12

1043 Words
  Zoe berlari keluar dari rumah sambil menahan air matanya. Ia sangat jarang menangis, tetapi kali ini hatinya benar-benar sedih untuk Zac. Zoe benar-benar ingin memohon pada Zac untuk membatalkan pernikahannya dengan Lena. Bahkan jika ia harus berlutut, ia akan melakukannya.           Di sebuah kebun lavender yang sepi, Zoe menghentikan langkah kakinya. Ia terduduk di tanah dan menangis tersedu-sedu memikirkan nasib kakaknya. Apa Zac tahu jika Lena dan Byron pernah menjadi sepasang kekasih?           Ini menjawab semua pertanyaan Zoe tentang ekspresi wajah Byron setiap kali mereka membicarakan tentang Lena. Byron pasti masih mencintai jalang kecil itu. Ekspresi wajah Byron yang mengeras, sorot matanya yang tampak terluka jika mendengar nama Lena, itu menegaskan semuanya. Kenapa Byron tega membohonginya?           “Zoe?”           Bahu Zoe menegang mendengar suara itu. Namun kemudian, amarah menguasainya. Ia mengusap air matanya dan berbalik menatap Byron dengan garang. Zoe bangkit dari duduknya dan mendekati Byron. Saat jarak antara mereka hanya tinggal dua langkah, tangan Zoe melayang menampar satu pipi Byron.           “Apa masalahmu?? Kenapa menamparku?” Byron memegang pipinya yang memerah karena bekas tamparan Zoe. Alih-alih marah, sorot matanya malah tampak bingung.           “Kau membohongiku. Membohongi Zac. Kau b******k!!”           “Apa maksudmu, Zoe? Aku berbohong apa pada kalian?” Byron maju satu langkah hingga ujung sepatunya menyentuh ujung sepatu Zoe.           Zoe mundur satu langkah lagi, tetapi tidak mengalihkan pandangannya dari mata Byron. “Kau kekasih Lena.”           Byron memejamkan mata dan menghela napas. “Mantan kekasih. Hubungan kami sudah berakhir bertahun-tahun lalu. Jauh sebelum Lena bertemu dengan kakakmu.”           Entah mengapa suara Byron terdengar lelah. Seakan pria itu tidak ingin membicarakan masalah ini lagi. Zoe tidak berkata apa-apa. Ia menunggu. Menunggu Byron mengungkapkan pembelaannya.           “Aku tidak pernah berhubungan dengan Lena lagi sampai satu setengah bulan lalu saat ia memintaku menjadi best man di hari pernikahannya.”           “Dan kenapa kau mundur?”           Byron mengangkat bahu dan berbalik. Kedua tangannya dimasukkan ke saku jaket tipisnya dan pria itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya bicara. “Kurasa akhirnya aku sadar bahwa ini adalah yang terbaik. Untuk tidak lagi peduli padanya.”           Zoe kembali bisa menangkap kegetiran dalam suara itu. Byron pasti patah hati berat saat Lena memutuskannya. Dan sepertinya, pria ini masih mencintai wanita jalang itu hingga saat ini.           “Kau masih mencintainya?”           Byron kembali berbalik padanya. “Zoe, sudah kukatakan itu tidak penting. Dia akan segera menikahi kakakmu.”           “Jawab saja, Byron!” Zoe membentak cukup keras. Ia tidak pernah berbicara begitu keras, tetapi entah mengapa pagi ini seolah mengeluarkan semua sisi buruknya.           Byron menggeleng dengan tidak yakin.           “Aku butuh jawabanmu. Bukan gelengan kepalamu,” kata Zoe dengan tegas.           Byron menatap mata Zoe. “Tidak,” jawabnya lirih.           Zoe mencibir. Bohong. Bagaimana pria ini bisa menjadi aktor jika berbohong saja dia payah?           “Nikahi dia.”           Kali ini Byron melotot. “Apa maksudmu??”           “Kau masih mencintainya, dan dia juga begitu. Kenapa kalian tidak menikah saja sehingga kakakku tidak perlu menghabiskan hidupnya yang berharga dengan wanita ular itu?”           Zoe mungkin terdengar jahat dan kejam, tetapi ia akan menyambar peluang apapun yang membebaskan kakaknya dari menikahi Lena. Meskipun itu harus mengorbankan Byron.           “Kau ini mabuk atau apa sih?” Byron mendekat lagi dan kali ini mencekal pergelangan tangan Zoe, mencegahnya untuk menjauh.           Mereka bertatapan selama sepuluh detik. Atau lebih. Sebelum akhirnya Byron mengerang, mendekatkan kepala dan menciumnya. Dengan lembut. Dan manis.           Seharusnya Zoe mendorong Byron untuk menjauh. Seharusnya ia menendang kemaluan pria itu atau apalah yang bisa ia lakukan, tetapi Zoe tidak bisa. Mulut Byron terasa lezat. Napasnya beraroma mint yang segar dan harum. Oh, sudah lama sekali Zoe tidak berciuman. Ia hampir lupa rasanya bisa senikmat ini.           “Lepaskan adikku, Byron!”           Mereka menjauh secepat kilat begitu mendengar suara Zac yang terdengar sangat marah. Zoe berdiri dengan limbung karena ciuman Byron ternyata telah membuatnya tidak berdaya. Zac menangkap lengannya dan akhirnya Zoe bisa berdiri tegak. Ia berdiri di antara Zoe dan Byron. Menghadap pria itu yang juga tampak sedikit gugup.           “Ada yang ingin kau jelaskan padaku?” Suara Zac datar dan dingin.           “Tentang ciumanku dengan adikmu?” Byron balas bertanya.           “Zac, aku bisa menjelaskannya!” Dan Zoe langsung menyesali ucapannya saat Zac berbalik padanya. Apa yang harus dijelaslannya pada Zac?           “Baiklah, Zoellina Miller, jelaskan padaku.” Zac bersedekap menanti penjelasannya.           Zoe mundur satu langkah lagi dengan gugup. Dia merasa seperti berhadapan dengan ayahnya. Rasanya sudah lama sekali Zac memainkan peran itu. Peran seabagai satu-satunya pria yang melindunginya. Satu-satunya pria yang ia miliki di hidupnya.           “Aku yang menciumnya. Aku yang akan menjelaskannya padamu.” Byron meraih tangan Zoe dan menarik tubuhnya hingga kini ia berada di belakang punggung Byron.           “Jadi kalian diam-diam berpacaran? Sejak kapan? Karena inikah kalian sengaja ingin mengacaukan pernikahanku dan Lena?” Mata hijau Zac menatap tangan Byron yang menggenggam lengan Zoe.           “Kami tidak berpacaran. Aku hanya ingin menciumnya karena adikmu meracau.”           Meracau? Penjelasan macam apa itu?           Zoe menyentak pergelangan tangannya yang dipegang oleh Byron dan kembali merangsek maju di hadapan kakaknya.           “Zac, aku mohon jangan nikahi wanita itu. Aku mohon padamu.”           Amarah di mata Zac berganti oleh kesedihan saat matanya bertemu dengan mata Zoe. Dia meraih dua sisi kepala Zoe. “Tetapi dia sedang mengandung bayiku, Rabbit.” Zac berbisik penuh kesedihan dengan sangat lirih hingga mungkin Byron tidak bisa mendengarnya.           Zoe menggeleng. “Kau bisa bertanggung jawab pada bayi itu tanpa menikahinya.”           “Apa? Bayi? Kau menghamili Lena??”           Zac menoleh pada Byron yang kini mendekat pada mereka. “Aku tidak sengaja. Kami mabuk waktu itu.”           “Sialan! Lalu kenapa kau memintaku menggantikan kakakmu menikahi Lena??” Byron menatap Zoe dengan marah sementara Zac menatapnya kaget.           “Zoey? Kau meminta ... apa?”           “Zac, dia mantan kekasih Lena. Dan dia masih mencintainya.”           Mata Zac membelalak tidak percaya saat mendengar itu.           “Aku sudah tidak mencintainya!” Kali ini Byron menjawab dengan sangat yakin.           “Zac, kau benar-benar tidak harus menikahi wanita itu. Kau ...”           “Rabbit, dengarkan aku!” Zac menangkup dua pipinya. “Bukan seperti itu cara kita dibesarkan. Mom dan Dad tidak pernah mengajarkan pada kita untuk menjadi orang yang tidak bertanggung jawab.”           Zoe menggeleng dalam tangkupan tangan Zac. Air matanya berhamburan membasahi pipinya. “Tetapi dia tidak mencintaimu. Ini tidak akan adil untukmu.” Zoe terisak.           Zac tersenyum dan mencium dahinya. “Siapa yang bilang padamu kalau hidup itu adil? Hmm? Hidup memang tidak pernah adil, Sayang. Tetapi aku mencintai bayi itu. Bayiku. Setidaknya aku bisa memberinya sedikit keadilan kan?”           “Aku akan membencimu, Zac.” Zoe berbisik masih dengan air mata yang bercucuran.           “Dan aku akan tetap mencintaimu meskipun kau membenciku.” Zac mencium dahinya sekali lagi dan meninggalkan Zoe dengan air matanya.           Zoe benar-benar akan membenci Zac besok. Dia yakin itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD