Liam terdiam seperti patung, matanya terpaku pada ruang kosong, seolah ucapan Samuel tadi adalah belati yang menikam tanpa ampun. Udara di ruangan itu terasa beku, membuat napas Liam seolah-olah terperangkap dalam dadanya. Mulutnya terkunci rapat, seperti dijahit dengan benang tak kasat mata, tak ada satu kata pun yang berhasil meloloskan diri. “Apa jadinya jika Nala tahu kalau kau memiliki anak dari wanita lain?” kata Samuel dengan nada tajam, suaranya seperti pisau yang mengiris setiap helai kepercayaan diri Liam. Kalimat itu bagai badai dahsyat yang meruntuhkan tembok pertahanan Liam, membuatnya mati berdiri. “Samuel, jangan lakukan itu. Aku akan melakukan apa saja untukmu, asal kau merahasiakan ini.” Suara Liam terdengar serak, hampir seperti bisikan, penuh ketakutan dan kepu

