Seharusnya Denis tidak mengambil tindakan seberlebihan ini dan seharusnya dia tidak memikirkan bahkan memedulikan Diana. Tapi, entah dorongan dari mana, dia kembali menginjakkan kakinya di rumah Diana dan menemui perempuan itu setelah Papa Diana menghubunginya jika perempuan itu tidak lagi memakan makanannya. Makan adalah sesuatu yang sulit Diana lakukan. Saking sulitnya membujuk Diana untuk makan, orang tuanya sampai angkat tangan dan hanya mengantar makanan ke kamar Diana dengan harapan Diana memakannya.
Namun yang Diana makan hanya sampai dua sampai tiga suapan, tidak pernah habis. Untuk obat, orang tua Diana tidak pernah menyerah memaksa Diana agar meminum obat secara teratur. Dengan iming-iming bertemu anaknya maka Diana melakukannya tanpa bantahan, kecuali makan.
Denis berdiri di depan kamar Diana yang terbuka. Dia melihat Diana meringkuk di atas tempat tidur sembari memegangi perutnya dan meringis. Dengan langkah lebar dia mendekati Diana dan membawa perempuan itu untuk duduk hingga berhadapan dengannya.
"Denis, anak aku mana?"
"Kamu sudah makan?" Denis melirik makanan di nakas yang masih utuh. Melihat jam, ini sudah beranjak sore dan makanan itu sudah dari pagi namun belum tersentuh sama sekali.
Denis bingung, di sini orang tua Diana yang memang kurang memedulikan putri mereka atau memang sesulit ini membuat Diana mau makan?
"Aku gak makan. Gak mau."
Denis menghela nafas panjang melihat raut ketakutan Diana bahkan perempuan itu histeris hanya karena disuruh makan. Hanya menyuruh Diana makan dan perempuan itu ketakutan hingga histeris? Apa yang salah dengan makan?
"Kamu tidak mau bertemu anak kita?"
"Mau! Aku mau anak aku."
"Kenapa tidak makan? Syarat agar kamu bisa bertemu anak kita adalah sembuh. Kamu harus cepat sembuh, bagaimana mau sembuh kalau kamu tidak makan," perlahan Denis meraih piring berisi nasi itu dan menyuapkannya pada Diana.
Tidak seperti kemarin Diana yang langsung menerima suapannya. Kali ini perempuan itu menatap makanannya ragu dan kemudian menggeleng dengan kedua tangan menutup mulutnya. Yang membuatnya terkejut adalah, Diana menangis dan berteriak, "Jangan ... aku tidak mau memakannya ... aku tidak mau ... aku tidak akan memakannya ini menjijikkan!"
"Diana, hei! Tenangkan diri kamu, Diana!" Denis menahan pergerakan Diana setelah menyimpan kembali makanannya. Dia menggenggam kedua tangan Diana dan menatap mata perempuan itu yang menggambarkan ketakutan, bahkan tubuhnya bergetar membuat rahangnya mengeras. Seperti dugaannya, Diana tidak hanya depresi. Tidak ada orang depresi akan sesulit ini untuk makan bahkan dipaksa pun, tidak mempan.
"Aku ... Denis, aku ... aku tidak mau memakannya. Menjijikkan, aku tidak mau. Aku ... aku ... huekk ...."
Denis terpaku untuk sesaat ketika Diana memuntahkan isi perutnya dan mengenai kemejanya. Marah? Tidak, dia tidak marah. Dia hanya ... terkejut.
Melihat Diana kembali menangis sontak membuatnya menangkup wajah Diana yang berantakan. Ibu jarinya mengusap air mata Diana.
"Diana, lihat aku! Makanan itu tidak menjijikkan. Kamu harus makan agar cepat sembuh dan kamu akan cepat bertemu Chika. Apa kamu tidak mau bertemu dengannya?"
Dalam tangisnya, Diana mengangguk dan meracau, "Aku mau. Aku mau anakku, Denis."
Denis tersenyum pedih. Nyatanya, dia tidak tahan melihat Diana seperti ini dan dia harus mencari tahu lebih detail lagi apa yang terjadi pada Diana. Dia tahu dia sudah bertindak jauh ke dalam kehidupan Diana, namun dia tidak tenang melihat Diana yang tidak berdaya.
"Makan, Diana. Kamu harus makan dan minum obat agar cepat sembuh," tekan Denis yang mendapat gelengan pelan dari Diana.
"Baju ... baju kamu kotor."
Denis menunduk, menatap ke arah kemejanya yang terkena muntahan Diana. Baunya sangat tidak enak namun dia masih menahannya tapi tidak dengan Diana yang kembali mengotori kemejanya membuatnya melepas kemeja hingga menyisakan kaos putih lengan pendek yang mencetak otot lengannya. Kemeja yang kotor dia gunakan membersihkan tangan Diana yang terkena muntahan sebelum akhirnya dia membawa Diana ke gendongannya. Dia melangkah menuju kamar mandi yang berada di luar kamar, dekat dapur untuk membersihkan sisa muntahan Diana.
Ketika Diana mengalungkan kedua tangannya di lehernya, tubuhnya seketika menegang diiringi desiran yang membuat jantungnya berdetak tak karuan. Apa ini? Tidak mungkin rasa itu masih ada setelah lima bulan mereka berpisah dan tanpa kabar. Namun kembali dalam keadaan yang mencengangkan ini.
"Denis, kotor."
Denis tidak mendengarkan perkataan Diana ketika dia membasuh tangan Diana dengan sabun yang terdapat sisa muntah mulai mengering. Kemudian dia membasuh wajah lesu Diana yang seketika membuatnya tertegun melihat wajah pucat Diana yang masih memancarkan kecantikannya meski terlihat tirus. Tatapan mata Diana yang tidak seperti biasa dia lihat mampu membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Dia tidak munafik, tatapan Diana membuatnya kian bergemuruh dan terpaku untuk sesaat sebelum akhirnya ringisan Diana menyadarkannya.
"Denis, sakit. Perut aku sakit."
Denis panik kala Diana meremas perutnya dan menjatuhkan kepala di bahunya. Lebih panik lagi ketika tubuh Diana kian melemas dan wajahnya pucat pasi. Takut bercampur panik, dia menggendong Diana membawanya memasuki mobil. Namun saat mendekati mobil langkahnya terhenti karena panggilan orang tua Diana yang berlari tergopoh-gopoh mendekatinya dengan Diana dalam gendongan.
"Kamu mau bawa Diana ke mana?" Denis tidak salah tafsir, ada kemarahan dibalik intonasi Papa Diana juga tatapan yang biasa menatapnya teduh itu kini berubah tajam. Juga tatapan Mama Diana yang penuh ketakutan dengan mata memerah menahan tangis.
"Saya hanya membawa Diana ke rumah sakit. Apa kalian tidak melihat dia kesakitan? Saya tidak akan macam-macam, Saya hanya membawanya ke rumah sakit. Kalian tetap di sini, nanti Saya kabari," Denis bergegas membuka pintu mobil dan mendudukkan Diana di kursi penumpang, tak lupa memasangkannya sabuk pengaman. Setelahnya dia memutari mobil menduduki kemudi dan kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Mendengar ringisan Diana membuatnya kehilangan akal dan membawa kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Hingga tidak lama kemudian mobilnya tiba di rumah sakit. Dia menggendong Diana dan meneriaki suster seperti orang kesetanan.
Diletakkannya tubuh Diana di brankar ketika suster datang dengan membawa brankar. Langkah lebarnya mengimbangi laju brankar yang membawa Diana memasuki Unit Gawat Darurat. Denis meremas rambutnya ketika suster melarangnya turut masuk. Ditendangnya kursi tunggu di hadapannya dan mengusap kasar wajahnya.
Dia panik, mengkhawatirkan Diana hingga tubuhnya bergetar menahan emosi yang kapan saja siap meledak. Dia tahu seharusnya dia tidak bersikap seberlebihan ini. Hanya saja melihat wajah pucat dan mendengar ringisan Diana meruntuhkan dunianya. Mengundang ketakutannya akan artinya ditinggalkan. Dia tidak suka ditinggalkan dan dia tidak telat menyadari jika rasa yang dia buang jauh-jauh ternyata masih bersemayam tanpa berkurang sedikit pun. Dia masih mencintai Diana dan nyaris gila melihat kondisi perempuan itu.
Diana. Perempuan itu berhasil membuatnya kacau hanya karena kondisinya.
...
Beberapa saat lalu Diana sudah dipindah ke ruang rawat. Diana masih dalam pengaruh obat bius dan sebentar lagi akan siuman. Tatapannya sulit diartikan melihat wajah pucat Diana. Rahangnya mengeras dengan mata memerah menahan emosi. Tangannya menggenggam erat tangan Diana yang kemudian dia dekatkan dengan pipinya.
Mendengar pernyataan dokter, emosinya yang mereda kembali berkobar. Dugaannya benar, Diana berubah terlalu jauh.
"Diana, kesulitan apa saja yang kamu lalui selama ini?" gumamnya dengan suara serak menahan tangis. Satu tangannya mengusap rambut Diana yang terlihat tidak terawat.
"Kenapa kamu bisa seperti ini? Andai kamu tidak menghilang sejak perceraian itu, kamu tidak mungkin berada di situasi seperti ini. Bahkan aku siap membantu meski kita sudah bercerai karena kamu yang telah berjuang melahirkan putriku. Nyatanya, kamu menghilang dan aku menemukanmu dalam keadaan sehancur ini."
Denis seperti orang kehilangan akal karena mengacak bicara orang yang tidak sadarkan diri. Diana masih setia memejamkan mata dan Denis tanpa henti mengecup punggung tangan Diana hingga dia merasa ada yang aneh dengan jemari Diana. Menunduk, seketika dia tertegun melihat cincin yang melingkari jari manis Diana.
Dia masih ingat jika cincin ini merupakan cincin pernikahan mereka dan Diana memakainya?
Ditatapnya wajah pucat Diana dengan pikiran berkecamuk. Apa maksud dari semua ini? Kenapa Diana masih memakai cincin pernikahan mereka setelah mereka berpisah lima bulan lamanya?
Dia ingat betul saat mereka menjadi suami istri, Diana bahkan tidak sudi memakai cincin pernikahan mereka. Selesai resepsi, dia ingat Diana melepaskan cincinnya dan menyimpannya di lemari yang kemudian sudah hilang karena Diana sempat mengganti lemari di kamarnya.
Dan sekarang ... menggeram, Denis menenggelamkan wajahnya di perut Diana sembari menggenggam erat tangan Diana. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua yang dia lihat membuatnya kacau dan terus memikirkan Diana?
Apa yang dia tidak ketahui tentang Diana selain kenyataan jika Diana tidak mencintainya?