Who is She?
Pagi hari disekolah, murid berdatangan dengan wajah segar dan siap menerima pembelajaran untuk hari ini. Namun tampaknya itu semua bukan untuk Moza, gadis itu berjalan memasuki gerbang sekolah dengan wajah lesu dan tertekuk.
Ditangannya, gadis itu tengah membawa sebuah paper bag yang berisikan rompi dari anak laki laki kemarin. Entah siapa namanya, Moza tidak mengingatnya.
Beberapa murid menyapanya dan Moza hanya menoleh sambil mengangguk menanggapi sapaan mereka, tidak satu pun tanda tanda dari sakit mentalnya yang kambuh saat berdiri ditengah kerumunan siswa lain seperti sekarang. Mungkin tubuhnya terlalu lelah untuk merespon rasa takutnya, mimpi buruk yang dialaminya semalam sungguh membuat tubuhnya kelelahan.
Moza bahkan tidak tau bagaimana cara untuk melupakan pria itu dari ingatannya. Sebanyak apapun obat yang diminumnya, tidak memberikan banyak dampak pada kondisinya.
Melirik kearah paper bag yang dibawanya, gadis itu berharap tidak perlu mencari anak tersebut untuk mengembalikan barang miliknya. Mekipun hal itu menjadikan sebuah peluang untuknya belajar terbiasa, namun dia tidak bisa mengendalikan dirinya saat kambuh. Moza takut jika dirinya akan melukai seseorang nantinya.
“Oh, kita bertemu lagi” celetuk seseorang tepat berada dibelakangnya, dengan nada yang menjengkelkan terdengar langsung ditelinga Moza.
Dengan segera Moza berbalik dan mendapati bukan hanya 1 orang yang berdiri dibelakangnya. Menarik nafasnya dia menatap 3 murid laki laki tersebut, dimana 1 diantara mereka adalah anak yang kemarin memberikan rompinya.
Moza terdiam sejenak, bingung dengan situasi yang sekarang dialaminya. Tangannya tidak gemetar, dan tubuhnya baik baik saja. Pada dasarnya dia akan merasakan semua itu jika berhadapan dan berinteraksi dengn lawan jenisnnya, namun tubuhnya tidak merespon apapun sekarang.
“Terima kasih untuk yang kemarin, ini sudah bersih jika mau dipakai” ucap Moza tanpa beban dan memberikan paper bag yang dibawanya kepada Aland.
Sedangkan Aland sendiri terdiam kebingungan dengan gadis yang ada dihadapannya. Begitu juga Royyen yang terkejut dengan gaya bicara Moza yang tidak seperti biasanya, dan Arga hanya diam memandangi gadis itu tanpa membuat ekspresi apapun.
Suasana terasa canggung karena ucapannya tidak mendapatkan sebuah tanggapan, pada akhirnya Moza memilih untuk pamit dan pergi meninggalkan mereka tetap mematung disana.
“Eh, kok bisa” ucap Royyen terheran heran, membuat Aland menoleh.
“Apanya?” tanya Aland semakin kebingungan.
“Itu anak biasanya judes dan galaknya minta ampun, kok bisa tiba tiba kalem gitu” jawab Royyen sambil menatap Aland dengan pandangan tidak percaya.
“Kenal tuh lampir, Roy?” tanya Aland ikut menampilkan raut tidak percaya jika Royyen tau gadis itu lebih dulu darinya.
“Itu anak pernah mukul sampai bonyok sewaktu ngambil uang jajan adik kelas” jelas Royyen dengan wajah masam. Mengingat pukulan menyakitkan yang mendarat tepat dipipinya.
Mendengar hal itu Aland tertawa, dia hanya tidak menyangka kalau akan ada anak lain yang terkena pukul oleh si Moza. Yang berarti Moza memang memiliki sifat seperti itu selama ini.
Puk?
Mereka berdua menoleh, menatap Arga yang menepuk pundak mereka berdua bersamaan. “Duluan ya. Al, Roy” ucap Arga singkat dan pergi begitu saja. Aland dan Royyen menjawabnya dengan anggukan dan kembali melanjutkan pembicaraan mereka tentang gadis itu.
Arga menoleh kebelakang, menatap Aland dan Royyen yang masih asik dengan percakapan mereka. Dan benar benar pergi menjauhi mereka.
Saat sudah cukup jauh dari keberadaan kedua temannya, mimik wajah Arga yang tadinya datar berubah menjadi khawatir dan panik. Sedikit guratan marah juga terlukis diwajahnya atas kelalaiannya sendiri.
Ia selama ini sudah bekerja dengan sangat keras menjauhkan gadis itu dari jangkauan pengelihatan Aland, lalu bagaimana bisa mereka tiba tiba bertemu. Padahal sudah terhitung tidak sampai 1 tahun lagi semua ini akan selesai, kenapa dan bagaimana bisa mereka bertemu secara kebetulan.
Itu bukanlah hal yang bagus, Moza tidak boleh dan tidak bisa dekat dengan orang semacam Aland. Dia takut penderitaan gadis itu akan semakin bertambah, membuatnya semakin buruk. Setelah mengenal Aland selama 2 tahun lebih, dia tau persis tabiat Aland jika bertemu gadis seperti Moza.
Memijat pangkal hidungnya, Arga mengambil ponselnya yang berada didalam saku. Membuka kontak, dia menghubungi seseorang terburu buru. “Perketat pengawasan, dan sekali lagi. Jika kalian bertemu dengan bu Riska tanpa sengaja, katakan saja yang sebenarnya” ucap Arga dan menyudahi telfonnya begitu saja.
Gadis itu berada didalam kondisi yang tidak aman sekarang, Arga takut mental gadis itu akan semakin terusik dengan keberadaan Aland.
.
.
.
Tbc