14

1054 Words
           “Kau benar-benar akan pulang?”           Zoe mengangguk tanpa menoleh pada Zac. Dia sibuk membereskan kopernya untuk pulang besok. Sudah tidak ada alasan lagi untuknya berada di sini. Zac sudah menentukan pilihannya untuk menikahi nenek sihir itu. Percuma sudah semua air mata yang ia keluarkan untuk mencegah Zac mengucapkan janji sehidup semati itu. Ya Tuhan, semoga Zac tidak menderita karenanya.           “Tunggulah sampai aku berangkat bulan madu.”           Dan membusuk di sini dua hari lagi? Terima kasih!           “Anak-anakku ada pertunjukan dua hari lagi, Zac.” Akhirnya Zoe menatap Zac yang terduduk di kursi riasnya. Mata pria itu tampak lelah. Baru satu malam dan Zac sudah tampak semakin tua seperti ini?           “Kau juga sudah meninggalkan latihan mereka selama seminggu.”           Zoe mengembuskan napasnya. Yang tidak Zac tahu adalah bahwa dia melatih Sue -teman satu studionya- dua kali lebih keras agar wanita itu bisa menggantikannya melatih anak-anak selama seminggu.           “Mereka membutuhkanku di sana.”           Dia akan gila seandainya tidak bisa menyaksikan pertunjukkan tari perdana murid-murid kecilnya di Los Angeles. Studio tari mereka mendapat kehormatan untuk tampil di acara konser amal musim panas untuk anak-anak Suriah. Dan ini adalah satu langkah besar untuk mereka. Untuk studio tarinya.           “Aku juga membutuhkanmu di sini.”           Zoe memutar bola mata dan menurunkan koper dari kasur, lalu meletakkannya di dekat pintu. Matanya menatap kamar yang ia tempati selama satu minggu ini untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.           “Kau pergi bukan untuk menghindari Byron kan?”           Saat pertanyaan itu terucap, mata Zoe tengah menatap jas Byron yang tersampir di samping lemari pakaiannya. Jas itu baru saja selesai di dry clean dan sudah siap ia kembalikan.  Ingatan tentang ciuman Byron, juga bagaimana pria itu melepas jasnya hanya untuk menjadi alasnya duduk, kembali berlarian di kepalanya.           Sudah begitu lama sejak terakhir kali ia berciuman dengan seorang pria dan bahkan menerima perlakuan yang begitu manis. Tidak pernah ada seorang pria pun yang rela melepas jas untuk alasnya duduk.           Tetapi dia kan aktor! Dia mungkin saja sedang berakting padamu!           Zoe memaki dalam hati karena membiarkan dirinya mengingat ciuman Byron. Yang mana juga mengingatkannya bahwa Byron belum memberi jawaban tepat kenapa pria itu menciumnya. Tidak akan ada waktu lagi untuk bertanya. Mungkin Byron memang hanya iseng.           “Kau terpengaruh.”           Zoe memilih untuk tidak melihat Zac dan menutup jendela kamarnya. Langit mulai gelap dan udara sedikit dingin. Musim panas di Sault sedikit berbeda dengan musim panas di tempatnya tumbuh besar selama ini.           Zac tertawa. “Akhirnya, setelah sekian lama, ada seorang pria yang bisa mempengaruhimu lagi.”           “Zac, keluarlah. Aku mau istirahat.” Dia tidak ingin Zac mulai membahas masalah itu karena dia sendiri tidak ingin mengingatnya.           “Rabbit, ini sudah sangat lama. Bukalah hatimu.” Zac duduk di ranjang, di belakang Zoe dan memegang bahunya.           Lagi-lagi Zoe tidak menoleh. Ia memilih tetap memunggungi Zac dan menolak berkomentar tentang apapun yang Zac ucapkan.           “Zoey, cobalah. Tidak ada salahnya kau ...”           “Aku sudah rusak, Zac! Tidak akan ada orang yang bisa memperbaiki aku.”           “Kau bukan barang!” Zac berteriak dan mengumpat. Menggumamkan sumpah serapah dalam bahasa Perancis yang tidak Zoe ketahui artinya.           “Tetapi sama saja aku sudah menjadi rongsokan.”           Zac tidak mengatakan apapun, tetapi Zoe tahu kakaknya itu sangat marah saat pria itu keluar dengan membanting pintu kamarnya. Zoe memejamkan mata dan mencoba mengenyahkan apa yang baru saja mereka bicarakan. Dia tidak ingin lagi mengingat itu, meskipun Zoe tahu hal itu tidak akan mengubah apapun yang ada pada dirinya saat ini. Ia masih sama seperti lima tahun lalu. Hancur. Buruk. Dan bukan apa-apa. .....           Rasanya, Zoe tidak pernah tidur senyenyak ini sebelumnya. Seluruh kelelahan fisik maupun batin dan pertengkarannya dengan Zac, membuatnya jatuh tertidur tanpa mimpi. Setidaknya, ia bisa pulang ke Amerika dengan keadaan segar tanpa kurang tidur.           Matanya kembali menyusuri jas Byron yang tergantung dengan gagah. Zoe tidak bisa memungkiri, ada bagian dari dirinya yang menghangat setiap kali ia menatap sepasang mata Byron. Setiap kali pria itu bicara padanya. Setiap kali pria itu tersenyum. Setiap kali mereka bertengkar. Dirinya bahkan tidak pernah bertengkar dengan pria selain Zac.           Sudah terlalu lama Zoe membatasi diri dari pergaulan dengan lawan jenis. Teman laki-laki yang dikenalnya hanyalah teman-teman dari studio tari lain. Itupun dia tidak pernah terlalu akrab dengan mereka. Tidak pernah ada satu pria pun yang bisa membuatnya banyak bicara seperti yang ia lakukan pada Byron.           Dengan Byron, rasanya ada sesuatu dalam diri pria itu yang mengusiknya saat pertama kali mereka bertemu di jembatan di bawah lampu jalan minggu lalu itu. Byron telah mengusik batas keingintahuannya saat Zoe menatap matanya yang tampak terluka.           Namun tetap saja, setelah ini mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Tidak ada artinya memberikan nomor teleponnya pada pria itu. Meski sama-sama tinggal di New York, Zoe tahu mereka berdua begitu berbeda bagaikan itik buruk rupa dan sang angsa rupawan. Byron seorang selebritis, pasti pria itu tinggal di Penthouse mewah di Manhattan. Sedangkan dirinya, ia hanyalah orang biasa yang bahkan tidak akan dilirik seorang tukang sapu jalanan sekalipun. Setelah pulang ke New York, pria itu akan kembali menghadapi hidupnya yang sebenarnya sebagai seorang selebriti Hollywood. Meski ada sedikit bagian diri Zoe yang percaya jika pria itu tidak terlalu menyukai popularitasnya.           Zoe menghela napas dan memukul pelan kepalanya. Tinggal di sini pasti telah membuatnya lemah. Kota ini terlalu tenang, terlalu damai, dan terlalu membuatnya merasa seperti di rumah. Dan itu tidak baik. Ia harus segera pulang sebelum benar-benar menjadi gila.           Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Zoe menyambar jas milik Byron dan keluar dari kamarnya. Jika ada satu hal yang membuatnya berat untuk pergi dari kota ini, itu adalah karena Ana dan Frank. Mereka berdua sudah seperti orangtua sendiri baginya. Ana yang memang sangat ingin memiliki anak perempuan, begitu memanjakannya setiap kali Zoe datang. Dan Frank, Frank selalu memperlakukannya seolah dia adalah gadis kecil berusia dua belas tahun dan bukannya dua puluh empat tahun. Jika toko sedang tidak ada pengunjung, pria tua itu akan menyetel musik dan mengajaknya berdansa waltz. Salah satu hal yang tidak sempat ayahnya ajarkan dulu padanya.           Rumah besar masih sepi. Hanya ada para pekerja yang membersihkan rumah yang berantakan karena pesta kemarin. Zoe melangkahkan kaki keluar dan menghirup dalam-dalam udara pagi di Sault yang benar-benar berbeda dengan New York. Rasanya seolah lapisan udara di New York tertutupi oleh gedung-gedungnya yang menjulang tinggi.           Aku pasti akan merindukan semua ini.           Zoe menggelengkan kepala dan menolak semua pikiran sentimentil merajai pikirannya. Sudah cukup buruk dia harus mengucapkan selamat tinggal pada Ana dan Frank. Ia tidak mau menambah beban otaknya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD