“Ternyata si Pemarah itu memiliki sisi lembut yang aku tidak ketahui, kakakku, Rune!” –Iselin Lakshita ** Pelukan hangat dari Rune begitu lama, tidak seperti biasanya. Beberapa tahun terakhir memang bisa dihitung seberapa sering Iselin mengantarkannya pergi untuk bertanding. Mungkin hampir tidak pernah semenjak ia menikah. Karena Rune hanya memberi kabar setelah sampai di tempat tujuan. Siang ini rasanya berbeda saat melihat adiknya mengantarkannya, saat dirinya akan boarding Rune memeluknya agak lama. Rupanya ia menahan tangisnya. Seharusnya ia bisa tetap berada di sisi Iselin untuk menjaganya. Tidak tega rasanya harus meninggalkan perempuan mungil yang selalu mengusik hari-harinya sejak lahir itu pergi. “Lama-lama aku tidak bisa bernafas, kakak.” Iselin bergerak pelan, meminta kaka

