Khayalan Tingkat Tinggi

1065 Words
khayalan tingkat tinggi Malam itu suasana sudah mulai sepi. Muya dan Ken mulai memasuki Kediamannya. Mereka memiliki mansion sendiri yang Ken beli dari hasil jerih payahnya sebagai seorang dokter bedah. Mansion yang sangat megah tentunya. Dengan harga yang fantastik. Dan Muya tidak menyangka Ken akan menghadiahkan mansion itu untuknya. Segurat senyum di bibir Muya terpancar menambah kecantikan di wajahnya. Dia sungguh menyukai mansion itu. Di mana nanti dia dan anak anaknya akan berlarian meramaikan seisi ruangan. “Bagaimana Sayang apa kamu suka?” “Apa ini rumah kita sayang?” tanya Muya dengan senyuman bahagianya. Ken mengangguk lalu memeluk Muya dari belakang. mengecup leher belakang Muya seraya berkata, “Ini rumah kita, kita akan tinggal di sini dan membesarkan anak anak kita, Sayang." Muya tersenyum dengan sipuan manjanya. Lalu mereka bergegas untuk membereskan barang-barang mereka. Walau memang mereka terlihat lelah namun Muya sangat senang membereskan beberapa baju yang dia beli di jepang. Apalagi jaket bayi yang sangat lucu itu. Membuat Muya tak henti tersenyum. Muya sangat ingin jaket bayinya itu di pakaikan pada bayi kesayangannya kelak. Karena Muya seorang anak tunggal dan kesepian maka Muya menginginkan beberapa orang anak yang dia lahiran. Bukan cuma satu tapi beberapa. Muya sangat berangan angan memeluk buah hatinya. Memandikan ya dan menggendong erat buah hatinya itu. Muya terus tersenyum menatap jaket bayi itu. “Kenapa senyum sendiri?” tanya Ken sambil menyodorkan segelas s**u cokelat untuk sang istri. “Terima kasih,” ucap Muya mengambil gelas s**u cokelat itu lalu meneguknya dengan perlahan. “Kak, aku ingin punya banyak anak sayang,” kata Muya sambil meniupi gelas yang berisi s**u cokelat tersebut. Ken meneguk teh miliknya dan lalu menyimpan cangkir teh itu di atas nakas. Ken mengambil jaket bayi mungil itu dan melihatnya dengan senyum bahagia. “Tentu saja kita akan memiliki beberapa bayi lucu Sayang,” ucap Ken. “Aku ingin sepasang bayi untuk sementara ini, jika bayi itu lahir laki-laki aku akan memberi dia nama Valeizya dan jika terlahir seorang anak perempuan maka aku akan memberinya nama Valeizya, bagaimana bagus bukan Sayang?” “Sangat bagus Sayang, Ley iya Ley, kita akan mendapatkan penerus kita seorang bayi laki-laki bernama Ley,” ucap Ken dengan senyuman yang merekah. “Tapi Kak, aku kan anak perempuan, jadi di keluarga Liau tidak ada penerus Papi, bagaimana kalo kalo anak laki-laki pertama kita ikut margaku, Valeizya Liau." "Valeizya Liau, ah itu tidak masalah Sayang, lakukanlah sesuka hatimu.” “Iya Kak, nanti Ley akan menjadi pewaris perusahaan Liau. Dan para memegang saham akan menurut karena sudah ada pewaris seorang cucu laki- laki." “Iya benar, lakukan saja Sayang, lalu kita akan mendapatkan banyak anak, ayo kita membuatnya sekarang,” ucap ken dengan senyuman nakalnya. “Ih Kakak, kita kan baru saja sampai, belum mandi dan masih lelah," sanggah Muya manja. "Ya ampun Sayang kamu menolakku,” ucap Ken terlihat kecewa. “Hmm ... kenapa wajahnya ditekuk seperti itu Kakak Sayang? Sini sini aku peluk,” ucap Muya manja sambil memeluk sang suami dengan sangat erat. Namun Ken masih saja terdiam tanpa ekspresi. Muya menatap Ken dengan manja tatapan mata Muya sebening embun menatap sorot mata Ken yang seperti mata elang. Cup. Muya mengecup kening sang suami dengan lembut. Cup. Muya mengecup pipi kanan Ken dengan gemas. Cup. Muya mengecup pipi kiri Ken dengan gemas dan langsung mengecup bibir Ken dan mereka pun saling mengisi rongga napas masing-masing. Mereka saling bertatapan. Sepertinya debaran jantung Muya dan Ken saling bertaut. Mereka masih saling menatap dan Ken lalu menggendong Muya menuju ke tempat tidur. Dan akhirnya mereka pun memadu kasih. Tak peduli badan yang masih penuh dengan keringat. Tak peduli seberapa lelahnya mereka di perjalanan. Saat ini mereka hanya ingin Merasakan indahnya pacaran setelah menikah. *** Remang cahaya mentari menerobos celah jendela kamar. Terlihat Muya dan Ken masih terlelap dengan tubuh berbalut selimut tebal. Alarm ponsel pun berdering namun sepertinya mereka sangat nyenyak karena kelelahan sepulang dari Jepang dan pergelutanya semalam. "Emh,” lenguh Muya dan mencoba untuk membuka matanya dengan perlahan. Saat matanya mulai terbuka. Muya melihat wajah Ken yang begitu tampan. Wajah suami kesayanganya yang sangat dia cintai. Muya menyentuh alis suaminya dengan perlahan Menyentuh kening dan pipi Ken. Dan menyentuh bibir Ken dengan sangat lembut. Alangkah terkejutnya Muya saat Ken tiba-tiba saja membuka matanya. “OMG, Kakak kamu mengagetkanku!” Muya terkejut. Wajah polos dan bening itu memperlihatkan wajah terkejut yang membuat Ken merasa ingin sekali tertawa. Ken langsung tersenyum dan tertawa melihat begitu lucunya ekspresi sang istri. “Kakak menertawakanku,” ucap Muya dengan mulut yang manyun. “Iya,” ucap Ken masih dengan tawa tampannya. “Kakak tega menertawakan istri sendiri,” kata Muya mulai merajuk. “Iya karena kamu sangat lucu Sayang." "Lucunya sebelah mana sih Kak. Kakak membuat aku malu saja,” ucap Muya masih dengan mulut manyun dan ekspresi manjanya. “Kamu memang lucu sayang, kakak semakin gemas sama kamu,ingin memakanmu lagi,” ucap Ken sambil mencubit hidung Muya sampai memerah. “Kakak pikir aku makanan apa?” “Tentu saja, kamu itu makanan yang sangat lezat, tingkah lucu mu membuatku tak ingin beranjak dari tempat tidur,” ucap Ken masih dengan tawa manisnya. Membuat Muya pun yang tadinya manyun menjadi merekah tersenyum dengan manis. Siapa yang tidak tersenyum melihat senyuman seorang pria yang sangat tampan dan manis. Semua wanita pastilah akan terpikat dengan mudah. Begitupun dengan Muya. “Setelah puas meraba-raba wajahku sekarang mau apa lagi?” tanya Ken. “Aku ingin mengigit Kakak,” ucap Muya dengan senyum serigalanya. “Oh tidak kamu berubah menjadi vampir dalam semalam Sayang, sehingga sangat ingin mengigitku?” tanya Ken memperlihatkan ekspresi terkejutnya. Tentu saja ekspresi yang dibuat buat untuk mengejek sang istri tercinta. “Apa? Kakak bilang aku apa, vampir?” tanya Muya merasa sebal lalu menatap sang suami tidak senang. "Yang suka mengigit bukanya memang vampir ya?” tanya Ken terkekeh. masih dalam mode mengejek sang istri tercinta. "Lihat saja aku akan mengigitmu beneran Kak.” Muya lalu menyerang ken dan langsung mengigit leher Ken. “Aaahhhh!!” teriak Ken merasa kesakitan. Benar saja, ternyata Muya benar-benar mengigit Ken sangat kencang sampai berwarna biru. “Ampuunn Nona Vampir, aku mengaku kalah aku minta maaf,” ucap Ken berteriak. “Apa? Nona vampir? Ini aku gigit lagi.” Muya hendak mengigit Ken kembali di daerah lengan namun Ken langsung memeluk Muya dan mengecup bibir Muya sehingga Muya pun tidak bisa lagi berontak. "Jangan mengigit lagi ya Sayang, ini sakit!” Ken mengecup kening Muya dengan lembut. Dan Muya pun tersenyum dengan manis. Beberapa saat kemudian mereka bergegas untuk bangun dan berendam di bathtub. Mereka mandi bersama dan bermain air. Mereka sungguh bahagia. Dan bisa membuat iri orang yang melihat. Tak henti Ken selalu membuat Muya tersenyum dan juga sebaliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD