Sekolah baru teman baru

1648 Words
Ku update lagi Gak tau mau ngomong apa, yuk langsung baca Jangan lupa dukungan LOVE nya ya ******* Raja menghentikkan mobilnya, cewek yang bersamanya tadi langsung turun mendahuluinya menuju jejeran pot bunga yang tertata rapih dan bunga yang merekah sempurna di atasnya. "Uh cantiknya" Raja berdesis sembari mengeluarkan koper dari bagasi. "Jangan sentuh ataupun rusak bunga-bunga itu!" Seru Raja "udah di ditungguin di dalam malah ke pot bunga" "Apa sih lo sirik aja liat orang seneng" sahut cewek itu mengikuti Raja dari belakang masuk kedalam rumah. Kedatangannya di sambut baik oleh tante Diva terlihat bagaimana wajah ceria itu melihat anak gadis sahabatnya tengah tersenyum kearah nya. "Tasya astaga tante udah nungguin kamu datang dari kemarin loh" tante Diva memeluk erat tubuh Tasya. "Oh iya sayang ini Raja anak tante kalian sudah kenalan belum?" Baik Raja maupun Tasya sama-sama memalingkan wajah menyilangkan tangan di depan perut. "Loh baru ketemu kok udah musuhan? Kenalan baik-baik dong, aja' kenalin ini Tasya" Tasya mengulurkan tangan nya. "Sorry buat yang tadi" ucap Tasya. Raja melirik uluran tangan Tasya kemudian kemudian memutar bola matanya malas. "Raja" jawab Raja tanpa membalas uluran tangan Tasya lalu berbalik menuju kamarnya di lantai dua. Tante Diva mengusap lengan Tasya. "Jangan di ambil hati sikapnya Raja barusan, Raja orang nya memang begitu" kata tante Diva lalu membisikkan. "Raja gak bisa di sentuh cewek manapun karna dari kecil Raja punya alergi yang aneh dan satu-satunya perempuan yang bisa Raja dekati ya cuman tante" setelah membisikkan itu tante Diva tertawa kecil. "Oh jadi alasannya itu.. kenapa dia tadi..." Tante Diva tersenyum maklum. "Tante harap kamu betah tinggal di disini semoga Raja bisa menerima ke datangan kamu dan bisa sembuh dari alergi anehnya itu" "Iya tante terima kasih" Tasya tersenyum miring melihat ke lantai atas terakhir raja terlihat dan sepertinya mulai sekarang pekerjaannya bertambah untuk menyembuhkan alergi si pria sok kegantengannya itu. "Kita lihat saja nanti" batin Tasya. ***** Ini hari senin, hari dimana Tasya akan menginjakkan kaki di bangku sma untuk pertama kalinya di tahun ini. Seragam sudah terpasang rapih di tubuhnya tanpa embel-embel hiasan masa orientasi siswa yang sekarang sudah di hapuskan. Semua proses pendaftaran sudah selesai di urus melalu jalur online sekarang tinggal melihat dirinya akan menempati ruangan apa. "Tasya sarapan dulu sini sayang nanti berangkatnya bareng aja' kan kalian satu sekolah" Tasya menarik salah satu kursi meja makan "Oh ya tante Raja kok gak ikut sarapan?" "Bentar biar tante panggilan" "Tasya aja tante" "Gak usah repot-repot manggil, gue langsung berangkat soalnya takut telat" sahut Raja sembari menuruni tangga sedangkan tangannya sibuk memakai dasi. "Aja' duduk sarapan! Ini masih jam enam" panggil tante Diva. "Gak papa tante pasti Raja gak nyaman dengan kedatangan Tasya biar Tasya aja yang mengalah" Tasya berdiri membawa tasnya. "Duduk" seru Raja ia menghela nafasnya lalu ikut bergabung di meja makan. Tasya duduk kembali  mendengar seruan Raja. "Aja' nanti kamu berangkat bareng Tasya jangan bawa motor pakai mobil aja sekalian kamu jagain Tasya" Raja terbatuk tersedak roti yang di makannya dan segera meneguk air di depannya. "Loh mah kok malah suruh jagain dia, kan Raja bukan bodyguard?" "Udah gak boleh protes, Tasya itu masih baru dia belum punya teman di sekolah barunya jadi habis sarapan kamu harus berangkat bareng" ucap tante Diva telak. Raja melirik Tasya dengan malas sembari menggigit rotinya kasar. Dalam hati Tasya bersorak ria dirinya ingin mencoba mengenal Raja agar ia mampu menghilangkan alergi anehnya itu. "Di sekolah gue harap lo bisa di ajak kerja sama, anggap gue gak kenal elo dan gue akan melakukan hal yang sama" ucap Raja masih dengan menatap jalanan saat mengendarai mobilnya. Mobil itu berhenti beberapa meter dari gerbang sekolah. "Gue akan turunin lo di sini sisanya  urus sendiri biar gak ada orang tau kalau gue kenal sama lo" Tasya melepas sabuk pengamannya "Itu tidak masalah tapi ingat gue gak janji sama apa yang lo bilang sebelumnya" tasya menjulurkan lidahnya mengejek Raja sebelum keluar dari mobil. Raja berdecih melajukan kembali mobilnya. Tasya berlari menuju mading pengumuman melihat di kelas mana yang akan ia tempati. Dari deretan panjang akhirnya Tasya melihat namanya "kelas 1 IPS A" ucapnya. Cewek ini langsung mencoba keluar dari kerumunan orang yang memilik tujuan mencari kelasnya masing-masing. Tasya menggumamkan nama kelasnya sesekali bertanya pada orang yang di lewatinya di mana kelas 1 IPS A berada hingga akhirnya kelasnya itu ketemu juga. "Sepertinya kita sekelas" Tasya menoleh ke arah sumber suara. Seorang cewek seusinya mengulurkan tangan "Gue Afika" katanya. "Tasya" Tasya membalas jabatan tangan Afika. Ia harap Afika bisa menjadi teman baiknya untuk tiga tahun ke depan. "Semoga kita bisa jadi teman kelas yang baik ya" Tasya mengangguk "Gue harap juga gitu" balas Tasya. Hari pertama ini semua siswa di bebaskan untuk saling mengenal tanpa ada mata pelajaran yang masuk hari ini kecuali pemilihan ketua kelas yang selesai di lakukan beberapa saat lalu. "Ke kantin yuk sya" ajak Afika. "Boleh, yuk" Tasya berdiri dari kursinya sebelum beberapa siswa berdatangan menghalangi jalannya sekejap ruangan jadi ribut. "Teman-teman ayo ke lapangan gue denger kakak kelas tim basket ganteng-ganteng loh" seru cewek berambut ekor kuda itu dengan aksen bahasanya yang terdengar medok. "Tasya yuk ke lapangan lihat kakak kelas siapa tau salah satunya cocok sama kriteria pria idaman gue" "Tapi fik tadikan mau ke kantin?" "Bentar aja kok" Afika segera menarik tangan Tasya ke lapangan yang sudah di penuhi siswi lain yang juga melihat latihan basket keren dari anak kelas sebelas. Dahi Tasya berkerut melihat salah satu pemain basket di lapangan sana. "Loh itukan Raja" desisnya. "Sya lo lihat gak cowok yang pakai headband itu? astaga ganteng banget itu mah idaman gue banget mukanya tuh kaya kebule bulean gitu" ucap Afika girang sendiri. "Fik mending kita balik ke kantin deh keburu perut gue keroncongan" Tasya mendorong bahu Afika menjauhi area lapangan. "Tapi sya gue masih belum puas liat wajah gantengnya gue juga belum tau namanya biarinlah gue nonton permainan basketnya dia bentar aja" protes Afika. "Muka standar gitu masa lo suka sih" ceplos Tasya. Afika me-rem mendadak kakinya berputar untuk menghadap Tasya lalu telapak tangannya di tempelkan di dahi tasya. "Lo gak lagi sakit kan? Masa orang ganteng kaya gitu lo bilang standar atau ada masalah sama penglihatan lo?" Tasya menurunkan tangan Afika. "Gue sehat seratus persen dan mata gue masih sehat seribu persen jadi gue gak bakal salah lah" jawab Tasya masa iya dirinya bakal tertarik sama cowok nyebelin itu sih, kan gak mungkin. ** Raja mengusap keringat di dahinya bersama ke empat temannya yang lain di dalam ruang ganti. "Ja' jadi gimana anak yang lo jemput kemarin dia jadi sekolah di sini gak?" Tanya adam mengusap wajahnya dengan handuk. "Lebih baik kalian gak usah kenal dia di jamin deh kalo kenal kalian bakal nyesel" "Memang nyesel kenapa? Lo kan baru ketemu kemarin tapi kayanya lo gak suka sama tuh anak" sahut Tio meneguk air dari botolnya. "Pokoknya jangan daripada lo nyesel" jawab Raja. "Oh ya tadi pas latihan di lapangan gue gak sengaja liat cewek imut-imut gemesin gimana gitu kayaknya sih anak kelas sepuluh soalnya baru liat" ujar Dika. "Gue penasaran sama anak baru nanti temenin gue liat-liat yuk Dik siapa tau ada yang cocok buat di pacarin" Ucap Adam. Raja berdecak lidah. "Awas aja kalo ujungnya cewek lo malah ngejar-ngejar gue lagi" Adam mengedikkan bahu "Lo kira gue mau cewek gue malah suka sama lo? Gue juga gak mau lah Ja' tapi mau gimana lo kan lebih oke dari gue" "Plis ya Dam gue gak mau kejadian minggu lalu terulang lagi" "Ya sorry Ja' gue gak ada maksud buat lo pingsan kok" "Woy liat apa yang gue dapat gaes!" Seru Dani sembari membawa setumpuk surat cinta. "Ha ha baru balik udah bawa kaya gituan aja lo" Dani meletakkan surat-surat itu ke kursi. "Ini kerjaan Raja nih kalau dia gak ganteng gue gak mungkin jadi tukang surat dadakan gini" Tio tertawa ini bukan sekali dua kali Raja dapat surat sebanyak itu bahkan beberapa waktu lalu dirinya juga jadi korban para pecinta Raja untuk menyampaikan surat dari para cewek. Dan tanggapan Raja cuman "Ngapain lo ambil gak sekalian bakar aja" "Gila lo pikir apa yang terjadi kalau gue bakar nih surat di depan mereka? Gue belum mau babak belur di tangan cewek pms" "Oh ya tadi gue liat ada cewek cakep di kantin" lanjut Dani. "Cewek mana aja kalo elo yang liat pasti lo bakal bilang cantik atau kalau gak gitu gemesin atau cakep atau apapun lah" ujar Adam malas malasan. "Tapi yang ini beda!" "Terserah lah" sahut Adam "Anak-anak baru sekarang lebih banyak ceweknya dua kali lipat dari tahun kemarin" "Emang apa salahnya kalau banyak ceweknya Dik?" Tanya Dani. "Masa lo gak ngerti sama kondisinya Raja? Semakin banyak cewek yang ngedeketin dia semakin banyak kejadian yang tak terduga nantinya dan sebagai teman baik kita harus melindungi teman kita yang satu ini dengan baik atau kalau gak dia bisa pingsan dadakan lagi" Ucap Tio menjelaskan. "Cepetan ganti baju sebentar lagi ada kumpulan anak baru di aula yang mau daftar eskul basket kalian malah leha-leha" Seru Dika yang sudah kembali dengan pakaian seragamnya. Raja menepuk dahinya, ia hampir saja lupa jika peraturan baru yang di buatnya adalah memilih langsung calon peminat eskul basket, itu di lakukan nya semata-mata untuk menghindari serangan cewek yang tiba-tiba namun karna kebanyakan eskul basket diminati para cowok jadi Raja sengaja menyuruh para peminat eskul basket untuk berkumpul di aula dan ia beserta teman yang lain akan menyeleksinya satu-satu di ditemani dua guru olahraga. Suara riuh langsung memenuhi ruang aula, tak seperti apa yang Raja pikirkan sebelumnya ternyata banyak juga cewek yang mendaftar eskul basket dan sepertinya ini akan mempersulit keadaan. "Plis gaes gue gak mau berurusan sama cewek" gumam Raja. Tio menepuk bahu Raja. "Lo tenang aja urusan seleksi lo bagian cowok gue sama Dika ke cewek" "Thanks bro lo paling ngerti gue di saat seperti ini" "Kak" panggil suara cewek di belakang Raja. Reflek Raja mundur karena terkejut. Cewek tadi menyodorkan surat berwarna pink dengan malu-malu. Adam mengambil suratnya "Lo boleh balik" ucapnya. "Tapi suratnya buat kakak yang itu" cewek tadi menunjuk Raja. "Gue bakal kasih tapi lo balik aja soalnya dia lagi sibuk" Cewek itu mengangguk lalu pergi, Raja menghela nafas lega. "Nih surat buat lo" Adam menyodorkan surat tadi. "Gue gak mau lo ambil aja atau buang gitu" ucap Raja sembari menggeleng kuat. "Yaudah kalo gak mau" Adam meremas surat tadi kemudian dilemparkan ke tempat sampah. Cewek tadi melihat apa yang terjadi dengan surat yang sudah susah payah ia buat semalaman terbuang mengenaskan di tempat sampah. Tangannya meremas baju bagian dadanya rasanya terlalu menyakitkan Raja menolak tanpa melihat apa isi di dalamnya. **** To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD