BAB 9: GETARAN PERTAMA
Pagi di kantor pusat D&J Empires dimulai dengan simfoni mesin kopi espresso yang mahal dan deru halus sistem pendingin udara pusat yang menjaga suhu ruangan tetap pada 20 derajat Celcius. Sinar matahari menembus jendela kaca patri dari lantai hingga langit-langit, menyinari meja kerja Daren Christ yang terbuat dari kayu mahogani gelap yang dipoles mengkilap. Di atas meja itu, setumpuk dokumen kontrak investasi dari keluarga Rastafara sudah rapi, tinggal menunggu goresan pena yang akan mengubah status Daren dari pengusaha sukses menjadi raksasa industri.
Daren berdiri di dekat jendela, menyesuaikan dasi sutranya sambil menatap pemandangan kota Astra yang terbentang di bawahnya. Ia merasa seperti seorang raja yang sedang meninjau wilayah kekuasaannya. Jennifer masuk ke ruangan dengan langkah anggun, mengenakan setelan kerja berwarna merah marun yang memancarkan otoritas. "Semua sudah siap, Daren. Tuan Rastafara dan Guinevere akan tiba dalam tiga puluh menit. Presentasi sistem cloud medis kita sudah dimuat ke server utama. Hari ini adalah hari kita."
Daren tersenyum, merasakan lonjakan adrenalin yang memabukkan. "Aku tidak pernah merasa seyakin ini, Jen. Zevarian mungkin punya visi, tapi kita punya keberanian untuk mengeksekusinya. Lihatlah gedung-gedung ini, semua akan segera berada di bawah kendali kita." Mereka tidak tahu bahwa di balik dinding beton dan kabel-kabel fiber optik yang canggih, sebuah 'getaran' kecil telah mulai merambat, sebuah anomali yang sengaja ditanam untuk menghancurkan momen kejayaan mereka.
Ketegangan dimulai tepat dua puluh menit sebelum pertemuan dimulai. Daren duduk di depan monitor utamanya, bermaksud melakukan pemeriksaan terakhir pada data cadangan (backup) milik klien terbesar mereka, Astra Medical Center. Ini adalah klien yang menjadi bukti nyata keberhasilan sistem mereka di mata Tuan Rastafara. Namun, saat Daren memasukkan kunci enkripsi, layar monitornya tidak menampilkan deretan folder hijau yang biasa ia lihat.
Sebuah ikon lingkaran berputar muncul di tengah layar, diikuti oleh pesan sistem yang dingin: "Directory Not Found."
Daren mengernyit, jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik. "Mungkin hanya masalah cache," gumamnya pada diri sendiri. Namun, setelah tiga kali mencoba, hasilnya tetap sama. Ia mencoba mengakses server cadangan fisik yang berada di ruang bawah tanah melalui koneksi internal. Hasilnya lebih mengejutkan: "Physical Drive 01: Offline."
"Jen! Sini sebentar," panggil Daren, suaranya naik satu oktav. Jennifer, yang sedang memeriksa susunan bunga di meja rapat, segera menghampiri. "Ada apa? Kau terlihat pucat."
"Data Astra Medical... hilang," bisik Daren, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. "Bukan hanya tidak terbaca, tapi seolah-olah folder itu tidak pernah ada di server kita. Aku sudah memeriksa log aktivitas, dan tidak ada catatan penghapusan. Ini mustahil."
Jennifer segera mengambil alih papan ketik, jemarinya menari dengan kecepatan seorang ahli peretasan yang telah bertahun-tahun bekerja di samping Zevarian. "Mungkin ini hanya glitch pada sistem indeksing. Biar aku coba paksa masuk melalui command prompt." Namun, setiap perintah yang ia masukkan dibalas dengan penolakan akses.
Tiba-tiba, layar monitor besar di ruang kerja Daren berkedip. Bukan pesan kesalahan teknis yang muncul, melainkan sebuah baris kode yang berjalan sangat cepat, menyerupai air terjun digital berwarna merah. Di tengah-tengah kekacauan itu, sebuah gambar kecil muncul di pojok kanan bawah—sebuah simbol burung phoenix yang terbakar, lambang lama dari proyek rahasia Zevarian yang mereka anggap telah mereka hapus selamanya.
"Daren... lihat itu," suara Jennifer bergetar. "Itu kode Phoenix. Tapi... tapi kita sudah menghancurkan semua modulnya saat Zevarian 'pergi'. Bagaimana mungkin?!"
"Jangan bilang dia masih hidup, Jen! Jangan katakan itu!" raung Daren, ia mulai membanting mouse ke atas meja. Ketakutan yang ia tekan sejak semalam kini meledak menjadi kepanikan murni. Data yang hilang itu bukan sekadar angka; itu adalah rekam medis dari ribuan pasien. Jika data itu hilang permanen, D&J Empires bukan hanya gagal mendapatkan investasi, mereka akan menghadapi tuntutan hukum yang bisa memenjarakan mereka seumur hidup.
Tepat saat itu, telepon di meja Daren berdering. Itu dari resepsionis di lantai bawah. "Tuan Daren, Tuan Rastafara dan Nona Guinevere sudah tiba di lobi. Mereka sedang menuju ke atas."
Daren menatap Jennifer dengan mata liar. "Kita harus melakukan sesuatu! Sekarang! Gunakan data simulasi, apa pun! Jangan biarkan mereka tahu kita sedang mengalami kegagalan sistem!"
Lima menit kemudian, Tuan Rastafara masuk ke ruangan dengan wibawa seorang konglomerat tua, diikuti oleh Guinevere yang tampak bosan namun tetap cantik dengan pakaian desainer terbarunya. Di belakang mereka, BeJo berdiri tegak, kacamata hitamnya tetap terpasang, wajahnya sedatar tembok.
"Selamat pagi, Daren, Jennifer," sapa Tuan Rastafara dengan suara berat. "Aku sangat antusias melihat demonstrasi akhir ini. Guinevere bilang kalian telah melakukan keajaiban dengan sistem cloud ini."
Daren mencoba memaksakan senyum, meskipun otot wajahnya terasa kaku. "Selamat pagi, Tuan. Tentu saja. Silakan duduk. Kami akan segera menampilkan dasbor utamanya."
Jennifer bergerak ke arah proyektor dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia mencoba memuat data simulasi yang telah mereka siapkan sebagai cadangan darurat. Beruntung, data simulasi itu masih ada. Di layar besar, muncul grafik-grafik indah yang menunjukkan efisiensi penyimpanan data. Tuan Rastafara tampak terkesan, mengangguk-angguk kecil sambil mempelajari kontrak di depannya.
Namun, Daren tidak bisa tenang. Ia tahu bahwa di balik grafik indah itu, server aslinya sedang 'berdarah'. Setiap kali ia melirik ke arah BeJo, ia merasa sopir itu sedang menatapnya balik dengan intensitas yang mengerikan, meskipun mata BeJo tersembunyi di balik lensa gelap. Ada aura kemenangan yang terpancar dari sosok diam itu, sebuah getaran yang hanya bisa dirasakan oleh seorang pengkhianat yang sedang dihantui dosanya sendiri.
Pertemuan itu berakhir dengan Tuan Rastafara yang menyatakan kepuasannya. "Luar biasa. Aku akan meminta tim hukumku meninjau detail kecil di kontrak ini, dan kita akan menandatanganinya besok sore di jamuan makan malam resmi."
Setelah keluarga Rastafara pergi, Daren merosot di kursinya, napasnya memburu. "Kita selamat untuk saat ini," bisik Jennifer, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, merasa lemas. "Tapi data Astra Medical... kita harus menemukannya sebelum mereka menyadari ada yang salah. Aku akan memanggil tim IT terbaik kita dan mengunci ruangan ini. Tidak ada yang boleh keluar sampai data itu kembali."
"Ini bukan kelalaian teknis, Jen," kata Daren sambil menatap monitornya yang kini kembali normal secara misterius. "Seseorang sedang bermain dengan kita. Seseorang yang tahu kode Phoenix. Seseorang yang ingin kita merasa aman sebelum akhirnya menjatuhkan kita."
Jennifer mencoba tertawa, namun terdengar hambar. "Zevarian sudah mati, Daren. Berhentilah bersikap paranoid. Mungkin ini hanya serangan dari kompetitor seperti Nexus Corp. Kita akan membereskannya malam ini."
Di dalam mobil Rolls-Royce yang sedang meluncur menjauh dari gedung D&J Empires, Guinevere sedang asyik bercermin. "Papi, menurutku Daren tampak sedikit gugup tadi. Apa dia sakit?"
Tuan Rastafara hanya bergumam pelan, sibuk dengan ponselnya. Sementara itu, di kursi pengemudi, Zevarian Galdur alias BeJo menatap gedung kantor Daren melalui spion luar. Di telinganya, sebuah earpiece kecil mengeluarkan suara Marcus.
"Tuan, data Astra Medical sudah berhasil dipindahkan ke server terenkripsi kita di Swiss. Saya juga telah meninggalkan 'jejak' Phoenix di sistem mereka. Daren sedang dalam tahap paranoia awal. Sesuai rencana?"
Zevarian tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak terlihat oleh siapa pun di dalam mobil. "Sesuai rencana, Marcus. Itu baru getaran pertama. Besok, saat mereka pikir mereka akan mendapatkan tanda tangan Rastafara, kita akan memberikan 'kejutan' yang lebih besar pada sistem akuntansi Jennifer."
Zevarian menginjak pedal gas lebih dalam, membawa mobil itu menembus kemacetan kota Astra. Ia merasa sangat hidup. Menghancurkan musuh secara fisik itu mudah, tapi menghancurkan mereka bit demi bit, membiarkan mereka membusuk dalam ketakutan dan keraguan diri... itulah seni balas dendam yang sesungguhnya. Dan ia baru saja memulai simfoninya.
Apa yang akan terjadi ketika Jennifer menyadari bahwa bukan hanya data klien yang hilang, tetapi seluruh catatan keuangan pribadinya mulai terhapus di bab selanjutnya?