Malam semakin larut, suasana pun semakin terasa sunyi. Aktivitas di kompleks perumahan tempat tinggal Ardian pun seakan sudah berhenti total. Tak terlihat satupun orang lewat. Semua orang seakan sudah sibuk dengan mimpi masing-masing.
Tanpa semua orang sadari di lapisan langit keenam terdapat sebuah kerajaan tempat para Dewa-Dewi tinggal. Salah satunya, Gabriel. Dialah salah satu Dewa dari klan Dewa penolong. Dengan wajah yang tampan rupawan dengan badan yang gagah dan proporsional, serta sayap elang yang membentang di kedua sisi punggungnya. Membuat Gabriel seharusnya menjadi incaran para Dewi. Namun, entah kenapa pesonanya tak mampu meluluhkan hati satu Dewi pun.
Tentu saja, ketampanan bagi dunia perdewaan tidak diukur dari fisik yang rupawan, melainkan dari kelakuan yang tidak arogan. Alias berbudi baik. Sedang Gabriel memang tidak arogan, ia pun selalu mengerjakan tugasnya dengan baik dan benar. Hanya saja, ia sering ceroboh dalam mengambil tindakan.
Lihat saja sekarang! Demi memenangkan taruhan dengan temannya Lucas, Dewa dari klan Dewa Pemberi Cahaya. Ia rela melanggar aturan para Dewa untuk tidak memasuki daerah pribadi para Dewi. Apalagi telaga Paesjiwa. Tempat para Dewi berendam untuk mempercantik diri. Tanpa pikir panjang Gabriel menerima tantangan untuk menangkap burung pelangi yang hanya tinggal di sekitar telaga Paesjiwa.
"Bagaimana? Semua manusia lindungan kita sedang tidur sekarang. Dan ini saatnya kita bersenang-senang. Apakah kau sudah siap?" ujar Lucas dengan nada penuh tantangan.
"Siapa takut. Kita akan buktikan siapa yang pantas menyandang gelar Jagoan Angkasa Sejati," balas Gabriel tak mau kalah. Ia yakin jika ia bisa dengan gampang menyusup masuk ke ulayah para Dewi. Sebab, ia pernah melakukannya sebagai latihan. 'Tentu saja karena masuk kesana bukanlah hal mudah. Jadi, kali ini aku tidak akan ceroboh lagi saat menerima tantangan Lucas yang sedikit gila,' ucap Gabriel dalam hati sambil tersenyum licik.
"Gabriel. Jangan gila! Kau bisa diasingkan dari kerajaan langit keenam jika tertangkap basah memasuki kawasan larangan itu," ujar Warren mengingatkan. Warren adalah teman dekat Gabriel dari klan Dewa Pelindung. Dialah satu-satunya Dewa yang mau berteman dekat dengan Gabriel. Karena mereka sering ditugaskan bersama. Jadi, Warren pun akhirnya mengetahui sifat asli Gabriel yang tak seburuk para Dewa lain tau.
"Tenang saja, Warren. Percayalah kalau aku bisa menangkap burung itu dengan mudah," balas Gabriel sambil melirik tajam ke arah Lucas.
"Ya, kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menjadi Jagoan Angkasa Sejati dan menjadi rebutan para Dewi," timpal Lucas lagi.
"Oke. Siapa takut. Kapan kita mulai? Rasanya aku sudah tidak sabar untuk melakukannya," ujar Gabriel sambil merenggangkan otot-otot lehernya.
"Baiklah. Kalau begitu kita mulai sekarang." Plok! Plok! Lucas pun menepuk tangannya ke udara. Dan seketika Duarte datang. Dewa yang satu klan dengan Gabriel itu memang sudah lama menahan kesal pada Gabriel. Walau Gabriel tidak tau secara pasti apa penyebabnya.
"Oke. Biar aku yang akan menjadi pengadilnya. Kalian berdua bersiaplah!" ujarnya yang membuat Gabriel dan Lucas bersiap untuk memulai pertandingan konyol mereka. Di depan benteng pembatas ulayah Dewa dan ulayah Dewi mereka berdua mengepakkan sayap-sayapnya bersiap terbang melewati benteng itu. "Pada hitungan ketiga kalian bisa melesat secepat yang kalian bisa," tambah Duarte memberi instruksi.
"Alah. Kelamaan. Palingan juga aku yang akan menang," ujar Gabriel kemudian mengepakkan sayapnya melesat menembus benteng awan itu.
Benteng tersebut memang sengaja dibuat dari awan yang berlapis-lapis. Berawal dari awan Cirrus yang hanya berupa lapisan awan tipis, Gabriel langsung bisa menembusnya dengan mudah. Lapisan kedua, awan Cumulus. Walau awan ini berbentuk menggumpal dan terasa lebih padat sehingga membatasi jarak pandang Gabriel dengan air hujan yang menetes rintik-rintik, tapi tak membuat Dewa yang sedang dipenuhi ambisi itu, merasakan rintangan yang begitu berarti. Di lapisan ketiga terdapat awan Nimbostratus, yaitu sebuah awan yang menggumpal dengan tebal hingga hanya sedikit cahaya matahari yang berhasil menembus lapisan awan ini. Tubuh Gabriel pun langsung basah kuyup karena awan ini mengandung hujan yang cukup lebat. Dan di lapisan tengah terdapat lapisan awan yang sangat berbahaya dari semua awan yang ada, yaitu awan Cumulonimbus. Awan yang mengandung hujan yang lebat dengan petir yang menyambar-nyambar. Beberapa kali Gabriel pun mengayunkan badannya ke kiri dan kanan untuk menghindari serangan petir yang berusaha menggagalkannya menerobos benteng itu.
Untung saja Gabriel sudah beberapa kali mencoba melewati benteng ini. Dan pada percobaan terakhir ia berhasil menembus lapisan awan tersulit ini. Kemudian Gabriel pun kembali melewati lapisan awan lain mulai Nimbostratus, Cumulus dan Cirrus. Setelah lapisan awan Cumulonimbus itu, memang sengaja dibuat dengan mengulangi lapisan awan dengan intensitas terberat. Agar siapapun yang melewatinya akan kekurangan tenaga dan mati melayang-layang diantara para awan.
Begitupun Gabriel, tenaganya sudah benar-benar terkuras sekarang. Kepakan sayapnya pun kini semakin melemah. Untung saja ia sudah mengetahui strategi untuk mengatasi hal ini. Di antaran lapisan awan Cumulonimbus dan Nimbostratus ia berdiri dengan sayap yang melebar. Matanya pun terpejam dengan kedua tangan yang terlentang. Dan seketika…. Whusss!!! Badannya terhempas oleh angin yang berhembus kencang dari arah awan Cumulonimbus yang menghasilkan hujan lebat dan angin badai itu. Saking kencangnya hembusan nafas itu hingga badan Gabriel pun sampai di penghujung lapisan awan terakhir yaitu awan Cirrus. Di awan itu Gabriel bisa bernafas lega. Sebab, di awan itu menjadi lapisan termudah diantara semuanya.
"Yes. Akhirnya aku bisa keluar dari lapisan awan itu," ucap Gabriel sambil menatap dinding awan di depannya. "Oh, iya. Ngomong-ngomong si Lucas sudah sampai mana, ya?" tambah Gabriel sambil mengetuk dagunya beberapa kali. "Tapi, sudahlah. Memang aku yang akan memenangkan tantangan ini. Hehe," balas Gabriel sambil tersenyum penuh kemenangan.
Gabriel pun membalikkan badannya lalu perlahan mendaratkan telapak kakinya di atas permukaan awan yang menjadi lantai kerajaan. Dengan sedikit mengendap-endap Gabriel pun berjalan menyusup masuk ke dalam hutan impian. Dimana hutan itu tumbuh pohon-pohon berbatang kaca bening, dengan daun-daun emas dan kelopak bunga yang warna-warni berkilauan.
Saat Gabriel berjalan semakin masuk ke dalam hutan. Tak sengaja ia pun mendengar ucapan-ucapan seseorang dari arah telaga Paesjiwa. Segera ia menelungkupkan badannya hingga rata dengan lantai. Karena, kalau ia bersembunyi di balik pohon atau semak itu tidak akan membantunya.
"Iya. Aku juga penasaran dengan acara besok? Kira-kira siapa yang akan menjadi Jagoan Angkasa Sejati ya?" ucap seorang Dewi dengan rambut panjangnya yang masih terlihat bersinar-sinar. Maklum, rambutnya masih mengandung air telaga Paesjiwa. Kalau bahasa manusianya masih basah, karena habis keramas.
"Aku sih yakin kalau Lucas yang akan menang. Hehe," balas seorang Dewi berbaju merah jambu.
"Lucas dari klan Dewa Pemberi Cahaya, kan? Bukannya lawannya itu si ceroboh Gabriel, ya? Kalau lawannya dia sih. Aku juga yakin Lucas bakal menang," sahut Dewi yang berjalan di tengah.
"Ita, benar. Aku juga yakin kalau Lucas yang akan menang," timpal si Dewi pertama.
Mendengar ucapan para Dewi yang sedang melintas itu. Gabriel pun mengepalkan tangannya. Kesal. 'Ck. Nggak tau dia, siapa aku. Heh. Lihat saja besok. Aku yang akan memenangkan pertandingan itu. Dan seketika, kalian akan mengejarku kayak fans fanatik artis Korea. Hehe,' batin Gabriel sambil terkekeh.