Tepat jam enam pagi, Arfan sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Dia berdiri di depan sebuah pintu dengan gelisah. Arfan melirik jam tangannya sebentar dan bersandar pada tembok. Dia sudah memutuskan untuk tidak berangkat kerja jika seseorang yang ia tunggu belum keluar. Arfan mengalihkan pandangannya saat mendengar pintu yang terbuka dengan pelan. Wajahnya berubah datar saat tahu apa yang Kia lakukan. Sepertinya gadis itu akan kembali menghindarinya pagi ini, sama seperti hari kemarin. Melihat pintu yang terbuka secara perlahan, Arfan memilih untuk melipat kedua tangannya di d**a. Menunggu Kia benar-benar keluar dan melihatnya. Sudah sejak semalam Arfan memikirkan hal ini. Dia ingin memperbaiki semuanya. Dia tidak mau hubungannya dengan Kia semakin memburuk. "Mau kabur lagi?" tanya Arfa

