Perasaan yang Salah

1381 Words
Melakukan kesalahan yang sama adalah hal yang dihindari oleh manusia. Namun sayangnya, tidak bagi Cia. Hari ini secara sadar dan sengaja dia kabur dari sekolah meninggalkan mata pelajaran yang tengah berlangsung. Bukan untuk bersenang-senang, melainkan ia ingin mendapat hukuman. Jika orang-orang mengetahui niat aslinya, mungkin mereka akan menyebutnya gila. Cia tidak peduli dengan itu. Dia memang sudah gila. Rela melakukan apapun untuk melihat pria yang secara tiba-tiba memenuhi isi hati dan pikirannya. "Cia!" Suara teriakan itu mengejutkan Cia. Dari jauh, Cia melihat Febi yang berlari menghampirinya. "Lo kabur?" tanya Febi dengan napas terengah. "Iya." "Kenapa nggak ajak gue?" geram Febi kesal. Febi baru mendengar apa yang terjadi pada sahabatnya. Setelah pulang sekolah, ia langsung ke panti asuhan tempat di mana Cia dihukum. Memang hukuman yang diberikan sekolahnya cukup berbeda. Itu karena peraturan yang dibuat Ayah Febi sendiri, selaku pemilik sekolah. Sekolah swasta memang memiliki aturan khusus untuk mengatur muridnya. "Lo udah bolos kemarin, masa gue ajak kabur lagi? Ntar bokap lo dipanggil ke sekolah. Kepala sekolah jadi bingung mau kasih wejangan atau ajak ke tongkrongan," celetuk Cia. Febi seketika tertawa. Apa yang Cia katakan ada benarnya. Hubungan ayahnya dan kepala sekolah memang cukup baik. "Lo cari apa?" tanya Febi saat melihat Cia kebingungan menoleh ke segala arah. "Calon." "Calon?" tanya Febi bingung. "Calon pacar gue," ucap Cia tersenyum lebar saat menemukan sosok yang ia cari. Dari jauh, Cia melihat pria itu tengah bermain bola bersama anak-anak panti di lapangan. Entah kenapa jantung Cia mulai berdegup kencang. Rasanya sama seperti minggu lalu. Hatinya bergetar hebat saat melihat pria itu. Meskipun sangat dingin dan tak acuh, tetapi Cia melihat sisi lain dari pria itu. Tentu saja, itu karena dia sedang jatuh cinta. *** Hari ini, Cia dan Agam tidak memiliki jadwal di luar kantor. Meskipun begitu, bukan berarti tidak ada banyak pekerjaan yang Cia lakukan. Dari sejak hari pertama hingga saat ini, pekerjaan bukannya semakin berkurang malah semakin bertambah. Lagi-lagi Cia bertanya-tanya. Bagaimana bisa Dika bertahan dengan pekerjaan seperti ini selama bertahun-tahun? "Baik, Pak. Saya tanya ke Pak Agam dulu." Cia menutup telepon kantor dengan sabar. Dia baru saja mendapat teguran dari departemen keuangan. Mereka belum menerima berkas yang harus ditandatangani oleh Agam. Seingat Cia, berkas itu sudah ada di meja Agam sejak kemarin. Namun belum ada tanda-tanda pria itu akan menyelesaikan pekerjaannya. Cia melirik jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 2 siang. Masih panjang untuknya bisa pulang. Setelah banyak belajar dari Dika, Cia tahu jika dia tidak akan bisa pulang sebelum Agam pulang. Takut jika sewaktu-waktu pria itu akan membutuhkannya saat ia sudah tidak ada di kantor. Baru saja Cia ingin membuka pintu ruangan Agam, tetapi dia langsung berhenti saat mengingat kebiasaan buruknya. Cia langsung mengetuk pintu dan menunggu sahutan dari dalam. Dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi dan mendapat omelan dari bosnya. "Masuk," sahut Agam. Cia pun masuk dengan hati-hati. Seperti biasa, dia melihat Agam yang tengah fokus bekerja. Pemandangan yang hampir setiap hati Cia lihat saat di kantor. "Pak, apa berkas untuk departemen keuangan sudah ditandatangani?" "Yang mana?" tanya Agam tanpa menatapnya. "Yang saya kasih kemarin, Pak." Agam mengalihkan pandangannya pada tumpukan berkas di atas meja. Dia terlihat mencari sesuatu sampai menemukan map itu di tumpukan paling bawah. "Belum saya baca," katanya singkat. "Isinya sama kayak rapat kemarin kok, Pak." Agam mulai menatap Cia lekat, "Tetap harus saya baca, kan?" Mata Cia terpejam dengan sabar. "Baik, Pak. Silakan dibaca dulu. Hari ini harus sudah selesai." Cia berdeham saat Agam malah menatapnya lekat. Bahkan semakin tajam saat mendengar ucapannya yang seperti memerintah. Seketika Cia menjadi salah tingkah. "Maksud saya biar pekerjaan Pak Agam nggak numpuk. Duluin yang sudah masuk lebih dulu aja." Cia pikir Agam akan tidak terima dan memarahinya. Namun ternyata pria itu hanya mengangguk dan kembali bekerja. Kali ini Agam membuka berkas yang harus ia tandatangani hari ini. "Kalau gitu saya keluar dulu. Permisi." Saat di luar, Cia bersandar pada pintu dan mengeluarkan napas panjang, napas yang sedari tadi ia tahan. Entah kenapa saat berada di dekat Agam, dadanya selalu sesak. Antara senang dan sedih. Senang karena bisa melihat Agam dan juga sedih karena mengingat masa lalu. Cia benci dengan hatinya sendiri yang ternyata masih menyimpan rapi nama Agam. Namun dia harus menghapusnya dengan cepat. Perasaan yang Cia miliki ini tidak seharusnya ada. "Permisi," ujar suara lembut yang membuyarkan lamunan Cia. Mata cantik Cia seketika membulat melihat wanita di hadapannya. Tiada hari yang tidak mengejutkan bagi Cia setelah bekerja di tempat ini. Seperti saat ini, tanpa aba-aba Nadira Santoso datang ke kantor Agam. "Ibu Nadira?" sapa Cia tidak percaya. "Iya," jawab wanita itu tersenyum manis. Nggak! Jangan senyum! Cia mengumpat dalam hati. Melihat senyum ramah Nadira, seketika nyali Cia menjadi ciut. Dia tidak ada apa-apanya dibanding wanita itu. Seketika Cia langsung gelisah dengan ucapan Dika sebelumnya. Pria itu berkata jika Nadira bukanlah mantan kekasih Agam. Sialnya, Dika tidak menerima pertanyaan pribadi yang lain. Sehingga Cia hanya bisa berspekulasi sendiri dengan pikiran sempitnya. Apa Nadira dan Agam masih berpacaran? Itu yang Cia pikirkan sejak kemarin. "Agam ada di dalam?" tanya Nadira. Cia tersadar dari lamunannya dan mengangguk, "Iya, Bu. Ada di dalam." "Kalau gitu saya masuk dulu ya?" Cia tidak dapat berbuat banyak saat Nadira membuatnya menyingkir dari pintu. Dengan santainya wanita itu masuk dan pintu ruangan pun tertutup. d**a Cia kembali terasa sesak. Dia jatuh terduduk di kurisnya sambil mengusap wajahnya kasar. Mencoba menahan diri untuk tidak menangis memikirkan apa yang Agam dan Nadira lakukan di dalam ruangan berdua. Cia tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Setiap detik dia menoleh ke arah pintu berharap jika Nadira akan segera keluar. Atau setidaknya dia bisa mencuri dengar. Namun harapan hanya harapan. Cia hanya bisa duduk dan berusaha tegar. Waktu berlalu sangat lambat menurut Cia. Dia bahkan mengecek jam tangannya sendiri apa ada kerusakan di sana. Ini semua karena keresahannya. Seharunya Cia bersikap biasa, tetapi dia tidak bisa. Perasaan itu sulit hilang dari hatinya. Suara pintu yang terbuka membuat Cia dengan cepat berdiri. Agam keluar bersama Nadira. Melihat wajah Nadira yang tersenyum membuat Cia kembali lemas. Untuk wajah Agam, Cia tidak berhatap banyak, pria itu memang tidak memiliki ekspresi lain selain datar. Sepertinya pertemuan mereka berjalan lancar. "Kalau gitu aku pulang dulu," ucap Nadira menyentuh bahu Agam sebentar dan berlalu pergi. Agam hanya mengangguk dan menunggu Nadira masuk ke dalam lift. Setelah wanita itu benar-benar pergi, Agam langsung berbalik menatap Cia dengan tajam. Tatapan tajam yang bukan seperti biasanya. Cia bisa melihat ada amarah di matanya. "Kenapa kamu izinkan Nadira masuk?" tanya Agam dengan suara tinggi dan tegas. "Ap—apa, Pak?" "Lain kali tanya dulu. Saya mau terima tamu atau tidak." Cia yang masih terkejut dengan kemarahan Agam hanya bisa mengangguk. Dia menunduk dan memainkan tangannya gelisah. "Pastikan orang yang mau menemui saya sudah buat janji sebelumnya. Saya nggak mau kejadian ini terulang lagi. Kamu paham?!" "Ba—baik, Pak." Saat Agam akan kembali ke ruangannya, Cia memanggilnya cepat. Seketika gadis itu memukul bibirnya yang tidak bisa menahan diri. Semua terjadi begitu saja dan secara reflek. "Apa?" tanya Agam kembali berbalik. "Apa Ibu Nadira juga perlu membuat janji dulu?" tanya Cia hati-hati. "Maksud kamu?" "Saya dengar Ibu Nadira pacarnya Pak Agam. Makanya tadi saya bolehin masuk," ucap Cia memelan di kalimat akhir karena Agam semakin menatapnya tajam. Agam berjalan mendekat dan berdiri di depan Cia. Melihat gadis itu yang menunduk membuat Agam kesal dengan tingkah bodohnya. "Mau pacar saya atau tidak, tetap harus buat janji." Agam berucap tegas. Hati Cia seketika sakit mendengar itu. Dia pikir ua akan mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Namun ternyata malah semakin ambigu. Cia mendongak dan menatap Agam sendu. Sungguh, Cia ingin menangis saat ini tetapi dia harus menahannya. Dia harus bisa. Cia sudah menahan perasannya selama bertahun-tahun. Tidak mungkin jika pertahanannya runtuh hanya karena masalah ini. "Kamu paham?" bisik Agam tepat di depan wajahnya. Cia sudah tidak sanggup untuk berbicara. Anggukan kepalanya akan mewakili semuanya. Bahkan juga mewakili rasa gugup dan tidak nyaman yang ia rasakan. Semoga Agam tidak menyadarinya. "Kembali kerja." Agam berbalik untuk masuk ke dalam ruangannya. Namun dia berhenti dan terdiam di depan pintu. Cia yang melihat itu hanya bisa bertanya-tanya. Ada apa? Belum sempat bertanya, Cia terkejut saat Agam kembali berbalik dan menatapnya. "Ada ap—pa, Pak?" tanya Cia dengan suara tercekat. Suara yang berhasil ia kumpulkan dalam keadaan serba salah ini. "Nadira... dia bukan pacar saya." *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD