Brakkk! "August!” Aldrich jatuh tersungkur di lantai dengan darah segar yang mengalir dari sudut bibirnya. Hadiah mengesankan dari The G, sahabat sekaligus saudara tak sedarahnya. Semua panik. Semua mencoba menghalangi dan menahan August untuk tidak kehilangan kendali dan menyerang Aldrich lagi. Jika dibiarkan begitu saja, Aldrich bisa-bisa mati. Mengingat The G selalu menikmati kekerasan. "b******n, berani sekali kau muncul di hadapanku!" desis August. Rahangnya terkatup rapat. Giginya menggeretak. Menahan amarahnya yang memuncak. "Aku tidak pernah mempunyai maksud seperti yang kau kira!" balas Aldrich seraya membangkitkan dirinya. "s**t," kutuknya saat merasakan darah di mulutnya. "Lepaskan." August menghela napas. Ia memejamkan matanya. Mencoba meredam emosi. Ry

