—Tak Masalah jika Duniaku terbolak-balik, asal Duniamu baik-baik saja—
— Mahaksha Hastungkara—
*
Setiap orang memiliki batas kesabaran yang berbeda-beda, ada yang sedalam samudra, ada yang setipis lapisan es yang rapuh. Kesabaran Mahaksha? Jangan ditanya lagi, pria bertubuh 196cm itu hanya memiliki kesabaran setipis tisu. Sebagai putra pertama keluarga Hastungkara, juga sebagai pejabat publik—Diplomat, Mahaksha dilahirkan tidak memiliki kesabaran yang besar.
Selalu dituntut sempurna dalam tempo yang cepat, tidak boleh ada kesalahan dalam hidupnya sejak ia masuk ke dalam keluarga Hastungkara, harus menjaga citra dirinya dan keluarga, martabat adalah nomor satu baginya. Maka apa itu kesabaran? Semuanya harus sesuai tidak boleh ada cacat. Jika tidak maka taruhannya bukan hanya nama baiknya, tapi nama baik keluarganya juga. Sebagai putra pertama, seorang diplomat, dia adalah ujung tombak keluarga Hastungkara sehingga bisa mencapai kestabilan untuk seluruh keluarga dan seluruh bisnis yang dijalani oleh adik-adiknya.
Lantas di sinilah ia berdiri, di balik jendela ruang kantornya yang megah, cahaya dari luar membingkai siluet tubuhnya yang sempurna. Tangannya tertangkup ke belakang, dengan pandangannya lurus ke depan, melihat pemandangan di sekeliling gedung kantornya. Begitu tampak mendominasi, membuat pria yang kini berlutut di belakangnya tak berani mengangkat wajah—tertelan oleh aura kekuasaan yang terpancar dari setiap gerak dan diam Mahaksha.
“Apa yang harus aku lakukan dengan anak nakalmu itu, Tuan Wananta?”
Pria yang lututnya hampir tak kuat menahan berat tubuhnya itu gemetar, ia langsung mendekat pada Mahaksha, berjalan menggunakan lututnya, lalu memeluk kaki Mahaksha.
“Tolong lepaskan anak saya yang bodoh itu, Tuan Hastungkara. Saya akan mengajarinya, saya akan menghukumnya jika perlu. Tolong ampuni nyawanya.”
Mahaksha yang muak mendengarnya langsung mendepak pria itu agar tidak lagi memeluk celananya hingga tubuh tambunnya terjungkal. Mahaksha berbalik, melihat dengan sorot mata tajam siap membunuh orang itu.
“Apakah kau begitu menginginkan nyawanya?” tanya Mahaksha sembari berjalan melewati Wananta yang tak berkutik di lantai lalu duduk di kursi megahnya.
“Saya mohon, saya mohon, hanya dia keturunan saya.”
“Setiap nyawa ada harganya, apa kau mengerti?”
Wananta terdiam sejenak, ia merasa tahu apa yang sedang diinginkan oleh Mahaksha.
Keluarga Hastungkara adalah salah satu keluarga terkaya di negara ini, usahanya tak hanya di dalam negeri, juga di luar negeri. Tak ada yang mengenal Hastungkara di negara ini. Mereka keluarga yang sangat berkuasa, bahkan orang-orang pemerintahan pun seringkali dikendalikan oleh keluarga mereka. Keluarga kecil seperti Wananta tak akan berani menyinggungnya, jika itu terjadi maka bunuh diri namanya.
“Saya akan bayar berapapun asalkan anak saya selamat.”
“Aku tidak butuh uang recehmu itu.”
“Apa yang bisa saya berikan untuk harga nyawa anak bodoh itu, Tuan….” Pria itu merengek, memohon pada Mahaksha.
Mahaksha terlihat begitu jengah dengan orang-orang seperti Wananta ini, tak hanya sekali dua kali ia harus menangani orang-orang seperti ini, lemah, tak berharga, dan sampah!
Sebuah dokumen dilemparkan ke muka Wananta membuat pria tambun itu gelagapan untuk menangkapnya. Setelah dokumen itu ditangkapnya, ia membaca isinya dan cukup mengejutkan baginya.
“Ya, semua itu adalah bukti ketololan anak semata wayangmu, sungguh menakjubkan hingga saat ini pihak berwajib belum menangkapnya. Bayangkan jika media tahu keluarga busuk kalian adalah keluarga sampah, bukankah keluargamu akan lenyap seketika?”
Mata pria tambun itu melotot tak percaya melihat foto-foto yang menunjukkan beragam halaman website tentang video pornografi yang merupakan ulah anaknya.
“Tidak mungkin.”
