Seseorang Dari Masa Lalu

1744 Words
Hana keluar dari ruangan dokter bersama Aslan, tenggorokannya tidak nyaman sejak kemarin, padahal tiga hari lagi dia akan melakukan audisi untuk pencarian bakat Indonesia. Mengetahui tenggorokannya bermasalah, Hana datang ke tempat ini karena khawatir akan mempengaruhi suaranya nanti. “Apa masih sakit?” tanya Aslan. “Sedikit.” Hana menjawab dengan suaranya yang masih sedikit serak. “Jangan dipaksain buat nyanyi dulu, apalagi sampe makan yang berminyak sama es krim.” Hana cemberut, cenderung ingin menangis sebenarnya. “Tapi aku pengen makan es krim. Pengen banget,” katanya sedikit merengek. “Kedai es favoritku baru aja ngeluarin menu baru, kayaknya enak.” “Mau lolos audisi, nggak?” “Mau!” “Makanya tahan dulu. Nanti kalau udah lolos audisi, aku traktir kamu makan es krim sepuasnya!” Aslan langsung membenarkan posisi topi menutupi kepala setelah berbicara keras. Akan repot kalau sampai warganet tahu dia ada di tempat ini, banyak pasang mata yang bisa saja salah paham. “Aish, udah kubilang kan, biar mama aja yang nganter aku ke sini.” Hana cemberut, risiko punya saudara artis terkenal, dia selalu saja kena imbasnya. Terakhir kali mereka ketahuan oleh fans fanatik Aslan, Hana sampai harus bersembunyi di gerobak pemulung. Menyebalkan sekali memang, tapi orang itu selalu saja menempel seperti lem. “Tante Enzy terlalu sibuk buat ngurus bayi besar kayak kamu, By.” Mereka pun berjalan sampai ke arah tempat parkir. Hana menyeka keringat-keringat tipis di pelipisnya, lalu mengeluh pelan. Matahari siang ini sangat menyengat, atau mungkin ini pertanda akan datang hujan. Cuaca yang tidak menentu membuat khawatir menyebabkan banyak penyakit. “Aslan? Huaaa, iya, bener ini Aslan!” “Aslan?!” Aslan mulai panik, dia berusaha bersembunyi, tapi para ibu-ibu yang berlari ke arahnya seperti semut melihat gula di meja terbuka. Sementara mobil mereka terparkir cukup jauh dan butuh waktu pergi ke sana. “Baby, ayo lari!” “Hah?” Hana belum sempat merespons, tangan kanannya ditarik Aslan, tapi di tangan kirinya juga terdapat tarikan yang sama kuat. Entah dari siapa itu. “Kak Aslan! Jangan tinggalin aku!” Hana berteriak, Aslan sudah berlari kencang dikejar para ibu-ibu pengunjung rumah sakit yang ada di area parkir. Sementara Hana sendiri bersama orang asing di samping mobil sedan putih. Hana baru berani mengangkat wajah usai beberapa detik mereka berdua terdiam tanpa suara. “Ka—Kakak?” Mata Hana terbulat sempurna melihat seorang pemuda berperawakan jangkung berada sangat dekat di hadapannya dengan senyum manis. “Kenapa Kakak ada di sini?” “Mau nagih kutang.” “Hah?!” Baru saja Hana ingin marah, tapi pemuda yang ternyata adalah Devano itu bergumam, lalu menepuk-nepuk pipinya pelan. “Sorry, sorry. Tadi abis cabut gigi, jadi masih agak kaku mulutnya.” “Oh, terus tadi maksudnya apa? Aku nggak ngerti.” Hana mundur selangkah karena Devano terus mendekat, jarak mereka sekarang hanya beberapa senti saja. “Mau nagih hutang! Lupa?” “Hutang? E—mang barangnya rusak parah, ya? Katanya kemarin enggak akan nuntut apa-apa. Kenapa sekarang ganti lagi?” tanya Hana gugup. Dia pikir Devano sudah lupa, tapi pertemuan mereka ini membuat harinya buruk. “Jelas aku nuntut! Kamu tau? Itu hadiah ulang tahun buat mama, paling spesial dan susah buat di dapet. Perhiasan itu cuma diproduksi buat tiga orang pembeli beruntung di dunia ini! Tapi seenaknya aja kamu injek barang itu di depan mataku,” kata Devano dengan wajah meyakinkan. “Maaf ....” Mata Hana mulai basah, dia benar-benar takut sekarang. “Aku nggak sengaja, beneran! Kemarin aku lari karena berusaha sembunyi dari Kak Aslan. Aku nggak liat Kakak di tengah jalan. Tolong jangan suruh ganti ratusan juta, aku nggak punya uang sebanyak itu ... hiks.” “Aku suruh kamu ganti rugi, bukannya nangis.” “Gimana nggak nangis, kalau mama tau, aku pasti mati!” Hana menangis sesenggukan di hadapan Devano, tidak peduli dia adalah orang asing. Kemarahan ibunya jadi faktor utama kenapa dia takut setengah mati. “Terus gimana biar kamu nggak mati? Mau berhutang sampe dibawa mati, uh?” “Kakak kok, ngomongnya gitu?! Tega ih ....” Hana mengentakkan kaki, air mata sudah membanjiri wajah cantiknya, tapi sepertinya Devano tidak terlalu tersentuh dengan tangis getir itu. Buktinya dia malah tersenyum, begitulah Hana mengartikan senyum tersebut. “Masih cengeng ....” Tangis pilu Hana perlahan mereda saat telapak tangan besar Devano mengusap puncak rambutnya sangat lembut. Dia tidak mengerti kenapa Devano melakukan ini, seolah mereka sudah kenal sangat lama. Hana tiba-tiba gugup, tidak bisa dipungkiri juga Devano terlalu tampan untuk ditolak. Lensa matanya kehijauan, sangat indah. Warna kulitnya putih pucat, tapi dia juga memiliki wajah khas Asia yang sangat manis jika tersenyum. Hana hampir lupa bagaimana caranya berkedip saat menatapnya. “Kamu bisa ganti kerugiannya sama yang lain,” kata Devano. “Serius?! Ganti pake apa?” “Kamu mau ikutan audisi pencarian bakat, ‘kan? Menangkan audisi itu, lalu belikan aku tiket di kursi paling depan.” “Kok, tau aku mau ikutan audisi?” tanya Hana heran. Dia merasa rencana ini masih rahasia untuk umum. Hanya kedua orang tuanya dan Aslan yang tahu. “Aku paling tau,” jawab Devano. “Jadi setuju apa enggak? Kalau enggak, kerugian yang harus kamu bayar adalah 620 juta—“ “Setuju! Iya ... aku setuju! Cuma tiket aja, ‘kan?” tanya Hana memastikan, Devano mengangguk. “Mana ponselmu.” “Ponsel.” Hana segera memberikan ponselnya, sampai Devano mengetik nomor di sana. “Jangan lupa kabarin kalau udah beli tiketnya.” Devano memberikan ponselnya. “Berusahalah untuk menang ....” Hana kembali mematung ketika telapak tangan itu mendarat lagi di rambutnya, dan senyum itu ... sangat mengganggu konsentrasi! Bahkan saat Devano mulai melangkah pergi, Hana belum bisa keluar dari jerat aura pemuda itu. “Tunggu! Nama Kakak siapa?!” teriak Hana sebelum Devano menaiki motor. “Orang ganteng!” Hana berdecap. “Orang ganteng katanya?” Dia tersenyum seraya memandangi deretan nomor di ponselnya. *** Di waktu senggang, Hana iseng melihat chat di aplikasi w******p-nya. Kemudian masuk ke status yang ditulis orang lain. Dia cukup sering melakukannya sebab terkadang teman-teman yang ada di kontaknya mengunggah status kegiatan mereka. Itu adalah hiburan kecil, dan menarik bagi Hana. “Aku akan berdiri di depan, dan berteriak paling keras untukmu.” Hana mengernyit, status dari nomor Orang Ganteng sangat padat dan jelas. Mengingatkan dia sesuatu yang tidak pernah terlupakan selama bertahun-tahun. “Andai aja dia tau, aku mau dia datang di penampilan pertamaku nanti,” gumam Hana. Ingatannya mendadak loncat ke London 8 tahun lalu. Ketika Hana duduk di kursi taman bersama seorang remaja yang sangat tampan baginya, remaja berusia 7 tahun lebih tua dari Hana itu kehilangan penglihatan karena kecelakaan, tapi dia tidak pernah mengeluh. Itulah sebab kenapa Hana sangat menyukainya. Dia begitu ceria di mata Hana, dia juga yang memotivasi agar Hana bisa meraih cita-citanya menjadi penyanyi terkenal. “Kalau begitu bernyanyilah, aku pasti jadi orang yang paling kuat mendukungmu!” “Baby!” “Baby!” “Baby kriwil ...!” Hana tertawa sendiri, suara-suara teriakan dari masa lalunya terngiang jelas seakan orang itu berteriak di dekatnya sekarang. Sayang sekali mereka berpisah setelah Hana harus kembali ke Jakarta. “Di mana dia sekarang? Aku kangen suaranya.” *** Hana mengambil napas dalam-dalam berulang kali, berharap kedua kakinya berhenti gemetar dan telapak tangannya yang mengeluarkan sedikit keringat mengering. Dia berusaha, sangat berusaha keras untuk mencapai titik ini. Calon peserta audisi yang semula ribuan orang telah menyusut menjadi 30 orang tersisa. Babak demi babak penyisihan dilewati Hana, sampai dia bisa berdiri di atas panggung dengan pesaing 20 orang. Hari ini, untuk pertama kalinya Hana melihat ribuan penonton duduk bersorak keras, ribuan pasang mata akan menyaksikan penampilannya, dan itu membuat Hana sedikit frustrasi. Dia mendadak cemas dan takut, jika gagal tamat sudah semua usahanya. [Sedikit grogi bikin kamu waspada dan nggak membuat kesalahan ... semangat! Kalau kalah harus bayar hutang] [Lumayan dapet duit 620 juta] Dua buah pesan masuk dari Devano. “Aishhh, kenapa dia selalu ngingetin hutang?” gumam Hana seraya tersenyum, Orang Ganteng di nomor kontaknya itu tahu saja kalau dia sedang dilanda demam panggung. “Hana, sebentar lagi giliranmu, ayo ....” Kedatangan seorang wanita membuyarkan lamunan Hana, sebelum mengikuti langkah wanita tersebut, Hana menoleh ke arah kedua orang tuanya yang menemani dia hari ini. “Mama, aku sedikit takut.” “Jangan takut, Baby. Kamu yang terbaik, kami selalu ada di dekatmu,” kata Enzy seraya memeluk Hana sebentar untuk menenangkan putrinya. “Kak Hana, ayo semangat!” Damian menepuk-nepuk pelan bahu kakaknya itu sedikit keras. “Baiklah, sudah saatnya. Jangan lupa berdoa sebelum melakukan apa pun.” Hana mengangguk mendengar ucapan Atha, ayahnya yang super sibuk itu bahkan hadir spesial untuknya hari ini. Mana mungkin dia bisa mengecewakan semua orang? Hana pun berjalan menuju tempat yang sudah menunggu kakinya berpijak di sana, sebuah tempat di mana harapan Hana selama bertahun-tahun tersimpan, dan menentukan masa depannya. Jantungnya berdebar kencang, dia tidak berani menatap wajah-wajah mereka yang terlihat kecil di matanya ... sangat banyak. Alunan nada-nada lagunya mulai dimainkan, pandangan Hana malah bertemu dengan Devano. Pemuda itu benar-benar datang, duduk di kursi paling depan dan senyumnya terlihat jelas dari kejauhan. Aku berdiri di atas panggung Dan bernyanyi dengan lembut Sebuah nyanyian untuk menerangi lautan Aku melihat orang asing, sebuah wajah yang tidak kukenal Tatapan mata yang menyinari segala cahaya Siapa pun yang menggambarkan sosok wajahmu, siapa pun itu harus menghargainya Jika bukan karena lagu cinta ini menegangkan Diam-diam aku melewati pandanganmu Angin berembus di bajumu, aku tidak akan pernah bisa melupakannya Keceriaanmu meluluhkan hatiku yang keras Tanganmu yang hangat memberiku kekuatan dan ketenangan Mulai sekarang, kau adalah segalanya bagiku Kekasihku, kaulah duniaku Tidak perlu menggambar setengah dari wajahku lagi Aku tidak perlu orang lain untuk menghargainya Akhirnya aku mengerti mengapa lagu cinta ini begitu menegangkan Diam-diam melewati pandanganmu Angin berembus dan kau melihat ke arahku dari kejauhan Itu membuatku sangat bahagia Sebuah kecelakaan terindah Betapa beruntungnya aku, ada kau yang menggenggam tanganku Menyelamatkan sisa hidupku Hana bernyanyi, sangat sempurna. Sesekali pandangannya bertemu Devano, gerakkan bibir pemuda itu mengikuti seluruh liriknya tanpa ada kesalahan. Hal itu membuat kedua mata Hana basah, buliran air tipis saling bertumpuk dengan cepat. Lagu ini, hanya dia yang tahu. Dia belum merilis atau menyanyikan lagu ini di mana pun. Kecuali .... “Baby!” “Baby!” “Baby Kriwil ...!” Satu-satunya orang yang tahu, dialah yang bertengkar dengan Hana sepanjang hari dan menciptakan liriknya. Berkata bahwa dia akan duduk paling depan dan berteriak paling keras dari siapa pun. “Kak Vano?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD