya. Untuk Stephanienya. Apapun itu. -------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD