Jovan menyunggingkan senyum lalu menatap datar wajah Tsania. “Jangan menyesali perasaan itu. Mencintaiku itu hak kamu. Tapi, memilikiku selamanya, itu tidak akan mungkin terjadi. Kamu pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Aku pastikan itu.”
Dengan tanpa dosa, lelaki itu menepuk lengan Tsania seraya mengulas senyumnya. Tsania lantas mengibaskan tangannya, menepisnya seolah tidak ingin disentuh lagi oleh pria yang telah berhasil melukai hatinya.
Tsania merasakan getir yang menyengat di dadanya, rasa sakit yang seolah tak kunjung reda.
Setiap kali ia mencoba menenangkan diri, kata-kata Jovan kembali menghantam hatinya dengan kekejaman yang tak tertahankan. Namun, ia tahu bahwa tidak ada gunanya meratap lebih lama lagi.
Dengan tatapan tajam dan penuh tekad, Tsania berkata, “Aku akan memenuhi kesepakatan ini, Mas. Tapi ingat, setiap air mata yang jatuh dari mataku adalah tanda kebangkitan dari kepedihan ini. Suatu hari nanti, aku akan bebas dari semua ini, dan kamu akan menyadari betapa berharganya cinta yang tulus itu.”
Jovan hanya tertawa kecil, menganggap enteng ancaman Tsania. “Kita lihat saja nanti, Tsania. Untuk saat ini, fokus saja pada peranmu sebagai istri dan calon ibu dari anakku.”
Dengan hati yang terluka tapi semangat yang tak padam, Tsania bertekad untuk bertahan. Meskipun pernikahan ini hanya sekadar perjanjian di atas kertas, ia akan menjaga martabatnya dan berusaha menjadi kuat di tengah badai yang menerpa hidupnya.
**
Waktu telah menunjuk angka tujuh pagi. Tsania sudah lebih dulu bangun dari tidurnya kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan diri terlebih dahulu.
Air dari shower mengalir, membasahi tubuhnya dari atas kepala sampai kaki. Bayang-bayang akan sentuhan Jovan seketika terlintas begitu saja.
Ia lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba mengusir pikiran itu, lalu mengambil shampoo yang ada di sampingnya. Namun, tangan kekar Jovan lebih dulu mengambil shampoo tersebut hingga membuat Tsania terkejut melihatnya.
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Mas? Pergilah! Biarkan aku mandi dengan tenang. Kamu sendiri yang memintaku untuk terlihat bahagia karena hari ini ada pertemuan dengan keluarga besarmu!” ucap Tsania dengan suara datarnya.
“Aku sedang menginginkanmu, Tsania!” ucap Jovan tegas.
Tsania lantas tersenyum miring. “Jangan harap kamu mendapatkan itu dariku!” ucapnya dengan percaya diri.
“Oh! Rupanya kamu berani menolakku, huh? Aku tidak akan pernah melepasmu!” ucapnya lalu menarik kedua tangan Tsania dan menunggingkan tubuh perempuan itu.
“Lepas! Jangan pernah menyentuhku lagi!” pekik Tsania dengan sekuat tenaga berontak tak ingin Jovan menyentuhnya.
Namun, tenaga seorang wanita tentu saja akan kalah oleh pria. Tsania tak dapat bergerak. Benda asing itu telah masuk sempurna di bawah sana.
“Arrgh! Sakit, Mas! Aku belum terbiasa dengan milikmu itu!” pekik Tsania, merintih kesakitan karena ulah Jovan yang mendorongnya lebih dalam.
“Diam! Dia harus kamu layani. Aku menikahimu bukan untuk dijadikan pajangan saja. Memiliki anak harus dengan cara bersetubuh agar janin cepat tumbuh dan kita segera bercerai.”
“b******k kamu, Mas!” umpat Tsania kemudian.
Sungguh, pedih yang dia rasakan kala hujaman yang semakin liar Jovan lakukan kepadanya. Tidak bisa memberontak sebab lelaki itu mengunci Tsania dengan tubuh kekarnya itu.
Sampai akhirnya puncaknya telah tiba. Tsania kembali dipompa dengan kecepatan yang cukup kencang hingga membuat perempuan itu memekik keras dan menitikan air matanya sebab perih yang dia rasa.
Dengan santainya, lelaki itu mengeluarkan benih-benih ke dalam rahim Tsania. Perempuan itu menjatuhkan dirinya dengan napas yang menderu, hatinya hancur berkeping-keping.
Setelah Jovan selesai, ia berdiri dan menatap Tsania dengan dingin. “Ingat, Tsania. Ini semua demi tujuan kita. Jangan pernah berpikir untuk melawan atau mencoba kabur. Kamu milikku sampai kontrak ini berakhir.”
Tsania hanya bisa menangis dalam diam, merasakan betapa hina dan rendah dirinya diperlakukan seperti itu.
Cinta yang tulus berubah menjadi kepedihan yang tak tertahankan. Ia tahu, ia harus bertahan demi keluarganya, demi janji yang telah terlanjur ia buat.
Namun, setiap detik bersama Jovan terasa seperti siksaan yang tak berujung.
Dengan susah payah, Tsania bangkit dan menyelesaikan mandinya. Ia menatap wajahnya di cermin, melihat mata yang bengkak dan penuh kesedihan.
“Tsania, kamu harus kuat,” bisiknya pada diri sendiri. “Ini akan berakhir. Suatu hari nanti, semua ini akan berakhir.”
Hari itu, Tsania menjalani perannya dengan senyum palsu di wajah, menyambut keluarga besar Jovan seolah tidak ada yang terjadi. Namun di dalam hatinya, ia tahu bahwa luka ini akan selalu ada, mengingatkan dirinya akan cinta yang pernah ada dan kebencian yang kini merajalela.
“Kamu keterlaluan, Mas! Pangkal pahaku masih sakit. Seharusnya kamu bermain dengan hati-hati,” keluh Tsania, menatap Jovan dengan penuh kepedihan.
Jovan hanya menyunggingkan senyum dingin. Ia lalu memutar kran shower dan membasuh tubuhnya yang kekar dengan air yang mengguyur deras.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Tsania bangkit dari duduknya dan menatap Jovan dengan datar. “Hanya sampai aku melahirkan anak untukmu saja kan, pernikahan ini berlangsung?”
Jovan menoleh dan menatap Tsania dengan tatapan tajam. “Kamu nikmat, Tsania. Aku tidak akan melepasmu begitu saja meski dia telah kembali.”
Mata Tsania membola, penuh ketidakpercayaan. "Apa maksudmu bicara seperti itu, Mas?"