"Ayo, cepat Lari!" Teriak Ben yang juga berlari penuh kepanikan, ia terlihat berlari tergesa-gesa menjauhi ruangan laboratorium ditengah kerumunan penghuni kantor yang juga terlihat ketakutan, dengan segala celah yang ada lelaki itu berhasil meloloskan diri dari bencana yang terdapat dalam laboratorium Tersebut dan meninggalkan bawahannya yang lain beserta para ilmuwan yang tersisa dan melangkahkan kaki keluar dari pintu utama.
Diluar, keadaan jauh lebih panik dimana para karyawan dan pekerja yang juga berhasil meloloskan diri dari dalam kantor langsung berhamburan mengemudi mobilnya menjauhi perusahaan Louis Astra ini , entah itu menjemput keluarganya terlebih dahulu ataupun memilih menyelamatkan diri sendiri, pada intinya semua pada sibuk menyelamatkan diri untuk pergi dari kota itu sesegera mungkin sebelum wabah menyebar memenuhi seluruh kota.
"Bagas!!! Kau ada melihat putraku?" Tanya Ben pada salah satu rekan kerjanya mengenai keberadaan Ezra, yang merupakan putra sekaligus seorang karyawan magang di perusahaan tempat Ben bekerja.
"Gak tahu pak, tadi terakhir kali saya ngelihat Ezra ada dilantai tiga "
"Oke thanks!" Jawabnya singkat, lalu ben berlari kembali memasuki kantor menuju lantai tiga, ia menaiki anak tangga satu persatu dengan penuh kegelisahan dan keberanian yang membara, meskipun ia tak bisa mempungkiri bahwa ia sangatlah ketakutan dan rasanya ia ingin sekali segera melarikan diri dari sana.
Dengan langkah yang semakin berat dan rasa letih yang tak karuan, ia tetap fokus menaiki anak tangga tanpa berniat berhenti sejenak sebelum wabah itu benar-benar menghancurkan kantor tersebut, hingga tak terasa akhirnya ia sampai diatas lantai tiga dan berjalan sedikit lebih lambat akibat kelelahan.
Disana, pemandangan lantai tiga jauh lebih sunyi daripada dilantai dasar, faka da satupun jeritan ketakutan layaknya dilantai dua ataupun lantai satu, suasana dilantai tiga tampak sangat sepi dengan penampakan ruangan yang sangat berantakan dan beberapa meja dan kursi yang sudah hancur, serta banyaknya gesekan kaki yang mengotori lantai .
"Ezra!!!" Teriak Ben berulang kali sembari berjalan menyusuri lantai itu, cukup lama ben mengelilingi lantai 3 sembari menatap sekeliling lantai dengan tatapan penuh waspada, kira-kira hampir 10 menit lelaki itu mencari keberadaan anak sulungnya , hingga tak terasa akhirnya ia menemukan Ezra yang tengah berusaha mengeluarkan seorang gadis muda dari pintu lift yang menjepit tubuhnya.
"Ezra, apa yang terjadi dengan mary?" Tanya Ben yang tampak kaget melihat kekasih anaknya berada dalam bahaya.
"Aku tak tahu, kekasihku sedang dalam bahaya dan aku harus menolongnya!" Ketus Ezra yang masih fokus menarik tubuh Mary, namun lift itu semakin lama mulai menurun dan membuat Ezra semakin kewalahan.
"Pa, apa kau tak bisa membantuku?" Tanyanya pada Ben, awalnya Ben hanya terdiam Saja menyaksikan ajal yang semakin lama menghampiri gadis itu, rasanya ia gak berniat sama sekali menolong mary, namun semakin lama lirihan ezra yang memohon padanya dengan penuh putus asa dan rautan wajah anaknya yang tampak memelas, akhirnya mau tak mau ia pun ikut membantu menarik tubuh Mary.
"Oke, sekarang ayo kita tarik dia!" Teriak Ben yang ikut membantu menarik Mary, namun tetap saja mereka masih kesulitan mengeluarkan mary dari lift, belum lagi lift itu perlahan-lahan mulai menurun dengan pintu lift yang macet dan sulit dibuka .
"Sudahlah nak, lebih baik kita sekarang menyelamatkan diri sendiri saja , karena tidak ada waktu lagi untuk membantunya” Ben mulai menyerah dan melepaskan genggamannya pada mary.
“ kita harus pergi sekarang karena berada disini malah hanya akan membuat kita bertiga mati sia-sia!!!"
"Papa benar-benar Egois ya!!! Kalau kita pergi, Lalu gimana sama mary?" Tanya Ezra penuh kemarahan, namun bukannya merasa bersalah Ben malah melepaskan tangan ezra dari mary dan menariknya menjauhi mary.
"Dengarkan aku Mary, kalau nanti mereka datang kesini dalam wujud manusia, kau bisa meminta tolong mereka untuk membantumu dan setelah itu kaburlah dari kejaran mereka, tapi kalau kau melihat mereka dalam bentuk mengerikan, mungkin kusarankan kau bersembunyi saja didalam dan coba buka atap lift untuk memanjat keatas!" Perintah Ben yang memang merupakan pimpinan mereka, seusai ia berkata seperti itu ben langsung mengambil beso gorden dari dalam ruangan yang tak jauh dari sana dan memberikannya pada mary dengan tatapan acuh tanpa belas kasihan sedikitpun.
"Gunakan itu untuk membuka pintu atap lift!"
"Pa, Jangan bersikap pengecut kayak gini!!!" Bentak Ezra yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat ayahnya itu.
"Cobalah sekali aja kau tidak sok-sokan jadi Hero didepan pacarmu, lebih baik sekarang ikut aku ke sekolah Axel!" Tegas Ben yang langsung menarik tangan Ezra menuruni lantai tiga tanpa sempat memberikan Ezra kesempatan untuk membantu kekasihnya itu.
"Ikut aku, kalau kau gak mau adikmu dalam bahaya!" Ucap Ben yang membuat Ezra tak bisa melawan dan hanya mengangguk ikut saja, meskipun ia tak bisa mempungkiri bahwa hatinya sangat terluka mendengarkan suara Mary yang menjerit memanggil namanya dengan penuh putus asa.
"Percepat langkahmu!" Perintah Ben yang sedikit berada didepan Ezra, lelaki itu hanya bisa terdiam saja menuruti ayahnya tanpa berniat membantu karyawan lain yang terus menarik tangan mereka ditangga darurat itu dengan keadaan yang cukup memperhatikan.
"Si*l*n!!!" Celutuk Ben yang mendadak menghentikan langkahnya, lalu mendongak kebelakang menatap Ezra.
"Hai kalian! Ada yang bisa kubantu?" Tanya seorang pria muda yang menatap hangat kearah Ben dan Ezra saat mereka berada dilantai satu, namun bukannya mendekat Ben malah memberikan isyarat tangan pada Ezra untuk berjalan mundur kembali menaiki tangga.
"Kemarilah, kita bisa bekerja sama untuk bisa kabur dari sini! Diluar sangat mengerikan!" Ucap pria misterius itu, tetapi Ben hanya mengacuhkan ucapannya saja dan langsung memberikan pukulan keras kewajah pria misterius itu, kemudian ia berlari kembali kelantai atas bersama putranya menaiki lantai dua.
"Sial, kemana kita pa?" Tanya Ezra.
"Lantai dua tidak terlalu tinggi kan, kalau gitu tarik semua gorden dari setiap ruangan yang kita lewati sekarang!" Teriak Ben yang langsung mengunci pintu menuju tangga darurat, lalu membantu Ezra mengambil gorden jendela yang ada dilantai dua.
Dengan penuh ketakutan, keduanya langsung mengikat gorden Tersebut ditengah ketukan pintu tangga darurat yang diketuk keras oleh pria misterius itu, entah berapa banyak dari mereka yang berada dibalik pintu darurat itu , namun sekarang yang jelas selama mereka masih dalam wujud manusia semuanya akan aman terkendali.
"Sekarang, ikut aku!" Ucap Ben yang memang suka memerintah, ia langsung melemparkan vas bunga yang ada dimeja ke kaca jendela yang ada diujung koridor sampai pecah, lalu tanpa berpikir panjang mereka segera menuruni gorden yang sebelumnya telah disambung sampai panjang dan mengikat salah satu ujung gorden itu pada gagang pintu salah satu ruangan.
"Turunlah duluan, aku akan menyusul! Perintah Ben, Ezra hanya mengangguk dan menuruti ayahnya saja tanpa berkeinginan mendongak kebawah.
Ia perlahan turun dengan mulus tanpa ada insiden kecil sedikitpun , untungnya saat ini kebetulan juga mereka berada diarea yang cukup sunyi dari cengkraman manusia.
"Pa, aku ambil mobil dulu ya!" Teriak Ezra,Ben hanya mengangguk saja lalu menyusul Ezra untuk turun dari sana, meskipun dari ujung pintu darurat ia bisa melihat kalau pintu tersebut sudah hampir jebol dipukuli oleh orang yang ada dibaliknya bersamaan dengan teriakan kesakitan seorang wanita, namun ia masih fokus menuruni lantai gedung itu meskipun sebenarnya ia tahu apa yang terjadi dari balik sana .
“Hufftt..!!!” Pria itu langsung menghembuskan nafas panjang begitu kakinya memijak tanah, dengan telapak tangan yang memerah lelaki itu langsung berlari mengejar ezra keparkiran.