"Pulanglah ke rumah," kata Harmoko. Saka menggeleng lemah. Sepertinya pulang bukan hal yang ia harus lakukan sekarang. Pria itu belum mempunyai bukti yang pas untuk membuat sang kakak ipar bisa jera. Atau, setidaknya ia bisa menghentikan kegiatan Steve yang menyimpang. "Nanti saja, Pa." "Nunggu apa? Lagi pula, papa enggak mau kamu jauh-jauh dari papa," ucap Harmoko. Saka tersenyum. Pengakuan macam apa yang dilempar Harmoko kepadanya? Pria itu terkesan seperti seorang ayah yang sangat renta dan enggan jauh dari anak-anaknya. "Papa kenapa, sih?" tanya Saka kemudian. "Papa mau lihat kamu bahagia juga, Saka. Usia kamu sudah cukup untuk menikah. Kenapa tidak mencari wanita yang sesuai dengan hati kamu," tanya Harmoko. Saka tersenyum kecil. Wanita? Sudah ada. Dan itu adalah mantan k

