Malam itu, seperti yang dijanjikan, Arga menelepon Alina.
Arga: "Na, maaf banget tadi gue harus pergi tiba-tiba."
Alina: "Enggak apa-apa, Ga. Gue ngerti kok. Gue cuma khawatir lo kecapean."
Arga: (tertawa kecil.) "Gue malah khawatir lo yang bosen gara-gara gue ninggalin lo tadi."
Alina: "Enggak lah. Gue seneng kok selama lo ngabarin gue."
Arga: (suara lembut.) "Na, gue pengen bilang sesuatu."
Alina: "Apa?" (hatinya mulai berdebar.)
Arga: "Gue tahu kita selama ini jalanin semuanya pelan-pelan. Tapi gue cuma mau lo tahu, kalau gue serius sama perasaan gue ke lo." (Alina terdiam, merasa hatinya penuh dengan kehangatan.)
Alina: "Makasih, Ga. Gue juga pengen semuanya berjalan natural. Gue enggak mau buru-buru, tapi gue yakin sama lo."
Arga: "Itu aja udah cukup buat gue. Gue bakal terus ada buat lo, Na."
Percakapan itu membuat Alina merasa semakin yakin dengan hubungan mereka. Meski belum ada pernyataan resmi, dia tahu ada komitmen yang kuat di antara mereka.
---
Namun, tidak semua berjalan mulus. Beberapa hari kemudian, saat mereka sedang makan malam bersama, Alina bertemu dengan seorang perempuan yang mengenal Arga dia adalah Nadya.
Nadya: "Eh, Arga? Lama banget enggak ketemu. Lo apa kabar sekarang?" (Arga terlihat sedikit kaget, tapi mencoba tetap tenang.)
Arga: "Eh, iya. Baik. Lo sendiri gimana?"
Nadya: "Gue baik. Gue enggak nyangka bisa ketemu lo di sini. Lo masih di kampus yang sama?"
(Alina diam saja, memperhatikan interaksi mereka. Ada rasa aneh yang muncul di hatinya.)
Setelah perempuan itu pergi, Alina tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
Alina: "Itu siapa, Ga?"
Arga: (menghela napas.) "Itu mantan gue. Kita udah lama enggak ketemu."
Alina: (terdiam.) "Oh..."
(Suasana makan malam menjadi sedikit canggung. Meski Arga mencoba menjelaskan, Alina merasa tidak nyaman.)
---
Malam itu, Alina kembali ke kostan dengan perasaan campur aduk. Dia mulai mempertanyakan apakah hubungan mereka benar-benar sekuat yang dia kira. Di sisi lain, Arga merasa bersalah karena tidak memberi tahu Alina tentang masa lalunya lebih awal. Akan kah mereka mampu mengatasi keraguan yang muncul?
Setelah pertemuan dengan mantan Arga, hubungan Alina dan Arga sedikit berubah. Meskipun Arga tetap perhatian seperti biasa, Alina tidak bisa menghilangkan rasa gelisah yang perlahan muncul. Dia tidak ingin terlihat cemburu, tetapi perasaan itu sulit diabaikan.
(Beberapa hari kemudian, Alina dan Arga bertemu di sebuah kafe kecil. Alina memutuskan untuk membahas apa yang mengganggunya.)
Alina: (mengaduk kopi tanpa menatap Arga.) "Ga, boleh gue tanya sesuatu?"
Arga: "Tentu. Ada apa, Na?"
Alina: (menarik napas panjang.) "Tentang perempuan yang kemarin kita ketemu... mantan lo."
Arga: (terdiam sejenak, lalu mengangguk.) "Apa yang pengen lo tahu, Na?"
Alina: "Lo masih ada perasaan sama dia?"
(Pertanyaan itu membuat Arga terkejut. Dia menatap Alina dengan serius.)
Arga: "Enggak, Na. Itu udah lama banget. Gue dan dia selesai dengan cara baik-baik, tapi gue enggak punya perasaan apa-apa lagi ke dia."
Alina: (tertunduk.) "Tapi gue ngerasa aneh waktu lihat lo ngobrol sama dia. Gue enggak tahu kenapa."
Arga: (menghela napas.) "Na, gue ngerti. Kalau gue ada di posisi lo, mungkin gue juga bakal ngerasa gitu. Tapi gue mau lo tahu satu hal." (Arga menggenggam tangan Alina.) "Yang sekarang ada di hati gue itu cuma lo. Gue serius sama hubungan kita."
(Alina mendongak dan menatap Arga, mencoba membaca kesungguhan di matanya.)
Alina: "Makasih, Ga. Gue cuma takut aja."
Arga: "Lo enggak perlu takut, Na. Kalau ada yang lo rasain atau lo enggak nyaman, bilang aja ke gue. Gue enggak mau ada yang mengganggu hubungan kita."
Percakapan itu sedikit mengurangi rasa gelisah di hati Alina, meskipun dia tahu butuh waktu untuk benar-benar menghilangkan perasaan itu.
---
Hari-hari berikutnya, hubungan mereka perlahan kembali normal. Namun, cobaan lain muncul ketika mantan Arga, yang ternyata bernama Nadya, kembali menghubungi Arga lewat pesan.
Nadya (pesan): "Hai, Ga. Seneng bisa ketemu lagi kemarin. Gue cuma pengen tahu, gimana kalau kita ketemuan lagi buat ngobrol soal masa lalu kita?" (Arga bingung harus merespons apa. Dia tidak ingin menimbulkan masalah dengan Alina, tetapi juga tidak ingin terlihat kasar dengan menolak Nadya.)
Arga memutuskan untuk berbicara dengan Alina tentang pesan itu.
Arga: "Na, gue mau jujur. Nadya kirim pesan ke gue, dan dia ngajak ketemu."
Alina: (terdiam, lalu menatap Arga.) "Lo mau pergi ketemu dia?"
Arga: "Gue enggak mau bikin lo salah paham. Makanya gue bilang ke lo dulu. Gue pikir kalau gue temui dia, gue bisa nutup semua urusan masa lalu itu."
Alina: (berpikir sejenak.) "Kalau lo yakin itu perlu, gue enggak bakal larang. Tapi gue cuma mau lo inget, gue ada di sini sekarang. Gue enggak mau lo balik ke masa lalu."
Arga: (tersenyum lembut.) "Makasih, Na. Lo tenang aja. Buat gue, masa lalu tetap masa lalu."
---
Pertemuan Arga dan Nadya berlangsung singkat. Nadya meminta maaf atas kesalahan di masa lalu dan mengaku masih memiliki sedikit perasaan. Namun, Arga dengan tegas mengatakan bahwa dia sudah melangkah maju bersama Alina.
Nadya: "Gue ngerti sekarang, Ga. Gue cuma pengen kita beres tanpa ada yang belum selesai."
Arga: "Gue hargai itu, Nad. Tapi sekarang hidup gue udah berbeda. Gue ada seseorang yang gue sayang, dan gue mau fokus ke dia."
Nadya: "Dia perempuan yang baik ya? Gue bisa lihat dari cara lo cerita soal dia."
Arga: (tersenyum kecil.) "Dia lebih dari baik. Dia buat gue ngerasa berarti lagi."
Setelah pertemuan itu, Arga merasa lega. Dia langsung menghubungi Alina untuk menceritakan semuanya.
Arga (telepon): "Na, gue udah ketemu Nadya tadi. Gue udah bilang ke dia kalau gue enggak punya perasaan apa-apa lagi, dan sekarang gue fokus sama lo."
Alina: (tersenyum di balik telepon.) "Makasih udah jujur, Ga. Gue seneng lo enggak sembunyiin apa-apa dari gue."
Arga: "Gue bakal selalu jujur, Na. Karena lo yang gue pilih."
Setelah ujian kecil itu, hubungan mereka semakin kuat. Alina mulai percaya bahwa Arga benar-benar serius. Mereka merencanakan lebih banyak waktu bersama, saling mendukung di pekerjaan masing-masing, dan semakin mengenal satu sama lain. Namun, perjalanan mereka tentu masih panjang, dan siapa tahu tantangan apa yang akan datang?
---
Keesokan harinya, Alina harus lembur di kantornya. Hari itu, pekerjaan menumpuk karena ada deadline proyek penting, sehingga dia baru bisa selesai sekitar pukul 9 malam. Langit di luar gelap pekat, dan hujan deras mengguyur kota. Saat keluar dari gedung, Alina memandangi langit dengan wajah lelah.
Alina: (berbisik pada diri sendiri.) "Duh, kenapa banget sih harus hujan sekarang..." (Dia lupa membawa payung karena pagi tadi cuaca cerah. Motor miliknya terparkir di seberang jalan, dan dia ragu-ragu untuk menyeberang di tengah hujan deras itu. Alina merogoh tasnya dan mencoba menghubungi seseorang.)
Alina (telepon): "Raya, lo lagi di mana? Gue masih di kantor, dan ini hujan deras banget."
Raya: "Aduh, Na, maaf banget. Gue lagi ada urusan sama nyokap di rumah. Lo bawa jas hujan, kan?"
Alina: (menghela napas.) "Enggak bawa. Yaudah deh, gue cari cara sendiri."
(Alina mencoba berpikir. Dia hampir memutuskan untuk nekat menerobos hujan ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Nama Arga muncul di layar.)
Arga (telepon): "Na, lo udah selesai kerja? Gue lagi di deket kantor lo, kebetulan lewat. Mau gue jemput?"
Alina: (matanya berbinar.) "Serius, Ga? Gue masih di depan kantor, tapi ini lagi hujan deras banget."
Arga: "Tunggu di situ, gue ke sana sekarang."
(Beberapa menit kemudian, Arga datang dengan motornya, mengenakan jas hujan. Dia membawa payung dan segera menghampiri Alina.)
Arga: (tersenyum.) "Lo kayaknya udah kedinginan banget."
Alina: (tersenyum kecil, meski badannya menggigil.) "Gue lupa bawa jas hujan. Gue hampir nekat tadi."
Arga: "Untung gue lewat. Yuk, gue anterin lo pulang."
(Arga memberikan jaketnya untuk Alina kenakan, meski jas hujan yang dia bawa hanya cukup untuk satu orang.)
Alina: "Ga, lo enggak pakai jas hujan gimana? Lo bisa sakit nanti."
Arga: (tertawa kecil.) "Enggak apa-apa. Yang penting lo enggak kehujanan. Gue kuat, kok."
Sepanjang perjalanan, Alina merasa sangat bersyukur atas perhatian Arga. Meski motor mereka sempat melambat karena jalanan licin, Arga tetap memastikan Alina merasa aman.
---
(Setelah sampai di kost Alina, hujan masih belum reda. Arga memutuskan menunggu sebentar sampai hujan mulai mereda.)
Alina: (membuatkan teh hangat untuk Arga.) "Ga, makasih banget ya. Kalau enggak ada lo, gue pasti basah kuyup tadi."
Arga: (menyeruput teh sambil tersenyum.) "Enggak usah makasih, Na. Gue seneng bisa nolongin lo."
Alina: (tersipu malu.) "Tapi serius, gue enggak tahu gimana harus bales kebaikan lo."
Arga: (menatapnya dengan lembut.) "Lo enggak perlu bales apa-apa. Cukup jadi lo yang sekarang aja, itu udah lebih dari cukup buat gue."
Kata-kata Arga membuat Alina terdiam. Dia merasa hatinya semakin yakin bahwa Arga adalah orang yang tulus dan selalu ada untuknya.
---
Setelah hujan mulai reda, Arga berpamitan untuk pulang. Sebelum pergi, dia menatap Alina dengan senyum hangat.
Arga: "Na, jangan terlalu capek kerja, ya. Gue enggak mau lo sakit."
Alina: (tersenyum kecil.) "Iya, Ga. Lo juga hati-hati di jalan, ya." (Setelah Arga pergi, Alina berdiri di depan pintu kostnya, memandangi hujan yang masih menyisakan rintik-rintik kecil. Dalam hati, dia merasa semakin yakin bahwa hubungannya dengan Arga adalah sesuatu yang berharga.)
Alina (berbisik): "Makasih, Ga. Lo selalu ada di saat gue butuh."
Malam itu, Alina tidur dengan senyum di wajahnya, meski tubuhnya masih sedikit lelah. Dia tahu bahwa hari-hari sulit di tempat kerja akan lebih ringan selama Arga ada di sisinya.
Next~~~