“Menyangkal dan akan kubuat seluruh negeri ini tahu jika anak keluarga Wananta adalah predator seksual.”
Terlihat sekali jika Wananta takut dengan ancaman itu, tidak lebih baik jika hal mengerikan ini terungkap ke media. Bukan hanya anaknya saja yang akan masuk penjara tapi keluarganya akan hancur seketika. Semua tahu jika keluarga Hastungkara tak bisa diusik, sekarang dia merasakan sendiri betapa berkuasanya keluarga tersebut.
“Apa, apa yang harus saya lakukan.” Wananta terus membujuk, pasti ada sesuatu yang diinginkan Mahaksha, tidak ada transaksi gratis di dunia ini. Dirinya tahu betul itu.
Mahaksha kembali melemparkan sebuah dokumen, itu seperti dokumen persetujuan akuisisi perusahaan Wananta. “Tanda tangani itu!” titahnya jelas sama sekali tidak terbantahkan.
Tanpa pikir panjang, Wananta langsung mengambil dokumen tersebut. Sebagai kepala keluarga ia harus mengutamakan keselamatan keluarganya terlebih dahulu, masalah bisnis ia bisa memulainya lagi kelak. “Baik-baik, saya akan tandatangani. Tapi saya ingin melihat anak saya.”
Wananta buru-buru menandatangi surat kesepakatan tersebut, selesai menandatanginya ia pun segera menyerahkan kembali dokumen itu pada Mahaksha. Sementara pria itu menatapnya dingin, meskipun dokumen telah ditandatangani, tak ada kepuasan di wajahnya. Sungguh, Mahaksha benar-benar sulit sekali untuk disenangkan.
Mahaksha hanya menekan tombol interkom dan langsung terhubung. “Karim, bawa sampah itu kemari.”
Tak butuh waktu lama bagi seorang Karim untuk membawa pria yang telah mencelakai Iselin dua malam yang lalu itu ke dalam ruangan tersebut. Dalam cengkraman Karim, seorang pria tampak babak belur dan hanya mengenakan pakaian dalam tanpa celana dalam, darah merembes melalui s**********n pria itu. Rupanya pria itu sudah dikebiri oleh para algojo Mahaksha. Lalu Karim membuatnya berlutut.
“Tuan, saya sudah membawanya.”
“Oh, Anakku! Apa yang terjadi, mengapa ini terjadi?” Wananta langsung berdiri menghampiri anaknya yang sedang berlutut tak berdaya itu.
“Tuan Hastungkara, anda berjanji untuk membebaskan nyawanya.” Wananta ingin memprotes.
“Tapi aku tak pernah berjanji akan mengembalikannya dalam keadaan utuh,” ujar Mahaksha dengan entengnya sembari mengambil cerutu dan memotong ujungnya untuk dia hisap.
Wananta benar-benar tak berdaya, kini ia harus menerima bahwa keterununannya akan berhenti pada anaknya yang bodoh ini. Hancur sudah masa depan keluarganya, anak semata wayangnya tak lagi bisa memberikan keturunan untuk keluarga Wananta. Meski begitu, Wananta tak bisa membantah Mahaksha, si kejam itu tampak sudah siap untuk menghancurkan apapun jika ia berani untuk melawan. Ia hanya bisa memendam dalam hati, berpikir suatu saat bisa membalas.
Setelah Wananta pergi dari ruangan itu dengan membawa anaknya yang hampir kehilangan nyawa, Karim melangkah mendekat kepada atasannya.
“Tindakan ini tidak seperti anda biasanya, Tuan Muda.” Karim mulai membuka mulutnya.
Apa yang diperintahkan oleh Mahaksha memang di luar prosedur mereka, paling ekstrim mereka hanya menghajar kriminal sebelum diserahkan ke pihak berwajib. Kali ini berbeda, selain memerintahkan untuk mengebiri yang mana ini melanggar HAM, pria itu juga tidak diserahkan kepada pihak berwajib.
“Karim, sudah berapa lama kau bekerja untukku?” tanya Mahaksha, ia mengembuskan asap cerutunya.
“Enam belas tahun, Tuan Muda.”
“Dan kau masih tidak tahu jalan pikiranku.”
“Maafkan ketidaktahuan saya, Tuan Muda. Saya tidak berani menebak-nebak.”
“Aku hanya harus menghancurkan keluarga itu, pria itu … dia tidak akan berhenti meski sudah dipenjara.”
“Saya tahu, anda pasti memiliki pemikiran anda sendiri.”
“Saya harus ke kantor pusat hari ini. tolong siapkan mobil, Karim.”
Dan Karim pun pergi untuk menyiapkan keperluan Mahaksha.
Melihat Karim sudah keluar dari ruangannya, Mahaksha segera mencari ponselnya, ia membuka laci dan mengambil ponsel miliknya lalu menekan nomor milik Rune dan memencet tombol call. Setelah berdering beberapa kali baru terdengar ada suara seorang pria di seberang salurang panggilan.
“Hallo?”
“Hallo, ini aku.”
“Aku tahu, aku bukan i***t, dude!”
Mahaksha tersenyum samar mendengar Rune yang memiliki kepribadian penuh energi itu. Ia mengisap lagi cerutunya sambil memutar kursinya hingga menghadap ke tembok dan mengembuskan asapnya hingga menutupi sebagian wajahnya.
“Bagaimana perjalanan kalian?”
“Tidak menyenangkan, sepanjang jalan aku harus mendengarkan musik klasik yang membuatku mengantuk.”
Mahaksha bisa membayangkan itu, Rune sama sekali tidak bisa menyukai apa yang disukai oleh adiknya sejak dulu. Keduanya seperti kutub utara dan kutub selatan, sama sekali tak bisa disatukan. Mereka sering kali bertengkar hanya karena masalah sepele, dan Rune sering kali tak tahu kondisi hingga membuat adiknya menangis. Di sana lah peran Mahaksha, ia selalu menjadi penengah di antara kakak adik itu.
Hal yang tak pernah Mahaksha rasakan dengan saudara-saudara lainnya karena selain mereka beda ibu dengannya, Mahaksha mulai kembali ke keluarga Hastungkara saat usianya sudah remaja. Lantas ia diberi tanggung jawab besar oleh Tuan Besar Hastungkara, ia tak lagi bisa merasakan kehangatan persaudaraan seperti Rune dan Iselin.
“Bagaimana kondisi Iselin?” tanyanya.
“Dia sudah tidak menangis, tapi dia belum menceritakan masalahnya kepada orang tua kami. Aku yakin pasti akan sangat kacau jika orang tua kami mengetahuinya.”
Itu sudah diperkirakan oleh Mahaksha. Sejak dulu, keluarga ibunya, nenek Rhaevan, juga orang tua Rune dan Iselin, tinggal di gang yang sama. Karena itu, Mahaksha, Rune, Iselin, Rhaevan, dan Clarice tumbuh dalam satu lingkungan yang dekat.
Clarice sebenarnya anak pendatang. Keluarganya baru pindah ketika Rune dan yang lain sudah masuk SMP. Usianya hanya terpaut satu tingkat di bawah Rune, Mahaksha, dan Rhaevan. Sejak pertemuan pertama, kelima anak itu menjalin persahabatan yang erat—ikatan yang terus mereka bawa hingga dewasa, meski akhirnya keadaan memaksa mereka berpisah satu per satu.
Mereka bukan hanya sahabat, mereka adalah keluarga yang dipilih oleh hati masing-masing. Namun, waktu tidak pernah benar-benar ramah. Satu per satu, keadaan memisahkan mereka—ada yang harus pindah rumah, ada yang terikat dengan tanggung jawab keluarga, ada pula yang mengejar mimpi ke luar kota. Hanya kenangan masa kecil di gang itu yang tetap menyatukan mereka dalam diam, menjadi alasan mengapa pertemuan kembali di masa depan terasa begitu penuh makna.
Jika rencana perceraian Iselin dan Rhaevan terdengar oleh keluarga mereka, maka kekacauan akan terjadi. Bisa jadi bahkan akan terjadi pertengkaran antar keluarga.
Mahaksha menghela nafasnya, “Biarkan dia menenangkan diri dulu, Rune. Jangan ganggu dia. mengerti?”
“Kadang aku merasa, sebenarnya kau lah kakak kandung Iselin.”
“Kita punya peran masing-masing.”
“Aku tahu, aku tahu, baiklah, Iselin sedang turun ke bawah. Nanti kita bicara lagi.”
“Baik.”
Setelah itu Rune memutus panggilan telefon.
Sementara Mahaksha memutar kembali kursinya, ia mencari asbak dan menggilas cerutu di atas asbak hingga bara yang menyala itu lenyap sudah. Ia segera bangkit, mengambil jasnya dan berjalan keluar untuk bersiap menuju ke kantornya sendiri.
Keluar dari ruangannya, ia sudah disambut oleh Karim dan beberapa orang yang tampak seperti pengawal. Mahaksha berhenti untuk sejenak setelah keluar dari ruangannya.
“Karim.” Panggilnya pada sang asisten.
“Bersihkan noda di lantai ruanganku.” Noda itu adalah bekas ceceran darah milik anak keluarga Wananta.
“Baik, Tuan Muda.”