Saka mengusap wajahnya dengan gusar usai sampai di ruangannya. Penjelasan Dokter Soni tadi membuatnya lega. Akhirnya, sang kakak membuang ego dan memilih untuk memikirkan kebahagiaan pasangannya. Entah itu Sela atau pun Sania. Saka tidak tahu, tapi satu sisi hatinya merasa lega karena pada akhirnya ia tidak akan melihat Sania bahagia. Walaupun entah, apakah pikirannya ini benar atau tidak. "Sepertinya, aku harus mengambil keputusan besar. Sama seperti Mas Pram," ucap pria itu kemudian. Saka lantas membuka laptop di mejanya. Dengan gerakan cepat, jemarinya mengetuk keyboard hingga terpampang jelas informasi mengenai study di Harvard university sesuai permintaan Harmoko. Ya, sebaiknya memang begini. Ia tak akan pernah bisa berhasil melupakan Sania jika tetap berada di sini. Setelah pua

