Cafe Bekesah 2

1499 Words
Hari semakin larut setelah mendapat beberpa puisi, dan asik mengobrol dengan Novan tentang segala hal. Suasanan café sudah semakin sepi hanya ada beberapa orang saja yang masih bertahan sepertinya mereka hanyut dalam perbincangan mereka hingga lupa kalau malam sudah berada pada puncaknya. Akhirnya aku dan ikhlas memutuskan untuk berpamitan pulang. Setelah membayar minuman kami berpamitan dengan Novan dan beberapa orang yang ada disana. Setidaknya malam ini aku mendapatkan bahan untuk menyetorkan puisiku pada panitia Antopologi puisi untuk bisa di ikutkan dalam penerbitan buku puisi bersama penulis hebat lainya. “kami pamit dulu ya van, insya allah besok kami datang lagi” ucapku berpamitan “oke, sering-sering aja kesini, biar kita bisa sambil ngobrol lagi” sahutnya “insya allah” Kamipun menuju parkiran dan melesatkan si Jupiter MX ku dengan kecepatan normal, sambil menikmati udara malam Kota Tarakan yang sepi sambari meraba-raba imajinasi barangkali saja ada yang bisa aku pungut selama diperjalanan. ***** Hari ini aku melakukan aktifitasku seperti biasa, mencari sesuap nasi diladang yang aku gelutin saat ini sebagai penjaga koperasi sekolahan SMK di Kota ini. Alhamdulillah semua berjalan lancar dan selepas pukul 15:00 WITA aku kembali keperaduanku untuk beristirahat sejenak melepaskan segala penat dan beban yang semakin hari semakin bertambah. Tidak terasa mentari sore sudah di ambang lelahnya dan aku baru terbangun setelah mendengar dering teleponku terus menerus. Kulihat siapa gerangan tamu virtual yang mengganggu dunia khayalku dan membuyarkan semua cerita sempurna yang aku susun di sana. Tertulis  “Anto ppkia” pada layar hp-ku , “walah si anto rupanya yang nelpon” batinku. “Assalamualaikum Daeng, lagi di mana kita” terdengar suara Anto dari seberang sana. Dia memanggiku dengan sebutan Daeng yang artinya kakak atau sebutan bagi orang Sulawesi untuk orang yang lebih tua dari si pemanggil. “lagi di rumah mas ragil, baru bangun aku” jawabku bermalas-malasan. Aku memanggil Anto dengan sebutan mas ragil karena memang dalam keluarganya dia di panggil dengan nama ragil yang artinya anak bontot, alas an lainya karena aku suka menggoda anto dengan panggilan itu. “aduh tidur terus kita Daeng, ngopi kah kita malam nih” sahutnya. “ngopi dimana mas… huaaa…” jawabku sambil menguap tanda masih mengantuk. “skuy lah kita ke café bekesah” Aku berfikir sejenak, kemarinkan sudah dari sana, masa kesana lagi. “ah, kalau disana bisa sekalian melanjutkan pencarian inspirasiku seperti kemarin” batinku “gimana, mau ngga, aku sekalian mau ambil laptop yang mau diservice disana” ujarnya meyakinkan. “okelah, aku ikut, tapi aku mandi dulu yah” “okelah Daeng, ketemu disana aja yah daeng” katanya bersemangat. Lalu percakapanpun berakhir, aku segera menuju kamar mandi setelan mengumpulkan semua niat dan arwahku yang masih terjebak di dunia mimpi. Setelah selesai mandi, berpakaian sederhana, dan menyelesaikan makan malamku, selepas magrib aku meluncur kelokasi yang telah ditentukan yaitu café bekesah. Kali ini aku pergi sendiri karena ikhlas sepupuku sedang ada keperluan lain sebelum aku bangun tadi dan belum pulang. Sesampainya disana aku melihat Anto dan Novan sedang menobrol dengan beberapa teman dari Kampus Biru kami sambil memainkan gitar, ada yang sedang sibuk dengan Hp masing-masing, ada yang membahas tentang konspirasi. Dari jauh aku sudah disambut oleh mereka semua dengan sambutan hangat. “eh ada Kenzo, tumben baru kelihatan” tanya Krisna salah satu teman kampusku. “alah, kamu aja tuh yang baru kelihatan, orang aku kemari ada disini kok, iya kan Novan” jawabku sambil tertawa, dan semuanya ikut tertawa. Aku mengambil posisi duduk didepan mereka yang sedang duduk setengan lingkaran sehingga seolah aku adalah tamu istimewa mereka. Aku pandangi mereka satu persatu melihat siapa saja yang malam ini bertandang dalam majelis bujang. Aku melihat ada salah satu cowok kurus tinggi, dengan lesung pipinya yang menawan sedang asik memainkan hp dan tidak menyadari kedatanganku. “eh, ada mas ganteng, sedang asik kayaknya nih” sapaku mengagetkanya “eh mas ganteng, baru datang kah” balasnya sambil kembali sibuk dengan layar hp-nya. Karena tidak mau mengganggu kesenanganya aku membiarkanya lalu memesan minum. “van aku pesan es Brown sugar satu yah” pintaku pada sang barista “oke bosku, tunggu sebentar yah” jawabnya Tidak lama kemudian Novan datang dengan mebawa pesananku dan meletakkan di meja yang ada di hadapanku. “kau lihat apa nto” tanya Krisna tiba-tiba yang membuyarkan keseruan obrolan kami. “hehehe, ada malaikat sedang jalan-jalan” jawab Anto “aku tahu apa yang ada difikiranmu” lalu mereka tertawa bersama. Hal itu membuat yang lain penasaran dan kompak mencari arah pandangan Anto dan Krisna, tidak terkecuali aku. Ternyata diparkiran ada seorang gadis yang baru tiba, dia seorang diri, perawakannya berwajah imut, tinggi langsing, berkulit kuning langsat dengan dandanan sederhana namun tetap terlihat cantik, ditambah dengan geraian rambut panjang lurus tertiup angin malam,  dengan jaket levis dan lapisan baju putih celana jeans hitam panjang membuatnya terlihat sanggat menggoda setiap mata yang memandang, dia membawa tas laptop berukuran 14 inci. Jika boleh menebak gadis ini adalah seorang mahasiswi yang ingin mengerjakan tugas kampusnya atau semacamnya. Gadis itu mengambil posisi paling pojok dekat jalan keluar, tempat pertama kali aku datang bersama ikhlas. “bentar yah bro, aku mau menghampiri bidadari malam, eh pelanggan maksudnya” canda Novan yang membuat semua orang menyorakinya dan menganggapnya modus. Namun itu memang tugasnya sebagai barista untuk mendatangi pelanggan dan menawarinya minum. Setelah berbincang beberapa saat Novan Kembali dan menuju tempatnya membuat minuman, dan saat dia melewati kami, dia mengacungkan jempol menandakan gadis itu memang seperti kelihatanya. Asoy digeboy coy…. Entah sudah berapa lama kami berbincang-bincang dan bercanda gurau bersama, sejurus kemudian Novan membawakan pesanan si Gadis cantik itu. Kopi s**u. Aku sempat menoleh pada pesanan yang dibawah oleh Novan, serius itu kopi s**u, sangat jarang aku temui seorang gadis memesan secangkir kopi s**u panas, apalagi di café seperti ini, ah, mungkin sudah biasa seorang gadis memesan secangkir kopi s**u panas, aku saja yang belum tahu. “van, emangnya si cewe itu sering minum kopi s**u disini yah, jarang aku lihat cewe minum kopi s**u loh hehehe…” tanyaku iseng “iya, emang sering kok cewe-cewe pesan kopi s**u panas disini, bukan hanya dia” terangnya. “emangnya kenapa ken, ngga usah kampungan lah, emangnya kopi s**u hanya untuk cowo doang” sahut krisna bercanda, dan kamipun tertawa bersama. Sempat beberapa kali aku melirik gadis cantik itu menyeruput kopi susunya, matanya terpaku pada layar laptop yang ada di hadapanya. Aku meihat garis senyum tipis tersunging di bibir dan matanya berlinang seperti ada airmata yang tertahan disana. Aku bertanya dalam hati ada apa dengan gadis itu, apakah dia sedang mengerjakan sesuatu yang menyenangkan ataukah dia sedang menonton sesuatu yang mengharukan, namun yang pasti ada sesuatu yang kini membuatku penasaran. “Di bawah payung gelapnya malam, pada sendi keramaian aku melihat ada sedih yang tertahan pada hati yang mencoba menjadi paling kuat diantara para pejuang kebahagiaan, airmata yang hendak menyucur pada tempatnya di bendung agar nampak tegar si empuh hati yang sedang lara.” Aku bertanya dalam hati apakah ada yang salah pada gadis itu, aku mencoba menerka apa yang sedang bermain pada tatapan yang sendu itu. Sedikit demi sedikit kopi s**u disruput dan suara keyboard laptop samar terdengar mengetikan sesuatu pada layar laptop si gadis misterius itu. Tiba-tiba aku terkejut saat gadis itu menoleh kearahku, aku pura-pura melihat kejalanan dan kembal larut dalam obrolan kawan-kawanku, saat kulirik lagi gadis itu telah larut dalam imajinasinya merangkai kata, aku legah dan memutuskan tidak lagi melirik kearahnya meski krisna dan anto masih sesekali bergantian melirik gadis itu lalu tertawa bersama seakan mereka tahu apa yang mereka fikirkan satu sama lain. “mas mau bayar” teriak pelanggan yang telah menyudahi minuman mereka dan memutuskan untuk pulang. “oke bro..” lalu novan pamit untuk melayani pembeli mereka Hari semakin larut dan satu-persatu  pengunjung berpamitan pada malam untuk mengistirahatkan penat mereka malam ini, tak terkecuali krisna, anto dan icil juga satu persatu pamit undur diri, aku masih belum menghabiskan minuman yang aku pesan, sayang untuk dtinggal, akhirnya aku memutuskan untuk menghabiskan minumanku sebelum beranjak pergi, sempat kulirik gadis cantik itu yang masih asik menuai imajinasi yang disediakan oleh malam untuknya. Setelah membayar dan berpamitan pada novan, aku kembali mengendarai MX kesayanganku, karena penasaran pada apa yang dilakukan oleh gadis cantik yang duduk didekat pintu keluar itu, aku sengaja melambatkan laju MX ku dan mengintip layar laptop gadis itu, sepintas aku membaca sebait yang telah ditulis oleh si gadis. “meski jurang tak berujung dan langit tak tergapai namun rasa ini akan selalu tertuju padamu yang telah membawa separuh hatiku pergi pada tempat yang tak tergapai oleh langkah dan tak terlihat oleh mata” Hah, gadis itu menulis semacam prosa atau sajak yang dalam, aku menebak dia pasti menulis untuk kekasihnya yang sedang jauh pastinya, aku sedikit tersentuh pada tulisannya yang begitu dalam ternyata kota ini terlalu kecil untuk menyembunyikan penyair muda yang sedang mencoba menggores kata pada untaian kata yang tersusun indah, tidak banyak aku menemukan penulis yang sama sepertiku, untuk mendapat inspirasi dari tulisan, kita harus mendatangi suatu tempat untuk menyerap segala diksi yang disediakan oleh lingungan sekitar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD