Lisa Sayang? Panggilan itu terlalu sering diucapkan oleh Martin. Dia menikmati wajah cemas Lily yang tidak nyaman bersamanya di meja makan. “Lisa? Sayang? ambil sendokmu dan mulai makan ya, lalu kita bisa tidur berdua lagi,” pintanya. Lily masuh termenung memandangi piringnya. Dia merasa di antara aroma enak olahan daging di meja, ada wewangian yang merindukan. Beberapa kali ia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan yang telah dipenuhi pelayan, termasuk Bibi Rosie. “Jangan merasa aneh dong, Sayang, sejak kakakku meninggal dunia dan adikku masuk RSJ, rumah jadi sepi, pelayan disini sering menganggur, jadi akan sering mengikuti kita seperti anak kucing,” kata Martin sembari mengiris dagingnya, “cepat sentuh makananmu atau kumasukkan sendiri ke kerongkonganmu.” Lily mulai mengambil nasi

