Bab 28

1577 Words

Kesepuluh rombongan anak-anak itu menyusuri langkah memasuki kawasan wisata kuliner Desa Tembiring. Dimas, selaku ketua kelompok dadakan disana meminta pasukannya berkumpul sejenak sebelum kemudain berpencar untuk mengekspor tempat wisata tersebut masing-masing. Anak-anak perempuan mulai ribut untuk mendiskusikan makanan apa yang akan mereka coba pertama kali. Meskipun belum ada jam sepuluh pagi ternyata tempat ini telah mulai disesaki oleh pengunjung. Wajar saja karena selain menjual makanan-makanan khas jaman dahulu, Tempat ini juga menyuguhkan live music berupa band dari anak-anak muda penduduk asli Desa Tembiring. “Kita akan menukarkan uang kita dengan koin yang dikhususkan untuk membeli makanan disini,” Ujar Dimas mengambil alih perhatian seluruh teman-temannya disana. Jari telunju

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD