Bagian 5

1316 Words
Lukas mengusap-usap rambut Yuna, sesekali dia mengecup kening wanita itu. Lukas berdiri lalu menggendong Yuna di depan. Lukas membawa Yuna ke dalam mobilnya, dan membaringkan Yuna di bangku  penumpang. Pria itu lalu menutup pintu rumah Yuna dan menguncinya. Lukas membawa Yuna ke rumah miliknya. Malam ini dia ingin tidur dengan wanita itu, walaupun sebenarnya Lukas menginginkan lebih dari tidur. Tapi melihat Yuna yang tertidur pulas sepertinya dia harus menahannya hingga besok pagi. Lukas menidurkan Yuna di ranjang miliknya. Ini pertama kalinya Lukas mengijinkan orang lain tidur di ranjangnya. Lukas meninggalkan Yuna untuk membersihkan diri. Lukas bergabung ke balik selimut bersama Yuna. Dia menarik Yuna mendekat dan memeluknya dari belakang. Lukas memberikan kecupan di kening Yuna sekali lagi sebelum dia tertidur. ************** Yuna mengerutkan keningnya bingung, dia tidak mengenal ruangan ini. Yuna memutar pandangannya sekali lagi, berusaha menggali ingatannya. Tapi dia tetap tidak mengenal ruangan itu. Yuna tersentak saat merasakan ada yang meraba perutnya. Yuna menoleh kesamping dan mendapati Lukas yang sedang tersenyum. "Pagi, tidurmu nyenyak?" Lukas menopang kepalanya dengan satu tangan. Dia gemas dengan wajah bangun tidur  Yuna. Lukas menarik tengkuk Yuna dan mencium bibirnya dengan dalam. "Morning kiss," bisik Lukas, lalu mengusap bekas ciumannya di bibir Yuna. "Bagaimana aku bisa disini?" "Kamu tidak ingat?" Lukas mengurai kerutan di kening Yuna saat wanita masih bingung. "Aku mabuk semalam?" Tanya Yuna memastikan. "Ya, dan aku membawamu kesini saat kau tertidur," Jujur Lukas. Yuna menghela napasnya kesal. "Aku tidak suka kau melakukan itu." Lukas menghiraukan keluhan Yuna, pria itu malah kembali mendorong tengkuk Yuna menghilangkan jarak diantara mereka kemudian meyatukan  bibir dengan bibir ranum milik Yuna. Lukas mencium Yuna dalam dan penuh nafsu. Dia sudah menahannya dari semalam bahkan dia tidak bisa tidur  nyenyak. Bayangan Yuna yang tidur di sampingnya mengusik ketenangan. Begitu besar pengaruh wanita itu, bahkan dengan tidur tidak melakukan apapun bisa membangkitkan gairah nya. Ciuman Lukas berpindah ke leher Yuna. "Lukas..." Panggil Yuna Lukas malah menganggapnya sebagai desahan wanita itu. "Yeah... Katakan padaku di mana kau ingin aku menyentuh mu?" "Hentikan aku ingin bekerja." Yuna mendesah saat Lukas menjulurkan tangannya dari perut ke dadanya. "Aku sudah menahannya dari semalam. Dan kau ingin aku berhenti?" Ada jeda sejenak. "Aku tidak akan mengabulkannya."  Lukas menyentak kuat piyama Yuna hingga kancingnya berhamburan. Lukas mendaratkan bibirnya didada Yuna yang menyembul dari balik bra hitam yang wanita itu kenakan.  Yuna menangkap tangan Lukas yang hendak menarik turun celananya. "Hentikan please..." Bisik Yuna parau. Lukas membenamkan kepalanya didada Yuna. "Maaf. Aku tidak bisa berhenti." Dengan sekali sentakan Lukas berhasil menurunkan celana Yuna beserta dalamannya. Lukas membelai bagian inti Yuna dengan lembut. "Lukas... akhh..." Yuna tidak bisa menahan desahannya ketika Lukas menyelusup kan satu jari memasuki milik Yuna. Mendengar desahan Yuna semakin membuat gairah Lukas naik. Tangannya dengan cepat mencari pengait bra Yuna dan melepaskannya dalam satu sentakan. Lukas memandang tubuh Yuna dan meneguk ludah nya kasar. Ya Tuhan wanita itu benar-benar indah. Lukas yang memang tidak memakai atasan dengan cepat menanggalkan celananya. Lalu menindih Yuna. "Kau sangat indah Yuna," bisiknya tepat di depan telinga Yuna. Lalu dia menjulurkan lidahnya membelai telinga Yuna . Yuna dengan sadar membuka diri menerima Lukas di dalamnya. Yuna mendesah saat Lukas berhasil menyatukan tubuh mereka. Lukas menarik dirinya, dan dengan keras menghentakkannya lagi memasuki Yuna. Yuna menggigit bibirnya menahan desahan keluar dari mulutnya. Lukas tidak menahan diri lagi, dia menghentakkan pinggulnya maju-mundur dengan cepat. Sesekali Lukas menggeram menahan kenikmatan yang menghantamnya bertubi-tubi. Lukas menggulingkan badannya ke samping setelah gelombang kenikmatan yang entah keberapa kali dia dapatkan. Yuna berbaring pasrah, napasnya memburu. Lukas berdiri tanpa malu dengan ketelanjangannya. Dia memutari ranjang dan berdiri di samping Yuna. Dia menggendong Yuna ala bridal style. Dan membawanya masuk ke kamar mandi. Lukas mendudukkan Yuna di wastafel sementara dia mengisi air hangat kedalam bathtub. Dia kembali menggendong Yuna dan menurunkannya secara perlahan ke dalam bathtub. Melihat Yuna yang mulai menyabuni badannya gairah Lukas kembali naik. Mereka melakukannya sekali lagi di dalam kamar mandi. ********* Lukas mengantarkan Yuna hingga ke depan  ke toko bunga, tempat wanita itu bekerja, setelah mereka sarapan.  "Makan siang mu, kau ingin kirimkan apa?" Lukas bertanya tepat saat Yuna akan membuka pintu mobil. Yuna terdiam sejenak. "Menu hari Rabu yang kamu kirimkan, aku tidak tahu apa namanya. Itu sangat enak" "Kau akan mendapatkan nya." Yuna hanya mengangguk tidak tahu mau mengatakan apa.  "Aku keluar dulu." Saat Yuna hendak membuka pintu mobil Lukas kembali menahan tangan Yuna. "Apa lagi?" Yuna bertanya bingung Lukas mendarat kecupan di kening dan bibir Yuna. "Selamat bekerja," katanya. "Hum..." Yuna mengangguk. "Kamu juga," sambungnya lagi. Yuna memandangi mobil Lukas yang mulai menjauh. Sampai mobil itu menghilang di telan jalanan, Yuna masih berdiri disana. Ada satu hal yang dipikirkannya, mengapa dia begitu mudah menyerahkan diri pada Lukas? Yuna menghela napasnya dalam, dia berbalik dan membuka pintu toko. Dia berjalan pelan ke balik meja kasir, ada rasa yang tidak nyaman pada bagian intinya. Dan itu semua karena Lukas yang tidak ada rasa puasnya terus menerus menghujaminya. Wajah Yuna tiba-tiba memerah membayangkan kegiatan panasnya pagi tadi. Yuna menggelengkan kepalanya mengusir bayangan erotis itu. Dia mulai sibuk bekerja,memeriksa keuangan toko bunga. ******** Hari ini Yuna bertugas mengantar bunga ke sebuah restoran bintang lima di kawasan Jimbaran. Seorang pria yang akan melamar kekasihnya. Pria itu meminta harus Yuna yang mengantarkannya. Yuna mengambil ponsel dari sakunya, dan menghubungi kliennya itu. Yuna memutus sambungan setelah mendapat kan posisi sang klien. Yuna membuka pintu restoran lalu masuk, matanyaulai mencari dan dia menemukannya. Yuna berjalan ke arah kliennya dan menyerah buket bunga tadi. Yuna sedikit mengernyitkan ketika mendapati pria itu hanya sendiri. "Kekasihku sedang ke toilet," Kata pria itu ketika dia melihat kebingungan Yuna. "Ini pesanan Anda, Pak." Yuna menyerahkan buket ke tangan pria itu. "Terima kasih" "Sama-sama," balas Yuna Setelah menyerahkan buket bunga Yuna langsung berniat pergi. Dia kemudian berhenti saat melihat seseorang yang dikenalnya baru masuk ke restoran dan bergandengan tangan dengan seorang wanita yang sangat cantik. Ya pria itu Lukas. Yuna melihat pria itu menarik kursi untuk si wanita. Yuna menggigit bibirnya tidak tahan melihat kemesraan mereka lagi. Yuna menunduk melewati mereka. Dan saat sampai di luar, Yuna menoleh ke belakang. "Kenapa rasanya hatiku sakit?" Yuna memegang dadanya yang berdenyut. "Bukakah mereka hanya teman tidur?" Yuna tertawa sendu. Menoleh sekali lagi berharap pria itu melihatnya dan mengejar nya. "Memangnya kamu siapa?" Bisiknya pada dirinya sendiri. Yuna melangkah meninggalkan tempat itu. Berjanji dalam hati tidak akan jatuh cinta pada Lukas. Mengingatkan pada dirinya sendiri kalau mereka hanyalah teman tidur. Yuna bahkan belum mengenal laki-laki itu, hanya tahu kalau namanya adalah Lukas Harisson. Sebelum hatinya jatuh terlalu dalam Yuna harus mencari pria yang akan menjadi ayah dari calon anaknya. Yuna kembali ke toko dan mendapati kotak maka. Berlogo restoran yang baru di datanginya tadi. Dia mengambil kotak makan dan membuangnya ke tempat sampah. "Aku tidak mau ketemu sama kamu lagi" Makinya pada kotak makan itu. "Yun, sehat?" Janeta yang kebetulan lewat melihat tingkah Yuna. "Hah..." Yuna tidak tahu maksud perkataan Janeta. "Kamu masih waras kan? Kenapa ngomong sama tempat sampah?" Seakan tersadar akan aksinya tadi. Yuna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu melemparkan senyum bingung dan pergi begitu saja. "Dasar aneh" Janeta menggeleng. Saat akan pulang Yuna melihat mobil milik Lukas memasuki halaman parkiran toko. dengan cepat Yuna menyusun barangnya dan berlari melalui pintu belakang. "Kalau ada yang cari, tolong bilang kalau aku sudah pulang". katanya pada Janeta yang bersiap untuk pulang juga. "dan tolong kunci tokonya". Yuna melemparkan kunci toko, dan dengan sigap  Janeta menangkapnya.  "Tapi..." "duluan" kata Yuna dan menghilang di balik pintu. "Eh.. maaf pak kami sudah tutup. silahkan datang lagi besok" sapa Janeta ramah. "Saya mencari Yuna" Kata Lukas datar. "Yuna? Oh.. dia sudah sudah pulang duluan." Lukas menatap curiga pada Janeta. Janeta terdiam kikuk melihat tatapan tajam yang di berikan Lukas.  Lukas pergi tanpa kata. Dia tahu, Yuna menghindarinya. Lukas melihatnya tadi berlari melewati pintu belakang. Lukas ingin melihat sejauh mana usaha Yuna. Dia kembali kedalam mobil nya dan pergi meninggalkan toko bunga tempat wanitanya bekerja. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD