5. Jebakan

1219 Words
Turun ke dance floor Keyshia tidak bisa menemukan sosok Fani. Bahkan pesan dan panggilan teleponnya diabaikan yang membuat Keyshia mau tidak mau berkeliling bersama Ruben untuk mencari keberadaan Fani. Tapi, entah kenapa Keyshia merasa semakin lama dia semakin kelelahan hanya sekadar berjalan. “Kamu seperti anak bebek yang kehilangan induknya.” Ruben melirik Keyshia. “Apa seperti itu?” Keyshia menahan gelinya. “Ya.” Mereka berdua kemudian berhenti di depan lift. Keyshia yang sadar menoleh menatap Ruben. “Kenapa kita tiba-tiba di depan lift?” tanyanya masih dengan senyum gelinya. “Karena Fani tidak terlihat di bawah, biasanya dia pergi ke atas.” “Memangnya ada apa di atas?” “Hanya ruangan yang lebih private.” Mendengar itu, Keyshia mengangguk mengerti. “Ayo masuk.” Ruben menyodorkan tangannya, Keyshia pun menerima uluran tangan itu lalu masuk ke dalam lift. “Haah….” Keyshia menghela napas berat. Dia kemudian memilih untuk bersandar agar bisa menormalkan napasnya yang berat. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Ruben. “Se-sepertinya tidak,” aku Keyshia. Pintu lift kemudian terbuka. “Aku harus mengajaknya pulang,” gumam Keyshia sambil berjalan keluar. Sebuah remasan di pundaknya membuat Keyshia menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke sampingnya dengan kening yang berkerut. “Kenapa?” tanyanya meminta penjelasan atas aksi Ruben yang malah merangkulnya. “Kamu terlihat kesakitan, jadi aku berniat untuk memapahmu.” “Tidak…” Keyshia melepaskan tangan Ruben dari bahunya. “Keadaanku tidak seburuk yang kamu kira.” Ruben mengangkat tangannya. “Oh, baiklah.” “Lalu di mana Fani?” tanya Keyshia karena di lantai ini ada banyak pintu, belum lagi jika mereka berjalan ke lorong yang lainnya. “Ikuti aku.” Keyshia mencoba fokus untuk melihat sekelilingnya hingga Ruben berhenti di depan sebuah ruangan. “Mungkin saja Fani ada di sini.” Ruben menoleh ke Keyshia. “Ada beberapa ruangan yang sering Fani datangi,” tambahnya. Keyshia mengangguk mengerti. Ruben pun berbicara dengan seorang pengawal yang ada di depan pintu. Pintu itu pun di buka dan di dalam sana terlihat empat orang yang tengah asik bermain kartu. “Oh Ruben, kamu datang juga. Tapi, siapa perempuan di sampingmu?” tanya salah seorang pria di sana. “Dia teman Fani dan tengah mencari perempuan itu. Tapi tampaknya dia tidak di sini.” Ruben mundur selangkah hingga posisinya sejajar dengan Keyshia. “Kalau begitu aku mengantarnya dulu.” “Oh ya, pria itu sekarang ada di sini.” “Tapi sepertinya aku akan melewatkan kesempatan itu,” balas Ruben sambil memberikan lirikan kecil ke arah Keyshia. “Ah kamu benar.” Keyshia yang ada di antara pembicaraan itu hanya bisa diam, karena dia memang tidak memiliki urusan dengan itu semua. Aroma rokok dan alkohol yang terlalu kuat di ruangan yang tidak besar ini membuat nafasnya semakin sesak dan pusing. “Kalau begitu aku pergi dulu.” Mereka akhirnya keluar dari ruangan itu. Baru saja keluar, tubuh Keyshia hampir saja jatuh jika Ruben tidak dengan cepat menahan bahunya. “Kali ini biar aku papah,” kata Ruben keras. “Maaf merepotkan,” balas Keyshia lemas. Semakin lama Keyshia merasa tubuhnya semakin lemas tidak karuan. “Kita hampir sampai, Fani sudah pasti ada di sana.” Keyshia hanya diam dan mengangguk. Dia benar-benar berharap segera bertemu Fani agar bisa pulang. Mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu. Kali ini tidak ada seorang pengawal yang berjaga di depan pintu. Karena kepalanya yang pusing, Keyshia tidak menaruh curiga dengan Ruben yang menempelkan kartu pada pintu. Tapi begitu pintu terbuka dan Ruben menuntunnya untuk masuk, Keyshia seketika memberontak hingga dia jatuh keluar. “Apa yang kamu lakukan?!” serunya dengan sisa tenaga. Nada bicaranya bahkan sudah terdengar bergetar. Di dalam kosong, jadi untuk apa Ruben membawanya masuk ke dalam? Terlebih di dalam terdapat tempat tidur, bukan meja judi! Keyshia yang sudah kehilangan tenaganya hanya bisa tergeletak di lantai sambil memandangi Ruben waspada. “Aku hanya ingin kamu beristirahat.” Ruben berjongkok di depan Keyshia. Keyshia mencoba untuk menjauh, tapi tubuhnya hanya bisa mundur beberapa senti saja. “To-tolong!” Di saat seperti ini Keyshia baru menyadari keanehan pada kondisi tubuhnya. Sebelum dia bertemu Ruben, tubuhnya baik-baik saja. Bagaimana bisa sekarang dia menjadi seperti ini? “To-tolong aku!” kembali Keyshia berseru dengan suara teriakannya yang tidak begitu kencang. “Kenapa kamu minta tolong?” bisik Ruben. Ruben membawa Keyshia ke dalam gendongannya. Keyshia mencoba untuk memberontak, tapi tenaganya tentu tidak akan membuat Ruben melepaskannya. Ketakutan pada Ruben membuat air mata Keyshia lolos. “Ja-jangan se-sentuh….” katanya mencoba untuk meninggikan suara agar ada orang lain yang mendengarnya. Tapi, suara Keyshia yang keluar hanya seperti suara lirih. “Bagaimana aku bisa tidak menyentuhmu jika kamu saja tidak bisa berdiri, Keyshia.” Cengkraman Ruben pada bahu Keyshia menguat. Ruben kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Tanpa berbalik dan menggunakan kakinya, Ruben menutup pintu. Sesuatu yang terasa mengganjal pintu yang dia tutup membuat Ruben berbalik untuk melihat, benda apa yang menghalanginya menutup pintu. Mata Ruben membulat saat dia melihat sesuatu yang mengganjal pintu itu. Itu adalah sosok yang sangat ingin dia temui. “A-apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Ruben gugup. Dia kemudian memasang senyum canggungnya. “Apa yang kamu lakukan padanya?” “Kekasih saya terlalu mabuk.” “Kekasih?” Ruben mengangguk membenarkan. Keyshia yang ada di gendongan Ruben membuka matanya. Tapi yang dia lihat hanya langit-langit yang membuatnya kembali menangis. “Berikan.” Suara itu terdengar rendah dan penuh ancaman. Ruben bahkan sampai meneguk ludahnya karena takut. “Apa yang ingin kamu lakukan pada kekasihku?! Jangan pikir kamu bisa seenaknya hanya karena kamu seorang O’Neil!” “Aku kenal gadis itu.” Ruben mundur saat Ashton mendekat ke arahnya. “Aku bahkan juga sangat mengenalmu,” sambung Ashton. “A-apa maksudmu?” Ruben terlihat benar-benar panik. “Apa perlu kusebarkan jika kamu juga menggunakan obat untuk membuat gadis-gadis tidur denganmu?” Ruben menyodorkan Keyshia. “Ba-bawa! Ba-bawa dia pe-pergi!” Sekarang tahap kejijikan Ashton pada sosok Ruben sudah diambang batas maksimal. Setiap dia bertemu Ruben di sini, pria sampah di depannya ini selalu mengajaknya untuk taruhan dan itu membuatnya muak. “Jangan sampai aku melihatmu lagi,” pesan Ashton lalu mengambil tubuh Keyshia. Sambil membawa Keyshia di dalam gendongannya, Ashton keluar dari club malam itu. Dia membawa Keyshia masuk ke dalam mobilnya lalu menaruh Keyshia di kursi sampingnya. “Aku tidak habis pikir.” Ashton mengusap wajahnya lalu menopang kepalanya memandangi Keyshia yang tidak sadarkan diri. “Ternyata dia tidak sepintar yang terlihat,” gumamnya saat mengingat sesi wawancara yang pernah mereka berdua lakukan. “Hah, lalu sekarang aku harus membawanya ke mana?” Pandangan Ashton tertuju pada tas Keyshia. Dia mengambil tas itu lalu membukanya. Ponsel yang ada di sana menjadi incaran Ashton. Dia pun mencoba untuk membukanya, sayangnya ponsel tersebut terkunci. Ashton mencoba untuk membuka kunci ponsel itu dengan sidik jari Keyshia. Sayangnya Keyshia ternyata tidak menggunakan kunci sidik jari. Ashton menghela napas lelah. Niat menolongnya ternyata membuat dirinya kesulitan. “Aku tidak punya pilihan lain.” Pada akhirnya Ashton membawa Keyshia ke rumahnya. Dia tidak punya pilihan lain selain membawanya ke sana untuk menghindari gosip yang membuatnya lelah. Selama perjalanan itu, Keyshia benar-benar seperti orang yang mati karena tidak bergerak sedikit pun. “Merepotkan,” gumam Ashton. Sekarang dia harus membuat Ruben tidak pernah terlihat lagi di club yang dia sering datangi itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD