17

680 Words
           Lama sesudahnya, Byron masih terdiam sendirian di halaman belakang rumahnya memikirkan apa yang Frank katakan padanya tadi. Setelah hubungannya dengan Lena berakhir, ia tidak pernah menggunakan hatinya lagi setiap kali ia mendekati seorang wanita. Mungkin saja hatinya sekarang sudah berkarat dan tidak bisa digunakan lagi. Lagipula, ia lebih suka memiliki hubungan fisik saja saat bersama wanita yang tertarik padanya. Itu lebih mudah baginya meski reputasi player kemudian melekat erat padanya. Tidak akan ada hati yang tersakiti karena ia sudah menjelaskan sejak awal apa yang ia inginkan pada wanita yang tertarik dengannya.           Tetapi Zoe berbeda dengan para wanita itu. Kau tahu itu.           Tidak. Tidak. Tidak. Zoe tidak berbeda dengan wanita lainnya. Segera setelah gairahnya terpuaskan, dirinya akan melupakan wanita itu. Pasti. ......           Aaron tidak membiarkannya beristirahat bahkan untuk satu hari saja. Si pirang bermata biru itu langsung menyerahkan empat berkas pengajuan kontrak yang tiba di kantor manajemennya. Empat film baru yang ingin memilih Byron sebagai pemain utamanya.           “Ada empat film, tetapi aku melihat tiga yang lainnya tidak menarik. Ini,” Aaron menyerahkan sebuah amplop coklat, “diangkat dari novel paling laris di New York. One Summer in Paris. Kau pernah mendengar tentang novel itu kan?”           Byron menggeleng. Meski dirinya aktor, ia tidak pernah membaca novel. Padahal, beberapa film yang dia bintangi diangkat dari novel best seller. Baginya, novel hanya membodohi para wanita untuk selalu bermimpi bahwa akan ada kisah cinta yang berakhir bahagia. Ia mendengkus. Itu konyol. Tidak ada happily ever after  di dunia nyata. Apalagi di New York.           “Penulisnya, Z. Miller, dikenal sebagai penulis yang sangat berbakat. Hampir se ...”           “Siapa??” Byron menatap Aaron dengan tajam saat mendengar nama itu. Jangan bilang kalau…           “Z. Miller. Dia disebut-sebut sebagai the next Emily Bronte. Gaya penulisannya sangat cerdas dan ....”           “Dan apa kepanjangan dari Z itu, Aaron?” tanyanya tidak sabar. Ia tidak peduli dengan julukan itu, ia hanya perlu tahu siapa Z itu.           Aaron mengangkat bahunya. “Tidak pernah ada yang tahu siapa dia. Agennya sendiri …”           Byron tidak lagi mendengarkan ocehan Aaron karena kini otaknya dipenuhi satu nama itu lagi. Apa mungkin Zoe  seorang penulis? Cerita macam apa yang dia tulis? Apa novel picisan pengobral mimpi seperti yang lainnya?           “Jadi tentang apa buku yang akan difilmkan ini?”           Aaron mendesah dengan berlebihan. “Cerita cinta yang sangat tragis, Byron. Wanita itu adalah spesialis kisah cinta yang berakhir tragis. Namun anehnya, semua pembaca selalu menantikan ceritanya. Semua cerita yang ditulisnya selalu terjual habis di pekan pertama peluncurannya. Aku bahkan menangis dari awal hingga akhir saat membaca satu novelnya yang berjudul Hiraeth. Ya Tuhan, dia benar-benar ...”           “Kau yakin dia seorang wanita?” tanya Byron sambil melirik Aaron. Bisa saja Zac yang menulis cerita itu. Ada berapa pemilik nama Miller di New York?           “Tidak ada pria yang bisa menulis sedramatis itu!” protes Aaron dengan cepat.           “Lalu cerita macam apa yang akan difilmkan ini?”           Lagi-lagi Aaron mendesah. “Kau harus membacanya sendiri, Byron.  Ini benar-benar tragis. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya ditinggalkan untuk selamanya oleh orang yang kita cintai dengan cara yang sangat tragis.”           “Jadi di sini tokoh utamanya mati?”           “Sang pria. Dia dibunuh oleh orangtua dari gadis yang dia cintai sebelum sempat mengutarakan perasaannya.” Aaron mengelap air mata yang menetes dengan ujung bajunya. “Byron, kau harus membacanya dan mengambil kontrak ini. Ini ...”           “Baiklah. Aku akan mengambil kontrak itu. Kapan aku harus bertemu mereka?”           “Kau serius, Lord Byron??” Meskipun kaget, Aaron tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Kau bahkan belum mendengar garis besar cerita itu atau membaca novelnya. Bagaimana kalau ...”           “Kalau kau bilang bagus, itu pasti bagus.” Meskipun bukan itu alasan utamanya, Byron sangat percaya pada Aaron. Apa yang diyakini Aaron akan sukses selalu terjadi. Pria itu benar-benar berbakat dalam melihat peluang seperti ini.           “Aku akan membuat janji temu dengan agennya. Nah, kau nikmatilah hari liburmu satu hari lagi!” Pria itu melesat keluar dari kantornya bahkan tanpa membuat Byron sempat untuk membuka mulut.           Byron mengambil novel yang ditinggalkan Aaron untuknya. Z. Miller. The New York Times and USA Today best selling Author. Sebuah senyum terukir di bibir Byron. Meskipun belum tahu siapa pemilik nama Z ini, tetapi Byron yakin. Hatinya sudah tahu.           Silakan kau menghindariku, Zoe, tetapi takdirmu sedang menuju padaku. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD