Sebuah awal indah bersamanya

3081 Words
Hubungan antar manusia akan selalu ada walaupun kita sekalipun sendirian, ikatan tertentu akan tetap ada, begitu pula antara perempuan dan laki-laki, ketertarikan pasti ada satu sama lain sehingga menciptakan sebuah hubungan baru yang dapat meningkat tiap waktu sehingga terjadi hubungan dalam pernikahan dan menjadi sebuah keluarga baru, proses tersebut pasti dialami oleh manusia itu sendiri. Kembali ke kehidupanku yang dimana sedang dekat dengan seorang laki-laki dikampus, yang dimana ada dalam tahap awal untuk memulai sebuah hubungan yang berbeda yang lebih dari teman dekat. Hari itu dia mengajakku ke pantai setelah menikmati makan malam dari tempat makan siap saji, aku mengikutinya, kami jalan dengan motor masing-masing menuju lokasi, setibanya disana dia yang sudah lebih dulu tiba, melambaikan tangannya agar aku melihatnya dan menghampiri ke tempatnya. Kami duduk dipinggir pantai yang saat itu sudah mulai gelap, deburan ombak makin lama makin keras, sesaat percakapan basa basi yang dilontarkan untuk mencairkan suasana karena jujur saat itu masih canggung sekali karena pertama kali itu dia mengajakku pergi ke suatu tempat, apalagi pantai salah satu tempat romantis yang cocok untuk menikmati waktu berduaan. Aku berpikir apakah ini first date kami, aah bukan kami belum memiliki hubungan apapun. Rasa tertarik itu ada tapi belum ada kejelasan darinya apakah dia memang benar memiliki rasa ke diriku. Akhirnya kami masuk ke percakapan yang lebih serius seperti kebiasaan sehari-hari, harapan di masa depan, kisah keluarga masing-masing secara umum kami saling bercerita, di dalam percakapan tersebut kami merasa makin cocok dan sejalan, dan semakin kita ingin mendekat dan menguak lebih dalam lagi, namun sayangnya jam sangat cepat berlalu, dan kami harus berpisah kembali. Dalam perjalanan menuju rumah, ingatan selama di pantai terus-menerus berulang didalam otak, sehingga bibir tidak bisa dikendalikan untuk senyum tiap kali ada hal yang membuat tersipu. Hingga sampai rumah, dan menjelang tidur masih saja terngiang, apalagi dia mengirim pesan sebelumnya yang menanyakan apakah diriku sudah sampai dirumah, segitu perhatiannya dia kepadaku, begitu pikirku. Selama melewati hari-hari bekerja diriku seakan-akan tidak sabar menunggu, hari kuliah tiba, ingin melihatnya lagi, ingin melewatkan waktu kuliah, dan bisa bersamanya saat jam kuliah sudah usai entah hanya duduk di halaman kampus, atau keluar lagi, sungguh menyenangkan dan tidak sabar. Karena dunia pekerjaan, jadi ada banyak hari dimana waktu berlalu begitu cepat, dan sangat bersyukur sekali dengan hal itu. Hingga tiba hari kuliah sore, diriku dengan senyum merona memasuki area kampus dan memarkir kan sepeda motor, kulihat dia sudah tiba lebih dahulu dan melambaikan tangannya dari jauh, seakan dia sudah menantiku, untungnya saat itu disekitar area parkir sepi tapi beberapa teman sudah tampak tiba dan menunggu di lantai dua persis di depan kelas, sehingga dia memberikan isyarat lebih dahulu untuk menuju ke atas dan aku pun mengangguk. Sambil diriku menaruh helm dan merapikan peralatan kuliah, kulihat dia berjalan menuju lantai dua, dengan terpesona aku melihatnya entah bagaimana mataku seakan tidak ingin lepas dari dirinya, dengan melihatnya saja sudah sangat senang dan hati ini nyaman. Sepanjang kelas berjalan, seakan tidak ada hal spesial, kita berperilaku seperti biasa pada umumnya tapi diriku tahu dari tatapan matanya yang menyiratkan sesuatu hal berbeda, namun ditutupi sebisa mungkin agar tidak terlalu terlihat oleh teman-teman yang lain. Hal-hal kecil yang membuatku salah tingkah dan jantungku mulai berdegup tidak karuan, dia mulai menunjukkannya perlahan. Hari pertama jadwal perkuliahan padat begitupula hari berikutnya, namun hari terakhir yaitu sabtu, dari tiga jadwal kelas yang ada hanya satu yang terisi, sehingga jam 7 malam perkuliahan telah usai dan saat teman-teman lain mulai pulang, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk darinya untuk menunggu dia di parkiran. Kutunggu dengan harapan yang lebih untuk permintaannya kali ini, dimana diriku sendiri tidak sadar akan adanya harapan tersebut. Saat suasana area parkir mulai sepi dan teman-teman seangkatan sudah pulang, tiba-tiba dia mendekatiku dan berkata "kamu belum makan kan? ayo kita makan dulu, ikutin aku ya", dengan polosnya diriku mengikuti arahannya. Kita makan di suatu restaurant siap saji, dan makanan yang kupesan ditraktir langsung olehnya. Kita menikmati makan malam dengan sesekali bercengkrama terkait hal-hal lucu di kampus. Setelah kita usai menyantap makanan, dia mengajakku untuk mampir sebentar ke pantai tempat biasa kami singgah sebelum pulang. Sesampainya di pinggir pantai, kita sudah merasa sama-sama kikuk atau canggung dengan keadaan yang sedikit tidak biasa, ditemani bulan purnama dan langit yang cerah, dimana sinarnya yang terang memantul disepanjang lautan, dengan jelas kulihat wajahnya yang tersipu mulai mengajakku berbicara dengan nada serius. Tak lama dia langsung mengatakan bahwa dirinya menyukaiku dan apakah aku mau menerimanya sebagai kekasih. Saat itu memang diriku sudah menduga, tapi moment tersebut selalu membuat diriku tidak siap menghadapinya langsung. Sehingga aku meminta waktu untuk memikirkan jawabannya, dan dia dengan sedikit tidak sabar bertanya kapan, kujawab seminggu lagi akan kuberikan jawaban. Disana dia tambah gugup, mungkin mengkhawatirkan jawaban yang kuberikan tidak sesuai dengan keinginannya. Padahal dalam hatiku tersenyum dan berkata "kamu telah mendapatkan hatiku, tenang saja dan sabar menunggu seminggu lagi" hanya saja diluar aku tak menunjukkan hal tersebut agar membuatnya lebih penasaran, aku pun ingin melihat bagaimana dia melewati satu minggu itu. Tiap kami berkirim pesan, dia selalu mengatakan bahwa tidak sabar untuk segera hari kuliah agar dapat jawabanku, aku hanya bisa menjawab sabar dengan emotikon senyum. Pikiranku membayangkan dirinya tersiksa selama menunggu dan itu membuatku puas. Hari pertama perkuliahan dimulai, tapi karena jadwal yang padat sehingga kami tidak bisa bertemu diluar karena jam sudah larut, kutunda hingga esok harinya, tapi di hari kedua juga sama, seluruh jadwal padat dan tidak ada jeda, kulihat dia sangat tidak sabaran dengan lirikan dan tatapan cemasnya. Akhirnya tibalah di hari ketiga, dan kebetulan mata pelajaran terakhir kosong karena dosen berhalangan hadir sehingga kesempatan tersebut dipakai olehnya untuk menuntut jawabanku yang telah kujanjikan seminggu yang lalu. Dia mengirimiku pesan dan berkata akan menungguku di pantai tempat biasa, aku pun beranjak dari kampus menuju pantai. Sesampainya disana, kulihat dia sudah duduk dengan gelisah menghadap lautan, aku bertanya-tanya apa yang ada dipikirannya saat ini, apakah aku benar-benar ingin bersamanya, apa aku yakin dia bisa membuatku bahagia, pertanyaan dan pikiran-pikiran itu silih berganti datang di otakku. Tapi akhirnya kuputuskan untuk mencobanya, kita tidak tau apa yang ada didepan, tapi yang saat ini kuinginkan adalah aku ingin bersamanya, selama ini cukup menyenangkan bersama dia si lawan jenis yang perlahan memikat hatiku. Pelan-pelan kudekati ke tempatnya duduk, dia sama sekali tidak menyadarinya, dan kukagetkan dia dengan kehadiranku, dia cukup terkejut namun wajahnya cukup senang melihatku. Aku duduk disebelahnya dan bertanya apa yang dia pikirkan, dia dengan mantap menjawab "aku menunggu jawabanmu. Bagaimana? apa kamu mau?". Dengan sedikit bercanda aku bertanya "mau apa?", dengan tersenyum dia menjawab "kamu mau pacaran ma aku? jadi pacarku?". Sekali lagi aku tersentak dengan pertanyaan itu, dan aku membalas senyumannya dan berkata "iya.. aku mau" dia langsung menggenggam tanganku dan berkata "terimakasih tuhan, terimakasih" dia seperti sangat bersyukur jawabanku memenuhi harapannya. Dan mulai saat itu kami memulai hubungan, hanya saja karena diriku yang masih sangat malu-malu, aku tidak ingin hubungan kami diketahui oleh teman-teman di kampus, dan ingin dia berjanji untuk menyembunyikan untuk sementara waktu, dia sebenarnya ingin mengungkapkan ke teman- teman dikampus bahwa dia dan diriku sudah memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman, tapi dia mengiyakan permintaanku. Dalam berkirim pesan kami telah berubah bukan lagi memanggil nama atau menghormati dia seperti kakak, tapi dia adalah pacarku jadi dalam pesan sudah berkembang dengan kata-kata sayang dan manja selayaknya orang kasmaran. Saat hari kuliah mulai, kami berusaha agar tidak ada yang curiga bahwa kami telah memiliki hubungan spesial, kami berinteraksi bagaimana selayaknya dan seperti biasa dalam sebelum-sebelumnya, walau dia lebih sering curi-curi pandang denganku. Saat kampus usai, itu adalah saat yang paling membahagiakan karena kita bisa bersama, pergi ke suatu tempat untuk makan malam, bercerita dengan bebas dan pergi ke pantai mencari udara malam sebelum balik kerumah masing-masing. Semakin lama hubungan kami makin dekat, dari yang awalnya hanya berani memegang tangan dan sudah berani merangkul dan memeluk. Hanya tiga hari dalam seminggu kami dapat bertemu langsung karena dipisahkan oleh pekerjaan, apalagi dia bekerja hingga jam 5 sore setiap harinya, dari hari senin hingga jumat hanya sabtu dan minggu dia libur. Sedangkan liburku tidak menentu dalam satu minggu hanya satu atau paling banyak libur dua hari diberikan secara acak oleh senior sebagai ganti aku meminta bekerja pagi setiap kamis, jumat dan sabtu agar sore hari bisa menghadiri kuliah dan itu selama 4 tahun dari awal memulai perkuliahan. Jadi waktu bertemu untuk kami jadi semakin terbatas, dan paling ideal hanya bisa bertemu saat jadwal kampus telah usai hingga sebelum tengah malam. Yang kita lakukan tiap bertemu selalu makan malam dan pergi ke pantai karena hanya itu saja lokasi yang bisa diakses paling dekat karena jam malam yang membuat semakin terbatas jarak yang bisa ditempuh untuk berpergian bersama. Aku ingin sekali menghabiskan waktu seharian bersamanya, tapi hanya hari sabtu dan minggu kita harus sama-sama libur untuk bisa meluangkan waktu bersama. Apalagi dia tiap hari minggu selalu pergi ke kampung karena dia anak lelaki satu-satunya dan dia yang sudah dewasa mulai diajarkan tanggung jawab untuk keluarga. Sehingga hanya hari sabtu aku benar-benar bisa bersama, disini dirikulah yang harus mengalah dan mencoba untuk mendapatkan hari libur di sabtu saat benar-benar tidak ada perkuliahan, saat aku ungkapkan keinginanku seperti itu, dia berkata "jangan.. akan susah jika hari sabtu saat ada mata kuliah yang harus dihadiri, aku bisa sesekali untuk tidak pergi ke kampung di hari minggu agar bisa bersamamu". Mendengar solusi darinya, aku jadi bersemangat untuk mencoba peruntungan ditempat kerja meminta libur di hari minggu. Aku minta jauh-jauh hari sebelumnya, agar rekan kerja yang lain tidak ada yang ikut meminta libur di hari minggu tersebut. Memang banyak yang bertanya kenapa aku tumben meminta libur, aku jawab asal dengan alasan pulang kekampung, walau beberapa meledek diriku meminta libur seperti pegawai instansi, semua tidak kugubris, sebelum jadwal benar-benar dicetak oleh atasan pada saat itu. Akhirnya tibalah minggu dimana jadwal bekerja dirilis, saat melihat pertama kali dengan degupan kencang dan penuh harapan, saat itu kumelihat warna merah didaftar namaku di hari minggu dan iyaa aku mendapatkannya, aku bisa bersamanya untuk benar-benar merasakan berkencan seharian. Kuberikan kabar gembira itu kepadanya dan dia merespon positif dan menyetujui untuk bersamaku dihari itu. Kami pun mulai memikirkan ketempat mana seharusnya kami berkencan untuk pertama kali selain pantai yang sering kami kunjungi. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke daerah yang berhawa sejuk dan cukup jauh dari rumah, dimana dia memang sangat menyukai alam dan ketenangan, tempat itu juga cocok untuk pasangan atau pun keluarga yaitu kebun raya. Dia pun mengatakan untuk hari itu agar diriku membawa saja baju ganti sebagai jaga-jaga jika hujan agar tidak basah dan kedinginan. Cuaca disana sudah pasti dingin, dan aku membayangkan kehangatan tangan dan pelukannya jika disana akan sangat mengasikkan. Aku pun mulai tidak sabar menanti hari minggu itu datang, sampai jadwal kuliah yang terakhir di hari sabtu kami bertemu sebelum pulang, untuk mengatur skema untuk hari esok, karena orang rumah belum ada yang tau diriku menjalin hubungan dengannya, jadi kita putuskan untuk bertemu dipantai dan menaruh motorku disana, dan aku bersama dia memakai motornya pergi ke kebun raya. Memang daerah dipantai memang masih relatif aman dan minim kriminalitas, jadi diriku berani untuk menitipkan disana. Dan diriku pun menyanggupi hal tersebut dan berjanji untuk bertemu jam 9 pagi di pantai. Keesokan harinya sesampainya diriku di tempat pertemuan, aku sudah melihat dia menunggu diatas motornya dan akhirnya kita memulai perjalanan kencan yang memang sesungguhnya untuk yang pertama kali. Perjalanan selama ke lokasi lumayan jauh sesekali kita mengobrol ringan, walau aku berusaha menjaga sikap agar tidak mengganggu konsentrasinya dalam berkendara. Tempat yang kita kunjungi kebun raya, setelah membayar tiket yang tentunya dia yang membayar, kita berjalan-jalan sekeliling tempat yang terdekat. Tanpa kusadari dia membawa kamera untuk mendokumentasikan moment, kita berfoto-foto berdua dan bergantian. Kembali berjalan-jalan menghirup segarnya udara hingga siang hari, kita keluar dari kebun raya dan mencari tempat makan terdekat. Setelah itu aku bertanya kepadanya akan kemana kita setelah itu, dia menyarankan untuk mampir mandi di air panas sebelum pulang. Seketika aku senang karena ingin sekali mencoba air panas dekat area tersebut sejak lama, namun disaat yang bersamaan aku pun gugup karena ini pertama kalinya bagi kami mandi bersama walau aku tau disana adalah area publik. Sesampainya di lokasi air panas, ada hal aneh yang kulihat yaitu bilik-bilik permandian, disana aku membaca bahwa bilik tersebut dapat disewa untuk sejam maksimal. Saat itu pikiranku tidak karuan, berusaha tidak menunjukkan terlalu jelas pikiran kotorku tapi setelah dia membayar dan memilih untuk menyewa bilik aku semakin gugup. Alasannya agar tenang dan tidak ada yang mengganggu untuk berendam bersama. Dengan malu-malu aku mengikutinya setelah berganti pakaian ke bilik yang telah ditentukan, bilik tersebut memiliki pemandangan area belakang lokasi yang masih asri dengan pepohonan hijau dan rimbun, memang sangat asik dan betah berendam berlama-lama disana. Kami pun menikmati acara berendam air panas dengan sedikit kikuk tapi saat itu kami leluasa dapat berbincang tanpa harus mengkhawatirkan orang lain. Pertama kalinya berdua di ruangan privat yang dimana hanya berdua saja, walau tidak diruangan yang benar-benar tertutup karena di bilik tersebut langsung mendapatkan pemandangan alam yang rimbun sehingga menyejukkan mata dan makin membuat waktu bersantai lebih nikmat. Kami hanya mengobrol dan sesekali dia mencari kesempatan untuk memegang tanganku, ingin dia memelukku tapi aku bilang tidak enak jika dilihat orang dari luar sana walau jauh tapi jika terlihat cukup memalukan. Dia pun menahan hasratnya, dan berkata tau begini aku cari ruangan sebelah yang benar-benar tertutup. Langsung aku terdiam mendengarnya, apa yang akan dia lakukan dengan hal itu, dia mau apa, pikiran-pikiran kotor terus mengisi otakku. Namun aku tenangkan dirinya, dengan berendam berdua seperti itu selama satu jam penuh sudah cukup untuk menikmati waktu berduaan yang berkualitas. Itu pertama kalinya aku mengetahui permandian air panas dimana ada tempat privatnya, ada total 6 bilik yang dimana sisi bilik yang kudapatkan itu sebenarnya untuk keluarga atau lebih dari 4 orang untuk menikmati sensasi berendam didalam sana sehingga disajikan pemandangan langsung keluar tidak tertutup penuh. Sedangkan sisi satunya hanya untuk berdua orang atau dengan anak dengan kondisi ruangan yang tertutup penuh sehingga itu sangat popular dikalangan anak muda yang sedang berpacaran. Karena dia tidak mau aku menunggu lama, saat ada ruangan yang kosong dia ambil ternyata ruangannya terbuka sehingga dia tidak terlalu menikmatinya karena tidak sesuai dengan ekspetasinya. Sekarang kita tau ini ruangannya seperti apa, nanti lain kali kita sepakat akan mencoba bilik yang disisi lain. Begitu waktu berlalu hingga 1 jam telah lewat penjaga mengetuk pintu menandakan waktu telah habis, kami pun keluar dan membilas diri masing-masing dengan air yang sangat dingin. Setelah kami sudah selesai, kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju perjalanan pulang. Saat diparkiran aku terkejut karena ada beberapa kera terlihat di sekitar area tersebut, dan dia mengatakan memang di dataran tinggi seperti ini ada beberapa habitat kera apalagi dekat dengan area hutan yang masih terjaga kelestariannya dan masih minim penduduk. Aku pun mengucapkan terima kasih karena telah mengantar dan mengenalkanku dengan tempat permandian tersebut sehingga aku tidak penasaran lagi dengan tanda nama yang terpampang jelas di pinggir jalan utama, sudah langsung melihat dan merasakan juga paham dengan sistem disana sehingga kemudian hari aku bisa dan orang lain yang bertanya pun aku dapat menginformasikan semua yang aku tau. kami pun pergi dari tempat itu dengan janji akan kembali lagi sesegera mungkin untuk mencoba sensasi bilik yang tertutup untuk berendam. Ditengah perjalanan tiba-tiba dia menghentikan kendaraannya, dia mengajakku untuk makan terlebih dahulu karena jam sudah mulai malam agar sampai rumah bisa langsung tidur. Dia memilih lokasi sendiri yang dia lihat secara spontan, kutanya apakah dia pernah kesana dan dia menjawab belum pernah. Suasana ditempat itu cukup nyaman tapi pelayanannya sangat lama hampir satu jam kami menunggu belum kunjung datang dari senja hingga gelap gulita. Dia meminta maaf kepadaku karena menunggu terlalu lama dan tidak enak jika membatalkan pesanan tiba-tiba saat mereka telah membuatkannya, sepertinya itu restoran baru buka, sehingga masih kacau balau untuk prosedur pelayanan dan kecepatan memasaknya. Aku memaklumi hal itu walaupun sebenarnya perut sudah mulai merasa lapar, jika langsung saja pulang saat ini aku sudah makan dirumah bahkan sudah tiduran. Saat makanan dihidangkan, rasanya lumayan walau porsinya tidak seberapa, dia mengatakan tidak akan kembali kesana lagi. Aku pun mengiyakannya, tapi dalam hati berharap restoran ini akan ada kemajuan suatu hari. Setelah itu kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan dia mengantarku sampai di tempat parkir di pantai yang dimana sudah gelap gulita, kami pun berjalan beriringan dengan mengendarai motor masing-masing dan berpisah sebelum diriku menuju jalan pulang. Hari itu sungguh indah dan tidak akan bisa aku lupakan dengan mudah, awal dimana pertama kali kita bersama-sama hampir satu hari penuh, berwisata ke kebun raya yang sejuk dan indah, lalu ke permandian air panas yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya, mendapatkan pengalaman unik menunggu makanan satu jam lamanya saat perut makin lama makin terasa lapar setelah berendam. Setibanya diriku dirumah, aku pun menghubunginya melalui pesan singkat dan mengatakan bahwa diriku telah dirumah dan akan beristirahat. Setengah jam kemudian ada balasan darinya yang mengatakan bahwa dirinya juga baru saja sampai dirumah, kami pun berbalas-balas pesan mengenai keseruan hari ini dan ingin mengulanginya sesegera mungkin saat aku dan dia memiliki kesempatan yang sama untuk berlibur bersama kembali. Dan dia pun kembali membahas kekecewaannya selama di restoran saat makan malam, dan juga dia masih membahas tentang bilik yang didapat karena pemandangannya terlalu terbuka sehingga tidak leluasa dia dapat berkontak fisik denganku, aku pun mengatakan dengan hati-hati kalau apa yang dilakukan nanti tidak boleh diluar batas wajar, takut jika terjadi apa-apa apalagi di area publik. Dia pun menyetujui pemahaman yang kuberikan. Belum lewat hari itu kami mulai merencakan akan kapan kembali berlibur seperti itu kembali, tapi seperti biasa kami harus melewati hari-hari bekerja dan bertemu saat perkuliahan menjelang weekend. Bertemu kembali saat kuliah dengan menyembunyikan hubungan diantara teman-teman dan dapat berdua saat perkuliahan sudah usai itu pun jika jadwal full kita hanya bisa berbincang sebentar di parkiran sebelum pulang kerumah masing-masing karena malam sudah sangat larut jadi tidak memungkinkan untuk ke suatu tempat lagi, kecuali ada pelajaran yang absen baru jadwal kosong itu bisa dipakai untuk keluar berdua tanpa diketahui yang lainnya. Kejadian itu berulang hingga tiga minggu kemudian, kami mendapatkan hari libur yang sama lagi dan dia pun tidak pulang ke kampung halamannya demi bisa bersamaku. Dan kami pun memulai lagi liburan tersebut dengan agenda yang sama seperti sebelumnya, karena hanya itu tempat yang paling cocok untuk kami, dengan mendapatkan bilik tertutup di area permandian air panas dengan menunggu hampir 30 menit lamanya karena memakai sistem antrian. Ruangan bilik yang cukup lega untuk berdua dan disana kami bebas seperti sepasang kekasih pada umumnya, tanpa ragu berkontak fisik dan berciuman, hasrat yang selalu ada jika berada didalam ruangan tertutup dan berdua saja, sambil berendam menikmati air panas yang sangat pas dan menyehatkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD